Mungkin kita memang ditakdirkan hanya sebatas itu. Sebatas pernah bersama. Kisah singkat yang tak kerap lengkap. Kisah sementara yang tak berpengaruh apa-apa.
(via mbeeer)
Keni
🪼
art blog(derogatory)

ellievsbear

Kaledo Art

Janaina Medeiros
Sade Olutola
One Nice Bug Per Day

#extradirty
Cosimo Galluzzi
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium
official daine visual archive
Noah Kahan

Andulka
ojovivo
Game of Thrones Daily
sheepfilms
cherry valley forever
he wasn't even looking at me and he found me
seen from United States
seen from Indonesia
seen from T1

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Argentina

seen from Mexico

seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Japan
seen from United States

seen from Indonesia

seen from TĂĽrkiye

seen from United States
@purplescents
Mungkin kita memang ditakdirkan hanya sebatas itu. Sebatas pernah bersama. Kisah singkat yang tak kerap lengkap. Kisah sementara yang tak berpengaruh apa-apa.
(via mbeeer)
Women Are Like Apples on Trees
Women are like apples on trees. The best ones are at the top of the tree.
The men don’t want to reach for the good ones because they are afraid of falling and getting hurt.
Instead, they just get the rotten apples from the ground that aren’t as good, but easy.
So the apples at the top think something is wrong with them, when in reality, they’re amazing. They just have to wait for the right man to come along, the one who’s brave enough to climb all the way to the top.
poem by: Â Shuna Holmes
what if that apple try to come down just to figuring out what happen down there. There will be no chance to get on the top again, isn't it? that curious apple... zzz
Cikampek, 17 Mei 2016 Ketika tempat makan langgananmu tutup dan kau tak memiliki kendaraan untuk menjangkau warung makan lain, maka kepada indomie lah kamu kembali. Thanks to penemu indomie, engkau adalah penyelamat bagi perut-perut kelaparan *puja indomie*
Shades of Life #11 Butiran Debu
Minggu lalu aku baru aja ikut sebuah acara workshop indigenous psychology. opo kui? jangan tanya karena sesungguhnya aku pun tak tau dengan pasti apa itu indigenous psychology. Bukan karena aku ingin tau makanya aku ikut, oo bukan. tenang aja. aku ikut karena terpaksa. Disuruh sama dosenku tercinta.
Banyak hal yang aku khawatirkan yang bikin aku ragu-ragu buat berangkat. Pertama, karena salah satu speakernya adalah dosen bule dari new zealand. which is, dia akan berbahasa inggris dalam menyampaikan seminarnya nanti. Kedua, aku takut kalau harus ngomong bahasa inggris. Secara bahasa inggrisku pas-pasan, cuman cocok untuk daily coversation doang, kalo bahasa akademik, aku angkat tangan. Ketiga, hayati lelah bang. Workshop itu diadakan selama dua hari. Bayangpun, aku yang sudah lama ngga ngisi otak ini akan terjebak dalam suasana akademik selama dua hari. dan bahasa inggris pula. omg. Hari sebelum keberangkatan pun aku masih ada kegiatan outbond sama dedek-dedek SD dan masih harus parttime pula sampai malam. Well, intinya hayati teramat lelah. Keempat, goal tujuan ini doesn’t suit me at all. Yah aku tau dosenku mengirimku dengan alasan komunitas yang aku ikuti tergolong indigenous, dan beliau ingin agar komunitas kami mulai merambah dunia akademis, yang sifatnya ilmiah bukan melulu praktis. Tapi ya... aku kan udah lulus, merasa bukan periodeku lagi aja. Akan lebih prospek kalau adik-adik tingkat yang ikut. Jalan mereka masih panjang. lah. Yah anyway, karena si bapak seperti desperately butuh orang untuk berangkat, akhirnya dengan modal nekat aku dan umi pergi ke acara itu sebagai perwakilan psikologi uns sekaligus perwakilan komunitas.
