"Setiap orang mengalami masa sulit di beberapa episode hidupnya. Bukan berarti kesimpulan hidupnya buruk, hanya saja kabar baik selalu dibawa oleh kurir yang salah."
NASA

No title available
Today's Document
Claire Keane
🪼

Love Begins
Fai_Ryy
$LAYYYTER
almost home
No title available

gracie abrams

pixel skylines
Lint Roller? I Barely Know Her
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Jules of Nature

#extradirty
EXPECTATIONS
The Stonewall Inn

No title available
TVSTRANGERTHINGS
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Singapore

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Ireland

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from South Africa
seen from Maldives
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Finland

seen from Malaysia
@penyihirsajak
"Setiap orang mengalami masa sulit di beberapa episode hidupnya. Bukan berarti kesimpulan hidupnya buruk, hanya saja kabar baik selalu dibawa oleh kurir yang salah."
Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci
Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?
Lemah layat ~ Horor story
Riuh.
suara motor dan angkot bersahut-sahutan, tidak ada yg mau mengalah, dari kursi penumpang angkot biru laut, dua lelaki paruh baya menatap jalanan, ekspresi wajah mereka khawatir. "jancuk" sahut salah seorang dari mereka, "isok telat iki" (bisa terlambat ini)
mentions lelaki yg satunya menoleh, ia mengkerutkan dahi, menatap kawannya, "mbok pikir koen tok sing gopoh" (kamu kira, cuma kamu seorang yg khawatir)
"halah" "wes mlayu ae, gak nutut iki nek nuruti ngene iki" (lari saja yuk, gak sempat ini kalau kita nungguin ini)
mereka sepakat,
lantas, mereka melompat dari dalam angkot, mulai berlari menuju jalanan stasiunt, berjibaku dengan orang lalu lalang, mereka abaikan keringat didahi, menembus lautan orang yg sibuk dengan urusan mereka masing2, satu yg mereka harus tuju, kereta yg akan membawa mereka pergi.
"goblok koen Gus, mene nek kate onok urusan, ojok tambah ngejak maen gaplek" (bodoh kamu gus, kalau besok ada urusan seharusnya gak kamu ajak aku maen gaplek)
Agus, lelaki gondrong dengan kumis tipis itu tertawa sembari menghela nafas panjang, ia merasa geli atas apa yg terjadi
"Halah. nyocot! sing penting kan menang, oleh duwek akeh" (bacot, yang penting kemarin menang kan, dapat duit banyak) ucap Agus, gemas, ia jitak kepala Ruslan, kawan yg akan menemaninya
sebelumnya, Agus dan Ruslan setuju, daripada nganggur, lebih baik mereka ikut kawan,
meski hanya sebagai kuli bantuan, tapi setidaknya, darisana mungkin hidup mereka akan berubah, tidak lagi harus mendengar kiri kanan tetangga yang mengecap mereka sebagai pengangguran yg gak punya masa depan. kereta melaju, jauh. meninggalkan kota kelahiran Agus,
disini, kehidupan baru bagi Agus dan Ruslan, akan dimulai.
Agus yg pertama turun, diikuti Ruslan, mereka melihat sekeliling, harusnya, kawan mereka akan menjemput di stasiunt ini, namun, ia hanya melihat orang lalu lalang, tidak ada tanda kawan mereka
"asu arek iki Gus, dibelani adoh2 gak disusul" (anj*ng, anak ini, dibelain jauh2 eh,
-gak dijemput)
Agus mengangguk setuju, lantas, ia duduk, mengeluarkan sebatang rokok yg ia simpan di kantung celana, sial. gumamnya, hidupnya sulit, sebatang rokok yg bengkok pun, terpaksa ia hisap, kini, jadi kuli terdengar masuk akal baginya, seenggaknya, ia bisa makan nasi lg
Ruslan hanya melihat orang2, lebih tepatnya, melihat perempuan2 cantik yg lalu lalang, tidak ada rokok untuknya, jadi, daripada melamun, Ruslan tahu bagaimana memaksimalkan kemampuannya untuk menikmati pemandangan
tak beberapa lama, terdengar suara teriakan familiar, ia datang
"ayok"
Agus dan Ruslan mengikuti. "numpak opo iki" (naik apa kita) ucap Ruslan,
"numpak bis lah, iki jek adoh ambek nggone" (naik bus lah, ini tempatnya masih jauh soalnya)
Agus tidak banyak komentar, ia sudah diberitahu, kerjaan mereka tidak jauh dari kuli untuk bendungan
disepanjang perjalanan, Agus hanya melihat jalanan, mereka menaiki Bus antar kota, menjelaskan setidaknya kemana mereka akan pergi.
