Seperti Laut kepada Langit
Kehadiran dan kepergian memang biasanya satu paket. Makhluk kecil itu tiba-tiba hadir, membawa keriaan kembali di dalam rumah. Tangis dan tawanya melengking, annoying tapi tetap menyenangkan. Senyum lebar dan tertawa lepas di setiap orang yang kusebut rumah tak henti-henti ada.
Kukira dunia berhenti di kebahagiaan itu.
Ternyata aku salah. Mama yang sangat bahagia kehadiran anggota keluarga baru harus pergi, ke rumah baru. Rumah yang barangkali menyelesaikan rasa sakitnya.
Di hari pemakamannya, aku bisa menahan air mata. Demi tidak mendulang rasa kasihan dan terlihat tegar. Air mata yang bertumpuk pada hari pemakaman itu, ternyata berurai sepanjang waktu.
Obrolan tiap hari yang tidak lagi ada. Cerita harian yang entah sekarang harus kuceritakan pada siapa. Kebahagiaan yang perlu kubagi. Cerita tentang cucunya yang lucu dan pintar. Doa-doa yang kuminta untuk ini-itu. Pelukan hangat yang selalu kutunggu tiap aku pulang. Dering telepon yang sehari bisa tiga kali.
Ke mana lagi akan kucari itu semua?
Rasanya air mataku tak habis-habis. Doa-doa mengalun sepanjang napas. Semoga rasa sakit selama ini menjadi penggugur dosa, ya, Ma.
Sekarang, aku lebih tidak bisa menahan air mata. Aku lebih cengeng. Aku bisa saja menangis di dalam kereta, di stasiun, di kafe, di jalanan, di playground, tak perlu ditanya jika malam-malam atau dalam sujud sholat. Semoga air mata dan doa-doa ini bisa melapangkan jalan Mama.
Tak pernah aku merasakan rindu sedahsyat ini sebelumnya. Hanya saja jika mengingat kembali, barangkali ini memang jalan terbaik jika dibandingkan dengan rasa sakit yang ada dalam tubuhnya.
Bahagia, senang, dan tenang, ya, Ma. Meski tidak tahu harus menjalani hidup seperti apa tanpamu, kami akan menjalani hidup versi terbaik kami sebagaimana yang Mama lakukan selama ini.
Depok, 1 Oktober 2024, 19 hari setelah kepergian Mama ternyata tidak membuat air mata habis.