Daan... bener aja. Sesampainya disana aku disambut dengan mbak-mbak cantik dari BINUS, Mbak cerdas dari Unpad dan UGM, mbak kalem dari UIN Malang dan mbak-mbak friendly dari UNUD Bali. Well, aku nyebut mereka mbak-mbak tapi sebenernya mereka adek-adek yang masih unyu-unyu. bahkan ada yang angkatan 2015. Nooo. Makanya tiap ditanyain angkatan berapa aku cuma bisa bilang “udah lulus..” sambil nyengir. Dan untungnya ga ada yang nanya lebih lanjut soal angkatan. haha. Beberapa sih sebenernya ada yang seangkatan sama aku, tapi bedanya... mereka sedang dan bahkan ada yang udah lulus S2, di luar negeri pula. damn. Terus, mereka-mereka yang diutus ke acara itu ternyata adalah mahasiswa-mahasiswa yang udah punya draft penelitian mengenai indigenous psychology. Lalu aku? nothing. i dont prepare anything. Aku datang dengan pikiran yang kosong. hahaha. Yang bikin semakin kecil hati lagi adalah.. mereka bisa bicara bahasa inggris dengan sangat lancar. Terutama anak-anak gaul BINUS, udah was wes wos aja. Mahasiswa yang lain pun pada ga segan gitu ngobrol sama Mr. Jan, mendiskusikan tentang penelitian mereka. Aku ngga deh, selain karena ga PD sama bahasa inggrisku, aku juga ga punya ide apapun tentang penelitian. Mau ngobrolin apa?
Haduh pokoknya aku ngerasa wrong man in the wrong place banget deh. Udah bukan jamanku. Udah bukan masa ku. Aku ngerasa kayak butiran debu banget. Ga ada apa-apanya sama sekali. Dan aku terus jadi kayak ditampol dan tersadar sebenernya apa aja yang kulakuin selama ini. Sementara dedek-dedek itu udah pada ini itu. haaaaah... sebagai butiran debu saat itu aku cuma ingin ditiup angin, menghilang dan pergi dari sana.
Aku perlu belajar. Belajar saaaangat banyak. Biar kejadian butiran debu ini ga keulang lagi di masa yang akan datang.
Shades of Life #10 Dua Bocah Berantem (Lagi)
Entah kenapa aku selalu berada di antara dua orang yang berselisih. Lelah. sungguh lelah. bukannya apa-apa, perselisihan mereka membuat atmosfer di sekitar jadi ga nyaman. Perselisihan itu hanya terjadi di antara mereka berdua, tapi imbasnya kemana-mana.
Kedua orang itu ego nya sama-sama besar. childish. soooo childish. Ga ada yang mau ngalah. Marah ya marah aja, lalu saling menghindari satu sama lain. Padahal ada banyak urusan dan kerjaan yang harus mereka selesaikan. Mending kalau kejadian ini baru sekali. Ini udah berkali-kali. Ga belajar dari masa lalu apa ya mereka. Lalu tebak siapa yang repot? AKU. ya it’s me. Aku harus menenangkan mereka berdua, Membicarakan hal-hal baik dari kubu sebelah yang bisa membuat mereka berbaikan. Kudu hati-hati sekali, udah kayak masukin benang ke dalam jarum. Salah ngomong sedikit, maka semua buyar. Tebak apa lagi efeknya. Kerjaan aku semua yang pegang. horee. tepuk tangan. prok prok.
Semarah-marahnya aku sama orang, aku selalu berusaha se open minded mungkin. Menahan egoku. Memikirkan apa efeknya pada orang lain jika aku meluapkan emosiku. Aku sadar betul kalau aku berselisih dengan seseorang, maka orang lain tidak perlu dilibatkan. Pekerjaan dan tanggung jawabku juga harus tetap aku jalankan. Terkadang untuk membuatku merasa lebih baik, aku juga suka memikirkan kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan dulu. Karena setiap orang ada sisi baik dan buruknya, bukan? Aku ga mau jadi orang egois yang hanya berfokus pada kesalahan sementara sebelumnya banyak kebaikan yang sudah dia lakukan untukku. Setidaknya berpikirlah seperti itu, please.Â
Aku heran, kenapa aku bisa terlibat dengan orang-orang macam mereka. Katanya teman itu representasi diri. Apa aku juga begitu orangnya? Aku salah gaul. Fix salah gaul. Mungkin seharusnya aku gaul sama akhi ukhti yang suka kajian di masjid. Rasanya pengen banget nyiram mereka berdua pakai air se ember, terus bilang “woy sadar dong. baikan sekarang! Kalo ngga gua siram pake air comberan!”
