Apa yang Dilakukan Penjual Koran terhadap Koran-koran Dagangannya Kala Turun Hujan?
Ditulis oleh: Warih Aji Pamungkas
Warung yang tidak begitu ramai itu hanya diisi oleh tiga orang pelanggan. Dua di antaranya tampaknya sahabat karib, karena datang berboncengan dan mengobrol akrab sekali. Mereka berpakaian hitam-hitam lusuh, rambut diwarnai, dan menggenggam kotak rokok di tanganâsedemikian rupa sehingga akan mewujudkan kesan âanak nakalâ dalam benak orang pada umumnya.
Rupanya ini berlaku juga pada pelanggan ketiga, yang berusaha keras menyembunyikan ekspresi meremehkan dari wajahnyaâdan gagal. Praduga-praduga sepihak yang arogan itu kemudian sirna setelah dua bersahabat itu berbincang tentang harapan mereka untuk diterima di perguruan tinggi sehingga dapat meningkatkan derajat ekonomi keluarganya.
Paragraf tersebut tidak direka-reka untuk menjadi dongeng kehidupan yang sarat pesan moral. Saya adalah pelanggan ketiga di warung tersebut. Seketika itu pula saya menyadari bahwa alam bawah sadar saya mencipta pikiran-pikiran picik hanya dari interpretasi visual yang ditangkap oleh mata. Saya merasa bodoh sekali. Hari itu saya seolah berdamai dengan ungkapan dari Jacques Attali bahwa dunia itu tidak tercipta untuk diamati, melainkan didengar (1985).
Kadang, timbul prasangka buruk atas orang lain hanya karena kita melihat satu-dua simbol yang menggeneralisasi nilai-nilai tertentu. Masih âuntungâ terbersit prasangka, seringkali puluhan bahkan ratusan manusia berpapasan begitu saja tanpa saling menatap, tanpa saling menyadari keberadaan satu sama lain. Nyatanya, kebanyakan manusia memang memiliki kecenderungan untuk âtidak peduliâ.
Dikutip dari The Huffington Post, studi dari Harvard University dan Kent State University pada tahun 1998 membuktikan bahwa separuh responden tidak menyadari perubahan lingkungan yang terjadi tepat di hadapannya. Apollo Robbinsâdikenal pula sebagai The Gentleman Thiefâberganti kemeja dengan warna berbeda di tengah-tengah sesinya ketika menjadi pembicara pada TEDGlobal 2013 tanpa seorang pun hadirin yang menyadari.
Padahal, Prie G.S. pernah menyampaikan bahwa sumber rasa iba dapat ditemui di mana saja dan perlu dipupuk dengan sadar (2013). Rasa iba yang dimaksud di sini adalah keinginan untuk memahami, menghayati individu lain dari sudut pandang yang lebih dalam.
Pandangan-pandangan egois akibat perspektif yang sangat keakuan dipendam sehingga kita dapat menangkap fenomena yang sebelumnya tidak dapat dirasakan oleh kelima indra begitu saja. Barangkali saja, kita masih belum cukup mengenali tetangga, guru, rekan kerja, bahkan hewan piaraan kita sendiri.
Siapa tahu, bahwa teman kampus yang kita anggap menyebalkan lantaran suka menunda pekerjaan kelompok sebenarnya sedang kesulitan untuk mengatur waktu kuliah dan bekerja semenjak kedua orangtuanya tiada. Siapa tahu, pekerja seks komersial yang muda dan cantik itu sebenarnya mengumpulkan uang untuk menyekolahkan adiknya di pesantren agar tidak mengikuti jejak kakaknyaâdan ini sungguh-sungguh terjadi.
Siapa tahu, cleaning service yang tidak kita acuhkan tiap kali bertemu itu sebenarnya sangat ingin melanjutkan pendidikan tinggi, tetapi tidak cukup mampu untuk membayar uang kuliah. Saya masih dapat menuliskan ratusan siapa tahu lainnya (yang sebagian besar adalah pikiran-pikiran saya sendiri terhadap orang-orang di sekitar saya), namun mari kita biarkan otak kita lelah sendiri mengonstruksi pertanyaan tersebut hingga kita âterpaksaâ peduli dengan orang-orang di sekitar kita.