Koco, kawan yg mereka kenal dari warung kopi memang tidak banyak memberitahu soal pekerjaan ini, kecuali mereka butuh tenaga tambahan,
bahkan, Koco tidak memberitahu, bahwa nanti, Agus dan Ruslan, tidak akan tinggal di Mes tempat para kuli resmi tinggal, Agus dan Ruslan, hanya tahu, bahwa ada rumah yg siap menampung mereka, selama mereka bekerja di tempat ini.
"gratislah" kata Koco, "wes kere mosok jek dijaluki duwik, wes santai ae" (gratislah, masa kalian sudah susah, masih dimintai duit untuk tinggal, santai saja)
Ruslan hanya menatap Agus, bila ada yg gak beres dari suatu pekerjaan, adalah sesuatu yg berbau "gratis"
Agus nyengir, buang air saja bayar, ini, tinggal di rumah orang masa gratis. kalau gak rumah setan, ya rumah orang gak waras. tapi dilain hal, Koco meyakinkan Agus, bahwa rumah itu gratis karena sudah dibayar setahun penuh, dan pekerja sebelumnya sudah pamit pulang.
"pamit pulang kenapa mas?" tanya Agus.
"gak eroh" (gak tau) kata Koco, "isterine ngelahirno, jarene" (isterinya melahirkan, katanya) Koco mengangkat bahu, tanpa sadar, Bus memasuki daerah yg semakin malam, semakin sepi, sunyi, Agus masih tidak yakin, "sing liane" (yang lainnya?)
"muleh pisan" (pulang juga) "gak kerasan" tutur Koco, dan kemudian, ia berdiri. "wes totok" (sudah sampai)
Ruslan dan Agus, mengangkat tasnya, mengikuti Koco yg sudah melangkah turun, pertama kali melihat Desa itu, Agus hanya melihat sebuah desa biasa saja, tak ada yg aneh
tidak ada yg aneh, kecuali, Koco
Koco menunjuk sesuatu, sebuah jalanan lurus, setelah memasuki desa, Koco mengatakannya
"Omah sing bakal mok nggoni, lurus ae yo, wes ra usah menggak menggok, gampang kok ancer-ancere, yo" (rumah yg nanti akan kalian tinggali, lurus saja ya,
-gak perlu belak-belok, mudah kok posisinya) sahut Koco, sebelum menyalakan sebatang rokok, melipir pergi ke sudut desa lain, Agus dan Ruslan hanya saling menatap bingung, sebelum, bersama, mereka pergi.
Agus menelusuri jalan setapak, gelap, tentu saja. Ruslan mengikuti dibelakang, tidak ada bedanya sama jalanan di desa Agus, hanya saja, mungkin karena tempat asing, suasana itu, membuat mereka merinding. "Koco Asu" umpat Ruslan, Agus setuju.
saat mereka sampai diujung jalan,
Agus dan Ruslan tidak lagi melihat ada jalan setapak, kecuali, rumput setinggi mata kaki, didepannya, ada kebun pohon jati yang menjulang tingg, Agus dan Ruslan melihat disana-sini, tidak ada jalan, lelah bila harus kembali, Agus menembus masuk ke kebun jati seorang diri.
tak beberapa lama, Ruslan mengikuti.
dibawah pohon jati, Agus menahan diri, sejak kecil, ia memang biasa dengan tempat seperti ini, namun Ruslan berhati-hati, pekerjaan yg sempat membuatnya bersemangat tiba-tiba seperti mati rasa, perasaannya tidak enak, tapi selama ada Agus,
Ruslan merasa semua akan baik-baik saja.
baik-baik saja, sebelum, Ruslan melihat tempat tinggal mereka, sebuah rumah yang ada dibalik kebun jati.
Rumah kayu, berdiri sendiri, dengan petromaks yg sudah menyala, pintunya terbuka, Agus, mendekatinya.