Shades of Life #9 Memudahkan Urusan Orang Lain
Aku bukanlah orang yang hebat. bukan orang besar. bukan pula orang yang pintar. aku cuma orang biasa, dari keluarga biasa saja yang ga punya status khusus apalagi kekuasaan. Jadi... pengaruhku untuk orang-orang di sekitarku ya biasa aja.Â
Meskipun begitu, aku tetap ingin memberikan sesuatu untuk orang-orang di sekelilingku. Karena aku sadar kita hidup di dunia ini ga sendiri. Ada banyak karunia Allah yang dapat kita bagi ke orang lain. Tanpa kita sadari terkadang kita juga menjadi perpanjangan tangan Allah bagi rezeki orang lain. keren ya. makanya aku sangat senang jika bisa berbagi dengan orang lain. Membuatku merasa berarti dan bermanfaat. Membuatku merasa telah menjalankan tugas menjadi perpanjangan tangan Allah dengan baik.Â
Tapi yang jelas... jangan minta uang. Aku punya, tapi ga banyak. Aku bahkan belum bisa memberi uang hasil kerjaku pada ibuku karena aku belum bekerja. Tapi jika kamu benar-benar butuh, aku akan beri walaupun sedikit.
Sebagai gantinya.. mintalah bantuan padaku. Bantuan yang akan meringankan bebanmu. Aku akan membantumu semampuku. Karena aku percaya memudahkan urusan orang lain adalah pahala, insyaaAllah berkah. Dengan memudahkan urusan orang lain pula aku percaya Allah akan memudahkan urusan ku.Â
Aamin.
Shades of Life #8 Bertemu Rindu
Hari itu Senin, 14 Desember 2015 aku resmi menjadi kakak dari 4 orang adik. Adikku bertambah lagi satu orang, dari perempuan itu. Aku tak tau harus bersikap seperti apa ketika papa mengabariku tentang kelahirannya. Sebelumnya pun, ketika kelahiran shitqi, shaka dan vito aku tidak tau harus seperti apa.
Sebetulnya aku tidak benar-benar merasa menjadi kakak mereka karena kami teramat jarang bertemu. Aku bahkan sangsi mereka mengenalku. Bagaimanapun, mereka memiliki hubungan darah denganku, jadi officially kami saudara. Namun jujur untuk kelahiran anak kali ini ada sedikit rasa cemburu dalam diriku. Aku selalu menjadi satu-satunya anak perempuan, dan kini ada anak perempuan lain dalam keluargaku. Anak perempuan yang sedari dulu dinantikan papa dari istri keduanya.
Aku cemburu karena cinta papa harus terbagi lagi. Rasanya sudah cukup aku merelakan cinta papa pada perempuan itu, namun sekarang aku harus berbagi lagi. Belum siap rasanya. Tapi apa daya. Toh bukan rindu yang salah. Bahkan tidak ada yang patut dipersalahkan di sini. Hanya rasa cemburuku saja yang harus aku tahan.
Aku penasaran bagaimana hubungan kami nanti ketika kami semakin beranjak dewasa. Akankah kami akur? Tak ada yang tau. Bahkan semua kejadian ini saja tidak pernah aku harapkan, namun tetap saja terjadi. Aku hanya berharap kita semua hidup dengan baik, tanpa ada yang tersakiti. Aku tidak tau bagaimana aku harus bersikap. Aku hanya bisa menjawabnya ketika nanti tiba saatnya aku bertemu dengan mereka, bertemu rindu.
