Takbir menggema di dua telinga, telapak tangan menghadap kedepan menjadi saksi kepasrahan. Tangan mendarat didada, telinga berdengung, hati berbisik, seketika terjadi keributan dalam batin. Al-Fatihah tersamarkan dalam peperangan tentang pagi tadi, hasad yang tersimpan, anak yang belum bayaran, istri menanti uang bulanan, pekerjaan.... Qul huwallah ahad, lalu takbir terucap dalam sujud baru teringat rasanya ayat sebelum ada.yang terlewat Ada yang memburu untuk cepat berdiri, bacaan ruku terbawa i'tidal, lalu bacaan i'tidal terbawa sujud, bacaan sujud terbawa duduk diantara keduanya, begitulah cara menghadap Bukankah didalamnya untuk memperbaiki kehidupan yang rumit? Lalu mengapa semua yang kita baca terbawa pada tempat yang bukan semestinya lalu batin berkecamuk pada dunia yang belum selesai sejak pagi tadi, sejak kemarin, sejak dulu, bahkan besok kita tak tahu. Kenikmatan menyembah itu pudar oleh keresahan yang hanya titipan Tidak ada perasaan sesal dosa-dosa yang demikian besar karena menyakiti hati tetangga Tidak ada rasa sedih karena baru menggibah orang baik tanpa alasan. Yang terlintas permintaan-permintaan yang perlahan merujuk pada tuntutan-tuntutan. Lalu engkau siapa? Begitu semangatnya engkau menuntut untuk dikabulkan kebahagiaan duniamu yang belum tentu sanggup engkau pegang, singgasana itu. Kentut orang stress diakhir sujud menuju tahiyat, membuyarkan kekhusyu'an engkau dalam kecamuk batin, padahal disaat yang harusnya menenangkan. Lalu serempak dalam hati menghakimi, padahal engkau tahu dia tidak waras. Dia tidak berakal, dan engkau sudah 4 raka'at melindur akan dunia, Lalu engkau siapa? Yang belum tentu juga... (di Jakarta)