Dear my future, banyak yang bilang ‘Jodoh itu dekat’. Karena itu aku sedang berusaha agar tidak ada interaksi kecuali perlu dan penting. Bukan hendak bersikap dingin, cuek atau sok keren. Juga bukan karena sariawan, sombong, jutek atau sok jaim.
Sebab aku takut jika hanya karena interaksi yang sebenarnya belum perlu itu aku malah tidak layak jadi seseorang yang akan membersamai langkahmu. Bukankah biasanya yang sudah lama dekat itu hanya akan jadi sekedar teman pada akhirnya, bukan sebagai teman sehidup sesurga bersama selamanya. Seandainya kau tau, aku pun ingin menyapamu. Meski sekedar salam, meski sekedar ucapan terima kasih atas perkenan dariNya untukku mengenal namamu.
Aku sedang mendidik diriku untuk menjaga diri di tengah perjuangan mewujudkan mimpi. Mungkin saat ini kita hanya bisa bertemu lewat tulisan dan kata-kata, lewat lantunan doa, meski tak pernah ada senyum sapa, bahkan jika kita tak pernah benar-benar bertemu sebelumnya, buatku itu tak mengapa. Semoga tulusnya niat dan hatimu dalam meyakini dan mencintai Al-Qur'an membuat Dia berkenan mempertemukan kita di saat yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Aku masih berusaha percaya, bahwa masih ada seorang perempuan yang ingin dicintai dengan Al-Qur'an dan berkenan mencintai karena Al-Qur'an. Yang pandangannya jernih melihat potensi bukan sekedar hasil jadi. Bukan karena aku tak hendak menjemputmu dalam keadaan serba nyaman, tapi bolehkah aku tau bagaimana kelak caramu menggenggam erat tanganku meski dalam keadaan yang tak pernah terpikirkan. Kau tau hidup ini penuh resiko, ujian dan ketidakpastian, kecuali kematian. Percayalah bahwa laki-laki yang memahami tugas dan tanggung jawabnya, yang memahami bahwa dirimu adalah amanah dari Tuhannya yang harus ia jaga, tidak akan pernah bisa tenang melihatmu menitikkan air mata, tidak akan pernah rela melihatmu terlantar sedemikian rupa. Bukankah kau juga paham, bahwa seberapa besar usaha kita dalam merawat Al-Qur'an, sebesar itu pula hidup kita akan dicukupi Ar-rahman. Lalu adakah yang masih hendak kau ragukan?
Buatku, kecintaanmu dan keyakinanmu yang tinggi terhadap Al-Qur'an, pemahamanmu akan keimanan dan kesediaanmu bertahan dalam kesabaran, jadi jaminan untukku bahwa dirimu adalah sebaik-baik teman dalam menghadapi ujian, bahwa kamu adalah sebaik-baik bidadari yang tak pernah letih untuk menguatkan hati.