#FYI jika ada yang mengalami hal sama dengan saya, memiliki gangguan pada darah di tubuh. Saya mencari referensi untuk mengetahui saya kenapa. Karena pada awalnya saya pun blunder dengan apa yang sedang saya hadapi. Berkonsultasi ke dokter berkali-kali belum membuat saya paham dengan apa yang terjadi dalam tubuh saya. Oleh dokter yang menangani pun, saya disuruh mencari tahu sendiri tentang apa penyebab, apa yang akan terjadi, saya sedang menghadapi apa. Sesungguhnya, saya semakin kebingungan ketika dokter menyarankan seperti itu. Banyak spekulasi yang saya pikir saya masih kurang tepat memperhitungkan dan memperkirakannya. Karena saya tidak memiliki dasar ilmu yang mumpuni tentang kesehatan. Ini pun hasil pencarian yang masih dangkal, saya masih berkesimpulan berdasar persepsi dan pemahaman yang masih meraba. Menurut dokter yang menangani, saya mengidap hipoagregasi trombosit. Hipoagregasi trombosit yang saya mengerti adalah sulit terjadi penggumpalan darah untuk mencegah dan menghentikan pendarahan. Sebelumnya saya menemui internist, dokter spesialis penyakit dalam karena saat itu saya sering memiliki memar ditubuh saya. Selain itu, saya pun sering mimisan, gusi berdarah kalau sedang sikat gigi, dan badan terasa lesu, saya sering kali merasa kepayahan sampai sering terjatuh dan tersungkur ketika berjalan, siklus menstruasi saya pun tidak teratur, namun ketika mens darah yang keluar banyak sekali dalam kisaran 4-5 hari dari 8-10 hari di siklus menstruasi. Menurut diagnosis awal internist saya memiliki gejala ITP (Idiopathic Trombocytopenic Purpura), yaitu penyakit kelainan autoimun yang berdampak kepada trombosit (platelet). Kondisi ini bisa menyebabkan mudah mengalami memar atau berdarah yang terjadi secara berlebihan. Kemudian saya melakukan tes darah untuk melihat jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit darah. Penderita ITP akan memiliki jumlah sel darah merah dan putih normal, tapi jumlah trombosit menjadi rendah. Jumlah trombosit normal dalam aliran darah melebihi 150.000 trombosit per mikroliter. Penderita ITP memiliki trombosit di bawah 20.000per mikroliter, semakin rendah jumlahnya maka resiko pendarahan akan semakin meningkat. Jika jumlah trombosit sudah berada di bawah 10.000 per mikroliter, maka bisa terjadi pendarahan dalam meski tidak terdapat luka. Berkat Kasih Allah, hasil tes darah menunjukan hasil normal. Walaupun ada 2 nilai yang masih abnormal, tapi itu tidak terlalu signifikan. Akhirnya, saya dirujuk oleh internist ke hematology, dokter spesialis darah. Dengan gejala-gejala sebelumnya, saya harus melakukan tes darah kembali. 4 tes yang harus dilakukan adalah, PT (Protrombim Time), APTT, TEG, dan Platelet Aggregation. How the test feel? When the needle is inserted to draw blood, some people feel moderate pain. Others may be feel only a prick or stinging. Afterward, there throbbing or slight bruising. This soon goes away. Namun, karena tes yang dilakukan banyak, darah yang diambilpun sampai 5 tube, itu membuat saya cukup kesakitan, bekas jarum pun membuat memar sekitar 8 hari. The test can help diagnose problems with platelet function and determine whether the problem is due to your genes, another disorder, or a side effect of medicine. What abnormal result mean? Decreased platelet aggregation may be due to: • Autoimmune disorders that produce antibodies against platelets • Bernard-Soulier syndrome • Fibrin degradation products • Glanzmann's thrombasthenia • Medicines that block platelet aggregation • Myeloproliferative disorders • Storage pool disease • Uremia (a result of kidney failure) • Von Willebrand's disease Hasilnya menunjukan Hipoagregasi Trombosit. Selanjutnya harus diketahui induk dari hal ini. Maka dilakukan tes ANA Pola dengan pengambilan darah kembali, untuk melihat bagaimana keadaan imun tubuhnya. Saat itu dokter mengtakan jika hasilnya positif maka saya LUPUS, namun jika hasilnya negatif berarti bukan. Dari yang saya baca, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is an autoimmune disease in which the body's immune system mistakenly attacks healthy tissue. It can affect the skin, joints, kidneys, brain, and other organs. The underlying cause of autoimmune diseases is not fully known. SLE is much more common in women than men. It may occur at any age, but appears most often in people between the ages of 10 and 50. Saya merasa Kasih Allah luar biasa ketika hasil tes ANA Pola “Non Reactive”. Saya