‘Gumelis’ dalam bahasa Sunda, ataupun ‘Kamek’ dalam bahasa Padang, adalah dua kata yang bisa menggambarkan dirinya. Senyumannya yang disertai dengan gerakan centilnya, ataupun cara dia mengerlingkan mata dengan manisnya, merupakan bahasa tubuh yang terbentuk secara natural. Ga jarang kami sering gemas dibuatnya.. Saat ini dia sedang belajar berdiri sendiri dari posisi duduk tanpa berpegangan tangan. Kadang kami pun melatihnya berjalan, walaupun kami tidak terlalu memaksakan kehendak agar si anak “bisa sesuatu” sesegera mungkin. Kami hanya ingin melihat dia berkembang secara natural dan naluriah. Dari awal, kami sebagai orang tuanya sepakat untuk tidak memberi alat bantu untuk berdiri ataupun berjalan. Kami ingin dia berkembang berdasarkan keinginannya, agar dia memiliki keinginan belajar yang besar, rasa ingin tau yang kuat, kemauan yang tinggi, walaupun kami juga sama sekali tidak menyalahkan orang tua yang memberikan alat bantu berdiri seperti baby walker dsbnya pada anaknya. Kami pun sepakat untuk tidak terlalu sering membelikan dia mainan, agar waktunya digunakan untuk lebih banyak berinteraksi dan eksplorasi hal-hal maupun benda-benda disekitarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan Seyra lebih tertarik pada benda-benda orang dewasa seperti kunci, kotak obat yang ga ada bagusnya, penanak nasi, bahkan galon air minum, dibandikan boneka dan mainan. Dia pun sekarang cerewet sekali, walau masih dengan 'bahasa'nya. Ga jarang dia sering ikut bernyanyi apabila kita sedang menyanyi, dan ga akan berhenti sampai kita berhenti. Namun, itu semua hanya pilihan, tidak ada yang benar maupun salah. Karena saya percaya, orang tua yang baik selalu tau apa yang terbaik bagi anaknya.. Itu semua baru sebagian kecil dari perkembangan yang Seyra tunjukan, dan kami sebagai orang tuanya selalu bersyukur karena telah diberikan anak yang aktif, sehat, dan pintar. Namun, ada aja orang-orang yang ga mengikuti perkembanganya, tapi memberikan komentar-komentar yang kadang ga mikirin perasaan si Ibu kandungnya.. Pengalaman ini baru aja saya rasakan beberapa hari yang lalu, dan sampai sekarang masih ada rasa mengganjal di hati ketika mengingatnya. Saat itu saya mau membeli nasi kuning di dekat rumah. Saya kemudian minta sambalnya untuk dipisahkan karena nasi kuning tersebut akan dimakan juga oleh anak saya. Kemudian Ibu itu bertanya, “Emang udah bisa makan nasi?”. Saya pun menjawabnya, “Sudah Bu, tapi ya gitu, dia ga terlalu suka dengan nasi”. Dan Ibu itupun berkomentar lagi, “Oh pantas anaknya kecil, susah makannya ya”.. Ibu mana yang hatinya ga sedih ketika anaknya dinilai seperti itu oleh orang yang sama sekali ga ngikutin pertumbuhan dan perkembangan anaknya? Oleh orang yang gatau apa-apa tentang anak saya? Saya pun diam walaupun rasanya banyak sekali kata-kata pembelaan yang ingin saya lontarkan, namun lidah terasa kelu saking sedihnya. Susah makan. Seyra memang kurang suka nasi, tapi dia tetap akan memakannya walaupun tidak selahap ketika memakan kentang dan pasta. Namun kata siapa karbohidrat hanya berupa nasi? Selama dia masih memakan karbohidrat dan komponen di dalam menu makanannya pun lengkap, yaitu terdiri dari sayur, protein nabati dan protein hewani, lantas salahnya dimana? Saya hanya ingin memberikan variasi makanan pada anak saya agar dia belajar untuk mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan, sehingga oral motornya pun berkembang dengan baik. Saya sebagai satu-satunya orang yang memasakan makanan untuk Seyra, sangat hafal menu makanan yang dia suka dan tidak suka. Untuk menu makanan yang dia suka, saya pasti akan memasakannya dalam porsi yang sangat banyak, karena saat itulah kesempatan saya untuk bisa memasukan aneka nutrisi yang baik untuk Seyra. Namun saya pun tetap memasakan makanan yang dia kurang suka, walaupun dalam porsi kecil, dengan harapan dia belajar untuk menyukainya. Saya ga terlalu memaksakan Seyra untuk menyukai jenis makanan tertentu yang dia ga suka. Mengapa? Karena dia pun manusia, yang punya rasa dan hak untuk memilih apa yang dia suka/tidak. Dan saya pun senang. Setidaknya, anak saya tau apa yang dia mau, apa yang dia suka, terutama tau akan dirinya. Jadi, dia bukan susah makan. Dia hanya makan apa yang sesuai dengan seleranya. Berat badan. Ya, Seyra tergolong anak yang kecil untuk sepantarannya. Tanpa perlu Ibu Penjual Nasi Kuning itu bilang pun, saya sudah tau. Lagian saya bingung, apa harus ya terang-terangan bicara kekurangan anak saya di depan saya? Reaksi seperti apa yang dia harapkan dari saya? Kata-kata apa yang dia harapkan keluar dari mulut saya? Ga bisa ya kalau cukup simpan di dalam hati? Bukannya dalam agama