Hei diri, Selamat bertambah tua dan berkurang usia ya...
Aku ingin mulai mencoba mencintai diri sendiri, karena sepanjang waktu aku hidup dalam tubuh dan pikiranku.
Tidak ada kata terlambatkan?
Bismillaah, semoga Allaah mudahkan.
(Di rumah, 10 Maret 2023)
Apa jadinya jika kita semua kehilagan ingatan? Bayangkan, pada satu pagi, ketika semua bangun dari tidurnya, tak ada ingatan lagi di dalam kepala manusia. Bukann gila. Tapi ingatan yang kita miliki menguap sirna, seperti hilangnya setets air di Sahara.
Kita tak lagi memiliki kemampuan bahasa. Kita tak punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan sesama. Kita tak bisa membaca. Padahal buku-buku masih menumpuk seperti sedia kala. Bahkan kita lupa bagaimana cara berjalan dan makan. Padahal semua peradaban masih utuh di sekitar kita. Listrik masih ada. Komputer juga. Mobil dan semua peradaban material tetap terjaga. Apa yang kita pikirkan? Apa yang kita lakukan? Apakah mungkin kita bertahan? Bagaimana kita mengatasi masalah sedangkan satu referensi pun tak tertinggal dalam ingatan.Â
Dan tentunya ada pertanyaan yang sangat fundamental. Bagaimana cara mengenali kebenaran? Tnetu saja ini hanya bayangan saya, munugkin tak pernah terjadi, bahkan nyaris tidak mungkin menemukan kemungkinannya. Tapi yang sangat mungkin terjadi, bahkan saya melihatnya sudah terjadi adlaah, kitakehilangan kemampuan untuk memanfaatkan kemampuan yang kita miliki demi mengidentifikasi kebenaran.
Ilmu sebgaian manusia saat ini sangat tinggi. Bahkan beberapa di antara mereka mampu menguasai beberapa bahasa sekaligus. Bacaan mereka sangat luas, apalagi ditambah dengan internet dan teknologi informasi, juga komunikasi, pengetahuan manusia tentang kehidupan sepertinya sudah mencapai puncaknya dalam peradaban.
Tapi paradoksnya adalah, semakin tinggi ilmu yang dimiliki nampaknya semakin relatif kebenaran yang bisa dipahami. Seolah-olah, setelah kita memiliki ilmu yang sangat tinggi, maka segala ilmu itu mengantarkan kita pada satu pemberhentian; bahwa tak ada kebenaran sejati. Tak ada yang bersifat mutlak. Semua relatif. Tak ada yang objektif, semuanya dalam kerangka subyektif.
Maka dnegna mudahnya kita bisa mendapati manusia-manusia yang bisa berganti identitas, pemikiran, bahkan kepercayaan pada Rabbnya yang telah menciptakannya. Na’udzubillaah tsumma na’udzubilaah. Dengan sangat mudah dia mengubah definisi dan sikapnya pada kebenaran. Seolah-olah, tak mengikuti perubahan adlaah aib.
 Betapa mudahnya manusia berubah. Appkaah pengetahuan, intelektual, pemahaman, dan proses belajar yang selama ini dilalui justru mengantarkan pada relativitas sedemikian rupa? Tak penting lagi benar dan salah, karena keduanya pada akhirnya dilibas oleh perubahan yang dilahirkan oleh manusia itu sendiri. Apakah memang begiru seharusnya? Lalu apa tugas para intelektual dan apa manfaat intelektualitas?
Semakin tinggi intelektualitas, seolah-olah semakin tinggi pula keraguan yang dihasilkan. Tak pernah putus, tak pernah habis. Tesis selalu melahirkan antitesis, kemudian berlanjut lagi dengan sintesis. Begitu seterusnya. Rekonstruksi akan melahirkan pula sisi lain, dekonstruksi.Â
Jika memang balasan akhir dari intelektualitas adalah relativitas yang seolah-olah tanpa batas, maka saya kaan memilih menjadi ornag yang sederhana. Tak macam-macam, tak muluk-muluk. Sederhana saja. Sedrehana dalam berpikir. Sedrehana dalam mengambil keputusan. Sederhana dalam menyimpulkan dna sederhana menjalani setiap konsekuensi kehidupan.
Sepatutnya referensi pengetahuan yang luas, tinggi dan dalam, mengantarkan manusia pada keyakinan. Karena untuk itulah ilmu pengetahuan diciptakan. Memberi guidance, menjadi petunujuk, dan juga penerang. Selanjutnya, para intelektual berperan menjadi pemain utama yang membangun jalan terang utnuk umat manusia. Tapi jika hari ini peran intelektual hanya menambha pertanyaan dan pekerjaan tak pernah terselesaikan, apa gunanya ilmu pengetahuan?Â
Do’a adalah salah satu obat dan terapi. Bahkan, obat dan terapi yang paling manjur dalam mencegah dan mengobati bencana.
Sebagaimana obat dan terapi lainnya, adakalanya do’a sangat mujarab, maupun menolak bencana dalam waktu yang cepat. Namun tak jarang pula, do’anya terlalu lemah sehingga tidak mampu mengusir bencana.
“Do’a-do’a dan ta’awudz-ta’awudz itu bagaikan senjata, sedangkan senjata itu sangat tergantung kepada siapa yang memegangnya, bukan hanya bergantung kepada ketajamannya saja.”
Ketika senjata tersebut adalah senjata yang sempurna tanpa cela, tangan mengayunkannya kokoh bertenaga, dan tiada penghalang yang menghambatnya, niscaya akan menimbulkan bencana pada diri musuh. Jika salah satu unsur dari ketiga unsur ini hilang, tebasan senjata tersebut juga akan lemah pengaruhnya.Â
Jika do’anya sendiri tidak bagus atau orang yang berdo’a tidak menyatukan hati dan lisannya saat memohon, atau ada penghalang yang menghambat diijabahnya do’a, maka do’a pun akan kehilangan pengaruhnya.
Pernahkah kamu merasa gelisah padahal tidak ada sesuatu yang semestinya digelisahkan? Pernahkah kamu merasa cemas padahal berada di suatu tempat yang aman dan segala kebutuhan terpenuhi? Pernahkah kamu merasa bingung dan sepertinya tidak tahu akan berbuat apa padahal banyak hal yang semestinya dapat dikerjakan?
JIka pun kamu belum pernah merasakan semuanya, minimal pernah merasakan sebagiannya. Itulah suasana hati, jiwa, perasaan, atau ruhani manusia. Jika yang merasakan hal itu adalah mereka yang tidak memiliki iman biasanya akan mencari solusi dengan hal-hal yang secraa instan dapat menenangkannya. Cara yang praktis biasanya mencari hiburan, mengonsumsi obat-obat penenang, atau bahkan mengonsumsi obat-obat terlarang yang menawarkan kehadiran mimpi-mimpi indah. Namun semua itu sesungguhnya, jika pun daat menenangkan jiwa, maka sifatnya hanya sementara, bahkan sering tidak menambahkan selain kegelisahan dan kebimbangan semakin parah.
Karena itulah, agar hati, jiwa, dan ruhani kita dapat bertahan dan berfungsi sebagaimana mestinya, beberapa hal harus dilakukan, dan Islam telah memberikan semua tuntunannya.
1. Zikrullah
Hati yang gelisah sesungguhnya laksana orang yang mengembara tanpa arah di tengah padagn pasir mahaluas. Ketika itulah hati membutuhkan pegangan sebagaimana si pengembara membutuhkan penunjuk jalan. Di sinilah hati membutuhkan zikrullah (mengingat atau menyebut Allah) atau lazim disebut zikir. Dengan zikir itulah hati akan tertaut dengan Dzat yang Mhhah Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketertautan itulah yang menyebabkan hati menjadi tenang dan tenteram.
“... Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28)
Zikir selain menenteramkah hati juga mencerahkan akal pikiran. Karenanya, orang-orang yang memiliki kecemerlangan akal pikiran senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, zikir juga menghidupkan hati dan menggairahkan hati, dengan hati yang hidup itu seseorang akan bergairah melaksanakan ibadah dan rasa takut akan siksa Allah.
2. Membaca Al-Qur’an
Tilawatul Qur’an atau membaca Al-Quran merupakan amal ibadah yang mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an sangat dibutuhkan oleh hati manusia. Karena di dalamnya memuat banyak sekali penuturan, baik yang menyangkut Dzat Allah sendiri, juga larangan dan perintahNya, makhluk-makhlukNya, juga informasi tentang alam ghaib, baik di alam dunia maupun akhirat. Dengan demikian, membaca Al-Qur’an sesungguhnya merupakan kegiatan zikir dalam bentuk yang lain. Tilawah Al-Qur’an bukan sekedar zikir namun juga sekaligus tadabur (perenunugan), tafakur (pemikiran), dan ta’amul (penghayatan) erhadap kandungan ayat-ayat Allah yang lebih luas.Â
“Sesungguhnya seseorang yang di dalam dadanya tidak ada Al-Qur’an, maka ia bagaikan rumah hantu.” (HR. Tirmidzi)
Al-Qur’an juga menciptakan ketenteraman hati dan ketenangannya. Dengan bacaan Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menurunkan ketenangan bagi yang membaca khususnya, juga bagi yang mendengarkan.
