Current mood đ
One Nice Bug Per Day

oozey mess
Show & Tell
taylor price

#extradirty
Color Me Curious
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium
Phantogram Three
almost home
đ

No title available

No title available
ojovivo
The Bright Sessions
occasionally subtle

tannertan36

ellievsbear
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from Ecuador
seen from United States

seen from Germany
seen from Vietnam

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Germany

seen from Hong Kong SAR China

seen from Switzerland
seen from Austria
seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United States
seen from TĂźrkiye
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@pinkmonster812-blog
Current mood đ
"Selamat datang malamku, selamat jalan rinduku." Hanya itu yang selalu ku ucap saat senja berlalu dari langitku đ
Pada akhirnya, kamu hanya perlu mensyukuri apapun yang kamu miliki hari ini. Walaupun yang kamu tunggu tak pernah datang. Walaupun yang kamu perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang kamu lakukan. Nikmati saja. Kelak, dia yang kamu cintai akan tahu, betapa kerasnya kamu memperjuangkannya. - Boy Candra - #boycandra #exploredieng #telagawarna #wonosobo (at Telaga Warna, Dieng - Wonosobo)
Sebenarnya, aku berbohong. Aku selalu takut kehilangan dia, sosok yang belum benar-benar kumiliki. Aku tak selalu di sampingnya, tak selalu bertukar kabar dengannya, tapi rindu seperti punya kendali khusus. Aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintai dan merindukannya. #exploredieng #kawahsikidang #dieng #wonosobo #iloveyou #quotes #melepasmatahari #jatuhcintadiamdiam #dwitasari (at Kawah Sikidang Dieng)
Nikmati duniamu dan bersyukurlah atas apa yang terjadi padamu. Tuhan selalu punya rencana indah diluar inginmu dan Tuhan selalu punya cara terbaik untuk membahagiakanmu. See you next trip đ #candiarjuna #dieng #wonosobo #exploredieng #diengplateau #jalan2man #mypermatawisata (at Candi Arjuna - Dataran Tinggi Dieng)
Friday, August 12, 2016
"Kusut!" Mungkin hanya itu yang dapat aku katakan ketika ada orang yang menanyakan apa yang terjadi padaku belakangan ini. Aku mungkin bisa tersenyum, tertawa dan terlihat baik-baik saja didepan mereka semua. Namun ketika aku sendiri? Hanya aku dan Tuhan yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hari ini, yang kuharap aku bisa bertemu dengan si pujaan hati di waktu sibuk kami, ternyata kandas. Pikiranku kacau belakangan ini, entah memikirkan apa. Bohong. Banyak sekali yang aku pikirkan sampai aku sendiri dibuat lelah oleh pikiranku sendiri. Aku ingin mengadu pada Tuhan, tapi aku terlalu malu untuk bertemu dengan-Nya. Karena aku selalu mencari-Nya hanya ketika aku sedih, kecewa dan ketika aku berada pada titik terendah ku saja. Aku ingin bercerita kepada orangtua, terutama Ibu, namun aku takut jika hanya akan menambah beban pikirannya saja. Sudah cukup 20 tahun aku menyiksa pikiran dan batinnya akibat ulah dan sikapku yang sering kali tidak berkenan di hatinya. Aku ingin bercerita kepada teman dan sahabat, namun aku ragu. Sudah cukup sering aku menceritakan keluh kesahku selama ini kepada mereka, aku takut mereka akan bosan dengan semua ceritaku yang selalu aku ulang dan selalu terjadi berulang kali. Aku ingin bercerita kepadanya, dia yang selama satu tahun lebih ini sudah menemaniku dan menjadi salah satu alasanku tersenyum. Tapi apa yang terjadi? Malam itu ketika kami bertemu setelah hampir satu minggu tak jumpa, aku merasa asing dengan kehadirannya. Semakin lama semakin asing. Aku seperti kehilangan sosok hangat yang selama ini membuatku nyaman. Dia yang kujadikan tempat pulang telah berubah menjadi seperti rumah kosong tak berpenghuni. Gelap. Dingin. Tak nyaman seperti dulu. Aku rindu dia. Aku rindu dia yang dulu. Aku rindu aku yang dulu. Aku rindu KITA.
I don't hate you. I never could. I hate how you made me fall for you when you knew you had no intentions of catching me.
