Lagi gabut, iseng gulir-gulir halaman tumblr and suddenly bumped into this...
Ah, betapa gambar ini sangat-sangat mewakili isi kepala saya...
Semenjak lulus kuliah dan bekerja, hal-hal seperti ini cukup mengganggu pikiran saya, terutama kalo ditanya sekarang kegiatannya ngapain aja...
Melihat kawan yang sudah atau sedang S2 di luar negeri, bekerja di perusahaan yang bonafit, sudah melakukan ini-itu, pergi kesana-kemari membuat saya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Seringkali setelah mendengar kabar-kabar mengenai pencapaian kawan satu tongkrongan, membuat saya minder dan terkadang malah menghilangkan rasa percaya diri saya, terutama apabila sedang berkumpul dengan teman-teman semasa kuliah. Emang sih, jadi alumni universitas favorit, berarti harus siap bergaul dan berteman dengan orang-orang yang kemampuan dirinya juga jauh diatas rata-rata...
Kadang saya bingung dengan diri saya sendiri, kenapa ketika saya mendengar berita mengenai pencapaian justru energi saya malah terhisap, hilang, seolah berita tersebut adalah Dementor yang menyantap aura kehidupan saya hahahah.
Dikatakan iri? Mungkin, hasad? Sepertinya enggak, karena saya juga bahagia mendengar kabar pencapaian kawan-kawan saya, dengki? Not in a million years, karena saya selalu mendoakan kebaikan dan keberkahan atas kawan-kawan saya yang sudah berada pada titik tertentu dalam kehidupannya. Mungkin yang saya alami lebih kepada “dia udah sampe situ, lo udah ngapain aja mi? Masih begitu-begitu aja jalan ditempat”.
Kata-kata motivasi seperti gambar diatas sudah sangat-sangat-sangat sering saya baca dan temui like, “semua orang berada pada timeline masing-masing” atau “pencapaian itu tidak melulu diukur melalui materi, tetap syukuri atas apa yang kamu peroleh hari ini” dan banyak lagi yang lainnya. Rasanya sih emang abis baca tulisan itu kaya jadi semangat lagi, bekerja lagi, tapi begitu mendengar kabar sejenis lagi? Ya down lagi....
Seringkali saya berpikir apa sih bedanya saya dengan mereka? Lulus dari universitas yang sama, umur sama, gaya hidup juga mungkin tidak jauh berbeda, hingga suatu ketika saya menemukan jawabannya dari kata-kata senior kampus yang juga satu kantor dengan saya..
“gw bingung mi, diantara anak-anak alumni kampus kita yang masuk sini lo tuh beda, lo tuh cenderung menghindar dari tantangan, gak embrace tantangan sebagai sesuatu yang membuat lo berapi-api dan bersemangat buat dikelarin, gw cuma nyuruh lo stock opname sendirian ke papua aja langsung kaya orang ciut”
Bingo! Itulah jawaban yang saya cari selama ini, fear of failure. Fear of failure is still dominant in myself, fear of failure is restraining me from taking a leap of faith in my life! Tapi bingung juga sih, apakah saya yang salah asuh, apa bagaimana tapi bisa dikatakan ya memang saya termasuk orang yang takut gagal. Berkali-kali saya ditugasin untuk jadi ketua tim audit, seringkali selama jadi ketua tim saya gelisah, takut gak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang terkait, ditambah saya punya bos yang perfeksionis dan kalo evaluasi kata-katanya nyelekit banget. Karena rasa takut itu positifnya, saya sering sekali meminta feedback dan evaluasi dari orang-orang terdekat saya, sehingga saya mempunyai cukup bekal untuk evaluasi kepribadian saya, tapi negatifnya ya itu tadi jika ada tugas lagi, lagi, dan lagi saya juga jadi anxious lagi, lagi, dan lagi hahaha.
Terlepas dari rasa takut gagal dan anxious yang dominan dalam diri saya, setidaknya saya merasa bisa menjadi pribadi yang mudah mendengar saran dan kritik dari orang lain, walaupun jadinya kadang saya suka memberikan saran tanpa ditanya, yah berlagak jadi psikolog, daripada jadi tukang olok hahahaha..
Maybe, I just need to value my life, my struggle, my support system, and be bold a little bit more...
"Beberapa orang menghakimi lagi
Walaupun diludahi jaman seribu kali
Beberapa orang memaafkan lagi
Walau sudah ditindas habis berkali-kali"