Semoga pernikahan kita adalah pernikahan karena dan dengan ilmu, bukan sekadar menikah karena budaya dan tradisi belaka. Sebab, banyak orang yang menikah, kebanyakan mereka menikah hanya karena merasa sudah di fasenya, sudah itu budaya dan tradisinya, tetapi tidak banyak ilmu dan bekal yang dibawanya.
Padahal pernikahan adalah akad yang agung, perjanjian yang kuat, yang Allah sebutkan sebagai mitsaqan ghaliza, sebuah ikatan yang tidak boleh dimain-mainkan. Muaranya harus satu; surga. Dan perjalanan menuju surga adalah perjalanan yang serius, perjalanan yang membutuhkan ilmu, terlebih sebelum melakukan amalan-amalan kebaikan. Sebab, Islam mengenal konsep al-ilmu qabla amal. Butuh ilmu sebelum beramal, termasuk ilmu pernikahan, ilmu rumah tangga, ilmu mendidik dsbnya.
Bagaimana caranya seorang laki-laki sebagai pemimpin tetapi tidak tahu ilmu bagaimana memimpin rumah tangga, tidak tahu bagaimana mendidik anak, dan parahnya tidak tahu bagaimana doa yang harus diucapkan saat malam pertama, tidak tahu ilmu-ilmu agama yang harus disampaikan dalam rangka mendidik istri dan anak-anaknya, tidak tahu bagaimana cara mengelola ego, meredam emosi, dan manajemen konflik di rumah tangga, tidak tahu bagaimana pengelolaan harta agar tetap barakah, thayyib dan halal dsbnya. Padahal posisi laki-laki di rumah tangga adalah sebagai qawwam. Sebagaimana Al-Quran surah An-Nisa’ ayat 34 sampaikan, ar-rijal qawwamuna ‘alan-nisa’. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.
Bagaimana caranya seorang perempuan sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya nanti, tetapi ia tidak tahu kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri, tidak bisa mengajarkan bacaan Al-Quran kepada anak-anaknya, tidak bisa mendidik anak dengan lemah lembut, tidak tahu bagaimana cara manajemen keuangan keluarga, tidak tahu bagaimana cara mengelola rumah tangga dsbnya. Padahal perempuan punya posisi penting di sebuah bangunan rumah tangga. Posisi ini, jika ia sadar, paham, dan tahu ilmunya, bisa mengantarkan ia masuk menuju pintu surga.
Pernikahan yang kita idamkan, semoga tidak sekadar pernikahan dengan riuh tepuk tangan orang-orang, namun pernikahan yang benar-benar menikah dengan dan karena ilmu, menikah di jalan Allah, dengan tujuan Allah, dan karena Allah. Sebab, menikah adalah ibadah dan Allah harus terus kita sertakan di setiap langkah. Hingga akhir hayat, hingga akhir kehidupan ini.
Semoga pernikahan kita adalah pernikahan yang barakah, yang malaikat mendoakannya, dan Allah mencurahkan kasih-sayangnya. Selamat memperjuangkannya!
Robi Afrizan Saputra
IG: @robiafrizan1