Hari Di Pagi
Terang baru saja datang, menampar awan memikat hitam. Teruntuk mu di isyarat pertama; yang selembut bulir pagi terlebih kecil daripada rintik, sebekas desahan malam yang berpulang. Begitu tenang, ku sandarkan indah dicelah mu, sayang.

@theartofmadeline
Three Goblin Art
RMH
noise dept.
Cosmic Funnies
One Nice Bug Per Day
NASA
Not today Justin
hello vonnie
$LAYYYTER

ellievsbear

Love Begins
Sade Olutola
todays bird

tannertan36
No title available
Peter Solarz

JVL

#extradirty
will byers stan first human second
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from T1

seen from Malaysia
seen from T1
seen from Nepal
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from Canada
@priadengankata
Hari Di Pagi
Terang baru saja datang, menampar awan memikat hitam. Teruntuk mu di isyarat pertama; yang selembut bulir pagi terlebih kecil daripada rintik, sebekas desahan malam yang berpulang. Begitu tenang, ku sandarkan indah dicelah mu, sayang.
Antariksa Setengah Pagi
1 Aku masih terkantuk-kantuk, Menyambut antariksa setengah pagi. Membangunkan harap keberadaan jatuh. 2 Sedang tak pernah mau ku bagi sunyi ini, tapi tak pernah henti aku mengisyaratkannya padamu; Seperti segelontar cahaya komet yang menunggu tiba waktu jatuh, kesiapannya berjudi, antara mati atau mendaratkan sisa ke bumi. 3 Di antara sesepi yang tak pernah berjanji, mengadu lelaki pintar menipu mau. Memuak hampa hanya ber-hanya, mengaisi mu saja dari antariksa, dari setengah pagi hingga sunyi tiada.
Waktu
Lupakan malam, lupakan siang. Biar yang tersisa sia terang Datang waktu sentak beramarah! Lalu lenggak ku melemah. Dan terduduk. Param jamur-jamur di sesudut perapian, menelan zaman pada manusia, lalu retaslah dingin campur hening. Apa, dihadapan ku? Ku tahu tak ada aku! Juga tak ada kamu! Jika waktu mengaku
Gerak
Tubuh ku bersimbah gerak. Gerak tergetar, gerak menggemetar Lalu kau seolah dipaksa tergerak. Gerak tolak getar, gerak bertolak Gerak menyata dari nyata sebuah gerak. Dan tersesak. Membuahi gerak di sesak, memutus alir air dengan seka di pelupuk. Bukan duka. Di lainnya getar bisa jadi gerak mau, nyata, karena begitu nyata selalu bergerak Juga di ujung gerak, pun masih harus bergerak
Penghujung Waktu
Biar logika habis menerka, Biar hati habis merasa Membuat daya pada ketidakberdayaan Tak bicara tapi bertanya; Dari mu, Apa ada kata dibalik kata? Kepada mu, Apa akan tetap ada rindu se-ke-pergi-an sendu? Sedang aku di penghujung waktu, Merelakan demi kebahagiaanmu
Bila Bukan
Bukankah dawai para jenaka begitu nyaring bersuara? Merangkul tawa tanpa sisa-sisa picisan dalam nada Sedang desahnya tak mau kau terka Atau sedikit menjadi pemerhatinya lewat tanya Bukankah kamu yang beri tahu dalam lamun? Membagikan kisah di antara kaca-kaca yang tak kau sentuh Meramaikan kata-kata rindu lewat tatapan itu Sedang aku, penghibur jenaka itu Bukankah semua itu terisrat dalam sekejap waktu? Bila bukan, Izinkan ku pergi tanpa ragu
Pria Sebentuk Bintang
Biar aku puas pandangi malam Yang gelap separuh, yang tertutup awan-awan teduh Disana aku melihat mu benderang Kamu, pria sebentuk bintang
Perihal, kamu yang berdansa diatas sana Membawa ku ber-logika dalam tanya, ada apa? Memandang ku sesekali dengan curiga Atau haruskah hal itu ada?
Kepada mu, pria sebentuk bintang; Mungkin yang paling benderang, Mungkin yang paling berjasa menerangi malam, Mungkin terang mu yang di kagumi bintang-bintang lainnya, Atau mungkin menurut mu saja yang ada setinggi-tingginya
Mau kah kau berpikir tentang malam? Yang terang dengan terang lain apa dapat saling berpandang? Bagaimana dengan awan-awan teduh, yang siap halangi para sinar? Atau fajar yang akan datang, membuat mu lenyap sekejap
Sementara itu, Biarkan aku dalam diam Sedang malam dengan lelagu wajah suram Masih kah kau merasa benderang? Pria sebentuk bintang
Kepada Siang
Kabar terang sampai ke bumi Terik, begitu keluh yang didengar Puncak dari rasa sadar
Sejumlah kata masih saja terbata Meski sadar, meski sudah banyak yang didengar Darinya yang ku ingin sebuah kabar
Sengatan dari yang berapi masih berkata tapi Membuat yang merona mulai terasingkan Kepada siang biar ku titipkan
Pada mu, Pesan kerinduan
(Kekasih Mimpi) Cangkir Kedua Kopi Di Siang Hari