Beberapa waktu lalu, sempat viral sebuah tulisan di media sosial yang juga terabadikan dalam sebuah blog isnaoktianarahma.blogspot.co.id. Tulisan itu mengungkap sisi lain dari seorang kakek penjual burger keliling. Hanya seorang penjual burger biasa yang sering mangkal di dekat kampus. Tetapi keputusan tidak wajar yang dipilih penulis untuk mengajak sang kakek mengobrol sungguh luar biasa.
Tindak sederhana tersebut kemudian mengungkap perjuangan keras sang kakek untuk mengayuh gerobak keliling kota dan menyentuh hati pembaca lain yang sudah barang tentu sebelumnya tidak terpikir untuk mengenal kakek penjual burger itu lebih jauh. Pembaca-pembaca itu termasuk saya, yang beberapa kali menemui gerobak kakek tersebutâdi tempat-tempat berbeda yang jaraknya luar biasa jauhânamun terus saja menggeber motor tak peduli.
Saya rasa, sindiran âmainmu kurang jauh, pulangmu kurang malamâ ada benarnya juga. Dalam artian, main jauh adalah mengenali lebih banyak individu berbeda di tempat-tempat berbeda dan pulang malam adalah menghabiskan waktu lebih lama untuk berbincang atau sekedar menikmati santap malam dengan mereka.
Dengan semua orang menyadari itu, saya rasa dampaknya tidak hanya tentang kita dan subjek individu lain yang saling berinteraksi, melainkan mengorkestrasi dinamika sosial masyarakat secara lebih luas. Saya yakin, konflik antar suku, pertikaian lintas agama, diskriminasi ras, kriminalisasi golongan tertentu, semuanya tak lain terjadi hanya karena âmainmu kurang jauh, pulangmu kurang malamâ.
Dosen sosiologi di Penn State University, Sam Richards mengatakan bahwa prasangka adalah sikap menggeneralisasi suatu asumsi atas seseorang atau komunitas berdasarkan pemahaman yang terbatas. Ini pula yang sering kali terbentuk menjadi stigma-stigma dalam masyarakat, sehingga adalah hal lazim melabeli warna kulit tertentu dengan tindak kejahatan tertentu, dan sebagainya.
Lazim pula kita abai dengan tukang parkir, pasukan kuning penyapu jalan, dan ibu-ibu penjual koran sampai-sampai tindak kebaikan yang mereka lakukan hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas pekerjaan yang memang seharusnya dilakukanâbahkan tak sedikit pula yang dianggap mengganggu. Padahal, siapa yang tahu bahwa mereka bukan sekedar bunga-bunga dekorasi yang dititipkan Tuhan beberapa menit di kehidupan kita. Bisa jadi, ketika kita lupa menghargai kehidupan orang lain, saat itu pula kita sudah tidak lagi pantas dianggap hidup.
Maka, untuk membayar dosa saya di warung itu, sekaligus mengembalikan naluri kekanakan untuk terus mempertanyakan segala hal seperti wejangan dari Neil deGrasse Tyson, saya akan keluar rumah dan bertanya kepada ibu-ibu penjual koran: âApa yang ibu lakukan terhadap koran-koran dagangan ibu kala tiba-tiba turun hujan?â
Couillard, Lucy. 2013. The Impact of Prejudice on Society (Daily Collegian) < http://www.collegian.psu.edu/news/crime_courts/article_a86ea0dc-270a-11eâŠ.
G.S., Prie. 2013. Waras di Zaman Edan (Yogyakarta: Penerbit Bentang).
Gregoire, Carolyn. 2013. 10 Psychological Studies that will Change what You Think You Know about Yourself (The Huffington Post) <http://www.huffingtonpost.com/2013/10/18/20-psychological-studies-_n_409âŠ.
Rahma, Isna Oktiana. 2016. Bapak Penjual Burger Mandiri UGM < http://isnaoktianarahma.blogspot.co.id/2016/01/bapak-penjual-burger-mandâŠ.
Sobary, Mohamad. 1995. Kang Sejo Melihat Tuhan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama).
TED. 2013. The Art of Misdirection | Apollo Robbins <https://www.youtube.com/watch?v=GZGY0wPAnus>.
Sumber tulisan:Â http://www.qureta.com/post/apa-yang-dilakukan-penjual-koran-terhadap-koran-koran-dagangannya-kala-turun-hujan