3. Menjauhi Maksiat
Hati diciptakan Allah dalam keadaan bersih tanpa noda. Ia bersih dalam keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tetap saja dalam keadannya yang bersih hinggga manusia sendiri yang mengotorinya. Hal yang dapat mengotori hati manusia itu adalah semua perilaku yang menjauhkan manusia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai sumber dari segala sumber alam yang maujud ini. Jika hati kotor maka ketaatan kepada Allah semakin diraskaan sebagai sesuatu yang berat. Sebaliknya, dengan hati yang bersih maka ketaatan menjadi semakin ringan dilakukan.
“Sesungguhnya, seorang hamba jika berbuat dosa maka tercetak noda hitam di hatinya. JIka dia melepaskan, beristighfar, dan bertobat maka hatinya bersih kembali. Tetapi jika dia mengulangi maka bertambahlah ia hingga menutupi hatinya.” (QS Al-Muthafifin : 14)
4. Menjauhi Ketergantungan Kepada Makhluk
Pencipta hati adalah Allah, dan Allah pula yang akanmembolak-balikkannya.Â
“Sesungguhnya hati anak cucu Adam semuanya berada dalam genggaman dua jari Ar-Rahman (Allah) seperti hati yang satu, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendakNya.” (HR. Muslim)
Allah kan menyesatkan hati siapa saja yang Allah kehendaki dan akakn menunjukkan hati siapa saja yang Dia kehendaki. Tentu tidak satu pun di antara kita yang ingin disesatkan Allah kan? Cara satu-satunya adlaah melakukan pendekatan diri kepadaNya dan hanya menggantungkan hidup padaNya.
Orang yang menggantungkan hatinya hanya pada Allah akan mendapati dirinya merasa tenang karena Allah lah Dzat Maha Hidup tak pernah mati.
Orang yang menggantungkan hatinya hanya pada Allah juga akan tegar dan pemberani, tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa TA’ala.Â
5. Memperbanyak Ibadah
Ibadah disyariatkan Allah sesungguhnya untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk keuntungan Allah Subhanhu wa Ta’ala.Â
Secara lebih khusus, maka seluruh ibadah sesungguhnya diperintahkan dalam rangka menciptakan hati yang semakin beriman dan bertakwa. Sehingga ibadah dapat disebut sebagai saran bukan tujuan.
Bagi Allah ibadah yang utama adalah ibdah wajib. Namun umat manusia dianjurkan untuk menambahkan dengan beberapa amalan sunah untuk menyempurnakannya. Dengan amalan sunah itulah cinta Allah semakin dalam kepada ahlinya.
“Dan tidak ada seorangpun daripadamu melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS Maryam : 17)
Ayat ini mengingatkanku pada kisah menarik dari Abdullah ibnu Rawahah ra. ketika mendengar wahyu ini turun kemudian dibacakan oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, kemudian ia berlari sangat kencang. Ia menangis sepanjang jalan, bercucuran air matanya. Sesampainya di rumah, ia tambah menggeru memahami makna wahyu tersebut.Â
Ketika istrinya sampai di rumah dan mengetahui suami sedang menangis tersedu, ia pun turut menangis. Terguncang-guncang pundaknya menahan isak yang semakin mendesak dada. Begitu pula ketika pembantu mereka pulang ke rumah, ia turut menangis dengan hebatnya. Anggota keluarga yang lain, ketika menyaksikan Abdullah ibnu Rawahah, istri, dan pembantunya menangis, mereka jatuh menangis bersama.Â
Lalu setelah tangisan itu reda, setelah Abdullah ibnu Rawahah mampu menarik napas, ia bertanya pada keluarganya.Â
“Wahai keluargaku, apa yang telah membuat kalian menangis.”
Lalu istri Abdullah ibnu Rawahah yang angkat bicara,
“Tidak tahu, apa yang membuat kami menangis. Tapi ketika kami melihatmu menangis, kami pun ikut menangis. Apa yang telah membuatmu menangis demikian rupa?”