Menunggu seseorang untuk sadar. Tidak peduli berapa kali pun aku muncul dihadapanmu, aku berakhir hanya menjadi bayangan. Setiap denyut detik yang aku habiskan hanya untuk menerka apakah sebenarnya kau menyadariku atau tidak. Bahagiaku terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja bertukar tatap. Namun sedihku terlampau lasuh, cukup karena tak bertemu denganmu di waktu dan tempat biasanya kau hadir. Aku tak sedang menunggumu untuk sadar. Namun nahasnya, kau dengan sadar tak menyadariku.
::D::
Semakin lama malah semakin asing, dan pada akhirnya aku memahami akan satu hal bahwa⌠Sebenarnya selama ini kita bersama, bukan bersatu ~
Just Once
You blow into my hands and disappear when it seems like I can catch you Like the cruel wind, you get farther away The night I quietly cried as I held onto my heart My day passed as sadness in the darkness I difficultly erase and erase But Iâm draw you out again The painful memories make our love even sadder No matter how much I hide it, you fill up my eyes The longing overflows like my tears, what do I do? Will I be able to see you in my dreams? If I anxiously wait, will I meet you? I make a wish on that lonely moon Just once, just once more... I say this alone mixed with tears You only come to me in my sad dreams I know, I know but I canât let you go even a little bit ~
Untitled
Kalau aku mengatakan semuanya, apakah kita bisa bersama?
Kalau aku jujur padamu, apakah kita bisa bersama?
Kalau aku mengatakan semua yang kurasakan, apakah kita bisa bersama?
Aku tidak tahu. Semuanya terasa samar dan seperti bayang-bayang. Tidak ada kejelasan akan hal itu dan semuanya tampak abu-abu.
Mungkin benar kata orang tentang âCinta tidak harus memilikiâ, begitupun yang terjadi diantara kita. Saling mencintai namun tidak bisa bersama, miris, namun seperti itulah kenyataannya.
Boleh aku jujur? Sesungguhnya kenyataan seperti inilah yang aku benci. Aku benci dengan keadaan. Terlalu sulit untuk diterima dan terlalu sakit jika mengingatnya. Sakit.
Kau bilang, kau masih menyimpan perasaan padaku dengan rapi.
Kau bilang, setelah kejadian yang terjadi diantara kita dulu, perasaanmu menjadi semakin kuat.
Lalu yang ingin kutanyakan padamu, benarkan itu semua? Benarkah kau masih memiliki perasaan yang kuat itu? Masihkah? Jika memang masih dan jika memang itu semua benar, tidak cukupkah itu menjadi sebuah alasan kuat untukmu agar berani untuk mencoba jujur padaku?
Tolong jangan katakan lagi kalau kau takut menyakitiku nantinya jika kau jujur tentang perasaanmu sebenarnya. Tolong jangan katakan lagi kalau aku wanita yang terlalu baik untukmu. Tolong jangan katakan lagi kalau kau terlalu âbadboyâ untuk bersanding denganku.
Karena aku tahu itu semua hanya alasanmu saja. Alasanmu untuk menolakku. Aku tahu. Alasan klasik, mungkin.
Namun tahukah kau, jika sikapmu yang seperti ini justru yang menimbulkan masalah? Ini sudah kesekian kalinya kau bersikap seperti ini. Jujur dan mengatakan segalanya disaat semuanya sudah terlambat. Namun aku menghargai itu, sungguh. Sikapmu yang terkadang plin-plan dan tidak tegas seperti ini ternyata yang membuat sebuah lubang luka menganga lebar disini. Entah, tidak ada yang bisa kuperbuat untuk menutup luka besar itu. Semuanya terjadi begitu cepat.
Kau mengatakan bahwa jika kau jujur padaku tentang perasaanmu, kau akan menyakitiku. Kau sangat takut jika nantinya kau menyakitiku. Namun tahukah kau, tanpa kau sadari dan tanpa kau ketahui, aku disini menahan sakit. Sendiri.
Terkadang aku ingin berteriak, tidak bisakah aku menjadi salah satu wanita beruntung yang bisa dekat denganmu seperti mereka? Tidak perlu kusebutkan siapa mereka itu. Namun yang jelas, aku sangat iri. Aku iri dengan kedekatan mereka denganmu tanpa harus memikirkan apapun. Tanpa nemikirkan perasaan dan lain-lain.
Terkadang aku juga ingin berteriak, tidak bisakah aku, suatu saat nanti -entah kapan-, menjadi salah satu wanita beruntung yang bisa menempati ruang kosong hati kecilmu itu? Namun kenyataan kembali menghampiriku, kau perlahan menjauh dan menghindariku. Disaat itulah harapanku pupus. Lagi-lagi aku harus menahan ini semua untuk yang kesekian kalinya. Sendiri.
