“Seneng bgt kayanya, senyum-senyum terus”, sapamu mengagetkanku.
”Iyaa seneng bgt. Tau gak? Habis dapet handsanitizer gratis. Di saat-saat kayak gini, hal-hal kecil gini terasa membahagiakan.. Liat nih, fancy bgt gakuaat“, kataku sambil memandangi botol handsanitizer.
“Alhamdulillah nya mana?”
“Eiya, Alhamdulillah hehe.”
“Pokoknya disyukuri ya. Apa-apa kalau ga disyukuri, sebanyak apapun tetep kurang. Tapi jika disyukuri, insya Allah akan bertambah*”
“Hmm iya ya, tapiii bersyukur itu sulit bgt gak sih di saat keadaan gak ideal kayak gini. Pengennya protes terus, gaktau ke siapa.”
“Bahkan di keadaan yang kita anggap idealpun, ada yang akan menganggap gak ideal, Tal”
“Eh wait, maksudku misal kegiatan kayak biasa gitu lho, gak ada pandemi, trus kita bisa kemana-mana bebas, ketemu siapa aja, koas juga bisa masuk biasa, belajar bebas tanpa ketakutan. Itu ideal kaan..”
“Hmmm, kalo itu ideal kenapa masih ada orang yang ngeluh? Kalo capek jaga kayanya kita pernah punya pertanyaan ke diri sendiri kenapa mempersulit diri gak sih dengan memilih jalan jadi dokter? Kalo koas masuk kayak biasa kita juga masih ngeluh kok tugasnya banyak, berasa babu, pasien rame, dll dll”
“Acceptance is the key. Menerima bahwa segala keadaan yang kita alami, orang-orang yang kita temui, tempat-tempat yang kita singgahi, adalah takdir baik dari Allah, yang semuanya akan memberikan pelajaran..**
.. Kita gak bisa mengontrol keadaan, itu hak Allah. Tapi, bagaimana kita merespon keadaan itu yang kita bisa. Mungkin awalnya gak ngerti pelajaran apa, tapi terima dulu aja. Ikhlas dalam penerimaan, adalah awalan dari tumbuhnya kesyukuran. Yang penting tetap usaha maksimal menemukan pelajarannya, habis itu tawakal, biar Allah yang pahamkan melalui kuasa-Nya“
“Ah iya.. proses menerimanya ya tapi gak mudah, kalo belum bisa menerima, pasti susah juga berusaha mencari pelajarannya, huhu.Tapi, kita harus percaya kan ya bahwa Allah tidak akan membebani sesuatu di luar kapasitas hamba-Nya***?”
“Yap. Dan percaya bahwa ketika kita bertawakal dan bersyukur, Allah akan mencukupkan****. Sesempit apapun, Allah yang akan luaskan.”
Kamu menengadahkan tangan dan memperkeras suaramu
“ Allahumma shayyiban naafian, Ya Allah berikanlah kami kekuatan dalam ketaatan pada-Mu, jadikanlah kami manusia yang pandai bersyukur, masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu ”
Aku meng-aamiin-kan doa-doa indahmu, yang terdengar sayup-sayup dari balik maskermu.
“Doamu?”, tanyamu memandangku
“I prefer not to let you know this time”
Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati,
“Ya Allah, perkenankanlah doa-doa baiknya, lindungi dan iringilah langkahnya selalu dalam kebaikan. Berkahilah hidupnya, pertemukanlah dengan orang-orang yang satu tujuan menuju jalan kebaikan, dan berikanlah akhir yang baik. Dan semoga ya Allah, kami satu tujuan.”
Aku melihat ke arahmu, manusia pengagum hujan, dengan baju setelan abu-abu, masker bedah hijau, dan ransel hitam bercorak biru. Yang mengingatkanku tentang menerima dan bersyukur, di saat hujan turun, waktu kesukaanku. But, there’s one thing I like better than rain, and it was manusia pengagum hujan.
“What did you recite? Is it a secret?”
“Yeah, it’s secret. I’ll let you know later,..” , “if our fate meets again on same direction, by the will of Allah”
“Whatt, that’s not fair!!”, you splashed the rain to me
“hahaha, Bye! Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh”
Let’s meet again and I’ll tell you everything, OK?
*) Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Q.S. Ibrahim:7)
**) “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
***) “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
****) “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At Talaq: 3)