"Takdirmu lebih mencari kamu daripada kamu mencarinya. Titik."

Kaledo Art

No title available

Discoholic 🪩
almost home

Product Placement
Today's Document
dirt enthusiast
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
h
Claire Keane

JVL
wallacepolsom
Three Goblin Art
Xuebing Du
Game of Thrones Daily
No title available
Stranger Things
No title available
DEAR READER
sheepfilms

seen from United States
seen from T1
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from Australia

seen from United States
seen from Brazil
seen from Bolivia

seen from Australia

seen from Germany
@prajuritbumi
"Takdirmu lebih mencari kamu daripada kamu mencarinya. Titik."
"Suara-suara di dunia ini banyak sekali."
"I hope you can filter the voices you need to hear. And, mostly, I hope you listen to yours the most."
as i grow older, i believe, you don't need to have a loud voice to be heard and to change the world for the better.
just speak! with voices. with words. with actions. with prayers.
whatever it is, please speak. find your voice and fill the silence.
Yang paling susah itu memulainya. Sedang, yang paling penting itu menyelesaikannya.
Ya, tidak?
Pikiran yang panik, jarang berakhir baik.
jadilah bijak menyikapi perasaan sendiri. ketika senang tidak terlalu melonjak. ketika sedih tidak merasa terinjak-injak.
Bersamalah dengan seseorang yang mendengarkanmu. Mendengarmu bahkan ketika kamu sedang diam. Membaca apa-apa yang tidak kamu tunjukkan serta mengerti apa-apa yang tidak kamu jelaskan.
Kalau sudah bersama, tinggal sama-sama saling membersamai
Perjalanan Menerima
Perjalanan menerima diri sendiri itu panjang dan lama sekali.
Harus melewati banyak penolakan. Harus melewati banyak kegagalan. Harus melewati banyak keraguan. Harus melewati banyak pertanyaan. Harus melewati banyak penyesalan. Harus melewati banyak hambatan. Susah tapi semua sudah diatur. Berat tapi kita juga sudah dikuatkan. Itu semua sudah dijanjikan, bukan? Kalau kemudian kita malah mundur, kalau kita malah berhenti, kapan sampainya?
What if all the things that we ask are granted? What if we don't have to strive to get what we want? Would that be very mundane? ___
Bagaimana jika semua yang kita minta langsung terkabulkan? Bagaimana jika kita tidak harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang kita mau? Apa tidak membosankan?
Menyukai Seorang Pembaca
Aku menyukai seseorang yang membaca. Bagiku, ia menjelma angin segar. Ia mampu memberikan hal baru dalam tiap-tiap hirupan udara dalam setiap pertukaran pemikiran yang kita lakukan secara percuma. Aku menyukai seseorang yang membaca. Karena seorang pembaca adalah seorang pembelajar. Bohong jika seseorang berkata bahwa ia gemar belajar namun ia tak sering membolak-balik lembaran buku. Seorang pembelajar itu baru akan merasa cukup ketika mengetahui dasar ilmu sebelum sebuah aksi ia dilakukan. Di sisi lain, ia tidak akan pernah merasa puas dengan segala ilmu yang ia miliki. Ia akan terus berusaha memenuhi rasa keingintahuannya. Dan itu hal yang bagus, menjadikan manusia selalu rendah hati, memahami di atas langit masih akan ada berlapis-lapis langit lagi. Aku menyukai seseorang yang membaca. Karena seorang pembaca tidak akan pernah berbohong. Ia akan malu ketika apa yang ia katakan berbanding terbalik dengan setiap jengkal informasi yang ia miliki. Sel-selnya akan menyatu berkumpul dan mendemo, mewujud hati nurani yang merasa tidak nyaman.Â