Tentang J, maafkan aku. Aku sebenarnya bukan tipe orang pendendam, hanya saja entah apa yang membuatku seperti ini. Jika kau bisa memainkan imajinasimu dengan menciptakan seorang Eunji, begitupun denganku. Aku bisa melakukannya juga dengan menciptakan seorang J-ku sendiri. Kita impas. Namun aku sungguh-sungguh meminta maafmu. Maafkan aku ~
Dear My Big-Bro ~
Apa yang kau lakukan saat ini bukan semata-mata karena kau sedang menghindariku, 'kan? Kalau memang iya, kenapa harus?
Aku ini adikmu, dari awal kita bertemu tahun 2012 sampai sekarang pun akan selalu sama, tidak peduli apa yang terjadi, gadis ini akan selalu menganggap dirimu seorang kakak ~
Tapi ada beberapa hal yang ingin kutanyakan saat ini, karena terlalu lelah menunggu responmu, pada akhirnya semua pertanyaanku akan ku tulis disini dan kau bisa berikan jawabannya. Tidak apa-apa, 'kan?
Aku mau menceritakan sesuatu hal. Berikan responmu ya ~
Ada seorang gadis kecil yang dulunya berhubungan baik dengan seorang laki-laki. Awalnya gadis itu menganggap laki-laki itu biasa saja sampai akhirnya dia sadar bahwa ternyata laki-laki itu adalah seseorang yang baik. Singkat cerita, mereka akhirnya berhubungan layaknya kakak dan adik. Semakin lama kenal, gadis itu akhirnya jatuh hati pada kakaknya sendiri ~
Percaya ataupun tidak, perasaan itu masih ada. Meskipun sudah terlampau lama, tapi jelas, perasaan itu masih ada. Tertata rapih disana. Tapi karena sesuatu hal, pada akhirnya gadis itu memilih menghilang sejenak dan membuang perasaan ini. Ia rasa usaha itu cukup berhasil, karena setidaknya gadis ini sudah mulai bisa melupakan perasaannya sedikit demi sedikit.Â
Hingga akhirnya, dengan bodohnya gadis itu kembali membuka akun Roleplayer-nya dan ia teringat akan sesuatu. Haha sederhana, ia hanya merindukan kakak laki-lakinya dan detik itu juga ia langsung mengiriminya sebuah Direct Message ~
Gadis itu tentulah senang karena pada akhirnya gadis ini bisa bicara lagi dengan kakaknya. Membahas tentang masalah yang pernah terjadi diantara mereka dan pada akhirnya saling memaafkan. Gadis itu senang. Tentu saja ~
Tapi ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran gadis itu belakangan ini, ketika ia mengetahui ternyata kakak laki-lakinya itu ternyata sudah mempunyai seseorang yang spesial. Gadis itu terkejut awalnya, namun ia haruslah merasa senang mengingat bahwa kakak laki-lakinya sedang bahagia dan akan segera memiliki pasangan yang kelak akan menjadi wanita paling beruntung di dunia karena mendapatkan kakak laki-lakinya itu. Dia tersenyum senang dihadapan kakaknya, namun hatinya tersenyum lirih ~
Entah mengapa perasaan yang awalnya sengaja ia buang sejak lama itu muncul kembali sampai pada akhirnya ia merasa bahwa ia tidak memiliki kesempatan apapun untuk lebih dari sekedar adik. Betapa bodohnya gadis itu karena selama ini masih menyimpan perasaan yang jelas-jelas telah ditolak kakak laki-lakinya itu. Ia bodoh, bukan?
Setelah memutuskan untuk melupakan perasaan terhadap kakaknya itu untuk kesekian kalinya, ia melihat bahwa, kenyataan tentang seseorang spesial yang kakak laki-lakinya pernah ceritakan merupakan hanya kebohongan belaka. Ia melakukannya agar gadis itu pergi menjauhinya. Entah apa yang ada dibenak kakak laki-lakinya itu ~
Selama ini gadis itu merasa baik-baik saja dengan statusnya sebagai âadikâ dan selama ia masih bisa berkomunikasi dengan kakaknya, ia tidak akan pernah menuntut lebih. Karena gadis itu sadar, tidak akan pernah ada sedikit kesempatan pun baginya untuk menjadi seseorang yang berarti dalam hidup kakaknya. Ia sadar ~
Tapi, itulah yang menjadi pertanyaan besar untuknya.
Kenapa kakak laki-lakinya berbohong kepadanya? Bukankah ia membenci seorang pembohong? Bahkan kakak laki-lakinya itu pernah membencinya setengah mati karena gadis itu pernah berbohong padanya. Apakah ia membalas dendam? Tidak mungkin. Kakaknya bukanlah tipe orang yang suka membalas dendam. Dia orang baik, meskipun ia sering tidak memegang kata-kata yang sudah diucapkannya ~
