Random.
Gilasan perubahan waktu, belum lagi ditambah perkembangan teknologi yang sangat cepat terkadang menggeser beberapa nilai esensial dalam kehidupan. Bukan hanya dalam keseluruhan aspek kehidupan, namun pada subjek yang menjalani kehidupan, salah satunya adalah manusia.
Manusia, terdiri atas laki-laki dan perempuan. Yang dengan perkembangan zaman, keanekaragaman info, dan berbagai aspek lainnya mampu menjelma menjadi sosok yang berbeda,meninggalkan jauh esensi dasarnya sebagai seorang perempuan atau laki-laki.
Saya, wanita, hampir 25 tahun, dan akan menikah. Perubahan status yang insyallah sebentar lagi terjadi, tentunya terkadang menimbulkan suatu perasaan yang kadang saya pun bingung untuk menerjemahkannya. Menjadi seorang istri dengan sisi ideal versi saya yang memenuhi kepala.
Rumah seharusnya menjadi tempat terbaik di dunia ini, dimana rumah merupakan sebuah benteng untuk masing-masing individu. Tempat berlindung dari cuaca, tempat berlindung dari bahaya, tempat berlindung dari musuh, tempat mencari ketenangan, tempat dimana kita menemukan cinta di dalamnya dan mungkin masih banyak lainnya tergantung bagaimana masing-masing orang menilainya. Tapi menurut saya, mungkin itulah beberapa esensi dari rumah.
Keluarga terbentuk dari naungan Ayah dan Ibu. Dua sosok pembela dari semenjak pertama kali kita melihat sinar di dunia ini sampai nanti kelak kita mengakhiri cerita dengan menutup mata. Kedua sosok mulia inilah yang nantinya sangat berperan dalam hidup kita, Ayah sang penjaga, pengayom, pencari rezeki, penegak disiplin dan sosok yang berwibawa dirumah. Sementara Ibu adalah, sosok wanita lembut yang telaten, yang siap sedia selama 24 jam untuk keluarganya, sang koki rumah, sang selimut jiwa dan ungkapan-ungkapan indah lainnya untuk menggambarkan sosok Ibu.
Di beratus-ratus hari sebelum saya menjelma menjadi sesosok istri,saya mencoba mengulas kembali nilai saya sebagai seorang wanita. Saya pribadi mungkin memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan wanita-wanita lainnya, dan tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun saya mohon maaf apabila nilai yg menurut saya ini bertentangan dan menyinggung orang lain J
Menikah merupakan salah satu ibadah pelengkap dalam Islam, jadi setaat apapun kita bila masih belum menikah tentunya masih ada yang kurang, karena kita belum melaksaanakan sunnah Nabi Muhammad SAW yang utama. Menjadi seorang istri merupakan suatu kemuliaan menurut saya, mengabdikan diri untuk merawat dan mengayomi suami. Belajar menjadi sesosok lembut yang sabar, sosok hangat yang berkepribadian, sesosok wanita yang penurut namun tetap berpendirian. Jika beberapa pemikiran saya tersebut dirasa kuno, monggo .. saya tidak akan menyalahkan. Karena meskipun hidup di jaman se-modern ini pola hidup dan pikiran saya masih mengadopsi cara berpikiran orang dulu untuk beberapa hal yang menurut saya itu prinsip dan tidak dapat diganggu gugat. Mungkin didikan Eyang putri selama belasan tahun kemarinlah yang membuat saya condong untuk mengadopsi pemikiran-pemikiran beliau, termasuk kesenangan saya untuk bergaul dengan orang-orang yang sudah berumur dimana saya berpikir mereka akan jauh lebih bermanfaat karena akan lebih banyak memberikan ilmunya kepada saya.mudah-mudahnya negatifnya tidak ikut teradopsi oleh saya. Hehehe ..
Melihat beberapa teman, memperhatikan perkembangan emansipasi wanita saat ini hampir sangat sedikit wanita yang bercita-cita menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Sebagian besar dari kaum saya ini bergegas, berlari menapaki dunia kerja demi sebuah jenjang karier yang tinggi, hingga dibilang memiliki posisi setara dengan para kaum pria.Pada poin ini saya tidak akan memberikan penilaian apa-apa, meskipun saya tidak sepenuhnya setuju. Karena bagi saya pribadi tempat idela wanita bekerja adalah rumah, dimana jauh lebih berat, jauh lebih kompleks, dan tingkatannya sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi apapun di sebuah perusahaan. Dan menurut saya inilah karier yang paling sulit untuk dicapai posisi tertingginya, dimana goal nya adalah terciptanya sebuah keluarga yang sakinah,mawadah,warohmah. Keluarga yang hangat, dengan suami sekaligus Ayah yang akan menjadi tiang bagi anak dan istrinya, Ibu yang sanggup merangkul anak dan suaminya, anak yang mampu meneladani kebaikan yang diajarkan orangtuanya, dan masih banyak hal lain yang menurut saya ini jauh lebih penting ketimbang mengejar karier demi sebuah posisi yang diinginkan.
Rasanya hampir-hampir tidak sabar untuk menhitung hari, untuk menyiapkan diri membangun sebuah keluarga kecil. Tidak sabar untuk bangun pagi dan menyiapkan pakaian serta bekal sarapan, rasanya tidak sabar untuk sibuk memikirkan menu masakan apa yang kira-kira bisa membuat kami kenyang dan senang, tidak sabar untuk menghabiskan waktu-waktu senggang kami dengan buku, secangkir teh atau hanya leyeh-leyeh sambil saling menceritakan impian. Cita-cita dan hasrat pun masih dapat dicapai meskipun tidak dengan jalan menjadi perkerja kantoran. Karena meskipun menjadi Ibu Rumah Tangga, kitapun dituntut untuk sebisa mungkin mandiri dalam hal ekonomi, kalo bisa membantu suami kenapa tidak. Karena kota besar ini menuntut kelayakan perekonomian, sementara hampir setiap harinya merenggut sebagian besar waktu kita karena kesemrawutannya.
Salam
Astrid Mutia











