Sabtu, 7 September 2024..
Tepat satu tahun yang lalu kau hadir ke dunia yang penuh drama ini nak. Saya masih ingat detik2 ketuban ini pecah. Yang disertai flek dan nyeri yang susah digambarkan. Posisi ketika itu suami masuk kerja. Mulai pagi jam 6 habis subuh Perut sudah terasa nyeri. Namun tdk tampak kalo itu tanda2 melahirkan. Kukira itu hanya sedikit kram yg wajar pada ibu hamil. Namun setelah kubawa berbaring tapi kok makin nyeri dan seperti ada cairan yg keluar. Dicoba cek dan ternyata ada lendir bercampur darah. Agak sedikit panik sih, tapi kucoba untuk tenang dan afirmasi positif siapa tau karna saya kelelahan atau kurang tidur. Dicoba untuk searching google, katanya cuma kontraksi dini. Oo mungkin iya bgtu, lalu saya coba miring ke kanan. Tapi kok masih sakit gitu kayak nyut² kadang sakit kadang hilang. Gitu seterusnya sampai bener² ngilu sekali dan darahnya makin banyak disertai cairan berwarna hijau. Tapi habis itu hilang lagi. Kucoba hubungi suami yg lagi kerja. Dan dia bilang mau pulang cepat. Padahal harusnya dia pulang jam 7 malam. Tapi karna khawatir dia langsung minta izin dan pulang. Dan perutku sakitnya kembali hilang, sembari menunggu suami saya coba baca² surah untuk menenangkan diri.
Beberapa saat kemudian suamiku dtg dan dia tanya lalu aku jawablah begini². Lalu dia ajak ke puskesmas untuk mengetahui keadaan saya apakah mau melahirkan atau bukan. Sesampainya dirumah sakit tepat hbis zhuhur, lalu diperiksa sama bidannya. Dan kagetnya saya kalo bidan yg periksa saya itu ngk ada akhlak bnget. Bukannya meriksa baik² malah cenderung agak kasar. duh spontan saya bilang sakit. Smpai akhirnya bidan itu bilang "oh buk ini belum ada pembukaan". Sampailah saya di meja kasir untuk mengetahui kejelasannya. Dan bidan itu bilang kalo untuk siap² aja. Kemungkinan sebentar lagi akan melahirkan. 2 atau 3 hari lagi. Krn belum ada pembukaan katanya. Jadilah saya sama suami balik pulang dengan keadaan kesal krn rasa sakit ditambah nyeri setelah diperiksa (btw bidannya banyak yg jutek gtu)..
Pukul 19. 00 tepat hbis sholat Maghrib saya mendapati bahwa Ada cairan yg rembes keluar. Awalnya masih berfikir positif mungkin karna mau lahiran. Makanya sring kluar cairan. Namun semakin dibiarkan malah semakin banyak bahkan smpai mengalir ke Kakiku hingga menyentuh lantai. Lalu saya cek dan ternyata airnya hijau seperti ketuban. dicoba dibersihkan dan kupakai soft*x agar tdk rembes keluar. Lalu ku hubungi temanku yg kerja di puskesmas dan dia menyarankan untuk segera datang ke puskesmas. Awalnya sempat ragu takut dan cemas bercampur keringat dingin. Krn ini merupakan pengalaman pertamaku. Disisi lain ada perasaan takut ndk dilayani dg baik krn pengalaman yg sudah².
Menjelang azan isya air ketuban semakin rembes dan akhirnya memberanikan diri untuk ke puskesmas. Dg Berbekal sepeda motor suami kami menyusuri jalan² Bahodopi yg macet dan berlubang. Sesampainya di puskesmas langsung dikonfirmasi bahwa kami adalah salah satu pasien yg di rekomendasikan oleh salah satu perawat yakni temanku td. Dgn begini Alhamdulillah penanganan agak cepat wkwk. Lalu diperiksalah oleh perawat dan akhirnya keluarlah keputusan bahwa saya harus dirujuk lantaran ketuban sudah mau habis sedangkan belum pembukaan juga. Takutnya nnti bayinya nda terselamatkan 🥹.
Tanpa berfikir panjang suamiku langsung menandatangani surat dan membayar biaya jaminan ntah apa namanya ya saya juga ndak tau. Tepat pukul 00.00 WITA saya dirujuk ke RSUD bungku yg kalo hitungan jamnya smpai 1 jam lebih dg kecepatan ambulan yg lumayan mengaduk² perutku.
Tidk ada ayah, tdk ada ibu, tdk ada karib kerabat yg menemani. Suasana ambulan kala itu terasa sunyi. Sesekali kutatap wajah suamiku yg penuh harap dan cemas. Tangannya erat menggenggamku. Detak jantungnya berdegup seiring nyaringnya suara sirine yg pecah ketika org² sedang asyik dg mimpinya. Aku tau betapa cemas ia. Krn sebentar lagi akan lahir seorang anak yg akan memberi dia gelar seorang ayah. Tanganku dingin, krn seumur hidupku baru pertamakali tidur berbaring di atas ambulan dg keadaan basah krn ketuban.
Disepanjang perjalanan tiada yg kuharap selain lahirnya anakku dg selamat ntah dg apapun caranya meski harus aku yg meregang nyawa. Air mataku tdk berhenti mengalir bukan karna rasa sakit kontraksi tapi krn membayangkan betapa luar biasanya perjuangan ibuku dulu yg melahirkan 5 org anak dg normal. Betapa banyaknya dosaku hingga hari itu aku diberi rasa yg sama. Dan Baru aku sadari bahwa benarlah Allah menempatkan syurga dikaki ibu krn dg segala pengorbanannya dari hamil hingga melahirkan dan membesarkannya, merawatnya hingga mendidiknya kelak menjadi anak Sholih. Maa syaa Allah terimakasih ibuku 😭.
