tetiba ngerasa di fase QLC lagi. saya pikir sudah cukup selesai melaluinya kemaren. pasti syukurnya kurang kalo udah kayak gini
:((

titsay
No title available
Monterey Bay Aquarium
untitled
Cosmic Funnies
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
almost home

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome
taylor price
★
Noah Kahan

if i look back, i am lost
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
I'd rather be in outer space 🛸
$LAYYYTER

@theartofmadeline
The Stonewall Inn

Game Changer & Make Some Noise
macklin celebrini has autism
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Australia

seen from Germany
seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Bahamas
seen from United States

seen from Spain

seen from Türkiye
seen from Philippines
seen from Malaysia
seen from Portugal

seen from Türkiye
seen from Netherlands
@qurratulistqmh
tetiba ngerasa di fase QLC lagi. saya pikir sudah cukup selesai melaluinya kemaren. pasti syukurnya kurang kalo udah kayak gini
:((
"Lapangkan hatinya,
Luaskan dulu hatinya,
Terima dengan hati dulu, lalu otak bekerja"
Mas dengan segala kesabarannya~
Memang skenario terbaik adalah dariNya. Dimudahkan dan dilancarkan.
Semoga :)
18 Mei 2019
Semoga yang disemogakan datang di waktu yang tepat.
Maknai. Maknai setiap detiknya
Sejenak
Pernah gak sih, ngerasa bosan dan kurang kerjaan banget, buat nge-seen story orang-orang?
Terus nih yaa, udah tau itu hal yang kurang kerjaan banget tapi tetap kita lakukan?
Pernah gak sih, udah bilang sama diri sendiri "ah udahan main sosmednya, buang-buang waktu nih" tapi tiap kali buka HP, aplikasi pertama yang dibuka ya sosmed. Ya kan?
Pernah gak sih, bikin postingan atau story terus kita berkali-kali cek postingan kita, biar tahu siapa yang like, komentar, atau nge-seen story kita?
Capek gak sih?
Bosen gak sih?
Berhenti dulu.
Udahan sejenak.
Tinggalkan sementara.
Jangan sampai gila gegara sosmed.
Mari kita kembali hidup waras tanpa terganggu dengan postingan atau story sosmed.
Sejenak kita rehat,
Sambil makan es krim rasa vanilla; yang rasa coklat buat kamu aja yaa :))
8 Januari 2019
Kompleks
Ternyata hidup sekompleks itu.
Setelah usai dari dunia perkuliahan, kamu akan dihadapkan berbagai realita hidup.
Yang mana gak melulu hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmu kamu.
Misalnya saja kamu mulai belajar bagaimana bersikap dilingkungan sosial, bagaimana beradaptasi dalam lingkungan sosial yang baru.
Hal-hal seperti adat-adat yg melekat di masyarakat juga ikut andil dalam konteks sosial.
Kamu juga akan dihadapkan pada hal-hal yg kamu sendiri harus membuat sebuah keputusan.
Keputusan yang cukup banyak akan berpengaruh pada dirimu sendiri, keluarga kamu, serta masa depan kamu.
Hidup memang sekompleks itu.
Coba tanya dirimu,
Sudah siapkah kamu?
Dan sudah cukup dewasakah dirimu?
6 Januari 2019
Bekerja
Untuk masalah yg satu ini beberapa orang memang menganggap orientasi, alasan ataupun tujuannya adalah 'uang'
Tidak semua hal harus dipikir-pikir ditimbang-timbang dengan uang.
Please, berhenti untuk selalu 'money oriented', mengukur segalanya melalui uang.
Kalau dibilang lelah ya lelah, tapi semoga lelahnya diganjar kebaikan yg lebih oleh Tuhan; lebih dari sekedar uang. Uang sekedar bonus saja.
Terus balik lagi sih orientasi utamanya apa?
Yep yaitu kebermanfaatan.
Selagi kita masih bisa menebar manfaat dimanapun itu, kapanpun itu?
Why not? Kenapa enggak ya kan?
Kebermanfaat yang kemudian dirasakan kebaikannya oleh orang2 sekitar kita; dan tentunya kebaikan juga untuk kita sendiri.
Yang mana nantinya kebaikan akan mengantarkan kita pada kebaikan-kebaikan lainnya.
Memang belum kamu rasakan sekarang, tapi semoga nanti akan datang kebaikan-kebaikan hasil dari kebermanfaatan yang kamu berikan.
1 januari 2019
Hai
Akhirnyaaaaa kembali :")
