Perempuan, Fitrahnya dan Peran Peradabannya
Aku selalu merasa bahwa ungkapan "perempuan adalah rahim peradaban" tuh dalam banget maknanya. Karena ya memang begitulah kenyataannya. Perempuan bukan cuma tempat kehidupan ini bermula secara biologis, tapi juga jadi tempat awal lahir dan tumbuhnya generasi. Kita punya peran besar—entah sebagai ibu, guru, pemimpin, teman, atau apa pun posisi kita di masyarakat. Lewat peran itu, kita ikut membentuk karakter, nilai, bahkan masa depan bangsa ini.
Tapi buat bisa berperan secara utuh, penting banget buat kita sebagai perempuan untuk kenal sama diri sendiri. Dalam Islam, ada ungkapan terkenal, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Kata-kata ini sering disampaikan para ulama besar, termasuk Imam Al-Ghazali.
Kenal diri di sini bukan sekadar tahu nama, asal daerah, sekolah di mana, atau warna kulit dan ukuran tubuh. Bukan juga tentang followers Instagram atau bahkan gaya jalan kita, gaya tulisan tangan kita. Tapi lebih dari itu. Pengenalan diri yang sejati adalah ketika kita menyadari siapa kita sebenarnya, untuk apa kita diciptakan, dan ke mana kita mau melangkah dalam hidup ini.
Pertanyaan-pertanyaan kayak:
Siapa sih aku ini sebenarnya?
Mau jadi seperti apa aku di masa depan?
Apa yang mau aku berikan untuk kehidupan dunia ini?
Apa yang bikin aku bahagia?
itu semua bisa kita jawab kalau kita melihat Islam bukan cuma sebagai agama, tapi juga sebagai cara pandang hidup, Islam sebagai worldview dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Islam itu panduan lengkap, bukan cuma untuk ibadah formal, tapi juga untuk menilai mana yang benar dan salah, mana yang membangun atau merusak. Dan dari situlah terbentuk karakter dan nilai kita—yang nantinya juga membentuk wajah peradaban.
Dalam buku Agenda to Change Our Condition, dua ulama hebat asal Amerika, Syekh Hamza Yusuf dan Zaid Shakir, mengingatkan bahwa hari ini umat manusia, termasuk umat Islam, sedang menghadapi banyak tantangan. Kita banyak terpengaruh budaya luar—mulai dari cara berpakaian, makan, bahkan pola pikir dan pendidikan. Budaya konsumtif, boros, bahkan sampai munculnya gerakan yang mencoba merusak tatanan nilai fitrah manusia, seperti normalisasi LGBTQ+, jadi ancaman nyata.
Dan akar dari semua masalah itu, menurut banyak guru kita, termasuk Ustadz Adriano Rusfi dan Ustadz Muhammad Nuruddin, adalah hawa nafsu yang tak terkendali. Nafsu yang nggak dikendalikan dengan ilmu dan petunjuk Allah akan bikin kita tersesat, bahkan dalam membuat kebijakan sekalipun. Contohnya, banyak aturan yang dibuat hari ini justru makin menjauhkan manusia dari fitrahnya, menjauhkan manusia dari hakikat diri yang sesungguhnya. bukan mendekatkan. sebagaimana aturan2 berupa UU TPK, UU Omnibus Law, dsb.
Makanya, penting banget buat kita balik lagi ke pengenalan diri yang hakiki. Kita ini diciptakan sesuai dengan fitrah, sifat dasar yang suci dan penuh kasih. Allah berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 30 bahwa manusia diciptakan sesuai fitrah-Nya, dan itu nggak akan berubah. Bahkan dalam hadits juga disebutkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tapi lingkungan—termasuk keluarga, pendidikan, budaya—bisa mengubahnya.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Allah juga pernah ambil janji dari setiap jiwa kita sebelum lahir, seperti disebut di QS Al-A'raf ayat 172. Kita pernah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita. Jadi, saat kita merasa "hilang arah", sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah "pulang" ke janji awal itu.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Nama-nama Allah seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahiim (Maha Penyayang) adalah cerminan dari sifat dasar kita yang adalah FitrahNya. Dan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri yang memulai perubahan itu, sebagaimana disebutkan dalam QS Ar-Ra’d ayat 11.
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ١١
Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Jadi, sebagai perempuan, yuk kita mulai dari diri sendiri. Yuk kita kenali diri, nilai, dan tujuan hidup kita berdasarkan Islam sebagai jalan hidup sebagai worldview. Karena dengan begitu, kita bisa kembali pada fitrah kita, menjalani hidup dengan arah yang jelas, dan menjadi bagian penting dalam membangun peradaban yang baik dan mulia sesuai dengan kehendakNya.