Sekali lagi pertanyaan itu berputar di kepalanya, kenapa kakak laki-lakinya berbohong?
Kenapa kakak laki-lakinya ingin ia menjauh darinya?
Apakah kehadirannya selama ini mengganggunya?
Ataukah karena kakaknya merasakan bahwa gadis ini masih memiliki perasaan itu? Oleh karenanya ia merasa terganggu akan itu semua?
Kalau memang iya, sebaiknya katakan saja secara langsung. Itu akan lebih baik daripada seperti ini.
Kalau memang keberadaan gadis itu hanya mengganggunya, maka gadis itu akan kembali seperti yang pernah ia lakukan dulu. Menghilang dan menjauh pergi sesuai keinginan kakaknya. Apapun akan ia lakukan asalkan melihat kakaknya bahagia, hanya itu ~
Bagaimana menurutmu?
Untitled
âTahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan ~"
[ Love Story ] "I Love You"
I have a boyfriend who grew up with me. His name is Jin. I always thought of him as a friend until last year, when we went to a trip from a club. I found that I fell in love with him. Before that trip was over, I took a step and confessed my love for him. Then soon, we became a pair of lovers, but we loved each other in different ways. I always concentrated on him only, but by his side, there were so many other girls. To me, he was the only one. But to him, maybe I was just another girl.
âJin, do you want to go watch a movie?â I asked.
âI canât.â
âWhy? You need to study at home?â I felt disappointment grabbing me.
âNo. Iâm going to meet a friend.â He was always like that. He met girls in front of me, like it was nothing. To him, I was just a girlfriend. The word âloveâ only came out from my mouth.
Since I knew him, I had never heard him say âI love youâ before. To us, there werenât any anniversaries at all. He didnât say anything from the first day and it continued till 100 days... 200 daysâŚÂ Everyday, before we say goodbye, he would just hand me a doll. Everyday, without fail. I donât know why.
Then one day ~
Me : âUm, Jin. IâŚâ
Jin : âWhat? Donât drag, just say.â
Me : âI love you.â
Jin : ââŚâŚ YouâŚ. Um, just take this doll and go home.â That was how he ignored my âthree wordsâ and handed me the doll. Then he disappeared, like he was running away. The dolls I received from him everyday, filled my room, one by one. There were many.Â
Then one day came, my 18th year old birthday. When I got up in the morning, I pictured a party with him and stranded myself in my room, waiting for his call. ButâŚÂ lunch passed, dinner passed⌠and soon the sky was dark. He still didnât call. It was already tiring to look at the phone anymore.
Then around 2 a.m in the morning, he suddenly called me and woke me from my sleep. He told me to come out of the house. Still, It felt joy and I ran out happily.
Me : âJinâŚâ
Jin : âHere⌠Take this.â Again, he handed me a little doll.
Me : âWhatâs this?â
Jin : âI didnât give it to you yesterday, so I am giving it to you now. Iâm going home now, bye.â
Me : âWait, wait! Do you know what today is?â
Jin : âToday? Huh?â I felt so sad, I thought he would remember my birthday. He turned around and walked away like nothing had happen. Then I shouted, âWait!â
Jin : âYou have something to say?â
Me : âTell me, tell me that you love me!â
Jin : âWhat?!â
Me : âTell me!â I put my pathetic self behind and clung on to him. But he just said simple cold words and left. âI donât want to say that I love someone so easily. If you are desperate to hear it, then find someone else.âÂ
That was what he said. Then he ran off. My legs felt numb and I collapsed to the ground. He didnât want to say it easily. How could he. I felt that, maybe he is not the right guy for me. After that day, I stranded myself at home crying, just crying. He didnât call me, although I was waiting. He just continued handing me a little doll every morning outside my house. Thatâs how those dolls piled up in my room, everyday.
After a month, I got myself together and went to school. But what made the pain resurface was that. I saw him on a street, with another girl. He had a smile on his face, one that he never showed me as he touched the doll. I ran straight back home and looked at the dolls in my room, and tears fell. Why did he gave these to me? Those dolls are probably picked out by some other girls. In a fit of anger, I threw the dolls around. Then suddenly, the phone rang. It was him!
He told me to come out to the bus stop outside my house. I tried to calm myself down and walked to the bus stop. I kept reminding myself that I am going to forget him, that⌠itâs going to end.
Then he came into my sight, holding a big doll.
Jin : âJo, I thought you were pissed, you really came?â I couldnât help hating him, acting like nothing had happen and joking around. Soon, he held out the doll as usual.
Me : âI donât need it!â
Jin : âWhat? Why?â I grabbed the doll from his hands and threw it on the road.
Me : âI donât need this doll! I donât need it anymore! I donât want to see a person like you again!â I spitted out all the words that were inside me. But unlike other days, his eyes very shaking.Â
âIâm sorry.â He apologized in a tiny voice. He then walked over to the road to pick up the doll.
Me : âYou stupid! Why are you picking up the doll?! Just throw it away!â But he ignored me and just went to pick the doll.
ThenâŚ
Honk! Hooooonk!!
With a loud honk, a big truck was heading towards him.
âJin! Move! Move away!â I shouted. But he didnât hear me, he squatted down and picked up the doll.Â
âJIN! MOVE!â
HONK!!!
Boom!!!
That sound, so terrifying. Thatâs how he went away from me. Thatâs how he went away without even opening his eyes to say one word to me. After that day, I had to go through everyday with guiltiness and the sadness of losing him. After spending two months like a crazy person, I took out the dolls.
Those were the only gifts he left me since the day we started going out. I remembered the days I spent with him and started to count the days, when we were in love.Â
âOne⌠Two⌠ThreeâŚâ That was how I started to count the dolls. âFour hundred and eighty four. Four hundred and eighty fiveâŚâ It all ended with 485 dolls. I then started to cry again, with a doll in my arms. I hugged it tightly, then suddenlyâŚ
âI love you~ I love you~â I dropped the dolls, shocked âIâŚ.lo..veâŚyou?â I picked up the dolls and pressed its stomach. âI love you~ I love you~â It canât be! I pressed all the dollsâ stomach as it piled on the side. âI love you~â âI love you~â âI love you~â Those words came out non-stop. IâŚlove youâŚÂ
Why didnât I realize that? That his heart was always by my side, protecting me! Why didnât I realize that he love me this much? I took out the doll under the bed and pressed itâs stomach. That was the last doll, the one that fell on the road. It had his blood stain on it. The voice came out, the on that I was missing so much.
âJoâŚDo you know what today is? Weâve been loving each other for 486 days. Do you know what 486 is? I couldnât say I love you since I um⌠I was too shy. If you forgive me and take this doll, I will say that I love you. Everyday. Till I die. Jo⌠I love youâŚâ
The tears came flowing out of me. Why? Why?! I asked God, why do I only know about all this now?! He canât be by my side, but he loved me until his last minute!
- THE END -
Both of we are quiet but we have a hundreds of things running in the mind...
Both of we are missing each other badly but want the other one initiate the conversation...
Both of we are want to be each other to fight, to argue, to show love. But we would pretend that they are fine without each other...
Both of we are want to meet each other. But will not say anything and wait silently. We would send each other silly messages but would not tell that "Stupid I'm missing you"...Â
This Is Love..
Sometimes we miss out on most loveable moments just because we want the other one take the first step...
Showing love might improve the situation. But showing ego definitely ruins it...
What should we do?
"I LOVE YOU"