"gus, Rumah setan pasti gus" ucap Ruslan,
"iya, rumah siapa lagi yg kaya gini kalau gak rumah setan" Agus menimpali, tapi ia, tetap mendekati, di pintu rumah, tercium aroma makanan,
Ruslan semakin yakin,
sampai, dari dalam, muncul si pemilik rumah
"wes tekan ya, monggo" (sudah datang ya, silahkan)
mata Agus bertemu dengan mata seorang wanita, usianya mungkin lebih tua dari Agus, sosoknya ramah, ia mengangguk saat Agus berdiri di depan pintu, ia melewati Agus, Ruslan melangkah masuk, mengamati makanan yg tersaji di meja
namun, Agus mengatakannya secara tiba-tiba.
"saya mencium lemah layat dari makanan itu"
si wanita menoleh, menatap Agus, ia tersenyum, mengangguk, sebelum pergi, Agus baru tahu, ada Rumah lebih besar, tidak jauh dari tempat ia berdiri..
Agus menutup pintu.
"gak usah dimakan Rus, biarin aja" ucap Agus, ia memandangi rumah besar disebrang dari jendela, Ruslan mendekati. "prosoko gak onok omah iku loh gus mau" (perasaanku tadi, gak ada rumah loh disitu)
"Rumahe demit" kata Agus tertawa, membuat Ruslan kesal
"goblok" sahut Ruslan, "aku eroh awakmu ngelmu, tapi yo ojok ceplas ceplos ngunu, awakmu nantang iku jeneng'e" (aku tahu kamu dulu suka ngilmu, tapi jangan begitu ngomongnya, itu kaya kamu nantangin dia) sahut Ruslan, khawatir
"iya, Rus, paham aku, aku cuma mau lihat reaksinya"
"itu makanannya gimana"
"biarin aja, besok juga udah dimakan ulat" Agus menutup tirai jendela.
"berarti temenan gak beres omah iki" (berarti rumah ini memang gak beres ya)
Agus duduk, sembari melihat makanan didepannya. ia melihat Ruslan yg masih penasaran.
"guk omahe sing gak beres, tapi lemahe iki sing gak beres" (bukan rumahnya yg gak beres, tapi tanah tempat rumah ini berdiri yg tidak beres)
"lemah" (tanah) sahut Ruslan,
"Omah iki ngadek gok ndukure, lemah tapal" (Rumah ini, berdiri diatas tanah Tumbal)
Agus berdiri, ia berkeliling rumah, sebenarnya, daripada rumah, tempat ini lebih terlihat seperti gubuk kayu reot, hanya ada 2 kamar dan satu dapur, selebihnya ruang tamu dan pekarangan, namun, ada rumah yg lebih besar persis didepannya, rumah itu, bukan rumah demit, seperti-
yg Agus katakan, namun, rumah itu adalah rumah manusia. Agus pun mengatakannya pada Ruslan agar ia tidak bertanya lagi, "perempuan tadi, itu Gundik'colo"
Ruslan kaget bukan main saat mendengarnya. "masa, masih ada perempuan seperti itu"
"iya" agus mengangguk, "kelihatan"
"dari aroma dan cara dia berjalan kelihatan sekali dia Gundik'colo"
Ruslan geleng kepala,
"serem juga ini tempat, pergi gak kita ini" sahut Ruslan,
"gak usah, yang penting, hati-hati aja sama tuh perempuan" batin Agus, matanya melihat sudut dapur,
"lihat apa"
"Pocongan"
"matamu" kata Ruslan,
Agus hanya geleng-geleng kepala,
"ada berapa?"
Agus menatap Ruslan, "masih 7 sih Rus, kayaknya nanti malam keluar semua" Agus pun menutup pintu dapur, "biarin lah" Agus melipir ke kamar, diikuti Ruslan, "Asu" umpatnya berkali-kali
Malam itu, masih awal dari segalanya. manakala Agus sudah terlelap dalam tidurnya, Ruslan mengintip dari jendela kamarnya, disana, jauh ditempat rumah tempat perempuan itu tinggal, ia tengah berdiri tepat di jendelanya, tengah menatap tempat Ruslan mengintip.