Shades of Life #7 Late Post: 20 Facts of me
akhir-akhir ini di instagram lagi populer yg namanya 20 facts of me. Jadi itu semacam pengungkapan "aib" dan fakta tentang diri kita. Nanti kalau kita sudah selesai mengungkapkan 20 fakta diri, kita bebas untuk men-tag atau menchallenge orang lain dg tujuan agar melakukan hal serupa. Akupun termasuk orang yg kena challenge begituan. dari mira dan puspito. Sampe sekarang sih belum aku lakukan, tapi aku ga bisa bohong kalau aku mulai memikirkan fakta-fakta unik terkait diriku yg mungkin orang lain gatau. So, this is it. 20 facts of me :D 1. Sendang kejepit pancuran. anak tengah, dr 3 bersaudara. cantik sendiri 2. Suka banget sama warna ungu. 3. Suka sama tokoh monyet yoyo dan cici 4. Termasuk yg makannya cepet. Terutama pas makan mie. 5. Penyakit bulananku sariawan dan batuk. hampir tdk pernah melewati bulan tanpa bersama mereka 6. Pernah tinggal di 4 kota. Jakarta, tj. Pinang, Palembang, dan Solo 7. Gara-gara no. 6, jd suka bingung kalau ditanyain asal (,--) 8. Makannya banyak, tapi ga gemuk-gemuk. 9. Suka coba tempat makan baru dan pesen menu yg aneh-aneh. 10. Suka segala hal berbau crafting dan kesenian. 11. Golongan darahku berubah dari B ke O. Sampai sekarang ini masih menjadi sebuah misteri. 12. Mantan penari. Sekarang sih masih suka, tapi ga tau kemana menyalurkannya. 13. Pengeeeen banget keliling dunia. But i dont know how to start. 14. Ga tegaan kalo liat mbah2 jualan. akan diusahakan beli. Mbah2 jualan lo ya, bukan minta-minta 15. Gampang terharu, gampang nangis. 16. Rada galak, jutek dan ceplas-ceplos. Pernah di julukin ibu tiri gara2 ini. padahal mah maksudku bagus 17. Geregetan sendiri kalo liat orang yg klemar-klemer, plin plan dan lelet. 18. Concern sama kelestarian lingkungan. Sampe pernah punya mimpi pengen jadi menteri lingkungan hidup 19. Mudah mengingat sesuatu tapi mudah pula melupakannya aka. long term memory ku buruk. Prinsipku, yg lalu biarlah berlalu. kalo ga begitu penting, ga usah diingat. haha 20. Sebenernya pernah belajar berbagai macam keterampilan. bahasa jepang, arab, sempoa, keyboard. tapi gara2 no 19 jd lupa. dan gara2 ga pernah dilatih dan dipraktekkan juga sih. Hhe 21. Kata orang aku punya tulisan tangan yg bagus. tapi percayalah, segalanya sudah berubah semenjak kuliah. 22. Paling ga suka kalo ngerepotin orang lain. Selama bisa dilakukan sendiri, ya dilakuin sendiri. 23. Gampang kagum dan jatuh hati sama orang yang punya skill. 24. Big NO untuk cicak dan kodok. hiyek. 25. Punya tangan yang panjang. kalo beli baju bermasalah di panjang lengan. mesti cingkrang. Gara-gara punya tangan panjang jg jadi suka dimanfaatkan sbg tongsis berjalan. Selalu yg pegang kamera pas selfie 26. Suka ngelakuin hal-hal bodoh dan konyol sama adek kalo lg di rumah :p 27. Pernah ikut casting film pendek yg tayang di rcti tapi cm lolos smp tahap reading. hha 28. Lebih suka keju daripada coklat 29. Suka liat dan main sama dedek2 balita gemes. Bawaannya pengen ngebungkus terus bawa pulang. Nahloh udah lebih dr 20 kan. nanti akan terus bertambah kalo aku inget. Hhaha.
Shades of Life #6 Buatlah aku jatuh sejatuh-jatuhnya
Sebenarnya... cinta itu seperti apa? cinta itu bagaimana?
Aku ga pernah tau bagaimana rasanya jatuh cinta yang sebenar-benarnya jatuh. jika aku pernah menyukai beberapa lelaki sebelumnya, kini aku ga benar-benar yakin apakah itu cinta, rasa suka, sayang, kagum, kasihan, atau apapun.
how do you know that he’s the only one? How do you feel that?
Jika melihat bagaimana proses taaruf dalam islam terjadi, maka aku rasa siapapun menjadi tidak masalah asalkan kita yakin kalau seseorang itu agamanya baik, santun, bertanggung jawab. Seseorang yang dengan melihatnya membuat hatimu tenang, membuat hatimu teduh dan merasa aman. seseorang yang bisa dipercaya dan diandalkan.
Maka tidak perlu menunggu ada kupu-kupu yang berterbangan dalam perut, kan? Tidak perlu mensyaratkan ini-itu kan? tidak perlu mematok standar yang terlalu tinggi, kan?
Jika memang sudah merasa dia orang yang baik, maka cukup berkata iya dan memulai perjalanan, bukan? sembari berharap agar ada banyak cinta yang tumbuh selama perjalanan itu. saling memaklumi, memahami, dan berbagi.
Aku tak tau banyak hal soal cinta. Maka jika Tuhan mempertemukanku dengan seorang yang baik, maka berikanlah aku tanda-tanda itu. buatlah aku jatuh sejatuh-jatuhnya kepadanya.