“Telah turun satu ayat kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, isinya Allah azza wa Jalla memberitahu bahwa aku pasti akan mendatangi neraka. Tapi Dia tidak memberitahu aku, apakah aku akan keluar dari neraka. Itulah yang membuatku menangis,” ujar Abdullah ibnu Rawahah menerangkan.Â
Sedemikian dahsyat pemaknaan para sahabat atas wahyu yang diturunkan Allah. Satu ayat saja, mampu membuat mereka menangis menggeru. Sebabnya antara lain, para sahabat yang mulia itu merasa seolah-olah ayat-ayat itu turun khusus untuk dirinya. Mereka merasa sepertinya Allah menurunkan teguran langsung untuk manusia. Lalu siapapun sahabat yang mendengarnya, langsung menyesali diri dan mengubah diri untuk lebih baik lagi.
Interaksi para sahabat nabi dengan Al-Qur’an sangatlah tinggi. Baik secara kuantitas maupun kualitas. Mereka tak pernah mendengar Al-Qur’an kecuali melakukan tiga hal; menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkannya. Tidak saja satu atau dua orang sahabat yang berperilaku demikian, tapi nyaris seluruh generasi awal islam memiliki akhlak yang sempurna ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Alangkah indah akhlak orang-orang mulia ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an yang dipersembahkan sebagai petunjuk hidup untuk manusia. Ketika Al-Qur’an memberikan peringatan, terbetik rasa takut di hatinya. Ketika Al-Qur’an menyampaikan berita gembira, maka berbunga-bunga pula hatinya. Larangan dan perintah, dalam firman-firman Allah yang mulia seolah menjadi napas sehari-hari di kehidupan ini.
Mereka menagis karena Allah. Mereka gembira karena Allah. Mereka tersedu karena Allah. Mereka bersuka cita karena Allah pula.
Ini bukan menjadi cengeng atau sentimentil. Tapi ini tentang kelembutan hati seorang manusia di depan tanda-tanda dan ayat-ayat Tuhannya. Tak ada balasan yang lebih indah untuk hati yang lembut karena Allah, kecuali dipenuhi dengan cahaya cinta yang mulia.
Alangkah besar manfaat yang didapat seorang hamba, ketika hati dan akalnya lunak di depan firman-firman Allah. Air mata yang mudah menetes karena Allah akan menjadi pemandu bagi kita untuk mengetahui mana kebaikan dan mana keburukan. Karena memang, ini bukan hanya maslaah tentang air mata. Ini tentang kedekatan jarak kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika jarak seorang makhluk demikian dekat dengan khalik, maka tiangnya akan menjadi kuat, atapnya menjadi kukuh, jiwanya menjadi luas, dan hatinya menjadi teguh. Kondisi psikologis seperti ini akan menyumbang bilangan sangat besar dalam proses pematangan kita sebagai seorang hamba, sekaligus sebagai seorang khalifah di muka dunia.
Bacalah ayat ini dengan hati-hati yang lembut dan jiwa yang lunak. Bacalah ayat-ayat ini sebagaimana cara membaca orang-orang yang mudah tergetar hatinya ketika ayat-ayat Allah dibacakan untuknya.
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (QS. Al Maidah : 83)
Tapi kita juga harus selalu menjaga agar tak terjebak rasa unjuk diri dengan butir-butir air mata buaya.Â
“Sebagian besar orang-orang munafk dari umatku adalah para pembaca Al-Qur’an.” (Kitab Ash Shahihah Hadits No.7)
Kita harus menjaga diri. Seperti yang dilakukan seorang alim ketika terpergok mengucurkan air mata saat membaca kalam Ilahi yang mulia. Dengan tergesa ia mangusap hidungnya yang memerah sambil berkata,
“Berat benar flu yang aku derita.”
Menangislah hanya di depan Allah. Karena hanya Dia yang mampu menilai, sebening apa air mata kita ini.
Ketika mengetik kembali tulisan ini, sebetulnya aku sedang dikepung rasa malu, takut, dan merasa bersalah yang besar. Karena kerap kali merasa bahwa ikatan dan kesadaran kalau Allah selalu mengawasi dan bersamaku kerap kali longgar. Padahal Allah mengetahui setiap desir hati dan sekecil apa pun perbuatan hambaNya.
Dan terkadang, desir hati dan perbuatan yang telah kulakukan, tanpa sadar telah mengantarkanku pada keraguan tentang segala urusan yang telah diberikan jaminan. Aku sering mendengar kajian-kajian para Ustadz dan Ustadzah mengingatkan bahwa mati, jodoh, dan rezeki telah ditentukan. Aku juga sudah sering meyakinkan diri sendiri, jika jodoh tidak akan ke mana, jika sudah rezeki tidak akan tertukar, pun jika sudah ajal tidak akan tertunda.