"Asu koen Gus, gara2 lambemu, aku gak isok turu" (Anj*ng kamu gus, gara2 mulutmu, semalam gak tidur aku) sahut Ruslan mengejar Agus yg sudah menyampirkan tasnya, bersiap menemui Koco yg sudah menunggu diluar rumah, beberapa kali Agus melirik Ruslan, senyumannya mengembang
"sing ngongkon awakmu gak turu iku sopo" (yg nyuruh kamu gak tidur itu siapa) sahut Agus, cengengesan, sampai didepan, Agus membuka kain yg ia gunakan untuk menutupi makanan, ketika kain dibuka, Ruslan melompat, melihat makanan semalam, dipenuhi belatung yg memakan saripatih
bau busuk langsung menusuk hidung Agus dan Ruslan.
"bosok" (busuk) ucap Agus, "ayo wes, kawanen" (yasudahlah, kesiangan kita)
Agus dan Ruslan melangkah keluar, tepat di depan rumah, tiba-tiba, mereka berhadapan dengan perempuan itu, ia menunduk, mengucap "monggo"
Agus ikut menunduk, kemudian, melewatinya.
Ruslan yang sedari tadi memperhatikan, melihat gelagat mata perempuan itu yg mengikuti sosok Agus yg terus berjalan cepat, di sudut bibirnya, perempuan itu tersenyum, namun, Agus tidak tahu akan hal itu.
"he, gus, wong iku mau ngguyu loh ndelok awakmu, gak wedi ta" (gus, orang tadi senyum loh lihat kamu, gak takut)
"tresno paling ambek aku" (suka kali sama aku) sahut Agus, tertawa-tawa
"gak wedi di senengi ambek ngunu iku" (gak takut kamu di sukai yg seperti itu)
"gak, iku ngunu jek menungso kok" (gak lah, bagaimanapun, dia masih manusia kok)
lama mereka berjalan di bawah kebun pohon jati, sampailah mereka di jalanan setapak, menuruni jalan utama, sebelum melihat Koco dan semua teman-temannya, Agus dan Ruslan bertegur sapa
sebelum memulai pekerjaannya.
Ruslan masih kepikiran ucapan Agus semalam, semuanya berputar dalam kepalanya, mulai dari tanah layat, pocong sampai Gundik'colo, semua itu, tidak asing baginya, kecuali, masih ada perempuan seperti itu di jaman seperti ini.
seujujurnya, ia takut sekali, namun Agus, aneh
hari mulai petang, Agus dan Ruslan kembali, manakala ia mau melewati jalan ke pohon jati, kebetulan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua pencari rumput, lelaki itu, melihat Agus dan Ruslan bergantian.
"kalian yg tinggal di rumah Lastri"
"iya" kata Agus,
"kalian sudah tahu, ada apa disana" ucap lelaki tua itu lagi, ia kali ini hanya melihat Agus,
"iya bapak, saya tahu" sahut Agus,
"yowes" katanya, "jangan sembrono yo le" si lelaki tua pergi, melewati Agus,
dari jauh, siluet hitam perempuan itu terlihat di ujung jalan
Ruslan yg pertama melihatnya, manakala saat Agus melihatnya, perempuan itu berjalan pergi, Agus dan Ruslan hanya berpandangan, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah.
