Tujuh Puluh Dua Hari
Penghujung bulan Mei, menjadi momok buatku saat itu. Hari yang gak pernah aku nantikan tapi mau tidak mau harus aku hadapi. Aku marah, aku kesal, aku kecewa, harus menjalani suatu hal yang tidak aku mau. Meski aku tau bahwa tidak ada hidup yang ideal, tapi aku belum menemukan alasan yang kuat untuk buatku bertahan selain orang tuaku.
Kala itu aku berfikir akan sulit punya teman, hanya akan ada kolega, karena perbedaan usia denganku yang katanya genzet ini. Maha Suci Allah yang tidak pernah membiarkan hambaNya sendirian, Ia selalu punya banyak cara untuk menjagaku. Dikirimkannya dua kakak perempuan baik buatku. Diingatkannya aku, dijaganya aku, dibuatnya renyah tertawaku. Rasanya tidak ada hari yang aku lewatkan tanpa tawa yang membuncah, meski sebagian dari diriku masih terus menolak untuk dapat menerima.
Setiap malam diselimuti rasa takut, sulit tidur, berat bangun, sesak di dada, dan air mata. Seiring berjalannya hari, aku merasa mulai akrab sama orang lagi. Perasaan yang aneh karena biasanya sangat sulit untukku feel the warm of people. Ia manusia dengan sedikit kata, hati yang penuh, syukurnya utuh, ringan tangannya untuk membantu orang lain meski kadang membuat dirinya sendiri merasa tidak nyaman. Aku pernah bilang kalau perlakuan baik orang itu adalah hal paling mudah untuk melibatkan perasaanku. Membumi, cara terbaik dan terindah untuk melembutkan hati. Entah apa titik baliknya, kapan waktu tepatnya, namun saat hariku kelabu dan dia bawa cahaya di depanku. Maka hati mana yang tak akan jatuh? Meski rasanya aku belum sampai di tahap jatuh cinta, tapi nyaman jiwa.
Ditemaninya hariku, dibagikannya cerita miliknya juga milikku. Mungkin kadang dia merasa terganggu dengan aku yang menjadi riuh ketika berada dengan tangan yang tepat. Tidak dibiarkannya kakiku menyusuri jalan sendirian, dia ada tanpa diminta.
Aku yang dulu dengan penuh penyangkalan, tapi kini aku belajar untuk menerima semua perasaan yang aku rasakan. Tidak dapat aku bohongi kalau kini bertambahlah satu alasanku untuk semangat bangun pagi, untuk gak takut lagi menghadapi hari senin, untuk punya harapan akan kuat bertahan.
Perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka dalam diriku dan mempersilahkan orang lain untuk masuk, sebagai teman, saudara, or a lover. Tapi kenapa saat aku coba jadikannya mudah, semua jadi berubah tanpa alasan yang bahkan tidak pernah disampaikan. Aku, sebagai manusia. Aku benci kehilangan, aku benci perpisahan. Ini baru permulaan tapi kenapa aku harus merasakan hal ini lagi? Bagaimana aku harus menjalani hariku ke depan? Hari yang mungkin akan menjadi lebih panjang, yang membuatku semakin tidak nyaman. Riuh di kepala, luka di hati.
Semuanya semu dan aku harus kembali merutuki diri, meminta maaf padanya bahwa tidak seharusnya aku membuka diri sejak awal. Jika mempersilahkannya masuk, hanya akan membuat ruangku semakin berantakan.