Tapi sering kali aku justru menggalaukan apa yang telah diberikan jaminan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupanku ini. Astagfirullah al’adziim.
Seharusnya yang perlu digalaukan adalah apa yang tidak pernah dijamin dan tidak diberikan kepastian oleh Allah azza wa Jalla tentang bagaimana ibadahku ini kan? Ibadahku. Shalatku. Sedekahku. Bukankah Allah tidak pernah memberikan kepastian apakah seluruh amal perbuatan yang aku lakukan berstatus sempurna dan akan mengantarkanku ke surga bukan?
Berprasangka baik kepada Allah atas semua ibadah yang kulakukan tentu harus selalu tertanam ya, tapi bukankah aku juga harus memastikan melakukan semua ibadah tersebut dengan maksimal, paripurna, dan tanpa cela ya?
Malik bin Dinar suatu hari pernah berkata, “Seberapa besar sedihmu karena dunia? Maka sebesar itu hasratmu pada akhirat hilang dari dirimu. Seberapa besar sedihmu karena akhirat? Maka sebesar itu pula hasratmu pada dunia akan menguap.”
Baik kali ini kan kucoba tanyai, “Wahai diri dimanakah letak akhirat bertakhta dalam diri? Di hati atau di ujung jari? :)
Ramadhan laksana sebuah undangan dari Maha Kekasih untuk para pecinta. Ramadhan seperti sebuah gerbang yang terbuka menuju kota, tempat dimana cinta melimpah, rindu mengombak bergulung-gulung dan segala kebaikan terhampar menyebar. Cinta yang seharusnya membuat kita besar. Rindu yang seharusnya membuat kita dalam dan meluaskan kebaikan.
Tapi, terkadang kita selalu dihinggapi rasa bersalah yang berulang-ulang menjelang Ramadhan datang. Rasa bersalah yang menumpuk setahun silam. Selepas Ramadhan tahun lalu, ada bisik sesal yang menyeruak dalam dada.Â
“Belum sempat apa-apa sahrur Ramadhan yang penuh mubarok itu telah meniggalkanku.”
“Belum sempat terjaga dari kelalaian, Ramadhan telah pulang dan kini berlalu.”
Kini kita berada pada tapal, dimana batas mengabarkan kemuliaan akan datang, dan semoga kita beruntung kembali bertemu Ramadhan.
Bayangkan ketika kita mendapat undangan, untuk datang dan bertemu dan bercerita dengan seseorang yang kita anggap mulia. Mungkin Raja Salman, Presiden Erdogan, atau mungkin saja ulama terkenal, saat ini untuk mengajak kita pergi. Dalam pertemuan itu, kita bisa bertanya apa saja. Kita bisa mengadukan hal apa pun semuanya. Kita bisa bercengkrama seharian penuh tanpa ada yang mengganggu.
Segala persiapan tentu akan dilakukan bukan? Mulai dari memilih baju yang paling indah sampai menyiapkan daftar kata-kata. Dari berbenah diri sampai menentukan posisi bicara. Kita tidak bisa tidur memikirkan itu semua. Bahkan rasanya waktu begitu lambat untuk sampai pada hari H.
Kita tahukan; bahwa Ramadhan lebih dari itu. Ramadhan lebih dari undangan seorang raja. Ramdahan lebih dari panggilan seorang presiden. Ramadhan adalah panggilan dari Yang Maha Memiliki. Ramadhan adalah undangan dari Allah Rabbul Izzati pada para pecinta Ilahi untuk datang dan mendekat lebih dekat lagi.
Ramadhan adalah undangan Sang Maha Kekasih, pada kekasih-kekasihnya untuk mengadukan kerinduan. Pada malam-malam hening, di dalam sujud dan rukuk, dalam takbir dan tahiyat, Ramadhan seolah menjadi jembatan yang akan mengantar kita merengkuh jarak yang paling dekat dengan Yang Maha Mencinta. Ramadhan ibarat gerbang yang terbuka, kita bisa berduyun-duyun berebut nikmat yang seolah tak ada habisnya.
Lalu, persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi undangan itu? Apa saja yang telah kita rencanakan untuk mendatangi undangan itu?
Rasanya, tak ada kata cukup, meski apapun telah kita sipakan. Karena kita akan menyongsong bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Kita akan menjalani bulan dimana pintu surga dibuka seluas-luasnya. Bahkan lebih dari itu, kita sedang menghadap bulan yang dipenuhi ridha Allah. Tidakkah kita berharap, bulan ini akan menjadi saksi dalam hidup kita yang membuat Allah ridha, lalu tersenyum ketika waktu hisab tiba?