Sabtu, 16 Februari 2019⌠Sepertinya aku memang harus benar-benar mencatat agenda-agenda âspesialâ yang sudah direncanakan sebelumnya deh. Ya memang sewajarnya begitu tapi tapi tapi tahun ini beberapa kejadian sekip memang, Qadarullah catatan perbaikan yang masih dalam proses pembenahan. Good sidenya, Alhamdulillah dipermudah dan ya sesantai itu menyikapi kondisi ini. Kalo bahas aku yang dulu si⌠Bukan mengungkit ya, tapi dulu (sampai sekarang si kadang) aku sumbu pendek yang panikan kalo udah sekip jadi bete terus bye bye aja. Ini engga Alhamdulillah. Oke intronya segini aja. Jadi aku mau cerita tentang agenda Sabtu lalu, asli lupa paraah, seandainya Ka Ninit ga ingetin Jumat/Kamis sebelumnya aku lupa loh daftar kajian ini. Yes postingan kali ini sekali-sekali lah ya aku mau share sedikit yang berfaedah gitu hehe. Dan sebenarnya hari Sabtu siang itu aku malah buat agenda lain sama Dhindhin, Qadarullah karena suatu hal tertunda dulu ntah kapan terealisasi.Â
Key, jadi di Sabtu pagi, di broadcast/flyer si rencana mulai 8.30, dan aku baru berangkat dari rumah pukul 8.37 (berdasarkan postingan story akuuh) haha. Key dan sampai lokasi Alhamdulillah baru mulai dong acaranyaa, sekitar jam 9.30an. Nah tema kajian hari itu adalah âNgomongin Nikah? Dari Taaruf, Khitbah hingga Walimahâ ups ups ups, kok kesannya ngebet? Lebih ke siapin diri aja, kena banget deh akhir-akhir ini penting banget belajar, penting banget ilmu, penting banget tahu untuk kemudian mengamalkan dan berbicara. Yaa no offense ya, galau-galau masa lalu ya sudah berlalu, bye bye aja lah ya. Pernah? Tapi itu dulu, ga perlu juga aku ungkit, yang sekarang fokusnya belajar untuk lebih baik dari kemarin, agar kedepannya lebih siap lagi. Oh ya yang ngena itu satu ungkapan tentang shalat. Iya shalat, ibadah yang minimal banget 5kali dikerjain dalam sehari (yang wajib ya), yang kita lakuin sehari-hari (for muslim of course) ya sebelum ngelakuin kan kita belajar dulu, minimal belajar gerakan, bacaan untuk kemudian bisa ngelakuin kan. Itu pun masih belum sempurna, masih ada aja kekurangan ini itu, nah sekarang ngomongin ibadah yang katanya seumur hidup, yuph, menikah masa ga ada persiapan ujug-ujug nikah? Key masuk ke pembahasan materi ya, pas sampai itu lagi tilawah deh kalo ga salah. Oh ya sama siapa perginya? Sendiri! Hahaha awalnya janjian bareng beberapa teman, Qadarullah semua berhalangan. Dan Alhamdulillah ketemu kenalan kok di sana hehe. Key materi pertama, dikira teh akan urutan ya dari taaruf-khitbah-walimah ehhhh dibolak dong. Materi pertama tentang walimah, izin enter space ya biar enakan tulisannya :P
WALIMATUL âURS materi disampaikan Mba Amalia dian Ramadhini (cuss cek IGnya @herbadaragema) bahasannya santai, tentang pernikahan syarâi jeng jeng jeng jeng. Jadi teringat beberapa tahun lalu pernah hadir ke suatu undangan pernikahan dimana perempuan dan laki-laki terpisah, and I felt so weird and uncomfortable⌠aneh pisan gitu kan ya mikirnya dulu. Sekarang? Masih ga yakin si kelak bisa menerapkeun tapi tapi tapi ya kagum aja jika ada yang berhasil mempraktekkeun secara ya you know lah ya budaya kekeluargaan mayoritas seperti apa. Okeh back to materinyaah
Bagaimana merancang pernikahan syarâi?
