Merdekanya Indonesia, Merdekanya Air?
17 Agustus… ya beberapa hari yang lalu adalah tanggal 17 Agustus tahun 2014 yang merupakan perayaan ke-69 tahun Negara kita Republik Indonesia merdeka, merdeka dari penjajah yang menjajah tanah air kita selama 350 tahun lebih.
Tapi bagaimana dengan air yang merupakan salah satu unsur penting penunjang kehidupan?
Di kemerdekaan yang ke 69 ini bangsa indonesia memiliki masalah yang beragam antara lain antara ketersediaan sumber daya alam yang semakin terbatas dan peningkatan jumlah penduduk yang tidak berimbang, isu yang paling mencolok dan merupakan masalah utama yang umum ada di kota-kota besar adalah masalah ketersediaan air bersih, terutama di Ibu kota negara kita yaitu Jakarta.
Salah satu penyebab penurunan kadar air tanah di Jakarta adalah karena di hisap oleh masyarakat secara terus menerus tanpa ada perhatian khusus seperti pembuatan sumur resapan, sehingga menyebabkan masuknya/merembesnya air laut kedalam tanah, hal ini mengakibatkan air tanah terasa payau dan hal ini sekaligus menyumbang dampak penurunan permukaan ketinggian muka daratan terhadap ketinggian permukaan laut.
Kembali ke 10 tahun lalu sekitar tahun 2004, kala itu daerah sekitaran Glodok air tanahnya sudah terasa payau, penulis merasakan sendiri ketika hendak menggosok gigi, pada saat itu kebutuhan masyarakat sekitar akan air bersih sudah sangat tinggi, contohnya untuk mandi, minum, memasak dan mencuci.
Seperti ketika melakukan aktivitas mandi masyarakat sekitar mandi dua kali, yaitu yang pertama menggunakan air payau yang berasal dari sumur bor yang ada pada tiap rumah lalu ketika selesai barulah mereka mandi lagi/bilas dengan air tawar yang mereka beli dari pedagang air eceran yang didistribusikan menggunakan gerobak, atau bagi masyarakat yang memiliki perekonomian lebih biasanya menggunakan jasa Perusahaan Air Minum (PAM).
Sedangkan masalah sungai yang ada di Jakarta tidak kalah pentingnya, sudah menjadi rahasia umum kualitas air sungai di Jakarta sangat buruk, penuh dengan limbah baik dari industri maupunrumah tangga, hal ini disebabkan letak kesadaran dan penekanan peraturan dari pemerintah sangat rendah, sehingga seperti yang terlihat saat ini air sungai di jakarta bewarna hitam, ungu, berbuih dan berbau, masalah ini bertambah ketika musim penghujan, ketika musim penghujan turun air sungai tersebut akan membanjiri lingkungan pemukiman masyarakat, yang menambah masalah keselamatan dan kesehatan masyarakat, tidak jarang bencana-bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan harta.
(keterangan gambar : aliran limbah cair yang mengalir ke Banjir Kanal Barat)
jikalau saja semua aspek tatanan mulai dari pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat memiliki kesadaran tinggi akan hal ini, seperti pemerintah melakukan sosialisasi yang intens tentang kesadaran pengelolaan sumber daya air dan menegakkan peraturan perundangan yang berlaku secara tegas tanpa padang bulu, kemudian perusahaan/industri membangun pengolahan limbah, sehingga limbah tidak langsung di buang ke sungai, serta masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, bukan tidak mungkin suatu saat nanti sungai di Jakarta bisa terlihat lebih jernih, sehingga kedepannya air sungai dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.
(keterangan gambar : Waduk Setiabudi Barat)
Sebenarnya ada satu lokasi pengelolaan air limbah yang dimiliki oleh warga Jakarta, pengolahan air limbah tersebut dikelola oleh Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD. PAL JAYA), tidak kurang ada tujuh unit unit alat pengolah air limbah (http://www.paljaya.com/index.php?pilih=hal&id=32), namun yang menjadi salah satu masalah alat-alat tersebut hanya berada di Waduk Setiabudi dan tidak terdapat di waduk lain. Waduk Setiabudi sendiri terbagi dua menjadi Waduk Setiabudi Barat dan Waduk Setiabudi Timur. Alat ini atau disebut aerator berfungsi untuk mengurangi beban air tercemar masuk ke dalam Banjir Kanal Barat yang tidak lain adalah Sungai Ciliwung yang nantinya merupakan merupakan bahan baku air bersih bagi warga Jakarta melalui olahan PAM Jaya.
(keterangan gambar : Aerator yang berada di Waduk Setiabudi Timur)
Aerator sendiri bekerja dengan cara mencampur Oksigen sebanyak 48kg/jam/unit, yang nantinya diharapkan terjadi peningkatan oksigen dalam air sehingga oksidasi oleh mikroba dapat berjalan dengan baik, namun yang patut disayangkan, dari pengamatan penulis pada hari Rabu 20 Agustus 2014 sekitar pukul 16 semua mesin tersebut tidak ada yang beroperasi.
Cara di atas merupakan salah satu upaya dari Pemerintah dalam pengelolaan air, usaha Pemerintah patut kita apresiasi dan sukseskan dengan cara ikut menjaga kualitas air dan meningkatkan kesadaran dalam kebersihan.
Jadi sudahkan air kita merdeka untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik????
(semua foto diambil menggunakan iPhone 4s dan diambil oleh penulis)














