Saya masih ingat, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya dan kakak laki-laki saya diantar menggunakan mobil yang berbeda dari biasanya. Mobil tua yang dimodifikasi oleh Ayah tak lain adalah mobil pick up (bak terbuka). Walaupun sudah melalui tahapan modifikasi, tetap saja menurut saya mobil itu jelek. Jelek. Warna biru tua yang menyala, berbentuk kotak, mesin yang sering sekali mati sendiri, dan tidak ada AC. Seperti itulah kira-kira. Saya heran kenapa mobil ini masih bisa dipakai. HUFT!
Tidak seperti kakak saya yang biasa-biasa saja, saya memasang muka cemberut sepanjang perjalanan. Kesal. Kenapa juga Ayah memilih mengantarkanku menggunakan mobil ini, gerutu saya.
Saya pikir Ayah tahu bahwa saya tidak suka. Mungkin itu yang membuatnya semakin ceria mengatarkanku pada hari itu. Saking cerianya, Ayah yang biasanya berhenti hanya di pinggir gerbang sekolah, kala itu benar-benar menghentikan mobil tepat di depan gerbang utama.
Saya tidak tahan. “Ayah kenapa turun di sini?”, bentakku dengan nada tinggi. Saya tidak berekspektasi, intonasi itu yang saya hendak ekspresikan. Begitu pun Ayah.
Seraya mengelus kepalaku Ayah berkata, “Ayah cuma pengen kamu belajar. Seberapa sukses pun kamu nanti, Ayah pesan tetaplah sederhana. Apa salahnya menggunakan mobil ini? Kamu malu?”
————————————————————————————————–
Ketika mengingat pesan Ayah tersebut, saya sedih karena saya sangat keterlaluan membalas “kasih sayang” seorang Ayah dengan cara yang begitu arogan. Padahal, pesan tersebut justru menjadi salah satu hal mendasar yang saya jalani menginjak dewasa.
Pesan ini juga mengingatkan saya pada salah satu teori mikro ekonomi. Namanya, Budget Line and Price Consumption Curve. Teori tersebut menjelaskan akan terdapat setidaknya dua jenis kemungkinan ketika pendapatan kita naik.
Pertama.
Ketika pendapatan kita naik, maka secara otomatis konsumsi terhadap barang akan naik pula. Hal ini terjadi karena pada dasarnya manusia akan berupaya untuk memuaskan hasrat konsumsinya.
Kedua.
Ketika pendapatan kita naik, kita tetap pada pola konsumsi yang sebelumnya dengan merelakan tingkat kepuasan kita tidak maksimal.
That’s the point yang saya mau bahas kali ini.
Saya tidak setuju jika tingkat kepuasan di kurva tersebut tidak maksimal. Yang saya percaya adalah, orang tersebut logis karena tidak konsumtif, alias mengalihkannya ke dalam bentuk yang lain, menabung atau sedekah misalnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa ya pola hidup harus berubah seiring bertambahnya income?
Menurut Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad and Poor Dad hal terbesar yang mendorong itu adalah prestige. Seseorang akan dianggap lebih sukses, lebih kaya jika pola hidupnya juga menunjukkan hal yang demikian. Maksudnya, barang yang dikonsumsi juga akan bertambah mewah dan banyak. Baju, perhiasan, mobil, gadget, bahkan tempat nongkrong sekalipun.
Sama halnya dengan maksud dari pesan Ayah saya kala itu. Saya marah dan kesal karena malu ketika saya dianggap memiliki mobil jelek sedangkan teman-teman lain diantar menggunakan mobil yang lebih enak dipandang.
Padahal sebenarnya, menurut Kiyosaki, seseorang disebut kaya dilihat dari seberapa lama orang tersebut dapat bertahan tanpa gaji rutin mereka. Konsep ini seringkali dikenal sebagai financial freedom.
Gampangnya, jika ada orang memiliki total harta/aset 40 juta dan pengeluaran selama sebulan kira-kira 2 juta maka dia dapat bertahan tanpa gaji selama 20 bulan. Semakin lama dapat bertahan, maka semakin kaya dia. Waw! Sekarang coba, berapa lama umur financial freedom kita? Sepuluh tahun? Setahun? Atau bahkan sebulan?
Jika masih terlalu singkat, artinya kita perlu merubah pola hidup kita.
Kurangi expenditure yang ternyata ga butuh-butuh amat.
Jujur. Menerapkan konsep financial freedom ini baru saya mulai sejak kuliah. Sulit sekali. Akhirnya, karena saking pengennya memperpanjang masa financial freedom, saya berupaya mencari tambahan pendapatan lain. Apa itu? Jualan online. Ga tanggung-tanggung, saya bersama sahabat saya memproduksi sendiri barangnya. Saya jabani tuh tanah abang tiap akhir pekan untuk beli kain ber rol-rol, cari pernak pernik jilbab, cari penjahit yang rapi dan murah di jatinegara, bungkus, marketing, editing foto, dan packing. semua. kami lakoni. Fiuh!
Alhasil, dari hanya untung ratusan ribu alhamdulillah pernah mencapai angka 2 digit puluhan juta dalam sebulan. Mau tau rasanya kayak apa? Bersyukur sekali. Bukan karena materi yang kami dapat, melainkan kami tahu betapa sulitnya mencari pendapatan. Di titik itu, saya malah belajar makin “pelit” terhadap diri sendiri. Pelit bolehloh! Sekedar untuk menekan hawa nafsu. Tapi tidak dengan pelit dengan orang lain ya.
Seringkali, barang-barang yang akan saya beli saya tulis di secarik kertas. Semuanya. Selanjutnya, saya kelompokkan semua itu ke kolom “I need” dan “I want”. Simple. Dari 10 barang yang saya hendak beli dalam sebulan bisa terpangkas menjadi 5 bahkan 2 dalam sebulan. Hey girls, is it your basic problem? Try this trick!
Jika ada barang yang agak mahal yang saya berhasil beli, pasti ada sejuta “keringat”,“pertimbangan” atau bahkan “pemberian” di sana.
Ga heran kalau baju-baju yang saya pakai itu-itu aja. Daripada punya banyak baju padahal yang sering kita pakai juga cuma itu-itu aja kan?
Bahkan selama 22 tahun hidup, saya juga belum pernah nyicip kopi-kopi di Sturbuck. Selain tubuh saya “menolak”, saya merasa sayang aja gitu kalo pengeluaran saya membengkak karena minum kopi. Begitu pula nonton. Saya bukan orang yang tega beli tiket terus cuma nonton doang. Maksudnya, saya prefer buat beli CD dan saya bisa tonton berkali-kali. Misalnya pun akhirnya saya kepepet nonton, biasanya itu karena saya kasih reward terhadap pencapaian yang telah saya terima.
Problematika sekarang adalah saya sudah bekerja, yang notabenenya pendapatan saya tentu lebih besar ketimbang di masa perkuliahan. Saya takut sekali, pola gaya hidup yang sudah saya coba bangun tiba-tiba berubah seketika. Takut bila toleransi terhadap diri sendiri semakin blur dengan berkata “gppa kok kalo sesekali”.
Oh iya, buku Rich Dad Poor Dad juga bagus bagi kita yang baru memulai perjalanan “memperpanjang” usia financial freedom. Tapi perlu beberapa penyesuaian sesuai dengan syariat agama kita ya. Selamat membaca!