Sebenarnya tahu ga si, yang berkewajiban, idealnya, seharusnya penyelenggara walimah itu adalah pihak laki-laki⌠Mungkin teman-teman budiman yang membaca ada yang mengernyitkan dahi, karena umumnya, biasanya (aku ga bilang semua loh) di masyarakat kita teh penyelenggaraan walimah âseolah jadi acaranyaâ atau yang âmengadakanâ adalah keluarga perempuan. Hmmm salah betul? Ya, ga ada larangan juga kok, tapi disini seenggaknya jadi belajar, bukan berarti dibebankan 100% ke perempuan atau jika laki-laki mau dominan pun seolah memang sudah seharusnya begitu. Gitu., nah dari awal disinggung mengenai biaya-biaya. Yes bayangannya kan kaya acara itu akan ada biaya sepersekian yang dikeluarkan. Ini tuh depends how you wanna create gitu ga si. Ditekankan banget dari awal, tentang sabda Rasulullah Shallahualaihi Wasalam, âAdakan walimah, meskipun dengan seekor kambingâ. Yes, jadi walimah itu bagian sunnah Rasul yang alangkah baiknya jika dilakukan ya, dan ga harus mewah, sadari kemampuan. Sempat disinggung mengenai ada kan ya yang untuk menikah sampai harus berhutang.. Ga ada larangan si untuk berhutang juga selama sadar kemampuan untuk membayar. Tapi tapi tapi berhutang untuk menikah, hmmm coba pertimbangkan lagi deh, karena ini bukan hutang produktif ya, bukan suatu pinjaman yang bisa diputar selayaknya investasi gitu, notes jangan berharap dari uang âbuwuhâ (bener ga si kata-katanya) itu loh kotak amplop/angpau yang biasanya tamu undangan kasih di penerima tamu. Karena ini spekulatif loh. Key next apa si yang harus dipersiapkeun?
Catatan penting (kayaknya semua penting euy), dari awal keterbukaan dengan pasangan/ terbuka dengan pasangan. Kenapa? Karena ada aja pasti masalah kalau ada yang ditutupi, dibohongi, ada loh kejadian yang setelah nikah ternyata oh ternyata, suamiknya rela berhutang demi mengadakan acara pernikahan dan ini baru diketahui setelah menikah, malam pertama diskusinya perihal hutang.. Astaghfirullah serem huhuhu, semoga suamiku nanti terbebas dari hutang Ya Allah #eh sorryyy⌠Kita masuk ke catatan ketentuan penyelenggaraan ya
Luruskan niat!!! Ini nih, pe-er. Fakta kok pernikahan itu seolah jadi âajang pamerâ. Raja dan Ratu sehari dipajang, seolah menunjukkan keberhasilan, pencapaian pada saat itu, ya gimana ya budaya, kebiasaannya udah begitu, konstruksi masyarakat yang⌠ah sudahlah. Nah sebenarnya di agama Islam, acara pernikahan itu diadakan untuk syiar ya semacam pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa A dan B telah menikah, jadi kalo esok-lusa melihat mereka berduaan, bergandengan ya emang udah SAH gitu. Dan juga jadi ajang silaturahmi, ketemu saudara-saudara, teman-teman begitu, nah sampai sekarang aku juga masih mikir kenapa si kalo gitu pengantinnya ga mingle aja gitu jadi kan bisa ngobrol singkat, sapa-sapaan dan lebih intimate, I wish nikahan aku nanti gitu. #semoga #gayakinjugasi #yacalonnyaduluajaFar
Sesuai Kemampuan. Lagi lagi ditekankeun, sesuai kemampuan, sadar budget yang dimiliki jangan sampai menjadi beban setelah acara. Acara itu cuma 1 hari loh, kehidupan pernikahan sesungguhnya setelah nikah :â
Tak Hanya Mengundang yang Kaya. Ini nih, jangan beda-bedain deh. Pergaulan kita kan general ya. Kita ada tetangga atau saudara yang kemampuannya mungkin dibawah kita terus ga diundang.. kok sedihh. Terus sebatas pengetahuanku juga, undang juga dong anak-anak yatim atau janda tua disekitar lingkungan atau mungkin saudara yang dalam hal materi masih dalam keterbatasan. Berbagi kebahagiaan dan kesenangan dalam hal ini perayaan pernikahan itu dalam loh maknanya :)
Tidak Berlebihan! Nah ini nih, jangan sampai mubadzir berlebihan huhuhu. Baik dari makanan atau juga dekorasi atau hal-hal lainnya. Mungkin sebagian orang ada yang rela mengeluarkan biaya untuk poles muka alias MUA sampai belasan bahkan puluhan juta hanya untuk menjadi ratu sehari, ya ga masalah jika mampu tapi tapi tapi coba pertimbangkeun lagi yuk, dana sebesar itu InsyaAllah bisa lebih terasa manfaatnya untuk hal lain hehe