Aku menyukai seseorang yang membaca. Barangkali ia tidak pandai berbicara. Bisa jadi karena terlalu banyak yang ingin dikatakan. Bisa jadi karena terlalu memikirkan apakah kata yang akan keluar dari mulutnya bermanfaat atau sia-sia belaka? Tapi ia akan berdiri paling depan dan dengan lantang menyuarakan kebenaran, jika ternyata ilmu yang ia miliki dibutuhkan saat itu. Ia akan membela habis-habisan apa yang dia anggap benar tidak secara emosi tapi secara keilmuan. Ah, cantik bukan? Aku menyukai seseorang yang membaca!
Jawaban Ujian
Hidup ini ujian.
Begitulah kata orang-orang. Setidaknya itu yang kita sama-sama yakini dalam menyikapi pandemi ini. Bahwasannya hidup kita adalah tentang ujian yang silih berganti dan tentang bagaimana menjawab setiap ujian yang kita hadapi. Sayangnya, kita bukan sedang berhadapan dengan ujian pilihan ganda. Dimana jawaban yang benar sudah ada di hadapan mata. Kita tidak bisa memilih jawaban dengan cara membandingkan antara jawaban yang satu dengan yang lain. Karena pun sebenarnya kita tidak pernah benar-benar dapat memilih. Meski kita beranggapan dengan mengira bahwa selama ini kita telah memilih apa-apa yang telah terjadi, nyatanya kita selalu dipilihkan. Kita adalah makhlukNya yang terpilih, kan?
Lalu bagaimana bentuk ujian yang sedang kita hadapi ini? Semua ujian yang kita sudah, sedang dan akan hadapi justru berbentuk esai. Proses dan hasil akhir, keduanya, berperan sama-sama penting dalam keberhasilan kita menjawab. Tidak ada jawaban di depan kita yang bisa kita pilih. Tapi, selalu ada jawaban yang terlihat, jika kita mencari lebih dalam, berjalan lebih jauh dan membersihkan kacamata kita.
Kita masih dapat menempuh proses yang berbeda dan mendapatkan hasil yang sama dengan orang lain. Begitu pula sebaliknya. Meski proses yang kita lalui adalah sama, bisa jadi jawaban akhir kita berbeda. Setiap jengkal proses kita akan dinilai. Setiap penambahan, setiap pengurangan, setiap titik, setiap koma, setiap tanya memiliki nilai. Hasil akhir memang penentu. Namun bukan satu-satunya yang menentukan. Bagaimana proses mencapai hasil akhir yang benar adalah kata yang menjadi kunci.
Diuji kekurangan jawabannya adalah sabar. Diuji kelebihan jawabannya adalah syukur.
Tapi manusia langit yang mengetahui kemana ia harus berpegangan ketika bingung, bisa dengan otomatis melewati keduanya dengan sabar dan syukur. Diuji kekurangan ia akan bersabar lalu bersyukur. Diuji kelebihan ia akan bersyukur lalu bersabar.
Susah ya kedengarannya? Semua menjadi susah kalau tidak mau usaha. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu bahagia karena menghadirkan rasa syukur dan bukan hanya bersyukur karena mendapat kebahagiaan.
Hidup ini ujian. Setiap ujian mempunyai jawaban. Setiap ujian akan berakhir. Setiap proses memiliki tanggung jawab. Setiap jawaban akan dipertanggungjawabkan.
Hormat saya, yang suka berburu hikmah pada setiap kisah, Prajurit Bumi
yang terbaik
kebaikan terbaik adalah yang diteruskan.
ilmu terbaik adalah yang dibagikan.
kepemimpinan terbaik adalah yang selanjutnya.
pun, peradaban terbaik juga adalah yang selanjutnya.
____
Gapapa. Merasa tidak nyaman karena alasan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Normal kok. Gapapa. Kalau mau menangis tanpa sebab –sebab yang tidak dipahami akal namun dimengerti hati.
Salah satu alasan kenapa Tumblr nyaman adalah, di sini yang kita jadikan ajang perlombaan adalah lomba berbagi kebaikan. Yang punya ilmu berbagi ilmu, yang berpengalaman berbagi insight, yang masih belajar berbagi postingan orang lain.
Kita gak takut kalah eksis karena pake baju lama, karena tempat nongkrong kita disitu-situ aja, ataupun fisik yang kita kadang tak secantik atau setampan orang lain.
Dari Tumblr kita belajar untuk menghargai orang dari nilai dirinya, bukan dari yang sekedar nampak di mata.
Cuma kadang bertanya, anak tumblr pada punya komunitas gasi, kalau iya gimana cara gabungnya haha
Wkwkw antiwacana lah..
