Memeluk Teduh di Cermin Sendiri
Di hadapan kaca yang tak pernah berdusta,Berhentilah sejenak, letakkan semua lelahmu.
Tak perlu lagi kau paksa jemarimu menjahit retak, Atau memoles warna di atas luka yang belum juga reda.
Kau adalah taman yang tumbuh dengan caranya sendiri, Ada musim gugur yang meluruhkan keraguan, Ada hujan yang membasuh perih di sudut mata, Namun lihatlah—akar di jiwamu tetaplah perkasa.
Terimalah garis-garis yang mulai bercerita, Tentang tawa yang pecah dan tangis yang tuntas.
Engkau tidak kurang hanya karena tak sama dengan mereka, Sebab rembulan tak pernah iri pada matahari yang membara.
Berdamailah dengan detak jantungmu yang setia, Yang tetap mengetuk pintu hidup meski badai menerpa.
Engkau adalah keindahan yang sedang mekar, Cukup, utuh, dan berharga—tanpa syarat, tanpa sela.
Mulai hari ini, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, Tempat paling hangat untuk pulang dan mencintai.