fana
detik jam dinding
buatku berhenti berkata
namun terus berputar di pikiran yang sama
menikmati setiap detiknya
hanya dengan berfikir apa yang telah
ku perbuat dalam dunia
tidaklah mulia
setiap menit ku hirup
udara yang membuat dada ini
makin sesak
aku tak pernah mengerti
apa itu cinta
aku juga tak dapat pahami
arti sebuah pertemuan
aku pula tak sedikitpun tau
untuk apa kaki ini bertapak di bumi
namun seringkali aku merasa
semua ini ada maksud
tapi malah buat aku angkuh melebihi iblis
merasa diri ini malikat
padahal kulit ini najis meski hanya
menyentuh ujung bulunya
penuh noda..
tercela..
tak pantas..
mungkin jika bisa memilih
aku ingin memilih tak berada di tanah ini
setidaknya mengurangi iblis di dunia
hai, kamu yang terlahir sebagai tulang rusuk
aku tak pernah mengerti apa yang kurasa
aku juga tak mengetahui apakah kau adalah
bagian yang akan melengkapi ruasku
namun setiap waktu ku ingin mengatakan
ku menyayangimu
meski ku tak pernah paham arti dari kata itu
biarkan aku berkata
ku tak akan pernah marah
meski kau menutup eloknya daun telinga itu
mungkin bagiku kau salah satu malaikat
meski kau memiliki cela
namun ku tak pernah mengikat sayapmu
karena aku masih yakin
kau mampu terbang
dan tunjukan tingginya dirimu
lalu....
ku yang berada di tanah ini
hanya bisa tetap berkata
“aku menyanyangimu”
hingga aku kembali
menjadi tanah