tidak lupus. Namun setelah itu saya melakukan terapi steroid untuk memperbaiki fungsi darah kalau kata dokter. Terapi itu hanya sanggup saya lakukan dua bulan. Saya meminum obat dibawah pengawasan dokter selama 2 minggu, kemudian harus melakukan tes darah untuk melihat bagaimana reaksiya. Begitu terus selama 2 bulan. Tidak boleh terlambat minum obat, cek darah berkala, efek samping dari obat yang meningkatkan berat badan, deposit lemak pada wajah (moon face), peningkatan tekanan darah, selanjutnya membuat badan terasa letih lemah lesu, sakit dipersendian dan ginjal, yang membuat saya minum seperti unta. Sampai akhirnya saya meminta untuk berhenti terapi karena merasa tidak sanggup dengan keadaan seperti itu. Saya lebih sering merasa kurang bergairah daripada merasa sehat. Saya jadi memiliki banyak kecemasan karena setiap hari saya tidak lepas dari obat, makan pun sangat dijaga karena segala sesuatu harus higienis, saya ke mana-mana memakai masker karena tidak boleh terkena virus. Itu melelahkan. Saat itu, saya benar-benar merasa menjadi orang penyakitan. Sekarang saya sudah tidak mengkonsumsi obat, saya rutin berolahraga, makan tidak sembarangan, dan saya merasa lebih bugar. Ketika saya memutuskan untuk berheti terapi, saya bertanya tentang penyakit saya. Saya: dok, apa pencegahan untuk penyakit ini? Dokter: Jangan terjadi pendarahan saja. Kalau terjadi pendarah hebat, kamu bisa mati. Jika akan melakukan operasi, melahirkan, atau cabut gigi, kamu harus terapi dulu. Saya: kalau tidak terapi, apa yang akan terjadi dok? Dokter: kamu mati lah kehabisan darah. Saya: oh oke baiklah… dok, saya bisa sembuh? Dokter: penyakit ini tidak akan sembuh seumur hidup. Saya ingin tertawa lepas mendengar pernyataan itu, tapi di sisi lain saya juga cemas. Jadi ekspresi yang keluar hanya meringis. Saat ini, setelah saya mencari tahu, sepertinya begini: Congenital platelet function defects are problems with one of the blood elements needed for clots to form normally. These cells are called platelets. Congenital means present from birth. Causes Congenital platelet function defects are bleeding disorders that cause reduced platelet function, even though there are normal platelet numbers. Most of the time, people with these disorders have a family history of a bleeding disorder: - Bernard-Soulier syndrome occurs when platelets lack a substance that sticks to the walls of blood vessels. This disorder may cause severe bleeding. - Glanzmann thrombasthenia is a condition caused by the lack of a protein needed for platelets to clump together. This disorder may also cause severe bleeding. - Platelet storage pool disorder (also called platelet secretion disorder) occurs when substances called granules inside platelets aren't stored or released properly. Granules help platelets function properly. This disorder causes easy bruising or bleeding. Symptoms Symptoms may include any of the following: - Excessive bleeding during and after surgery - Bleeding gums - Easy bruising - Heavy menstrual periods - Nosebleeds - Prolonged bleeding with small injuries Exams and Tests The following tests may be used to diagnose this condition: - Bleeding time - Complete blood count (CBC) - Partial thromboplastin time (PTT) - Platelet aggregation test - Prothrombin time (PT) You may need other tests. Your relatives may need to be tested. Treatment There is no specific treatment for these disorders. However, your health care provider will likely monitor your condition. You may also need: - To avoid taking aspirin and other nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), such as ibuprofen and naproxen, because they can worsen bleeding symptoms. - Platelet transfusions, such as during surgery or dental procedures. Outlook (Prognosis) There is no cure for congenital platelet function disorders. Most of the time, treatment can control the bleeding. Possible Complications Complications may include: - Severe bleeding - Iron deficiency anemia in menstruating women Prevention A blood test can detect the gene responsible for the platelet defect. You may wish to seek genetic counseling if you have a family history of this problem and are considering having children. References Kottke-Marchant K. Platelet disorders. In: Hsi ED, ed.Hematopathology Nichols WL. Von Willebrand disease and hemorrhagic abnormalities of platelet and vascular function. In: Goldman L, Schafer AI, eds.Goldman-Cecil Medicine www.nlm.nih.gov