Shades of Life #5 Kalau bukan Cinta, lalu apa?
Semua perhatian itu, semua sikap itu, kalau bukan cinta.. lalu apa?
Tulisanku sebelumnya membuatku berfikir ulang mengenai segalanya. Mengenai sikapmu.
Aku mulai meragukan pernyataanku sendiri, tentang keyakinanku pada semua tanda-tanda darimu. Mungkin... memang seperti itulah dirimu. Selalu baik pada siapa saja. Memberikan perhatian, menawarkan bantuan pada siapa saja. Bukan karena aku. Tapi memang demikianlah dirimu. Yah, aku harap kamu memakluminya. Melihat bagaimana sejarahmu sebelumnya yang pernah dekat dengan banyak perempuan tanpa kuduga, wajar kalau sekarang aku ragu. Mungkin saja saat ini kamu pun berlaku demikian pada perempuan lain selain diriku. Aku jadi merasa bodoh, merasa bahwa semua itu hanya untukku.
Tapi tidakkah terpikir olehmu bahwa apa yang kamu lakukan mungkin saja menyakiti harapan-harapan yang tumbuh pada setiap perasaan. Perbuatanmu tidak lagi menjadi sebuah kebaikan, sopan santun dari laki-laki kepada perempuan, tapi menjadi perbuatan yang sewaktu-waktu akan menyakiti orang lain atau dirimu sendiri. Jadi aku harap kamu bisa berbuat tegas terhadap perasaanmu. Bersikap baik pada semua perempuan, memberikan perhatian yang lebih pada setiap perempuan bukanlah hal yang baik dari sudut pandangku. Tegaslah, sehingga tidak ada orang lain yang salah mengartikan sikapmu.
Minggu, 25 Oktober 2015 pkl. 5.27 PM
Shades of Life #4 Tanda-tanda itu..
sebenarnya aku bukannya tak tau, aku hanya pura-pura tidak tau. aku mengabaikannya dan menganggapnya sebagai hal yang biasa. hal biasa yang selalu bisa dia lakukan ke siapapun yang dekat dengannya.
Aku membicarakan tentang perasaannya. perasaanmu. the way you treat me like a woman.
Semua tanda itu terlihat begitu jelas, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya.
Entah mulai sejak kapan, tapi aku mulai menyadarinya semenjak hari aku merelakan perasaanku. menyadari bahwa kamu tidak menuju padaku. Di saat yang sama aku pun tau hubunganmu dengannya tidak berlanjut cukup baik, entah karena apa. Padahal banyak orang yang membicarakan kalian berdua dan mengatakan kalian sebagai pasangan serasi karena wajah kalian yang serupa. Sejak saat itu, kita mulai terlibat banyak kegiatan bersama. menghabiskan banyak waktu hingga malam tiba. interaksi maya kita sempat merenggang saat itu, tapi mulai intens kembali karena mau tak mau kita harus berkomunikasi demi kelancaran acara.
Selepas kita bertemu, kamu selalu menanyakan apakah aku sudah sampai rumah; kamu membungkus uang dengan amplop berwarna ungu, warna yang kusuka; dan ingatkah ketika kamu memberikan biji bunga matahari? entah sengaja atau tidak, kau pun meletakkannya dalam kertas kado batik warna ungu; kau khawatir ketika aku pergi mengendarai motor ke semarang dan bersikeras untuk ikut menemani meskipun saat itu kondisinya tidak memungkinkan; kau selalu mengabarkan betapa cantiknya bulan malam ini padaku hanya karena aku pernah mengatakan bahwa aku suka memandang bulan; lalu haruskah aku ingatkan ketika kau menyimpan jaketku ke dalam plastik karena cuaca saat itu mendung sementara jaket teman-teman lain yang pergi bersamaku kau biarkan begitu saja?
Dari semua tanda-tanda itu bagaimana mungkin aku tidak tau?
Meskipun demikian hingga sekarang aku berusaha menganggapmu sebagai teman yang baik. Agak sulit melihatmu sebagai laki-laki, karena perasaan itu sudah aku relakan sebelumnya. Akupun mengakui bahwa aku berusaha bertindak sewajar mungkin bahkan terkadang agak sedikit kasar padamu. Tapi anehnya kau masih saja memperlakukanku sebagai wanita. setidaknya seperti itulah yang aku rasakan sampai sekarang.