Mari merenung sejenak. Apakah saat ini kamu bahagia? Bagaimana kamu tahu bahwa kau bahagia? Apa yang membuatmu bahagia? Sebenarnya apa definisi bahagia? Apakah tolak ukur bahagia?
Seminar Proposal
Awalnya niat nulis setelah sempro (seminar proposal). Ternyata terealisasi h+3 sempro. Baiklah, tidak apa-apa wkwk *membeladiri
Banyak sekali drama perjuangan menuju seminar proposal, dari mulai diuji dengan draft proposal yang hilang beserta jurnal-jurnalnya, 2 kali membuat proposal setelah mengajukan 6 judul penelitian, judul yang ternyata dipakai teman kemudian kurelakan :”, tidak menemukan alat yang ingin dijadikan penelitian, tetiba software yang mau dipakai berbayar, hingga ternyata judul yang diajukan lebih cocok untuk tesis, dan masih banyak lagi drama-drama pada umumnya (mengejar dosen dan sebagainya).
Kata dosenku, saat-saat menjadi mahasiswa tingkat akhir itu, pasti akan mengalami banyak ujian. Tidak hanya itu, faktor ‘X’ akan selalu ada dalam proses menuju akhir.
dan benar, aku mengalaminya saat beberapa hari menuju seminar proposal.
Senin, 5 Februari 2018
Jadwal seminar proposal beserta dosen penguji diumumkan. Aku seminar proposal tanggal 22 Februari 2018. Kemudian aku segera menemui dosen penguji 1 untuk memastikan tanggal tersebut beliau tidak berhalangan hadir. setelah 3 jam menunggu, tak jua aku bertemu dengan beliau. Akhirnya aku kembali ke kampus untuk menemui dosen penguji 2. Alhamdulillah penguji 2 tidak berhalangan hadir hanya saja untuk jam nya, beliau menyesuaikan dengan penguji 1. Tetiba datang dosen pembimbing 1 yang menyampaikan bahwa beliau akan ke Australia 15-25 februari 2018. Yap, faktor X pun muncul.
Selasa, 6 Februari 2018
Dosen memberikanku pilihan. Mundur seminar proposal di tanggal 1 maret atau maju tanggal 14 februari. Aku belum membuat keputusan. Jika aku memilih mundur, konsekuensinya penelitiankupun tertunda, sedangkan memilih maju, jujur aku belum siap dan belum membuat materi presentasi :” hoho. Setelah mempertimbangkan segalanya, sore setelah kuliah, aku menemui dosen dengan membuat keputusan untuk maju seminar proposal 14 februari 2018. Keputusan yang ragu-ragu sebetulnya :”
Rabu dan kamis, 7-8 Februari 2018
Aku segera menemui dosen pembimbing dan penguji untuk merevisi tanggal maju seminar proposal, sekaligus memberikan undangan serta draft proposal. Sungguh, bertemu 4 dosen dalam waktu 2 hari itu aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk menunggu. menunggu 3-4 jam, untuk bertemu hanya 10 menit :”). berpindah-pindah tempat pula, seharian itu aku safari kampus, rumah sakit dan hotel. Dimulai dari kampus C, kampus B, kampus A, Rumah sakit, kampus B, dan hotel (kebetulan dosen sedang acara di hotel). Sepulang dari hotel, kehujanan pula :” lengkap sekali perjuangan ini. Dalam waktu 2 hari ini juga, aku menyelesaikan materi presentasi ku. Oh sungguh, waktu istirahatku mulai kacau.
Jumat-Selasa, 9-13 Februari 2018
Tersisa 5 hari mempersiapkan seminar proposal. Yap, beberapa hari sebelum seminar adalah hari dimana aku kacau, stress, khawatir berlebihan, hingga akhirnya telfon ibuk minta ditenangin :” huhu. Baiklah, begitulah aku saat itu. aku menjadi sebegitu tidak tenangnya, salah satu faktornya adalah aku maju seminar pertama, dimana aku tidak pernah tahu medan atau suasana seminar proposal. Kebetulan pula, seminar proposal tahun ini adalah pertamakali seminar proposal terbuka; awalnya tertutup. semakin cemaslah aku :’D
Rabu, 14 Februari 2018
Inilah harinya. Setengah jam hingga sebelum maju seminarpun aku masih gugup wkwk. tapi alhamdulillah, aku tidak menyangka gugupku hilang setelah mengucap salam dan sapaan hormat kepada dosen dan audiens (sungguh ini berkat doa ibu, hingga aku dimampukan olehNya). Alhamdulillah, dengan segala skenario dariNya, apresiasi dari kedua dosen penguji karena menjadi peserta seminar proposal pertama, dan alhamdulillah seminar proposal pun lancar hingga akhir (walau dengan revisi)
