Tegal Berbagi 2 : Tentang Hati Yang Merasa Cukup
Tegal Berbagi, begitu kami menamainya. Sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh sebuah komunitas kreatif bernama Kumpul Bakul Tegal. Dari namanya tentu kita sudah tahu bahwa komunitas ini berasal dari kota seribu warteg, Tegal. Oleh Founder komunitas ini, Angga dan Indra, Bakul tidak hanya dimaknai penjual/pengusaha/entrepreneur tetapi kemudian diberi arti lain yaitu bareng mikul.
Pagi itu hari Minggu, 14 Juni 2015, Alhamdulillah kami disambut oleh cuaca yang cerah dan udara sejuk bahkan cukup dingin karena kami berada di dataran tinggi, Guci. Pagi itu juga kami dipelihatkan pemandangan puncak Gunung Slamet, âWah, jarang-jarang Puncak Slamet terlihat dari sini,â Mas Oziq mengajak beberapa dari kami berfoto dengan background Gunung Slamet. Mas Oziq adalah salah satu perwakilan dari Taman Bacaan Tiga Surau yang ikut mensupport Tegal Berbagi tahun ini. TBM Tiga Surau sendiri bertempat di Tuwel, tidak jauh dari lokasi acara Tegal Berbagi 2 berlangsung.
Seluruh peserta yang tidak lain adalah adik-adik dari tiga panti asuhan yang kami undang telah menempati kursi yang telah kami sediakan. Terlihat juga tim Panitia dibantu rekan-rekan dari Tiga Surau mempersiapkan sound system karena acara akan segera dimulai. Acara dibuka dengan pembukaan oleh Ketua Pelaksana Tegal Berbagi dan ucapan âbismillahâ, lalu dilanjutkan dengan sharing inspirasi oleh Mbak Zachira Indah.
Mbak Zachira Indah adalah penulis yang sejauh ini sudah menerbitkan lima buah novel bahkan beliau sedang menggarap novel selanjutnya. Salah satu novel terbarunya yang terbit di tahun ini The Wedding Storm sudah bisa dibeli di toko buku lho.
Beliau bercerita tentang betapa pentingnya membaca untuk bisa menerbitkan buku sepertinya. Beberapa keuntungan dari membaca yang beliau sebutkan diantaranya memiliki wawasan luas, dengannya kita bisa ânyambungâ saat diajak ngobrol dengan siapa pun. Membaca juga mendukung kemampuan kita berbicara di depan umum. Tentu banyak manfaat lain dari membaca baik dampak psikologis maupun kesehatan. Satu hal yang beliau tekankan pada kami sebagai peserta adalah mustahil kita bisa menjadi seorang penulis tanpa membaca.
Acara dilanjutkan dengan Pentas Seni dari Panti Asuhan Aisiyah Slawi dan Sharing Inspirasi oleh Mas Anggoro Tri Wibowo atau biasa kita panggil Mas Angga. Mas Angga adalah seorang Pengusaha Cafe yang cukup digemari di Kota Tegal, AWE Coffe & Chocholate.
âAdik-adik di sini punya cita-cita?â Mas Angga membuka dengan pertanyaan.
âPunyaaaaaaâ adik-adik panti menjawab bersamaan.
âJangan minder untuk bercita-cita besar karena sejatinya kemampuan itu milik Allah,â Mas Angga menambahkan.
Tema yang menjadi sharing kali ini adalah cita-cita. Mas Angga menjelaskan bahwa menjadi apapun kita nantinya (dokter, guru maupun pengusaha), itu semua enggak penting, karena profesi tersebut hanyalah kendaraan untuk mencapai tujuan. Tujuannya kemana? Tujuannya adalah kebermanfaatan kita. Tujuannya adalah keberkahan di dunia dan akhirat.
Hari semakin terik karena sudah memasukin jam sebelas siang. Acara kembali dilanjutkan dengan Pentas Seni yang diisi dengan lantunan biola dari Adik-Adik Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Margasari. Lengkingan biola melalui dua lagu yang dimainkan dan angin sepoi-sepoi pegunungan membuat kami lupa akan teriknya matahari siang itu.
âSelamat Pagiii,â Mbak Indah Sanni mengagetkan kami dengan semangatnya. Beliau mengulangi hingga tiga kali sehingga mau-nggak-mau kami harus mengikutinya.
âPagiiiiiiiiiâ Kami menjawabnya pada kali ke tiga dengan lantang. Beberapa adik-adik kebingungan karena hari sudah siang.
Pada sharing terakhir ini, Mba Indah hanya menyampaikan sebuah cerita. Caranya bercerita membuat kami nyaman menyimak jalannya cerita. Cerita haru tentang seorang ibu yang menyesal karena telah menghukum anaknya karena terlambat tiba di rumah, padahal anak tersebut hendak memberikan hadiah di hari ulang tahun Ibunya yang ia dapatkan dengan susah payah. Beberapa dari adik-adik panti terlihat menangis, juga terdengar isak tertahan dari teman-teman panitia di belakang stage.