"aneh gak seh" (aneh gak sih) kata Ruslan, "wong iku koyok golek molo" (perempuan itu kaya cari masalah sama kita)
Agus hanya mendengar Ruslan bicara, saat sampai di tanah terbuka, Agus melirik rumah besar itu, meski sama-sama terbuat dari kayu, namun, kesan ngeri saat melihatnya tidak dapat dikesampingkan, hal yg sama, seakan setiap hari, rumah itu menunjukkan tajinya kepada Agus
Agus membuka pintu, ia tidak lagi melihat makanan diatas meja, semua sudah di bersihkan
"aku adus dilek yo" (aku mandi dulu ya) kata Agus, ia menuju dapur, dibelakangnya ada pintu lagi, disana ada sumur tua, Ruslan, memilih merokok di teras, rokok yg ia rampas dari Koco
manakala ketika Ruslan menikmati kepulan asap rokok di teras rumah, Ruslan melihat sesuatu mengintip dari balik kebun pohon Jati
Ruslan mendelik, ia tidak salah lagi, yg mengintip itu pocong,
"Jancok!!" ucap Ruslan, melipir masuk ke rumah, menuju tempat Agus mandi
kebetulan, Agus baru selesai, ia melihat Ruslan, rokok dimulutnya mengepul tanpa ia sentuh
"pocongan ya" kata Agus, sembari mengeringkan rambutnya "itu di kamar mandi ada dua"
Ruslan mengikuti Agus, "pindah ae loh Gus, gak sreg aku nang kene" (pindah aja yuk, gak tenang aku)
saat itulah, Agus mengintip Rumah besar itu dari jendela, matanya seperti tengah mengawasi,
"gini, Rus" kata Agus serius, ia tidak pernah seserius ini, "Tanah tapal biasanya dipakai oleh orang kaya atau gak orang berpengaruh, sekarang pikir, kira-kira ada apa ya di rumah itu"
"ya mungkin dulunya tanah ini tanah tapal, tapi belum di bersihkan, ya kali, dikira aku gak tau, ngebersihan tanah kaya gini sih gak sembarangan dan jarang orang mau, bahkan orang ngilmu kaya kamu, gak bakal mau bersihin kan" kata Ruslan, ia masih melihat Agus yg masih mengawasi
"tau aku maksudmu Rus" kata Agus, sekarang ia duduk, "gunanya perempuan itu apa coba" "udah di tanah tumbal, eh di jaga sama Gundik'colo lagi, aku penasaran, yg punya siapa ya, aku jadi pengen tahu" Agus mengedipkan mata melihat Ruslan, saat itu Ruslan menyadarinya..
"Cok" kata Ruslan yg baru sadar arah pembicaraan Agus, "koen kate nyolong opo sing gok jeroh omah iku ya" (kamu mau mencuri sesuatu yg ada di dalam rumah itu kan) "Gila kau, itu perempuan gak sembarangan ya, cari mati kamu" Ruslan tak sanggup bicara lagi,
"bukan aku, kita"
"Matamu gus" "awakmu dewe ae, pantes, ket pertama wes disuguhi barang gak bener ambek sing nduwe omah" (Matamu, kamu aja, pantas, dari awal, sudah dikasih sesuatu yg gak masuk akal sama yg punya rumah)
"Halah" Agus tertawa, "gak lah, aku yo gak gendeng" (aku juga gak segila itu)
"aku itu cuma penasaran aja, kerjaan itu perempuan jagain apa, atau gak, ngapain dia, kalau pocongan yg dibelakang kamu kan, cuma bisa ngelihatin kita, gak bakalan ngapa-ngapain, nah, masalahnya tuh perempuan juga ngawasi kita, pasti ada sesuatu" sahut Agus,
Ruslan, diam.
"Gus boleh tanya" Ruslan mencoba untuk tenang, Agus mengangguk, "kata orang, tanah tumbal kalau dijaga pocong, tanahnya, ditanami kain kafan dari orang yg meninggal, itu betul?"
Agus mengangguk,
"dan kain kafan yg meninggal'pun gak sembarangan, harus jumat kliwon, betul?"
Agus mengangguk lagi,
"berarti, berapa banyak, kain kafan yg ditanam di dalam tanah ini?" Ruslan menunggu Agus bicara
Agus tampak berpikir, "seratus kayanya"
Ruslan menelan ludah, "ada seratus pocong disini gus"
"iya" kata Agus, "di luar, masih banyak yg berdiri lihatin kita"
Ruslan berdiri, ia menyesap rokok, tinggal 2 batang lagi, saat Agus meminta sebatang, Ruslan menolak, "Matamu, aku yo penasaran dadine, opo yo sing onok gok jeroh omah iku" (Matamu, aku kok jadi penasaran juga, apa ya yg disembunyikan disana)
"mau lihat gak" sahut Agus,
"oke"
Agus membuka pintu, diikuti Ruslan, "Loh loh, kok sak iki, gak engkok rodok bengi tah" (Loh loh, kok sakarang, gak nanti lebih malam tah)
Agus tetap berjalan, Ruslan kebingungan, mereka sampai di depan pintu, Agus mengetuknya, dan perempuan itu muncul, melihat Agus dan Ruslan
"daripada saya penasaran, saya mau tanya sama anda, anda ini jaga apa sebenarnya?" kata Agus, Ruslan hanya melongo melihat kawan baiknya yg sudah hilang otak,
perempuan itu tersenyum, mengangguk, lalu berujar lirih, "mongg mas," (silahkan masuk mas)
Agus, melangkah masuk
Ruslan mengikuti dibelakang, ia melihat perempuan itu yg masih menunduk, memberi hormat pada mereka, setelah Agus dan Ruslan duduk, ia menutup pintu, menguncinya
"saya kebelakang dulu untuk mengambil makanan, terima kasih, saya tidak perlu melakukan hal buruk pada anda"
"Goblok" ucap Ruslan, "kamu gak bilang maksudnya lihat itu begini, aku kira nanti malam kita sembunyi buat lihat sendiri"
Agus hanya diam, ia tidak menggubris mulut Ruslan, tiba-tiba, perempuan itu muncul, "mas Agus benar, bila kalian datang sembunyi2, kalian bisa celaka!!"