Alhamdulillah, aku dimampukan olehNya memalui semua proses menuju seminar proposal. Semangat revisi :D
*terimakasih semua pihak yang membantu dan mendoakan :)
Semangat !!! perjalanan masih panjang
Sepanjang kita terus berjuang
Setangguh kita bertahan
Yakinlah kita akan sampai
-QI
Berada dititik terendah membuatmu semakin sadar.
Bahwa kamu tidak bisa apa-apa, bukan siapa-siapa, kamu tak berdaya, tanpa kuasaNya, tanpa izinNya.
Apalagi yang dapat kau sombongkan?
Matematikanya Allah itu keren banget dah. Coba deh, masa iya -1 itu sama dengan 3, malah bisa -1 sama dengan 7 hoho. Keren banget pokoknya~
Sedang makan malam dengan keluarga
Si bapak ngegame di handphone nya.
Si ibu youtube-an di handphone nya.
Si anak main mobil-mobilan, terus bosen, ambil handphone bapaknya tapi gak berhasil, ambil handphone ibunya tapi gak berhasil.
Bapak ibunya gak peduli.
Menangislah si anak dan gak mau makan.
.
.
Pernah lihat drama begituan?
Gue sering bro, sis; eh, pak buk.
Bukan apa-apa, itu anak kasian.
Butuhnya diperhatikan, bukan dikasih mobil-mobilan.
Buat orang tua jaman now.
Yaa, gue ngerti mungkin kita sekarang enggak bisa lepas sama benda kotak pintar itu.
Tapi yaa, pikir-pikir lagi.
Itu anak kasihan, maunya makan bersama ibu bapak nya, bukan ngelihatin ibu bapaknya mainan benda kotak super pintar.
Bukan, bukan berati gue nulis beginian karna gue punya anak yang selalu gue perhatiin.
Gue masih sebagai seorang anak, yang juga enggak mau diperlakukan begitu oleh orang tua gue.
Tulisan ini juga buat gue sendiri, gue yang juga harus mawas diri, gue yang masih sering banget enggak lepas sama benda kotak pintar itu.
Iya, ini tulisan juga kelak buat ngingetin gue.
Kelak saat gue udah punya anak.
Salah satu hal-hal kecil kayak begini yang enggak boleh disepelekan, karena kita gak tau gimana dampak (hal yang menurut kita sepele itu) pada anak kita; dampak pada psikologis anak misalnya.
Yaa, pak, buk. Atau bro, sis calon bapak ibuk.
Cuma mau pesan aja, lebih care lagi sama anak kalian yaaa :")
Sekian.
Dari gue yang kangen ibuk bapak :"
*Efek sekian bulan di lingkungan yang ngomongnya lo gue end. Wkwk
Sometimes you need to step outside, get some air, take a deep breath, and just be thankful for all that you have~
#Repost: bagaimana ia, tergantung siapa kamu
Sore itu, angin berhembus sejuk seperti biasanya. Menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Aku sibuk melahap kue sebelum perempuan berkerudung merah muda di hadapanku berbicara.
“Dek, tau ngga, pendidikan anak bukan dimulai sejak dini loh. Tapi semenjak laki-laki memilih perempuan untuk dijadikan istrinya," ucap Juli, memulai pembicaraan sore itu.
“Kok gitu mbak? Berarti mereka pilih-pilih dong?” tanyaku, heran.
“Memang sudah kodratnya laki-laki untuk memilih. Dan kita sebagai perempuan yang menentukan; kita berhak menolak atau menerima." Juli tersenyum, "kamu tau ngga dek, siapa yang jadi pusat kebahagiaan dalam rumah tangga?"
Aku memutar kedua bola mataku, berpikir. "Suaminya kan, mbak?"
Juli menggeleng pelan. "Perempuan; istri; ibu."
Sunyi, aku menunggu Juli melanjutkan kalimatnya.
“Karena seorang anak sudah mempunyai hak bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia. Dia berhak lahir dari rahim perempuan yang baik. Maka, sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk pandai memilih perempuan yang akan menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Pun bagi perempuan, ia harus paham betul mana yang harus dipilih untuk menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.
"Peran seorang perempuan itu ada dua dalam sebuah pernikahan. Pertama, ia akan mempengaruhi jadi apa suaminya kelak. Kedua, ia akan mempengaruhi bagaimana karakter anak-anaknya nanti. Bukankah tanaman yang baik akan lahir dari tanah yang baik?” tutur Juli, tegas tapi tepat mengenai hatiku.