dilarang untuk melakukan ghibah? Mungkin dia khawatir, kalau saya mau berpositive thinking. Tapi kalau dia emang khawatir, ya apalagi saya sebagai Ibunya? Apa dia ga mikirin itu? Dan kata-katanya pun, memang akan mengurangi kekhawatiran saya? Yang ada malah menambah beban pikiran saya.. Berat badan Seyra sekarang memang dibawah standar yang seharusnya, walaupun dokter anak yang menangani Seyra sejak lahir selalu bilang untuk tidak perlu merasa khawatir. Dokter selalu menekankan untuk tidak terlalu berpatokan pada berat badan, karena berat badan itu bukan segalanya. Anak yang besar badannya belum tentu anaknya sehat. Begitu pula kebalikannya, anak yang kecil badannya belum tentu anaknya tidak sehat. Selama anak saya aktif, lincah, happy dan dilihat dari perkembangannya yang terus bertambah, dokter meyakinkan saya bahwa Seyra itu sehat!! Dan ya, fisik anak saya memang terbukti kuat. Kami pernah membawanya ke Pekanbaru ketika usianya masih sekitar 4-5 bulan. Saat itu, jam 01.00 dini hari kami sudah berangkat dari rumah ke pool travel. Jam 03.00 nya kami berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dan tiba jam 05.00 subuh. Setelahnya kami menunggu 4.5 jam di Bandara karena pesawat berangkat jam 09.30, dan tiba di Pekanbaru jam 13.00 karena delay selama sejam. Perjalanan yang panjang, karena harus ke Jakarta terlebih dahulu. Belum lagi dari Pekanbaru kami pun pergi ke Lirik, menggunakan mobil dengan waktu tempuh 2-3 jam. Saat kami pun mulai bertumbangan, tapi Seyra tetap sehat bugar, lengkap dengan keceriaan dan keaktifannya.. Mengenai dokter, dokternya pun tidak sembarangan, sangat berbeda dengan Ayah dan Ibunya yang ketika sakit cukup berobat ke puskesmas, atau bahkan mencoba menahan sakit tersebut hingga sembuh sendiri. Dokter anak kami yang bernama Dr.Tetty Yuniati merupakan dokter senior, salah satu dokter yang bagus di Bandung, dan terkenal sebagai dokter yang jarang memberikan obat. Alhamdulillah dan insya Allah, setidaknya anak kami juga terpantau oleh dokter yang tepat.. Mengenai berat badan Seyra yang kecil, menurut apa yang dikatakan dokter, hal itu dikarenakan adanya enzym di dalam pencernan Seyra, dimana enzym tersebut membuat penyerapan terhadap makanan menjadi tidak sempurna. Hal itu dapat terlihat dari intensitas pup Seyra yang cukup sering dalam sehari, yaitu 3-4x. Bahkan saya dan suami pun kadang menjuluki Seyra layaknya seekor burung, yang tiap habis makan langsung pup, persis seperti kebiasaan seekor burung. Dokter pun tidak memberikan obat apapun, karena enzym tersebut akan hilang dengan sendirinya.. * * * Setiap orang tua dimanapun, pasti ingin selalu yang terbaik bagi anaknya, dimana sanggup untuk berjuang dan berkorban apapun demi kebaikan, hidup, dan masa depan anaknya. Saat saya dan suami yang mungkin hanya makan salmon setahun sekali, itupun kalau lagi sangat sangat kepengen, namun saya selalu stok salmon di kulkas, hanya untuk Seyra. Ga hanya itu, daging iga adalah jenis daging sapi untuk makanan Seyra sehari-hari, dimana paling kami sebagai orang tuanya hanya makan iga sekali-kali. Aneka resep makanan saya coba, yang dimana kegiatan memasak merupakan hal yang sangat saya benci saat sebelum menjadi Ibu. Berpuluh-puluh resep makanan saya praktekan, demi mengenalkan aneka rasa dan tekstur makanan pada anak. Ga jarang hasil uji coba makanan yang sudah dimasak berjam-jam pun berakhir di tempat sampah, demi mencari tau makanan kesukaan anak, sehingga dia mau makan dengan gembira. Dan masih banyak lagi perjuangan yang dilakukan, dimana seluruh Ibu di dunia pun melakukannya. Ketika ada yang tidak sesuai dengan pertumbuhan Seyra, jangan dikira kami tidak menyadari dan hanya diam saja, melainkan langsung menanyakan kepada dokter yang memang sudah terbukti ahlinya. Walaupun kadang kami dinilai terlalu berlebihan, tapi apa sih salahnya? Saya yakin, orang tua merupakan orang yang paling tau apa yang terbaik untuk anaknya, juga orang yang pertama kali tau ketika ada yang salah dengan anaknya. Tiap orang tua pun berbeda dalam mendidik anak, namun saya yakin, selalu ada tujuan positif yang ingin ditanamkan ketika mendidik anak. Bagaimana cara kami mendidik, merawat dan membesarkan anak kami, tidak mungkin tanpa melalui proses pencarian referensi terlebih dahulu. So please, hargailah tiap pasangan yang memiliki anak, dengan meminimalisir komentar-komentar yang bersifat ghibah, karena hal itu tidak selalu membantu, malah memberatkan. Walaupun kadang sebagai orang tua masih suka melakukan kesalahan dalam mendidik, merawat dan membesarkan anak, itu semua karena: TIDAK ADA SEKOLAH UNTUK MENJADI ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK