halo tumblr! semakin jarang dibuka berarti saya semakin sibuk; atau disibukkan orang lain. kami baik-baik saja, mulai tertata, dan lebih sering tertawa. terima kasih ya

pixel skylines

JBB: An Artblog!

titsay
ojovivo

shark vs the universe
Claire Keane

No title available
we're not kids anymore.
Xuebing Du
NASA
noise dept.
No title available
cherry valley forever
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
🪼
Monterey Bay Aquarium
No title available

#extradirty
Jules of Nature

祝日 / Permanent Vacation
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@permadikdik
halo tumblr! semakin jarang dibuka berarti saya semakin sibuk; atau disibukkan orang lain. kami baik-baik saja, mulai tertata, dan lebih sering tertawa. terima kasih ya
Kita sudah muak dengan angka-angka yang bertaburan di layar kaca dan layar sentuh kita masing-masing; bencana ini belum pula berakhir.
Orang-orang kehilangan, hancur, terpental karena dampaknya yang luar biasa. “Aku lebih baik mati terkena virus di luar ketimbang mati kelaparan di kamar sendiri”, terlalu miris dipekikkan sejumlah orang banyak. Kalimat itu terasa sangat menyayat karena begitu nyata dan dekat. Bahkan ada yang lebih menyedihkan, banyak orang-orang yang punya kamar pun tidak. Mereka mungkin mati di jalan, di taman, atau di tempat-tempat tersembunyi yang tidak kita ketahui; atau tidak kita pedulikan.
Setiap orang punya titik terendahnya sendiri-sendiri. Ada yang bergelimang kemewahan, tetapi harus berjibaku dengan obat seharian dan rentetan jadwal berobat yang melelahkan. Ada yang bugar, tetapi harus berlari mengejar rupiah sedikit-demi-sedikit untuk nyawanya esok hari. Ada juga orang-orang yang terjebak keadaan, dimana dia tidak punya banyak pilihan. Rasanya kesehatan, kecukupan rejeki, dan semua hal-hal duniawi ini tidak pernah cukup karena ia tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri. Sampai-sampai ia menanggalkan impian-impiannya karena perlu memastikan keadaan untuk tetap bisa dikontrol, setiap hari.
Jangan ambil rasa syukurku Tuhan, itu saja mungkin yang kami butuhkan saat ini di tengah pandemi.
Bersama setiap kesulitan itu ada kemudahan. Dan kepadaNya lah kami berserah diri.
Ada sebuah obituari yang ingin kutulis lengkap, kalau bisa biografi. Tapi ku tak sanggup memulainya. Sebuah cacatan berjudul “Ibu, Boleh Minta Sambal Lagi?” yang mulai kutulis persis seminggu sebelum ia tiada pun tak kunjung rampung. Mungkin aku belum merelakannya sepenuh hati. Ibu, kami mulai diuji satu persatu. Aku belum sanggup menopang atap yang koyak ini, pondasiku belum kuat.
[...] Tesis ini secara khusus saya dedikasikan untuk Bapak dan Ibu, yang sampai akhir hayatnya masih percaya bahwa pendidikan tinggi adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib manusia. Tidak untuk menjadi kaya, tapi untuk menjadi berdaya.
Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.
Babak 2
...
Sejak meledak pertama kali ketika itu, rasanya semakin hampa. Aku lega, tapi tiba-tiba kosong, melompong. Ini seperti tidak nyata, padahal iya. Sejak itu, selera humorku meningkat, melihat daun bergoyang saja aku ketawa. Giting. Aku seperti orang mabuk - pengar, hangover dalam bahasa Indonesia.
...
Orang-orang berdatangan, bercerita tentang kebaikan-kebaikan. Memandikan, mengkafani, menyolatkan. Rumahku ramai sekali, tapi serasa kosong. Ada yang hilang. Setiap kuangkat tubuh dingin itu, aku tak meledak sama sekali. Apakah hatiku sudah mati rasa? Terlalu sakit sehingga kebas, tak berasa lagi?
...
Sampai wajah beku itu kulihat terakhir kali, dihadapkan ke kiblat, menyudut di peristirahatan terakhirnya, aku baru sadar. Liang 2x1 itu sempit sekali. Kain putih dan bantalan-bantalan bulat merah itu nyata sekali. Papan-papan susun itu nyata sekali. Tanah-tanah yang dipadatkan pelan-pelan itu nyata sekali. Tunggul kayu berlapis nama itu nyata sekali. Kalimat puji-pujian Tuhan itu nyata sekali.
...
Seperti baru terbangun dari tidur, aku tampar pipi kanan dan kiri, ternyata ini nyata. Aku ingin meledak, tapi tertahan. Terlalu banyak orang-orang baik yang datang, memastikan kami tak meledak-ledak, tersenyum penuh rasa syukur. Sampai hari ini aku belum meledak. Lebih baik kuluapkan tipis-tipis pada tulisan, supaya ledakan ini bermakna, menguatkan. Merelakan kehilangan terhadap sesuatu yang dititipkan Tuhan itu bentuk syukur tertinggi, menurutku.
...
Terima kasih, ya Allah. Kelak, aku ingin berpulang sepertinya. Dirindukan dalam do’a. Dikenang-kenang dalam kebaikan.
Babak 1
...
Motorku tiba-tiba oleng, dini hari yang sangat dingin. Lebih dingin dari biasanya. Tanpa keraguan, tak takut begal, tak seperti biasanya. Rasanya gugup, lebih gugup daripada tes bacaan sholat ketika TK, lebih gugup dari ujian masuk perguruan tinggi, lebih gugup dari apapun. Pandanganku kosong, isi kepalaku penuh, ingin meledak. Kakiku gemetar. aku yakin bukan karena dingin, karena lebih dari itu.
