Matahari sudah sepenuhnya terbenam di barat. Hujan deras sore tadi menyisakan butir-butir bening di kaca jendela kantor. Aku menatap layar komputer dengan banyak tab terbuka. Sama seperti 'tab-tab' di kepalaku sore ini.
Meski layarku penuh tab terbuka, tatapanku tertuju jauh entah kemana. Hari ini perasaanku menjelma awan yang menumpahkan gerimisnya. Dingin, sendu.
Dari ponselku, kuputar acak lagu di playlist Spotifyku.
Oh, oh, oh
After the love has gone
What used to be right is wrong
Can love that's lost be found?
Sialnya, lamunanku menangkap lirik lagu lawas 1980-an dari Earth, Wind & Fire yang kukenal dari daftar putar Ayah-Ibuku. After The Love Has Gone, judulnya.
Dengung pelan dari AC ruanganku terdengar samar-samar. Sudah lewat Isya' dan aku belum beranjak dari meja kerjaku. Sebaris nama akhirnya terlintas di kepala. Sudah usai kah, kita, pada akhirnya? Selintas narasi mengikuti.
We tried to find what we had
'Til sadness was all we shared
We were scared this affair would lead our love into
Detak jam dinding semakin jelas di telingaku. Jarum panjang lewat angka 7, jarum pendek di angka 6, pukul 19.31. Badanku sudah meminta haknya, tapi kepalaku kenapa berisik sekali? Sebaris nama kembali terlintas di kepala. Apa artinya semua yang kita punya kemarin? Narasi lain berbicara.
Kesal dengan suara di kepala, aku berdiri dan meregangkan otot-ototku yang kaku. Berjalan mendekati jendela dengan pemandangan lampu-lampu kendaraan dari gedung lantai 5 kantorku, cahaya yang kutangkap nampak berpendar.
What used to be happy is sad
Something happened along the way
Oh, yesterday was all we had
Aku menyerah. Tubuhku sudah lelah seharian. Aku tak ingin menambah bebanku dengan memikirkan yang aku sendiri tak yakin dengan alur ceritanya. Kembali ke ruanganku, aku mengemasi barang-barang dan mulai mematikan AC dan lampu ruangan. Sebaris nama kembali menerobos masuk kepalaku. Kalau memang kita sudah selesai, bagaimana bila kita saling ucap pamit dengan terhormat?
Aku pulang. Gelap. Awan hitam menggantung di sudut-sudut langit kota, sedangkan bulir-bulir bening menggelayuti pelupuk mata. Aku mempercepat langkah kakiku sembari menahan rambu isakan yang terasa kian menyesakkan.
Seperti bisa membaca cuaca hatiku, akhirnya langit kembali menangiskan gerimis nya. Rintik-rinai hujan itu pelan tapi pasti menganak sungai di pipiku, berhulukan ujung mata basah yang tak mampu membendung gelisah.
Jika memang yang kita punya adalah kemarin, dan tak kau temukan aku di rencana masa depanmu, maka izinkanku pamit pulang. Ke rumah yang hanya tinggal aku seorang.
(Semarang, 5 November 2025. 19:52, lembur malam di kantor. Sambil mendengar lagu yang jadi inspirasi menulis (?). Dah, aku pulang dulu. Capek lembur sendirian mulu.)
Bonus! Lagu yang kudengar sore tadi sambil mereka-reka adegan galau wkwk
Earth, Wind & Fire · September · Song · 2018