Mari bergabuunggg buat semua yg punya Tumblr :3
bit.ly/sahabaTumblr
bagaimana jika sebenarnya kita hanya menyukai suaranya yang memotivasi
tanpa mau menerima suara-suara dia lainnya yang kurang memotivasi?
bagaimana jika sebenarnya kita hanya menyukai tulisannya yang menginspirasi
tanpa mau memeluk sisi lain dirinya yang tidak begitu menginspirasi?
tidakkah kamu takut, jika mengagumi seseorang dengan hanya melihat apa-apa yang sengaja ditaruh
bukan dengan apa-apa yang menjadikannya utuh?
aku takut jika ternyata aku mengagumi seseorang tidak untuk dia sebenarnya
dan hanya mengagumi ide tentang dia seharusnya.
#AprilProduktif15 : Si Cakar Ayam
Dulu waktu kelas 3 SD, sekitar umur 9 tahun, saya dipanggil menghadap wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia. Saya dinasihatin pak guru bahwasannya tulisan saya itu seperti “cakar ayam”, paling jelek dan paling tidak rapih di kelas. Katanya, perempuan itu harus rapih dan saya harus belajar memperbaikinya. Padahal kelas 3 adalah waktu dimana saya sedang gemar-gemarnya menulis. Menulis bagi seorang anak usia 10 tahun itu sangat menyenangkan. Bayangkan saja, setelah lamanya belajar berbicara dan belajar Bahasa akhirnya kami dapat menuliskan itu semua di selembar kertas dengan penemuan bernama pensil. Namun, ya begitu, ternyata hasilnya tidak berbanding lurus dengan semangat saya. Saya pulang dengan raut sedih sembari bercerita ke Ibu. Alhasil, karena teguran tersebut esoknya ibu saya mencari guru les Bahasa Indonesia untuk mengajari saya menulis dan berbahasa. Naik ke kelas 4 SD, tulisan saya sudah jauh berkembang. Suatu hari kami disuruh membuat puisi dan membacakannya di depan kelas. Kala itu guru Bahasa Indonesia kami sudah berganti dari “pak guru” menjadi “bu guru”. Beliau menawari anak kelas untuk berani maju sebagai yang pertama. Namun tidak ada yang mau. Kemudian, naasnya, saya ditunjuk untuk maju. Maka saya maju dan mulai membacakan puisi khas anak berusia 10 tahun. Setelah bait terakhir, beliau mulai berdiri dan bertepuk tangan, anak sekelas pun mengikuti. Katanya puisi dan cara membacakan saya bagus. “Harusnya inisiasi maju duluan sebelum disuruh, biar bu guru bisa kasih nilai 100 tuh”. Wuh, senang sekali rasanya dipuji bu Guru! saking senangnya, sepulang sekolah saya meminta tolong didampingi ayah untuk membuat blog pertama saya di blogspot.com. ____
Bertambah umur. Bertambah dewasa. Bertambah pemahaman. Saya belajar bahwa hidup bisa lebih menyenangkan daripada harus mendengarkan perkataan orang lain tentang hidup kita. Mengapa harus memikirkan perkataan orang yang bahkan seringnya tidak dipikirkan saat dilontarkan? Saya belajar bahwa menulis itu menyenangkan dengan maupun tidak dengan komentar orang lain.Â
Setiap orang akan kembali ke rumahnya. Pun, setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Setidaknya, diri kita sendiri. Semoga tulisan kita termasuk tulisan-tulisan yang dibuat dari hati. Dan semoga apa-apa yang dibuat dari hati akan sampai ke hati pembaca juga. Aaamiinnya Amin.
Hey..
You know, life sucks. Life is not easy and miserable. Something bad happens everyday and every second of our time. If it's not to us, then to the person we know.
Sometimes it gets really bad that we start having nightmares. But, darl, life is a nightmare we're forced to undergo it with smiles. Sometimes with cries and sometimes with rage. It's always an open option to choose, right?
Most of the time, we live in the dark. When we sleep and even when we blink. We should embrace the darkness, because we were made of it.
Don't be sad nor lose hope. It's okay for not being strong. And it's okay sometimes to not try to be strong. We are human basically, right?