Senada
Tanpa harus kukatakan, dia paham aku membutuhkan sesuatu. Hanya membuka percakapan dengan salam, dia mengerti aku butuh bantuannya. Selaras rasanya melegakan, sebab tak perlu lagi membuang energi untuk menjelaskan.
Seperti orkestra alat musik tanpa ada yang berbicara. Hanya dari aba-aba saja semua sepakat memainkan nada yang saling melengkapi. Begitu pula harmoni dalam ruang operasi. Perkataan adalah tindakan, dan jawabannya adalah respon tindakan. Tak perlu ada yang bicara, masing-masing menjalankan peran yang berbeda dengan satu tujuan yang sama.
Terbiasa dengan perilaku itu ternyata membuat angan-angan menjadikannya pijakan. Dalam menilai setiap yang berusaha mendekat, atau hanya sekedar menyapa. Apakah orang ini juga mampu menyelaraskan nada, seperti dia yang sebelumnya senada?
Baru-baru ini aku mendengar cerita yang akhirnya menodong kepercayaanku terhadap dirinya. Seorang yang punya kemampuan menghafalkan kitab suci memilih pasangan hidup yang belum mampu sepenuhnya seperti perempuan itu. Dalam hal ini frekuensi keduanya bisa dikatakan tidak selaras, walaupun masih di interval yang sama.
Alasan mereka bertahan malahan ternyata adalah nada yang tidak sama, yang membuat keduanya bisa menentukan kapan harus menahan atau mendorong satu sama lain. Usaha-usaha tersebut membuat mereka menikmati perjalanan berdua. Sebab selalu ada yang baru setiap harinya. Kejadian untuk ditertawakan, dimaklumi dan dipelajari untuk kebaikan selanjutnya. Hingga tidak ada batasan sampai mana mereka dapat bergerak bersama, karena keduanya punya preferensi berbeda yang menjadikan dunianya semakin kaya. Dengan catatan, sang nahkoda punya tujuan yang sama dengan penumpangnya. Kesabaran sang penumpang dan kemauan belajar sang nahkoda menjadikan kapalnya masih tenang berlayar sampai saat ini.
Kewalahan yang kuciptakan sendiri ini harus segera kuakhiri. Menerima perilaku yang menyenangkan sekaligus menenangkan di suatu waktu, bukan berarti semuanya harus berlaku demikian agar bisa menjadi pasangan. Dan bukan juga artinya hanya hal tersebut yang baik, masih ada spektrum lain yang mungkin saja belum pernah kurasakan dan sama baiknya, atau bahkan lebih baik.
Tak ada manusia yang selamanya memegang satu prinsip yang sama selamanya, kita semua bergerak dan akhirnya berubah seiring pergerakan kita. Ketidakberdayaan memilih momentum apa yang akan kita hadapi dipadukan dengan persiapan yang setiap saat kita usahakan, adalah yang menentukan akan bertemu dengan sosok seperti apa dan dalam kondisi apa kita menemuinya.
Akhirnya aku belajar, senada belum tentu selaras. Tampak satu paham belum tentu harus menjadi sepasang. Cukup jadikan pengalaman, sama seperti pengalaman lain yang telah menjadi kenangan.