Belum lama senja pergi Tapi lelah terus merajang diri Biar ku bebaskan raga untuk dibaringkan Bersama rindu, juga keraguan Hingga tak terasa ada yang dipejamkan Membawaku ke sebuah pelataran Menari-nari dalam sebuah dimensi Dimana aku? Di ilusi mimpi Entah kenapa, tapi begitu kinerja mimpi Menempatkanku dengan mu yang ku ingini Di antara kelelahan, rindu dan keraguan yang ku sandingkan Aku dan kamu menari di sebuah pelataran Seperti pasangan yang berarakan menuju keabadian Kau kekasih tanpa pengganti Yang mampu mengisi ruang dalan sisi Tentang bagaimana duniaku mengakui Selama aku masih bermimpi Kini aku berada di dunia nyata, Beranjak dari mimpi sambil meneliti kisah semalam tadi Yang merubah ingin menjadi yakin, yakin untuk tak ingin Di cangkir kedua kopi di siang hari Aku membiarkan yang tak mengerti menjadi pergi, Pergi untuk kebebasan dan kebebasan untuk kebahagiaan Di cangkir kedua kopi di siang hari Ku putuskan untuk pergi, dari mu kekasih mimpi Yang ku tahu hanya mendengarkan hati Agar bahasa tak tertukar oleh kata Agar mengerti tak tertutup oleh mimpi, Lagi
Seperti Biasa
Seperti biasa, Malam menghamparkan perasaan Juga bintang yang tak terang Tertutup awan berwarna kelabu Seperti biasa, Malam berdiam sambil bergumam Tanpa hujan, seperti hati yang tak juga disadarkan Ada hal yang tak bisa ditemukan Tentang Kamu, Juga mimpi-mimpi yang ku bilang semu
Logika dan Hati
"Apa kau mau berada disana?" "Memberinya, menjadi yang sedia" "Kepada yang berkelut dengan perasaan pasang-surut Juga tulus yang tak pernah ia endus" Begitu logika berbahasa Sedang hati dengan rampung harapnya berkata; "Jangan beranjak, jangan tersentak" "Dia butuh mu, jelilah lihat tatap-tatap itu" "Mungkin perlu untuk lebih menerka Dia, dia yang masih bernada sama"
Teruntuk Jelaga
Diri, sendiri Terbagi hembus-hembus nafas dari puisi Tak terendus siapa? Berbicara pada tanpa Berpuing di antara rasa, Teruntuk jelaga
Matahari Dan Bumi
Tanpa celah untuk matahari Kepada bumi yang berhujan sunyi Menyamarkan dengan asap lewat kepulan-kepulan Dari yang terbakar, menutupi datangnya sinar Tentang siapa di sekitaran bumi Yang mungkin sedang menerka matahari Bersama harap sampai kapan? Matahari pergi, tanpa datang lagi
Beri Aku
Beri aku dua mata Antara kita, tiga detik saja Yang ubah apa? Menjadi wujud nyata, Rasa, yang tak pernah kau sangka
Tentangmu, Sesungguhnya
Bising bunyi-bunyi tanda sunyi Apa kau terka dengan telinga? Dimana aku berteriak hingga serak Dan berkata agar kau tahu sesungguhnya
Ada aku yang tersadar di dalam gelap gulita Yang tak pernah melihat sosok mu sebenarnya
Sebelumnya aku yang meraba Di tiap karya-karya yang ku cipta Serupa berbahasa belaka Tanpa arti apa-apa
Tentangmu, Sosok sendu berhati bisu
Sajak ini tentangmu dan tentangku, Tentang ku yang tak pernah tahu tentang mu
Tiga Sajak Dalam Sehari Dengan Cinta
I
Tiba pada hari ini Bersama senja tanda sore hari Alam yang mengerti, dengan merahnya memberi persembah hati Untuk mu yang akan ku temui
Aku yang bahagia, Dengan detik-detik yang berganti mengirama Kerap beraksara, Dengan detak-detak yang bersembunyi tanpa curiga
Berjalan kita, Aku dan kamu yang mungkin saja cinta
II
Yang merah tetap menjadi merah Hanya latarnya yang beri pembeda Sedang alam yang membentuk gelap malam Tanpa baris bintang yang mungkin saja kelam
Bagi ku, Malam yang tiba membawa bulir-bulir suasana penuh romansa Dan bagi mu, Malam yang menjadi hukum logika, yang membentuk rintik-rintik tajam dengan tanya
Tanya yang membelai ku dengan paksa hingga terungkap seisinya, Rasa ialah cinta
III
Yang merah mejadi pecah, berubah, tumpah Menyerupai titik-titik air menuju tempat yang ku tapaki Kembali alam dengan mengerti Entah dengan apa menjadi pemerhati, hari ini
Aku yang berpangku di antara titik-titik yang terjatuh itu Mengenang waktu yang baru berlalu Tentang aku dan kamu disana Tanpa perpatah kita
Mengenang perkataan mu; “Aku tak terpikir cinta, aku ingin sahabat”
Jawab ku setelahnya; “Andai aku tahu caranya, Bagaimana seseorang yang datang dengan cinta Yang kau ingin bersahabat, tetap berada di dekat Terus berada di dekat tanpa mengharap?”
Aku yang membahasakan hati dengan kata Apa kau juga miliki rasa? Atau sampai kau tahu seberapa tulus manusia Begitu ciri kaum ku, para intelektual rasa
Sedang aku di balik rasa terpaksa karena harus percaya Tanpa ku, kau akan bahagia
Sampai jumpa
Maaf, Aku Lampion Bekas
Perkenalkan lampion ini Wujud lama dengan asap yang wangi Dengan sentuh lembut hangatnya Aku, lampion yang bangkit dari mati, yang kini menyala lagi Yang sebenarnya tak pernah pergi Dari mu, sosok sendu gelap hati Mungkin belum penuh sadar mu; Akan redup kecewa dan terang sesal tiap lampion ada porsinya Atau, akan berbeda; Jika tak ada pandang sebuah lampion dari seberapa banyak mati dan menyala ia di masa lalunya Maaf untuk yang satu ini, Lampion bekas yang tak kau ingini, Yang akan menunggu, Yang bertekad merubah sendu gelap hati itu, Menjadi senyum rona terang bersama ku Sebuah lampion bekas dengan mimpi di genggaman mu