"Duh, keras ni tutup botolnya. Bukain dong," pintaku pada kandah (panggilan utk suami) sembari buru2 menyodorkan botol syrup . "Hush! Saru. Ngomong karo bojone mestine sing alus, 'kang mas, niki tulung dibuka yo'" bude menegurku. Kurang lebih seperti itu bahasa jawanya. Cmiiw. Intinya, katanya ngga sopan ngomong ke suami langsung gitu Hmm... selama ini saya sering minta tolong to the point ke suami. Ya kayak ngobrol sama temen aja gitu. Bukan berarti aku ngga sopan (apa ini efek jaman now?), bukan kami ngga mesra. Banyak juga mba2 di tempat belanja bilang, "Mesra banget sih ke mana-mana berduaan." Pernah juga mba2 restoran ikut saling suap-suapan akibat baper yg mendera gara2 liat kami makan sepiring berdua, suap-suapan. Aku walaupun terlahir full blood Jowo telah lama tinggal di Jakarta sehingga budaya jowoku luntur dan ngga bisa ngomong bahasa Jawa. Di samping itu, suami terlahir half blood Medan-Jawa, tapi tumbuh besar nun jauh dari Medan sana. Jadi inget, awal nikah rasanya kami lebih sering miss komunikasi yang bikin jadi diem-dieman. Masalahnya, aku ngerasa nada suami tu kayak marah. Padahal, ciri khas bicara orang Medan kan emang lebih keras. Bukan berarti marah. Lagian, justru suami minim marah dan ngga pernah kehabisan stok gombal dg berbagai metafora ihiiw Begitulah. Nikah beda asal suku-budaya mungkin perlu usaha lebih untuk penjajakan lebih dalam agar tak terjadi kesalahpahaman. Selama berpegang pada agama, insyaAllah semua akan berjalan indah kok Kami senang bisa saling mengenal dg bertukar cerita unik. Seneng juga karena jangkauan maen yg semakin jauh. Pencapaian terbaruku udah berkelana di area Sumut, Sumbar, Kalsel, dan Kalteng. Pencapaian terbaru suami selain serang, bandung juga kebumen, jogja, dan sekitarnya. Alhamdulillah #30hbc1904 https://www.instagram.com/p/BsNjsr7g5Gl/?igshid=uzkhvmko7va2