Pada sharing terakhir ini, Mba Indah telah berhasil mengubah persepsi kami tentang betapa pentingnya berpikir positif. Beliau berulang kali menekankan kepada kami sebagai peserta untuk selalu positive thinking di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun karena efeknya akan besar sekali terhadap kehidupan kita.
Kumandang adzan terdengar dari kejauhan, menghentikan sejenak kegiatan kami. Para putra segera bergegas menuju sumber air yang terletak di bawah dari tempat kegiatan dilangsungkan. Kami harus menuruni jalan setapak yang cukup terjal menuju sungai untuk mengambil air wudhu kemudian shalat berjamaan di lapangan, sebelah tempat acara. Para putri harus berjalan menuruni tangga yang cukup banyak untuk menuju mesjid yang berada di dalam area Guciku Waterboom. Kami sengaja membagi dua kelompok saat ishoma karena padatnya acara yang sudah kami susun.
Selepas ishoma, memasuki acara yang memang dinanti-nanti, baik oleh adik-adik Panti bahkan kami sebagai panitia, yaitu Outbond. Adik-adik Putra segera berlarian ke lapangan yang sudah disediakan. Para peserta bahkan sudah kompak berkumpul dilapangan membentuk lingkaran besar, entah siapa yang memberikan komando.
Dua jam yang dilewati seakan tidak terasa meskipun beberapa permainan membuat kami kelelahan. Acara kembali dihentikan oleh adzan, kali ini adzan ashar. Dengan pakaian basah, karena permainan outbond terakhir memang bermain air, kami lalu berkumpul untuk mendengarkan instruksi panitia. Acara selanjutnya adalah acara bebas. Peserta dibebaskan memasuki area Guciku Waterboom untuk berenang maupun menggunakan setiap permainan yang disediakan di lokasi tersebut. Tanpa perintah panitia, sebagian dari kami langsung menuju kolam dan memenuhi permainan-permainan yang telah disediakan Guciku Waterboom. Sebagian yang lain tetap patuh menuju mesjid untuk melaksanakan shalat ashar. Oh ya, kami sangat dibantu dengan keramahan pihak Guciku Waterboom yang diwakili Bapak Nur, Manager Guciku Waterboom dari mulai berlangusngnya acara hingga selesai acara Tegal Berbagi 2.
Perjalanan pulang terlambat sekitar satu jam. Kalau sudah bermain, kita terkadang lupa dengan waktu, bahkan panitia pun lupa untuk mengingatkan, larut akan kesenangannya masing-masing. Di perjalanan tidak terdengar suara adik-adik panti yang pada saat keberangkatan riang sekali. Saat menaiki truk kami memang segera mencari posisi untuk tidur atau setidaknya memejamkan mata untuk menyimpan sebagian tenaga yang tersisa. Kegiatan hari itu sepertinya menguras tenaga kami seluruhnya. Baru ketika truk tiba di Panti Asuhan, adik-adik kembali bersemangat untuk menyalami dan melambaikan tangan kepada kami, tidak lupa terselip senyum dari bibir mereka.
Lelah yang terasa hilang tak tersisa. Perasaan lega dan syukur tak henti kami ucapkan karena acara terlaksana sesuai rencana.
Dua Minggu kemudian kami kembali mendatangi tiga panti yang menjadi peserta Tegal Berbagi 2 untuk memenuhi janji kami menyerahkan kebutuhan dari masing-masing Panti Asuhan yang pernah ditanyakan sebelumnya.
Penyerahan donasi kali ini cukup cepat karena kami hanya tinggal menurunkan setiap kebutuhan yang telah kami persiapkan selama dua minggu. DI Panti Asuhan Putri Aisyiah Slawi kami menyerahkan whiteboard, rak buku, satu dus novel dan sembako. Lain lagi kepada Panti Asuhan Putri Margasari, kami menyerahkan perlengkapan shalat (mukena &sajadah) untuk tiap anak, meja belajar untuk tiap anak, membuatkan website informasi panti dan sembako. Terakhir kami menyerahkan satu unit komputer, satu set rebana, dan sembako kepada Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Margasari.
Dengan ini kami ingin melaporkan jumlah donasi yang sudah terkumpul dan kami disalurkan yaitu Rp 23.337.900.
Alhamdulillah, setelah penyerahan donasi tersebut, amanah kami sebagai panitia Tegal Berbagi 2 pun turut berakhir. Kami selaku panitia memohon maaf kepada seluruh peserta yang terlibat, dalam hal ini termasuk donatur, baik secara lisan maupun tindakan selama kegiatan Tegal Berbagi 2 ini berlangsung. Terima kasih untuk saran dan masukan bagi kami dan kami selalu terbuka untuk setiap kritik dan masukan yang ingin disampaikan untuk acara ini.
Berbagi tentu tidak selesai sampai di sini, untuk itu semoga Allah SWT selalu melimpahkan kepada kita hati yang selalu merasa cukup sehingga dengannya kita bisa secara konsisten berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Karena Berbagi Bikin Hepi... Berbagi Tak Pernah Rugi... Dan Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya.