Ditulis Oleh Novie Ocktaviane Mufti pada Tahun 2018.
Ini adalah salah satu tulisan yang entah kenapa, membacanya seperti sedang menyelami bagian terdalamku. Apakah aku sudah sampai pada keyakinan tertinggiku pada takdir-Nya? Apakah aku telah sampai pada titik penghabisanku atas segala usaha dalam batas ruang manusia? Atau sebenarnya aku hanya sedang terlalu egois untuk sekadar mengakui bahwa sudah terlalu banyak gores luka yang berbekas di sudut-sudut hatiku, hingga tak sadar aku hilang kendali dan salah arah lalu menapaki lorong-lorong sepi sendiri?
Perjalanan ini panjang. Tak selesai jika sehari kuceritakan. Awal yang tidak diduga, pertengahan yang ada-ada saja, lalu akhir yang entah bagaimana kelak takdir akan tercipta. Semula sulit aku terima, mungkin karena tak secuil pun aku dapat mengira. Tapi kemudian aku masih banyak bertanya-tanya, sebab aku lebih dari yakin bahwa tak ada yang terjadi jika tidak dari-Mu asalnya.
Jauhnya jarak dan langkah kakiku dari masa depan pernah terbentang begitu jauhnya. Kemudian, kini ia seolah menjadi terlipat meski tidak mengubahnya hingga terasa dekat. Entahlah apa yang ada di balik rencana. Yang kutahu, aku ini bahan dasarnya manusia; hanya pandai mengira-ngira, mengatur prasangka, dan menduga lalu berbaik sangka.Tapi untuk selanjutnya, kukira aku tak punya daya upaya bahkan untuk menebak apa yang menjadi hasil akhirnya.
Begitu pun dengan waktu, ia pernah berputar pada rotasi yang berbeda. Seolah terang berpunggungan dengan gelapnya, lalu gelap pun berpunggungan dengan terangnya. Kemudian, suatu ketika ia menjadi sama. Segala perputaran bagai menyesuaikan diri dengan setiap percepatan dan perlambatan, hingga berkurang diskrepansinya. Tapi, semua ini tidak lantas membuatku boleh mentah-mentah menjadikannya sama lalu melompat-lompat mendahului masa. maka aku tetap mengatur langkah seraya memastikan agar ia tak salah membelokkan kemudianya.
Ada aksi ada reaksi, diantara keduanya ada ruang kendali. Hal itu pun atas izin-Mu telah aku pahami, hingga untuk setiap langkah aku menjadi sangat berhati-hati. Tapi tentu saja, dalam setiap lengkung perjalanannya, selalu ada sesuatu yang terkadang gagal aku siasati, yang kemudian mengundang tanya dan membentuk kebingungan yang muncul dalam berbagai diksi. Agaknya, diam sambil mencari-cari jawabannya sendiri memang bukan solusi. Lalu semua itu kujalin dalam selaksa doa yang tali-temali, berharap akan sampai pada-Mu tanpa terkecuali.
Meski harus berkali-kali berlindung dari perasaanku sendiri, kulakukan segala hingga aku sampai di tepi. Kukalahkan rasa takut, kuhalau rasa ragu, lalu kubentangkan keberanian di atas tikar-tikar yang menjulang menuju sebuah tebing yang tinggi. berbagai kabar kemudian kuterima, tak terkecuali tentang seseorang yang berdiri di tebing itu seorang diri. Tapi mungkin Engkau telah mencukupkan semuanya sampai disini, sehingga aku merasa tidak perlu bertanya tentang jawabnya lagi. Segala informasi yang kuterima telah kukunci, lalu kujadikan cerita-cerita panjang yang kuceritakan pada-Mu pada suatu pagi.
Allah, atas semua yang telah terjadi dan terlewati, aku merasa bagianku sudah selesai. Semua upaya-upaya yang boleh kulakukan dalam batas-batas ruang manusia sudah tak tersisa lagi. Setelah semua ini, mendikte-Mu tentang muara segala perjalanan yang telah kujejaki tentu adalah pilihan yang tidak akan pernah aku jadikan opsi. Tapi satu hal yang aku yakini, menyerahkan segala hasil akhir kepada-Mu adalah satu-satunya jalan yang bisa dengan tenangnya aku tapaki, meski mungkin jalannya penuh kerikil dan bergerigi.
Maka, pada-Mu kuserahkan segala. Pintaku kini hanyalah satu: bantulah aku untuk tidak berhenti merapal harapan akan kebaikan dan keselamatan hasil akhirnya dalam setiap selaksa doa.