Ke Kota
Tidak ada yang bisa duduk tenang. Kereta seharusnya tiba lima menit yang lalu. Terkadang satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada satu tahun yang berlalu sia-sia. Seorang pria menyalami seorang Ibu, yang kupikir sebagai orang tuanya. Ibunya melambaikan tangan. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pria membalas dengan senyum bahagia. Seolah lupa bahwa perempuan berkeriput itu menua dan akan mati. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota, demikian pikirnya barangkali.
Berjarak bukan pilihan bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tapi seringkali, jarak tak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta di pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan untuk dihitung dengan kilometer. Meski ia di sampingmu, bagimu ia bisa terasa jauh. Dan ketika kau jauh, baginya kau bisa terasa sedekat dalam dekapannya. Sedekat napasmu ketika masih menyusu darinya. Sedekat tubuhmu ketika seutas tali masih menghubungkanmu dengannya.
Kereta datang terlambat. Seperti rindu. Anak kecil dalam tubuhku meraung. Merindu saat jarak tak memaksaku mengucap perpisahan padanya. Menanti kesempatan lain yang takkan pernah datang. Kakiku bergegas menuju kota. Tempatku menunggu hujan kembali pada langit. Sambil menghitung jarak yang mesti kutempuh untuk satu pertemuan bernama kepulangan.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1904 #fiksi https://www.instagram.com/p/BsMughXARv0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=bp9ktq6elxsz