Sejujurnya aku sedikit khawatir. Khawatir jika aku melukai perasaanmu. Saat ini harus aku katakan kalau aku tidak tau persis dimana hatiku berada. Aku hanya bisa berterimakasih, dan juga maaf. Aku harap apapun dan bagaimanapun kita ke depannya, hubungan ini akan selalu baik.
Surakarta, 20 Oktober 2015 01.37 PM
be.a.u.ti.ful
Doa-Doa Itu
Pernah tidak kamu ragu pada kekuatan sebuah doa? Ketika kamu merasa begitu lelah pada keadaan yang menimpamu. Ketika kamu begitu penat memikirkan segala masalah yang rasanya bebannya tak kunjung terangkat. Saat itu, saat dimana doa-doa kita tidak dijawab dengan jawaban langsung. Kita tidak tahu apakah ditunda atau diganti dengan yang lebih baik. Karena saat itu, kita merasa inilah yang terbaik.
Kalau saja kita melihat bagaimana Allah berencana pada hidup kita, mungkin hati kita akan segera luluh demi melihat kecintaan-Nya. Hanya saja kita tidak melihat itu dan kita senantiasa menginginkan apa yang sedang kita harapkan menjadi kenyataan. Padahal, cara kerja Allah tidak demikian.
Surakarta, 14 September 2015 | ©kurniawangunadi
Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit.
Ali bin Abi Thalib (via kurniawangunadi)
Shades of Life #3 Aku Benci Diriku
Akhir-akhir ini aku mulai membenci diriku sendiri. Umurku 23 tahun, tapi tak banyak yang sudah kulakukan. Disaat teman-teman seusiaku sudah melakukan banyak hal—lulus, bekerja, beli ini beli itu, jalan-jalan, menikah, punya anak, kuliah lagi—aku masih disini. Di tempat yang sama. Setiap hari bangun tidur tanpa tau secara jelas apa yang akan kulakukan hari ini. Sehari-hari aku hanya bangun, makan, sholat, nonton tv, online, dan hampir sebagian besar waktuku aku habiskan untuk tidur. Ya, mereka yang terlalu banyak tidur konon katanya pertanda kesepian. Mungkin. Ya, aku mungkin kesepian. Tak tau apa yang harus aku lakukan, tak tau apa yang ingin aku capai. Aku merasa sangat tidak berguna. Saking merasa tidak berguna, aku merasa malu harus melihat wajah ibuku setiap hari. Tidak tau apa yang harus aku bicarakan, tidak tau apa yang harus aku banggakan. Semakin sedih ketika ibuku harus menjawab pertanyaan teman-temannya tentang diriku. Melihat beliau berusaha mencari alasan tentang bagaimana keadaanku sekarang membuat hatiku sakit. Hal yang berbeda tampak ketika ibuku menceritakan tentang kakak dan adikku. Ada binar di matanya dan nada bahagia di suaranya. Apalah aku ini. Sungguh hanya merasa menjadi beban bagi keluarga. Aku benci diriku yang seperti ini.
Senin, 17 Agustus 2015
Shades of Life #2-Air Mata Hari Raya-
Rasanya.. hidupku sudah seperti sinetron. Temanya masih sama. Pemeran antagonisnya pun masih sama. Hebatnya pemeran antagonis ini berhasil membuat aku menangis lagi dan lagi karena kelakuannya.
Menangis di Hari Raya adalah hal yang biasa, tapi berkat si antagonis, tahun ini aku menangis dengan luar biasa. Aku bertengkar dengan dia, karena hal yang sepele. Sebenarnya aku ga secara langsung bertengkar atau berargumen sama dia, tapi rasanya ini lebih sakit karena aku harus adu argumen dengan papa.
Awalnya aku cuma ingin menghubungi papa untuk yah.. minta maaf, karena memang momennya adalah Hari Idul Fitri. Tapi apesnya aku, papa ga bawa hape dan yang mengangkat telponnya adalah perempuan itu. Pembicaraan berlangsung singkat, kurang lebih seperti ini
Me     : “Assalamualaykum..”
X       : “Halo, kenapa?”
Me     : kaget karena bukan papa yang angkat “eh.. ng.. papa ada?”
X       : “ga ada, lagi keliling”
Me     : “oh.. gitu”
X       : “mau ngapain?”