Sesampainya di RSUD, saya langsung ditangani bidan disana. Diperiksa dan sesekali di cek pembukaan dan masih belum juga. Dan salah satu bidan bilang bahwa kasusku ini harus di SC jika bbrp jam kedepan blum nampak pembukaan. Aku pasrah krn setelah infus induksi menjalar ke tubuhku perutku rasanya 3x lipat lebih sakit dibanding sebelumnya. Krn bbrp jam belum nampak juga pembukaan akhirnya aku meminta pada suami untuk di SC. Dan dg ini aku harus menanggung resikonya yakni bertarung antara hidup dan mati. Akupun tdk tahan harus diinduksi berkali². Itu terbukti ketika suami nyeletuk suara teriakanku terdengar hingga keluar. Nauzubillah..
Dan ndk lama setelah itu keluarlah keputusan bahwa jika smpai jam 9 malam belum juga bertambah pembukaan maka harus di SC. Agar menghindari resiko kematian bayi krn kekurangan air ketuban. Nda lama setelah itu aku melihat hp ku dan doa mengalir dari teman²ku, kerabatku, mertuaku hingga keluargaku yg dikampung. Ibuku sempat telfon, dan memberikan semangat serta doa²nya untuk kelancaran persalinan. Dan diujung tlfon terdengar tangis yg tertahan karna mungkin disaat yg genting ini beliau tdk bisa menemani.aku hanya meminta dimaafkan segala kesalahanku bisa jadi sulitnya proses persalinanku disebabkan karna bnyaknya dosa2ku pada beliau. Lisanku yg tajam dan tingkahku yg kadang kerap melukai hatinya.
Tepat pukul 20:30 saya dibawa keruang operasi. Namun ketika itu suamiku sdng sholat diluar. Ntah apa yg dibaca suamiku dalam sujudnya sehingga ketika saya mau di bawa keruang operasi dia tdk ada disampingku. Tepat sebelum masuk keruang operasi seluruh bajuku dilepas dan saya ditinggal di sudut ruangan sepi yg sesekali ada dokter yg lewat. Rasanya seperti runtuh maru'ahku sebagai wanita muslimah. Krn bdanku hanya ditutupi selembar kain didadaku. Sempat saya memanggil²suamiku karna saya takut sendiri diruang itu ditambah dalam keadaan telanjang, infus yg lepas dan kateter yg terpasang membuatku tdk nyaman sama sekali. Saya seperti Sebatangkara krn suamiku blum juga dtg. Selang yg berbelit yg melilit tubuhku membuatku tdk nyaman bahkan untuk bergerakpun susah. Lalu datanglah suamiku langsung menutupi sebagian tubuhku yg terbuka sembari menenangkan krn sebentar lagi proses operasiku dimulai.
Saya sempat kecewa krn sebelum masuk ruang operasi suamiku tdk diizinkan masuk. Padahal hanya dia satu²nya keluargaku saat itu. Aku ingin sekali ditemani beliau ketika detik² perutku di belah, agar dia tahu betapa besarnya pengorbanan istri ketika melahirkan, agar dikemudian hari tdk menyia²kan istrinya , tapi apalah daya krn tdk dibolehkan akhirnya menunggu diluar sendirian hingga katanya sempat tertidur. Bagaimana tdk, beliau mengurus segalanya Sendiri. Pergi membeli apa² tanpa kendaraan hnya mengandalkan kaki yg jempolnya centengan. Tidurpun tak nyenyak, makanpun tEtAp enak. Tanpa dibantu teman dekat ataupun yg lainnya. Maa syaa Allah terimakasih suamiku semoga Allah membalas kebaikanmu 🥹. Maka wajar beliau terlelap ketika perutku dibelah.
Operasipun dimulai, badanku dilengkungkan untuk memulai anestesi spinal yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dari pinggang ke bawah sehingga saya tetap sadar saat operasi berlangsung. Suntikan ini disuntikkan ke area tulang belakang dan bekerja dengan mematikan rasa di bagian tubuh bagian bawah, jadi saya ttap dapat melihat bayiku lahir tanpa merasakan sakit.
Dan tepat pukul 21:30 pecahlah tangis bayi mungil disudut ruang itu, air mataku mengalir tatkala putriku di tempelkan dipipiku, bukan tanpa alasan krn berarti kami sah menyandang gelar "ayah dan ibu".
Dan hari ini tepat tgl 7 September 2025 saya mengenang kisah setahun yg lalu dimana lahirnya seorang putri cantik yg diberi nama Asma El Yunusiyyah. Selamat bertambah umur dan berkurangnya jatah usia putri keccilku. Ada pesan dan harapan Abi dan umi dibalik namamu . Semoga kelak kamu menjadi anak yg tangguh lagi taat, yg dengan ketaatannya dapat membawa kebaikan didunia dan akhirat. 🤍🤍🤍
Dan terimakasih suamiku sudah berusaha menjadi imam yg baik untukku dan putri kita. Meskipun kutau kamu tdk pandai merangkai kata untuk terlihat romantis didepanku, tapi dg perjuanganmu menjagaku di rumah sakit itu telah membuktikan bahwa romantis tdk hanya cuma setangkai bunga dan sebatang coklat. Melainkan selalu membersamai istrinya baik susah ataupun senang. Lop yu ..
Sumbar, 7 September 2025, 03.14 WIB