Bicara tentang nikah muda, kalau disandingkan dengan pacaran, bilang kalau menikah lebih baik daripada pacaran, saya tentunya akan setuju. Tapi kalau seenaknya buat statement kalau “menikah lebih baik daripada kuliah,” I, myself, couldn’t disagree more.
Di antara banyaknya isu di Indonesia, ‘nikah muda’ adalah salah satunya. Banyak postingan di media sosial yang bilang banyak hal tentang menikah muda, kenapa itu adalah pilihan yang sangat baik, dlsb.
Dalam menilai satu hal, saya pribadi ngga suka langsung bilang “setuju” atau “tidak setuju”. Saya biasanya akan jawab dengan jawaban yang lebih panjang dibanding dua pilihan itu.
Termasuk juga kalau ditanya tentang nikah muda. Kalau ditanya “setuju ngga sama nikah muda?”, saya akan jawab “tergantung/depends..”. Tergantung alasannya apa, situasi dan kondisinya bagaimana, dlsb.
Nikah muda tentunya adalah pilhan terbaik kalau disandingkan dengan pacaran/hubungan dekat dgn lawan jenis. Jelas. Terkhususnya muslim, daripada menghabiskan waktu untuk hal yang jelas Allah larang, jelas mudharat-nya, ya menikah saja. Kalau beralasan belum siap, ya jangan pacaran. Tapi-tapi yang digunakan untuk beralasan disini adalah horseh*t. Really. Pilihannya ya; menikah, atau menahan diri dari pacaran.
Saya ngga suka dengan orang-orang yang terlalu menekankan kalau nikah muda adalah baik tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Seolah bilang “gimanapun, pokonya nikah muda itu harus!”. Menjadikan nikah muda itu sebagai tujuan utama hidup. Saya sempat geram sekali melihat postingan salah satu social media influencer yang posting kemesraan dengan istri dan bilang hal itu dilakukan untuk memotivasi orang-orang agar menikah muda. Like, what?!
Saya geram sekali sama yang bilang kalau nikah itu lebih baik daripada kuliah, menuntut ilmu. Padahal apa menuntut ilmu bukan bentuk ibadah juga?
Menikah itu pilihan masing-masing. Pilihan yang diputuskan dengan banyak pertimbangan. Dan semua orang berbeda, ngga bisa dipaksakan untuk mengikuti satu standar tertentu.
Ada banyak orang diluar sana yang berusaha keras untuk menahan diri dari pacaran karena keinginan menikah belum mungkin terpenuhi dalam waktu dekat. Masalah ekonomi keluarga, misalnya. Dan ada banyak hal lainnya yang membuat seseorang ngga terpikir untuk menikah pada usia muda.
In my case, saya masih belum memikirkan tentang menikah muda dan cenderung bilang “apaan sih? masih kecil” ketika ditanya tentang kesiapan. Terdengar klise, mungkin. Tapi saya serius sekali ketika bilang hal itu. Saya paham sekali akan diri saya yang masih sangat labil luar biasa. Saya takut kalau memutuskan untuk menikah di usia sekarang, pilihan yang saya ambil ternyata cuma berdasarkan ego, atau bahkan ikut-ikutan. Supaya ini-itu yang sebenarnya jauh sekali dari tujuan menikah itu sendiri.
Saya selalu bilang kalau hutang saya kepada orang tua masih banyak sekali. Saya ‘keluar’ dari rumah di usia 17 tahun 2 bulan dan saya tahu sekali 17 tahun sebelumnya itu adalah tahun-tahun kebandelan, pemberontakan. Hal-hal yang membuat orang tua lebih sering sedih dibanding tersenyum dan bahagia kepada diri.
Saya belum siap untuk mengikat diri kepada seseorang yang membuat saya harus mengutamakan dirinya diatas orang lain, bahkan mungkin keluarga saya sendiri.
Saya belum siap untuk memprioritaskan orang lain. Walaupun orang tua ngga pernah mengatakan langsung, saya tahu mereka somehow masih butuh saya. Dan saya mau tetap ada disisi mereka sampai saya yakin kalau saya mampu dan siap untuk prioritas yang baru.
Masih ada banyak lagi alasan lain yang orang-orang seperti saya punya. Termasuk tentang pertimbangan bahwa menikah itu bukan cuma menemukan pasangan hidup. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing.
Untuk teman-teman seusia, saya harap kalian lebih pandai dalam menilai ‘nikah muda’ itu sendiri. Dan ketika memutuskan untuk menikah muda, pikirkan lagi apa alasannya? Apa tujuan yang ditemukan di dalam hati terdalam? Jangan sampai keputusan ini diambil karena ikut-ikutan, kepengen karena lihat yang lain, biar bisa foto begini-begitu dengan pasangan yang sudah halal.
Menikah bukan cuma soal halal-halalan. Menikah itu soal ibadah. Meniatkannya harus hati-hati sekali.
Dan untuk teman-teman yang sudah menemukan, we’re happy for you, indeed. Tapi mohon sekali untuk lebih pandai dan picky terhadap hal-hal yang diunggah ke media sosial. Pikirkan juga mereka yang belum juga dipertemukan dengan jodohnya walau sudah matang dan siap.
Media sosial itu bebas. Batasan-batasannya kita sendiri yang harus pandai menentukan.