Memisahkan Tamu Undangan! Susah bro sis! Aku ga yakin si sejujurnya untuk hal ini. Tapi kemarin Mba Amal sharing kalo belum bisa sepenuhnya jangan tinggalkan seluruhnya. Kalo dari pernikahan beliau, pelaminan si barengan ya ga dipisah, tapi Alhamdulillah untuk lokasi makannya dipisah. Nah perihal keluarga besar/keluarga dekat disediakan tempat VIP untuk mingle ketemu campur. Opiniku disini si, kayaknya kalo aku masih campur aja, gapapa ya Mas? #lah #halu bukan tidak mau memperjuangkan (ini juga si) tapi gimana ya, karena yang tahu dan paham kondisi keluarga kan kita sendiri ya, dan aku merasa belum bisa menerapkan hal ini di lingkunganku ya terutama
Tidak mengisi walimah dengan maksiat. Ini poinnya lebih ke acara-acara hiburan, atau ada yang menyediakan minuman keras di acaranya. Termasuk sebenarnya kan kaya kenapa poin sebelumnya sebaiknya dipisah untuk meminimalisir ajang bercampur baur perempuan dan laki-laki ya, tapi ya itu syusah yah.. Dan juga hiburan macam musik-musik, dangdutan. Hmmmm ga mau komen lebih lanjut deh, sedikit pernah nyinggung diskusi perihal ini ke Papah Mamah, yaa perlahan yaa hmmm
Tidak melanggar syariat. Ini kaitannya dengan ritual-ritual yang mengarah kesyirikan gitu. Dududududu kebiasaan si ya, tapi kalo udah paham berusaha yuk hindarin. Aku kalo perihal adat udah intro ke Papah Mamah, dan Papah request Adat Aceh, hmmm aku mau pake Siger Sunda tapi, ini aku sering halu atau gimana ya tapi emang kadang kalo pulang kondangan suka random aja gitu ngobrol ini itu sama Papah Mamah hahaha
Menikah itu bukan hanya menyatukan dua orang melainkan dua keluarga.. Next catatan penting lain.. jangan salah pilih pasangan. Nikah bisa jadi surga dunia tetapi bisa juga jadi neraka dunia, kalo dari awal salah pilih pasangan..Â
Selanjutnya cari refrensi, semakin banyak refrensi semakin baik, karena toh kita di era digital, segala informasi tersedia tinggal âsenam jariâ. Yuk jangan malas, perbanyak pengetahuan informasi, toh yang perlu kan kita juga, ya siapa tau kalo ada rekanan, orang lain yang random diskusi, kita pun bisa saling berbagi informasi. Nah apa aca si yang perlu dicari refrensinya :Â
Vendor, termasuk catering, venue, fotografer, dkk
Nuansa walimah, mau adat atau nasional/internasional, cek plus minus
Komparasi harga dan kualitas, ga harus mahal, cari kualitas
Sesuaikan dengan kebutuhan, ga harus copy-paste acara orang, buat sesuai kebutuhan kitaa
Berkaitan dengan venue/tempat, fyi susah loh cari gedung di Jakarta, kabar-kabar yang beredar bahkan ada yang waiting list sampai setahun, ya kembali yuk sesuaikan kebutuhan. Oh ya semisal mengadakan di rumah pun ga masalah loh, asal perhatikan lingkungan, jangan lupa minta izin tetangga. Jikalau rumah terletak di pinggir jalan yang sering dilewati dan kemungkinan akan mengambil âlahanâ jalanan, ini ga direkomendasi ya. Karena akan menyita hak pengguna jalan, jangan sampai karena kepentingan kita kemudian jadi dzolim ke orang lain..
Selanjutnya dibahas mengenai pembagian budgeting, lumrahnya persentasenya dibagi seperti ini tapi kembali sesuaikan kebutuhan. Ini contoh ya:
70% venue, catering dan dekorasi
10% undangan dan souvenir
dari diskusi diluar kajian ini ke teman yang sedang persiapan pernikahan, ada aja tambahan biaya tidak terduga, ntah kenapa aku merasa oh ya memang harus dipersiapkan. Dan belajar strict on budget, bukan berarti pelit loh ya ini tetapi sebenarnya ini melatih manajemen keuangan dan juga tau kemampuan kita. Jadi dari awal ada baiknya buat proyeksi ada dana berapa, kemudian kemungkinan pemasukan tambahan (yang bisa dipastikan ya) jadi kebayang budget yang dimiliki berapa, tentunya ini didiskusikan bersama ya, azas keterbukaan guys dari awal. Gitu ya Mas nanti #eh #halu Hmmmm
Step selanjutnya, ini kan teori ya. Tidak semudah itu Ferguso, Esmeralda siapa lagi ya hmm Musyawarahkan Keinginanmu! (Ini bukan hanya untuk perempuan ya tapi laki-laki juga, ya kan nikah sepasang ya, laki dan perempuan)
Tanyakan keinginan orangtua. Ini harus banget banget banget, jangan asumsi! Bicarakan dari hati ke hati. Sederhana ga sederhana contoh perihal ketersediaan bangku, ya diskusikan dengan melibatkan emosi