"mbaknya tahu namanya Agus darimana?" tanya Ruslan,
"saya pun tahu, nama anda Ruslan" perempuan itu meletakkan dua gelas kopi, tangannya begitu telaten, termasuk saat menghidangkan jajanan pasar itu, Ruslan tidak lagi bicara, ia fokus pada ekspresi perempuan itu yg datar.
"saya sudah sering melihat petaka dimulai dari ketidaktahuan dan rasa penasaran, sejujurnya, hal itu memang bersifat lumrah dan dimiliki oleh setiap manusia, termasuk anda, jadi, apakah semua sudah jelas mas Agus"
Aagus hanya diam, keningnya berkeringat, Ruslan baru menyadarinya
Agus tidak banyak bicara, ia meraih segelas kopi, menyesapnya perlahan, kemudian melirik Ruslan, "kopinya aman Rus, diminum saja"
Ruslan pun merasa canggung, ia tidak mengerti, perempuan itu duduk, dan tidak memandang mereka, matanya kosong melihat tempat lain
dengan perlahan, perempuan itu menengok pada Agus dan Ruslan, "kalian masih ingin tahu ada apa disini?"
Agus dan Ruslan diam saja, tidak ada pembicaraan lagi, saat Agus kemudian mengatakannya, "terimakasih suguhannya, saya pamit mbak Lastri" Agus berdiri, perempuan itu mengangguk
Ruslan merasa aneh, ia tahu, Agus tiba2 berubah semenjak ia melewati pintu, seperti ada sesuatu yg tidak dapat ia katakan, manakala mbak Lastri sudah membuka pintu, Agus dan Ruslan melangkah pergi, ketika tiba-tiba, Ruslan tercekat, di luar rumah mbak Lastri, berjejer pocong
Agus dan Ruslan bergegas pergi, ia mencium aroma busuk yg membuat Ruslan menutup hidung, meski Agus berjalan biasa saja, ia seperti melamun, matanya kosong, Ruslan segera menutup pintu, ia melihat pocong-pocong itu menatap rumahnya, disana, perempuan itu masih berdiri di pintu
"ada apa gus sebenarnya?" tanya Ruslan, Agus hanya bengong, matanya benar-benar kosong
karena lelah menunggu Agus menjawab, Ruslan memberikan sebatang rokok dimulut Agus, beberapa saat kemudian Agus seperti baru sadar, "Cok, minggat yok" (pergi yuk)
Ruslan, heran
Agus masuk ke kamar, memasukkan semua bajunya ke tas secara serampangan, Ruslan yg masih kebingungan lantas, mendorong Agus bertanya dengan kesal "Onok apa sakjane" (ada apa sih sebenarnya) "koen mau loh gak ngene, opo gara2 kopi mau" (kamu tadi loh gak papa, apa karena kopi)
Agus menggeleng, "kopinya gak papa Rus, tapi" Agus menelan ludah, seperti lidahnya keluh,
"kamu sih bodoh, ngapain nyamperin ke rumahnya, jadi gini kan sekarang" Ruslan menatap Agus kesal, "itu pocong pasti sengaja biar aku lihat kan, sialan si Lastri"
"aku kasih tahu ya Rus" kata Agus, "ini adalah tanah tumbal, kamu dengar sendiri kan, gimana ucapannya kalau kita sembunyi2 cari tahu, dia ngancam itu sebenarnya, satu yg harus kamu ingat dalam kepalamu, kalau kamu niat buruk ke tanah tumbal, nasibmu bisa tragis"
"jadi karena itu, kamu datangin dia langsung" tanya Ruslan,
"iya, buat minta ijin, kalau dia ngasih tahu"
Sebaik-baik pemikir ialah ketika ia menjadi penemu, segagal gagalnya penemu ialah ketika ia sadar penemuannya telah dirilis dalam Al-Quran ribuan tahun lamanya. Sesempurna manusia adalah manusia yang menjadikan Al-Quran sebagai landasan untuk berfikir. Renungkanlah..