Telepon di wanci janari itu kosong tanpa ekspresi, “pulang sekarang, udah repot”
...
Kenapa banyak sekali orang?
...
Yang kutakutkan akhirnya terjadi. Kenapa aku malah pergi dan tak menginap di rumah? Kenapa aku tak pamit dulu berangkat paginya? Banyak sekali pertanyaan.Tapi aku tak punya jawaban. Aku hanya diam, terkulai lemas, kedinginan. Aku akan menghadapi kesepian-kesepian hebat di hari-hari ke depan.
...
Pertahananku lemah, aku meledak, tidak tahu seperti apa rasanya. Aku lemah, sambil berusaha kuat, karena ini fenomena biofisika yang rutin terjadi setiap hari. Setiap yang mati akan kembali ke tanah, hidup bersama organisma-organisma lain melalui siklus nutrisi di ekosistem. Tapi ini lebih dari perkara biofisika, siklus biogeokimia, Ini soal rasa. Setiap nyawa akan kembali kepada yang memilikinya, lalu meninggalkan sebagian kenangan-kenangan yang hangat dan dingin, yang manis dan pahit, yang terang dan gelap.
...
Aku hanya tak siap. Seperti tidak nyata, karena dia masih ada, di hati kita masing-masing. Di dalam ingatan.
...
Hari ini aku begitu lelah, ingin mengeluh. Kepadanya. Titip Ya Allah, sampaikan padanya. Kita semua baik-baik saja.
Ramadan ini cukup berat, bisa jadi malah yang paling berat yang pernah dilalui. Saya berada di persimpangan hidup yang cukup rumit, ibu sakit dengan penyakit yang tak seperti biasanya. Refleksi dan introspeksi sana sini, ternyata saya belum menjadi anak yang cukup baik memperhatikan orang tuanya. Masa studi tinggal sedikit lagi, rasanya terlalu lama saya berleha-leha dengan idealisme semu dan fana. Saya malah berhenti menulis tesis karena saya lupa, saya punya dompet dan kuota yang perlu diisi. Tak fokus disana dan disini. Saya juga sibuk dengan relasi sosial yang rumit dengan seseorang di masa lalu, berdialektika tentang masa depan yang masih abstrak. Sepertinya saya terlalu sibuk dengan diri sendiri.
Entah saya yang terlalu mendramatisasi kondisi atau memang saya belum menjadi persona yang cukup dewasa. Ramadan ini sungguh mengeskalasi saya ke titik yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya bersyukur di satu sisi, lelah di sisi yang lain, dan sedih di saat yang bersamaan.
Saya masih berpegang teguh pada satu kalimat kunci, bahwa: Ia turunkan serentetan ujian di saat bersamaan pada seseorang supaya ia naik kelas.
Menghadapi kenyataan bahwa orang tua mulai tua dan sakit-sakitan, apalagi diindikasikan kanker, kehidupan sehari-hari menjadi tak sama lagi. Seperti anggota tubuh, ujian ini tidak hanya menimpa pasien, tetapi juga anggota keluarga yang lain. Kedekatan diantaranya diuji hingga level paling tinggi. Konflik-konflik internal menjadi mendesak sifatnya untuk diselesaikan, untuk berbagi peran satu sama lain. Lebih sulit ketika sebetulnya tidak pernah ada kedekatan yang intim diantara mereka, dan tidak ada sosok yang paling depan, netral, dan objektif yang bisa merangkul semuanya. Mungkin untuk saya pribadi, ini adalah ujian tersendiri untuk untuk mengambil inisiatif menjadi sosok tersebut. Bismillahirrahmanirrahim.
Pada satuan-satuan waktu, menyusup didalamnya perubahan. Orang lain menyebutnya perpindahan, atau percepatan. Melihat-lihat ke belakang, perlahan-lahan, seperti menelusuri cabang-cabang akar sampai ke pangkalnya; mengembalikan nilai-nilai yang tercecer sepanjang perjalanan menembus satuan-satuan waktu tersebut. Kata orang, sesekali lihatlah ke belakang, ke masa lalu. Mungkin ada nilai tertinggal yang masih relevan, ada nilai hilang yang harus dikembalikan, atau nilai tersembunyi yang kita lupakan. Terima kasih Tumblr.
Pada yang keras kepalanya, yang lembut hatinya. Yang ketika terbangun ia menyebut nama-Nya. Yang ketika siang hari ia terlelap tak kuasa menahan kantuknya, lelah bekerja. Semoga dilindungi-Nya senantiasa, dalam doa-doa terbaik yang dilantunkan untuknya.
Entah mengapa. Pada langit yang tak hujan, sore hari. Menyusuri pedestrian. Kekenyangan, atau kelaparan. Selalu sempurna
Bersama kesulitan, ada kemudahan. Titik. Kadang ngaji nya sampai situ doang. Padahal ada kelanjutannya, Dan hanya kepada Tuhan-mu lah kamu berharap
Oh, aku tahu mengapa kau menghendaki hujan malam ini. Supaya ranting-ranting yang patah itu tak sempat berteriak karena kesakitan, sebab hujan mendinginkan. Supaya daun-daun yang ingin rontok itu tak sempat jatuh, sebab hujan menopang.
Ada sisi-sisi melankoli, yang terpuaskan dengan menulis puisi atau kalimat-kalimat berima.
Siapa yang bisa menjamin seseorang itu lebih baik atau tidak, kecuali kita mempercayainya? Memang kamu percaya? Atas Ridho-Nya. Bismillah
Sedang merencanakan hijrah dari tumblr ke platform wordpress. Semoga tidak wacana dan isi tulisan nggak curhat lagi. Bismillah