Me     : jujur aku agak kaget dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang aneh, kan terserah aku mau telpon dan mau ngapain. Aku anaknya dan dia papaku “yah.. mau ngobrol sama papa”
X       : “ga ada, lagi keluar. Telpon nanti aja”
Me     : “oh yaudah, nanti aku telpon lagi ya..”
X Â Â Â Â Â Â : tuut..tut..tuut *dari sana yang matiin telpon
Setau aku, dimana-mana yang telpon itu yang matiin telpon duluan. Ini dari sana langsung matiin telpon gitu aja, bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Padahal aku masih mikir mau basa-basi apa lagi sebelum menutup telpon. Tapi yaudah, karena dari sana yang matiin duluan, aku kaget dan pembicaraan berakhir gitu aja.
Aku pikir, yaudah sih ya. Nanti tinggal nunggu papa telpon lagi. Dan bener, papa emang telpon ke aku. Awalnya ya aku minta maaf dan bla-bla-bla. Lalu aku tanya, “di rumah masak apa pa?” *sepertinya aku salah milih pertanyaan*, papa bilang “kenapa kamu ga tanya langsung aja tadi?”. Mulai dari sana pembicaraan mulai memanas. Aku mulai menjelaskan kalau tadi langsung dimatikan gitu aja, bahkan aku ga sempat salam, dll. Papa pun mulai nasehatin aku harusnya aku halal bi halal dulu sama perempuan itu, ngobrol-ngobrol dan sebagainya, ga cuma ngobrol sama papa. Perempuan itu bilang kalau aku cuma pengen ngobrol sama papa, jadi dia langsung matiin telponnya. Entah darimana kata-kataku yang salah tadi saat telpon sampai buat dia tersinggung. Perasaan dari awal dia yang jawabnya ketus. Memang aku akui, SAMA SEKALI ga terlintas di pikiranku untuk halal bi halal sama dia, bahkan aku ga berharap bakal ngobrol sama dia. Ga ngebayangin sedikitpun, jadi mentally, aku ga siap. Makanya aku kaget saat dia yang angkat telpon. Jadilah di sana aku dimarahin sama papa. Saat awal sebelum pembicaraan itu memanas, aku angkat telponnya di ruang makan, tapi ketika aku ngerasa mataku mulai terbenam air  mata, aku pindah ke kamar belakang. Entah saudara-saudara pada nyadar atau ngga tentang keadaanku, karena memang saat itu aku udah agak sedikit sesenggukan, dan tau sendiri rumah mbah ramenya gimana. Sepanjang menuju kamar belakang aku melewati banyak sepupu dan juga bule. Sampai di kamar belakang, sesenggukan ku semakin menjadi. Aku menangis hebat sambil mendengarkan papa berbicara, menasehatiku tentang bagaimana aku seharusnya bersikap dengan perempuan itu. Juga menasehati tentang aku yang harus menerima keadaan, takdir, dan sebagainya. Di belakang telpon aku mendengar perempuan itu mengomel “masalah sepele aja jadi besar gini” “emang dari dulu minyak sama air ga akan bisa nyatu” dsb. Aku udah ngga tahan dan aku bilang sama papa untuk menyambung teleponnya lain kali.
Selepas papa menutup telepon, aku mulai merasa kesal pada banyak hal. Aku sedih, papa ngga ngebelain aku. Dari dulu selalu aku yang harus mengalah, mengerti tentang sikap dia yang kasar, karena dia orang palembang. Bagiku dia kasar bukan karena dia orang palembang, tapi emang bawaan lahir. Dimana-mana mau suku apapun, yang namanya orang baik, yang baik aja. Ngga nyakitin hati orang lain. Aku juga kesal, aku iri dengan sepupu-sepupuku yang lain—yang walaupun dalam keadaan sulit setidaknya keluarga mereka masih utuh, mereka masih melalui kesulitan-kesulitan itu bersama-sama. Mungkin juga, papa “terpaksa” menasehati aku karena ada perempuan itu di sebelahnya. Entahlah. Aku hanya berharap papa berada di pihakku walaupun hanya sesekali.
Hari itu, aku melaluinya dengan berusaha menahan air mata dan bekas-bekas kesedihan, seperti mata dan bibir yang bengkak. Karena sehabis menangis aku masih harus menemui saudara-saudara papa yang datang ke rumah mbah. Tahun ini menjadi Idul Fitri yang cukup emosional buatku.