Kadang kau tanya "mengapa?" Lalu kubingung harus menjawab apa? Ketika kau tanya alasanku menyukaimu. Kau tentu tau itu hal yang sulit kutemukan jawabnya, namun bolehlah sedikit kuilustrasikan. Ibarat bumi ini tanpa air, niscaya kehidupan ini tak ada. Jadi, levelku sekarang bukan lagi menyukaimu tapi lebih membutuhkanmu.
Cinta yang tulus tak mencari alasan dari kesempurnaanmu untuk lebih menyukaimu, melainkan ia akan mencari cara untuk slalu melengkapi kekuranganmu. Gituh!
Akal itu terdiri dari 3 unsur : melihat, mendengar dan merasa. Cinta bisa tumbuh dari apa yang dilihat dan apa yang didengar, sedangkan patah hati tercipta dari salahnya hati merasa.. :(
Semesta mengatur pertemuan-pertemuan, ada yang pergi membawa serta beban dipundak.. Ada yang datang untuk menguatkan harapan-harapan..
Segala sesuatu yang ditakdirkan milik kita, tak akan pernah akan menjadi milik orang lain. Seberjuang apapun orang lain merebutnya darimu ia kan kembali padamu pada waktunya.
Seperti masa, aku membuang waktuku dengan sia-sia. Yaitu untuk, meyakinkan diri ini agar tak menginginkanmu. Hal-hal yang menyibukanku pekan lalu selalu menuntunku untuk, kembali padamu.
Entah mengapa saat bersamamu jemariku seakan tak mau berhenti mengetik, aku hanya khawatir suatu saat jemariku kaku sebab tak ada lagi kisahmu untuk kuketik.
Tentang apakah yang membuatmu enggan memejamkan mata, bertanya dalam hati, menunggu pagi memberi kabar tersiar, bila bingung biar kuberitahu sambil tak berhenti kumengetik "itu rindu."
Ia memerah bukan perkara gincunya terpoles dengan naas, Ia hanya sedikit malu untuk mengatakan rindu. itu saja.
Dilautan luas hamparan biru
kuseka wajahku berkali-kali untuk melihat raut wajahmu
Pada bagian yang kusuka kau mampu menunjukkan dirimu dalam pikiranku
aku yang membuatnya begitu ambigu
atau memang kau yang tak memahamiku
Bukan masalah untukku jika kau tak melihatku
aku hanya butuh imajinasi untuk membuat jadi senyata salju
ya, dingin mungkin
cukup aku saja, kau tak perlu
tak usah susah payah mencerna kalimat demi kalimat ini
ini kuracik sedemikian rupa agar kau kesulitan dan menyerah
cukup aku saja, kau tak perlu susah-susah
aku saja yang rindu, kau ya bolehlah jika kau mau.
Penyihir membuat keajaiban dengan tongkat, penyair dengan tulisan. Tukang nyair pake jala. Tau nyair warga singapur?
Kadang berkali-kali kecewa itu bukan takdir sih, tapi pilihan. Ketika ajakan merangkul maumu untuk masuk lagi kelubang yang sama. Jadi jangan bodoh!
Tentang alam
Menulis angin mengubah cuaca, syair mencipta hutan. Burung-burung menebar benih, tanah harapan menerima kesuburan, tumbuh di segala kehidupan.
***
Membayangkan kemarau, melihat mata alam, hujan melukis air di angkasa, panorama notasi berlompatan, siklus berganti imaji fatamorgana.
***
Nyanyian perpadian memanggil gemercik sungai, pepohonan seruling sepanjang hari, menggubah ngarai menyatukan pegunungan, samudera membentuk benua.
***
Awan-awan menghias langit, memberi isyarat cuaca. Waktu dititipkan, telah ditetapkan.
***
Kemuliaan kenduri kebudayaan. Persaudaraan di rahim semesta. Senyuman menentukan peradaban. Entitas, makna natural. Sampaikan salam, sehingga tak ada akhir.