Suatu hari, saya kembali ke Jatinangor selepas melepas rindu pada rumah di Bekasi. Seperti biasa, Papa dengan baik hatinya mengantar anak gadisnya ini sampai terminal dan memastikan tempat duduk di bis tersedia--kalau nggak ada, sering ragu melepas gadisnya ini berdiri di bis dan beliau akan bertanya kepada saya seolah menganjurkan untuk naik bis selanjutnya, semoga Allah mencurahkan cintaNya padamu selalu, Pa. Sesampainya di bis dan bis akan berangkat, tiba-tiba terlihat bapak-bapak. Pakaiannya rapih, dilihat dari potongan setrika pakaiannya dan rambutnya dia adalah orang yang sederhana. Dia terburu-buru masuk ke bis. Tengok kiri dan kanan, nyari tmpat kosong. Sepanjang dia menyusuri bis, satu-satunya tempat yang kosong itu disebelah saya. Saya ambil tas yang dari tadi duduk disebelah saya, dan bapak itu langsung duduk. Baru saja bapak itu duduk, tetiba ada suara dari sebelah,'Mau kemana? Tasik?' sepersekian detik saya bingung, bapak ini nanya kesiapa? karena yang saya lihat tatapannya lurus ke depan, saya jawab dengan nada ragu karena saya tidak tahu pertanyaan ini untuk saya atau bukan, 'mmm jatinangor pak, cileunyi'... 'oh kuliah ya?' 'Iya pak', jawabku irit-seperlunya... seketika itu juga, bapak itu langsung merogoh saku celananya, dia keluarkan semua uang di sakunya. Saya bisa melihatnya langsung, karena bapak disebelah saya ini tidak menggunakan dompet untuk menyimpan uangnya. Saya lihat uang yang dikeluarkan bukanlah uang biru ataupun merah muda, yang ada hanya uang hijau, ungu dan abu alias 20,10, dan 2ribu. Dia hitung dengan teliti, dan dia taruh sisanya ke kantongnya lagi. Beberapa saat kemudian, kondektur datang, saya segera mengeluarkan uang dari kantong tas saya. Baru saja saya mengulurkan tangan untuk menyerahkan uang yang dari tadi saya pegang, bapak itu terlebih dulu menyerahkan uangnya ke kondektur dan mengatakan 'sekian untuk ke km 42, sekian untuk ke cileunyi', 'bapak?', panggil saya kepadanya, 'Iya ga usah dek, ngga apa apa, hahaha semangat untuk kuliahnya' jawabnya singkat dan ramah. Dalam hati saya bergemuruh, "Paak masalahnya saya jadi ga enak, ongkosnya berkalikali lipat lebih banyak saya dibanding bapak.. 😥" Sejujurnya dibalik ketidak-enakan-hati, saya sama sekali tidak mengira. Bapak ini, yang beruban, rapih, dan sederhana, yang terburu-buru masuk ke bis, yang tak membawa tas sama sekali, hanya membawa kantong kresek hitam penuh dengan map, dan yang tanpa segan mengeluarkan uang-uangnya, malah membayari saya tanpa ragu.. Dari kejadian ini saya kembali diingatkan bahwa kedermawanan adalah soal keluasan dan kekayaan hati.. bukan materi atau materi lagi. Materi akan pasti habis, lalu pertanyaannya dijalan manakah materi itu dihabiskan? Terimakasih Bapak, sebuah perjumpaan yang berarti dan bermakna. Semoga Allah balas dengan memberikan keberkahan hidupnya dan keluarganya :) Segala puji memang untuk Allah dan hanya untukNya. Terima kasih Allah, yang selalu limpahkan nikmat, memberi rezeki yang tidak terduga dari arah yang tidak disangka, dan atas seizinNya memudahkan diri ini untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Alhamdulillah :') nikmatMu yang mana yang bisa kudusta, ya Rabbi? Saya, September 2015