Ungkapkan keinginanmu.. Iya ini acara kamu, jadi ga ada salahnya jelaskan tentu dengan persiapan ya jangan ngawang-ngawang
Beri informasi dan refrensi sebanyak-banyaknya. Jadi bisa buat gambaran juga untuk didiskusikan
Beri kekurangan dan kelebihan dari pilihan-pilihan. Musyawarah bukan memaksakan ya, karena ya kembali pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang saja melainkan dua keluarga :)
Ajak ke tempat pernikahan atau wedding expo, ya buat refrensi bersama gitu
Nah dari awal perencanaan menikah, penting banget untuk menunjukkan bahwa kita siap menikah. Untuk laki-laki, latihan meminimalisir intervensi, tunjukkan sikap untuk mengambil keputusan. Dududu quotable banget si ini, Baktimu kepada Ibu jangan sampai mendzolimi Istri, pun Cintamu kepada Istri jangan sampai mendurhakai Ibumu. Dear my future husband, semangat ya :D
Catatan selanjutnya perihal lobi-lobi dan negosiasi
Win Win Solution, pasti akan menghadapi perbedaan pendapat, nah kembali musyawarah bukan memaksakan tapi saling mendengar untuk kemudian dicari solusi yang paling nyaman untuk keseluruhan atau sebagian besar. Kendala bisa jadi bukan di orangtua sendiri atau pun calon mertua, melainkan di keluarga besar, disini harus saling memahami, mendengarkan dan fokus kepada solusi pilihan ya
Latihan ujian pasca nikah, nah ini haha nikah sekali lagi bukan tentang dua orang ajaah melainkan gabungan dua keluarga yang tentunya karakternya berbeda. Persiapan pernikahan itu katanya ya, memang simulasi awal dari kehidupan pernikahan itu sendiri
Gunakan bahasa sesuai kadarnya, ya posisikan diri lah ya. Kita di keluarga tentu berbeda dengan kita di komunitas, di tempat kerja, di pertemanan nongkrong. Jadi posisikan diri sebagaimana mestinya, gunakan istilah-istilah umum yang tentunya mudah dipahami keluarga kita. Tidak perlu menunjukkan diri kita seolah lebih berilmu, cukup sampaikan keinginan, harapan secara lugas dengan bahasa dan cara penyampaian yang bisa diterima
Jangan meremehkan atau merendahkan, ini nih jangan sampai kita paham ilmu tetapi lupa akan adab ke orangtua, ke keluarga. Posisikan diri sebagai anak di hadapan orangtua, sebagai bagian keluarga yang menghormati pendapat tetua-tetua macam Pakde/Bude/Uwa/Kakek/Nenek/Om/Tante dan semua yang seolah merasa bagian dari diri kita, ya wajar kok mereka memberi masukan ini itu, bayangannya tentu ingin yang terbaik untuk kita. Jadi tetap ya yang dicari itu ridho orang tua, InsyaAllah ridho Allah kan ridhonya orangtuaÂ
Berikan refrensi, tetap ya harus base on data
DOA DOA DOA, ini penting banget. Selalu minta pertolongan dan petunjuk Allah Subhanahu Wataala
Tentu ini masih sebatas teori, penulis pun belum memiliki kesempatan untuk mempraktikkan euy. Komunikasikan rencana/angan/bayangan pernikahan dengan jelas agar orangtua paham dan bisa terwujudkan. Usahakan untuk sesuai syariat, karena pernikahan ini gerbang awal untuk melaksanakan ibadah terlama di kehidupan kita. Ga mau dong, langkah awal tidak diberkahi Allah huhuhu. Perjuangkan yang bisa diperjuangkan. BismillahirohmanirrohimâŚ
Oh ya tambahan catatatn, masalah yang sering banget muncul adalah kebiasaan pihak laki-laki ga enakan untuk bertanya, ini bisa jadi masalah jika ada ketidaksesuaian keinginan/harapan yang tidak dikomunikasikan dari awal. Jadi please, dear my future husband, sampaikan sebagaimana harapan/keinginan kamu dan orangtuamu seperti apa, yuk diskusikan musyawarahkan cari solusi terbaiknya seperti apa, jangan buat asumsi sendiri, karena kita ga ada yang punya kemampuan khayalan macam Edward Cullen kan.Â
Ini baru sesi pertama, dan sekarang sudah menjelang dini hari. Jadi kemungkinan postingan ini bersambung dulu ya, kita belum bahas perihal taaruf euy, hmmmmmm, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan yang semoga ada faedahnya ini, ya namanya juga coretan pribadi jadi harap maklum terselip aneka curhat colongan hihihi. Maaf jika ada penyampaian yang kurang berkenan, soon InsyaAllah dilanjutkan catatan sesi selanjutnya :)
Cimanggis, 19 Februari 2019, 1:54 PM