Liturgi vi: Mausoleum Idris
Ada cendayam yang duduk di atas piramida. Di sebelahnya, Jibril mengeringkan paksi. Hujan benar keparat malam ini, pecah Jibril, semoga pemakamannya selesai sebelum semua melupakannya, lanjut Jibril.
Siapa yang kau nisankan malam ini wahai pemanggul suara tuhan?, Tanya cendayam. Dia yang bertanggung jawab atas 80 bangunan yang kita duduki ini, dia yang meninggalkan alas kakinya di depan pintu surga, dia, ayah bagi setiap mata neraca, jawab Jibril.
Bukankah dia telah mati bersamaan dengan musnahnya wajah Naphil?, tanya cendayam. Benar, namun tuhan begitu menyukainya, dia dinafasi kembali lalu dimautkan kembali, dan menjadi tugasku untuk meranumkan anyelir di pusaranya, berkali-kali, berkali-kali, jawab Jibril.
Namun sungguh, dia yang kembali hidup dan kembali mati itu hanya cangkang, aku hanya menguburkan boneka berulang-ulang, akalnya jauh tertanam di dasar bumi, jiwanya bersat entah kemana, namun tuhan tetap menyukainya, keluh Jibril.
Rawi mengufuk baya, ibu benar terbangun, Jibril akan kembali tepat setelah Haizum tiba. Semoga penguburan selanjutnya tidak turun hujan, doa cendayam. Jibril hanya terdiam. Aku akan kembali ke nekropolis, lanjut cendayam. Jibril masih terdiam.
Tepat setelah pekik dan derap kuda api tiba, Jibril berpesan:
“Kembalilah, aku muak memakamkanmu lagi nanti, menyerahlah, sebab kau menang, menyerahlah sebab kau berkali-kali menang.”
Di masa depan, seseorang kembali dipulangkan ke dalam liang.
Dan badai tidak berhenti.