Aku tau, kesedihan yang terjadi kemarin ga akan berakhir sesimpel itu. Dengan hanya aku yang tau tentang apa yang terjadi kemarin. Pagi harinya perempuan itu mengirimkan sms ke mama.
 Sms pertama:
“memang aku orang Palembang yang adatnya keras. Dari gaya bahasanya saja mungkin kata kalian kasar berbeda dengan orang jawa seperti kalian orang jawa. Tapi aku masih punya sopan santun dan harga diri! Jadi jangan selalu menyalahkan orang kalau saya menyambut telp kurang sopan? Bagaimana dengan kamu sudah benarkah? **** saya ga pernah peduli sama kamu, mau kamu suka dan terima saya sekarang ini sebagai istri bapak kamu atau tidak terima, tidak masalah bagi aku, karena perjalanan hidupku tetap berjalan tanpa restu kalian karena aku masih mempunyai Allah swt, dan biarlah Allah swt yang menilai saya, bukan manusia! Sekali lagi saya bilangin ke kamu kita ga ada hubungan apa-apa dan kamu bukan siapa-siapa aku begitu juga kamu kan ke aku. Aku hanya punya hubungan ke bapakmu sebagai suami dan bapak anak-anak aku. Mulai hari ini juga aku ga mau tau tentang kalian”
 Sms ke 2
“saya tutup dan melarang suami aku acp untuk mengajak anak-anaknya di rumah saya atau dimanapun kami berada nantinya demi kenyamanan dan ketentraman kehidupan kami. Silahkan by telp saja ke bapak acp”
 Perempuan itu memang benar-benar hebat. Dia paling tau bagaimana caranya membuat orang merasa sedih. Aku ga berharap dia akan mengirimkan itu ke mama, karena itu hanya akan menambah beban pikiran mama aja. Mama dengan caranya mulai menunjukkan sms itu ke saudara-saudara papa. Termasuk mbah juga. Terkadang aku memang ingin agar saudara-saudara tau, bagaimana tersiksanya kami pasca perempuan itu mencampuri kehidupan keluarga kami. Tapi terkadang aku juga merasa bahwa hal-hal seperti ini yasudahlah, biar menjadi rahasia. Biarlah Allah yang mengurusnya. Selepas itu mbah pun menasihati kami untuk tidak menghiraukan perempuan itu. Kata mbah, anggap dia “kurang satu”. Yah.. pada dasarnya dari dulu memang kami ga pernah menghiraukan dia. Kalau iya, sudah aku labrak dan aku pukuli perempuan itu sampai meminta ampun dan ga muncul di hadapan kami lagi.
Pasca pertengkaran itu papa left group keluarga soebari, aku cek di bbm kontak papa juga udah ga ada. Aku belum cek di facebook, apakah papa juga mengunfriend aku atau ngga. Dan aku juga gatau, bisa aja nomor hapeku di hapus dari kontak papa. Aku tau bukan papa yang melakukan itu semua. Ataupun kalaupun memang papa, its not his will. Papa melakukannya karena perempuan itu.
Oya, papa mengirim ini ke aku:
“Ass tadi bunda kirim sms ke mama tolong bilang sama mama gak usah ditanggapi.. itu hanya ungkapan kekecewaaan nya atas sikap kalian yg tidak mau menerima kodrat dari Allah dan bunda selalu merasa dipersalahkan padahal penyesalannya sangat dalam atas takdirnya menjadi istri papa.. dari perjalanan waktu akhirnya bunda menyadari bahwa semua hidupnya sudah diatur oleh Allah. Ok nanti papa jelaskan semuanya ya maafkan papa.. Iloveallofyou...”
 Aku tau, ini terasa berat, bukan hanya untuk ku, tapi juga papa dan mama. Aku saja entah sudah berapa malam yang aku habiskan dengan menangis, bagaimana dengan mama? Seseorang yang paling terluka di sini. Entahlah, aku gatau lagi harus gimana. Rasanya kali ini aku benar-benar semakin dijauhkan dengan papa.
Senin, 4 Agustus 2014 Â Â pukul 7.25 PM
Kita semacam sepakat untuk menyimpan perasaan kita terlebih dahulu tanpa harus membuat kesepakatan. Karena kita tahu dan sama-sama tahu bahwa kita perlu menjaga diri sendiri dalam waktu yang sifatnya berbatas.
Mengapa berbatas? Karena kita tahu bahwa semua ini akan ada akhirnya. Apalah arti satu...