Aku mengangguk, teringat perkaaan dosen di kelas kemarin bahwa fisik seorang anak kebanyakan ditentukan dari ayahnya, tapi kalau karakter itu dari ibunya. “Kalau gitu, aku bakal milih laki-laki yang wajahnya oke!”
Juli menggeleng-gelengkan kepala, kemudian kami tertawa pelan.
“Ada yang lebih penting dari wajah, Juni. Kamu harus mempertimbangkan gimana akhlaknya, apakah kakinya enteng untuk berjalan ke masjid. gimana sholatnya, gimana sunnahnya, gimana ia memperlakukan anak kecil, gimana ia bersikap sama perempuan yang bukan mahramnya. Pastinya bundamu ga mau kalau kamu jatuh pada laki-laki yang salah, kan?
“Ketahuilah, bahwa memilihkan calon yang tepat buatmu merupakan puncak prestasi dari orangtua dalam mendidik anaknya. Karena setelah menikah kamu akan seratus persen berbakti pada suami; ridhomu akan ada pada ridho suamimu. Dan tentunya, mereka yang sholeh juga akan pilih-pilih dalam mencari pendampingnya. Jadi jangan hanya bermimpi untuk mendapatkan yang sholeh sedang diri tidak ikut diperbaiki. Persiapkan dirimu sebaik mungkin, karena peranmu tidak main-main nantinya. Bukan untuk keluargamu saja, karena dari rahim perempuan yang baik juga akan membawa ke mana bangsa dan agama ini pergi.”
Aku termenung mendengar nasihat Juli yang begitu menohok hatiku.
“Bahkan Nabi Ibrahim yang begitu mendambakan anak, namun ketika sudah memilikinya, Allah perintahkan untuk menyembelih anaknya. Dan saat itu pula anaknya -Nabi Ismail- sama sekali ga takut dan ga gentar, karena telah tertanam dalam mental Nabi Ismail berkat didikan ibunya yaitu dari Siti Hajar.
"Mental istri Nabi Ibrahim pun udah terbentuk, terlihat saat Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan anaknya di gurun pasir seorang diri. Dan beliau ga protes setelah tau kalau itu adalah perintah dari Allah. Lihatlah, dek, keteguhan bunda Hajar dalam menerima ujian dari Allah,” lanjutnya.
“Kalau aku, pasti udah kebingungan dan banyak protes, mbak,” celetukku, membuat Juli tertawa.
“Coba bandingkan dengan anak Nabi Nuh ketika diajak naik kapal besar, tapi anaknya menolak dan lebih memilih pergi ke bukit bersama ibunya. Alhasil, istri dan anak Nabi Nuh pun tenggelam dalam banjir besar kala itu. Betapa besarnya peran perempuan dalam rumah tangga, kan?
“Jadi, ketika kamu nanti akan menikah, jangan hanya untuk dirimu sendiri, pastikan dia juga bisa berbuat baik pada anak-anakmu nanti. Akhlak seorang laki-laki itu bisa dilihat dari cara bagaimana dia memperlakukan perempuan. Akhlak seorang suami itu bisa dilihat dari bagaimana cara dia memperlakukan istrinya. Dan akhlak calon ayah bisa dilihat dari bagaimana seorang laki-laki memperlakukan anak kecil, Juni.”
Juli terdiam sejenak, kemudian menyomot kue milikku yang entah sejak kapan aku biarkan tergeletak di atas meja. Aku protes, menyuruhnya melanjutkan kalimatnya.
“Jadi, ada dua kriteria pasangan ideal di dalam islam secara umum yang dijelaskan oleh para ulama fiqh’. Yaitu kesholihan dan ketertarikan. Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah. Fitrah yang Allah ciptakan, maka Allah yang paling tau bahwa laki-laki atau perempuan saling tertarik secara manusiawi, secara fisik, secara tabi’at dan Allah tidak menghilangkan unsur tersebut dalam pernikahan. Kita diharuskan untuk tertarik pada pasangan. Dan kedua unsur itu harus dipadukan,” ucap perempuan berlesung pipi itu, mengakhiri kalimat indah sore ini sambil tersenyum.
--------------------------------
-ArumPuspa
Balada belajar USG
A : mana nih gallbladdernya (kantong empedu)
B : itu lho yang dekat liver (hati)
A : mana sih, kok susah gak kelihatan
B : iyalah gak kelihatan, kan jauh dimata dekat dihati.
Seketika ketawa berjamaah.
Eits, jangan salah, belajarnya berhasil kok 😁
*iya berhasil. Berhasil baper*