Sebuah insight - Hari Raya Idul Adha Tidak Seputar Peristiwa Nabi Ibrahim Diperintahkan untuk Menyembelih Putranya (Ismail)
Pernah kah berpikir? Kenapa yang terpilih kisah nabi Ibrahim? Bukankah ada banyak Nabi yang lebih dulu hidup dan kisahnya juga bisa diambil hikmah? Dan kenapa Nabi ibrahim di di juluki Bapak Para Nabi (panutan) ? Kenapa bukan Nabi adam yang jelas jelas manusia pertama yang tercipta?
Pada momen ini yang masih seputar Idul Adha, Saya ingin berbagi insight. Hal ini saya dapatkan sewaktu kajian di ulul azmi unair C tahun 2018 silam
Sosok nabi Ibrahim A.S adalah sosok yang ketauhidannya patut menjadi teladan umat setelahnya. Kenapa? Ujiannya sangat bertubi tubi dalam berbagai aspek. Dimana semua aspek tersebut dapat selesai dengan iman dihatinya dan membentuk tauhid yang kuat.
Ada semacam fitrah dalam diri manusia naluri untuk beragama (Ghalizah Tadayun). Nabi ibrahim mencari siapa penciptanya.
Dia bertanya tanya dengan ayahnya yang pembuat patung yang di sebut tuhan. Ada berapa banyak tuhan? Apakah kalau hanya menyembah satu tuhan saja tuhan lain akan marah? Terbuat dari apa tuhan, kalau dia terbuat dari benda mati dan tidak memiliki nafas apa mungkin dia hidup dan memberi kehidupan? Dan jawaban dari ayahnya tidak membuat ia puas.
Dia termenung apakah Matahari adalah Tuhan? Ternyata bukan. Tuhan pasti ada setiap saat, sedang matahari ada saat terbenam. Begitu juga bulan dan bintang, ada saat mereka tidak terlihat. (Al an'am 76-78)
Kemudian tertancap iman dihatinya, Bahwa tuhan pastilah kekal dan pemberi petunjuk.
Dan bukankah iman perlu pembuktian?
Beliau berdoa dan meminta petunjuk
Dan turunlah surat Al-Baqarah 260
Tentang kisah nabi yang diperintahkan untuk menyembelih burung lalu meletakkannya dibtempat terpisah. Lalu dengan kekuasaan Allah , Ia menyatukan dan menghidupkan kembali burung tersebut.
Nabi ibrahim semakin percaya bahwa Dia adalah tuhan, dan Dia adalah Allah
2. Yakin Bahwa Tuhan Adalah Allah dan ingin mengajak ayahnya kejalan yang benar - Pengorbanan 1
Ayah nabi ibrahim bukan sembarang orang. Beliau disegani masyarakat, beliau adalah sang pembuat patung ternama. Cerdasnya nabi ibrahim dg langsung berdakwah pada orang yang memiliki impact meluas. Sehingga dakwah lebih efektif. Kamu tau? Tidak semudah itu. Hingga turun surat Maryam 45-48 beliau membujuk ayahnya dengan santun dan lembut namun sang ayah tidak terbujuk. Apa daya manusia, Hidayah adalah HAK PREROGATIF ALLAH
Ujian membujuk ayah sendiri tidak berhasil. Nabi ibrahim diusir lalu meninggalkan ayahnya (surat Maryam 46)
-Pengorbanan beliau untuk meninggalkan ayahnya.-
3. Ketegaran dan Kepercayaannya pada Allah bahwa Dialah yang menjaga Istrinya (ibunda Sarah) - Pengorbanan 2
Ingat kisah dimana mereka dalam perjalanan? Terpaksa Ibunda Sarah harus diambil paksa karena akan di jadikan istri sang penguasa? Bagaimana respon nabi?
Sebelum perjalanan beliau menyusun siasat. Agar kalau ditanya pada penjaga sang istri harus menjawab bahwa ia saudarinya Ibrahim (dan memang benar sih, ibunda salah ini adalah anak dari paman ibrahim). Namun ibrahim gagal, lagi lagi diambil kecintaannya yaitu istrinya.
bagaimana respon beliau? Beliau menyerahkan istrinya sembari percaya bahwa istrinya akan di jaga Allah
"Aku sesuai prasangka HambaKu"
(H.R. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675 )
Dan dibuktikan ketika Ibunda Sarah berdoa memohon perlindungan 3x saat sang penguasa ingin mendekat untuk menzinainya seketika sang penguasa tidak dapat bergerak hingga ketakutan , dan berakhir dibebaskan dan diberi hadiah Budak (Ibunda Hajar)
-Pengorbanan beliau untuk menyerahkan istrinya dan percaya dijaga Allah-
4. Dilema untuk Menikah Lagi dan terpaksa meninggalkan anak yang dinanti - Pengorbanan 3
Lama blm dikaruniai anak, sang istri pertama membujuk untuk Ibrahim agar menikahi Ibunda sarah. Apakah nabi tega untuk memadu perempuan yang sangat ia cintainya itu? Jelas tidak, namun berakhir Nabi ibrahim menuruti pinta istrinya. Menikahlah dengan siti hajar.
Dan akhirnya dikaruniai Ismail.. tak lama Ismail lahir , timbul cemburu dr ibunda Sarah. Hingga turun perintah Allah agar membawa serta Ibunda Hajar dan Ismail anak yg dinanti sekian lamanya itu ketempat tandus, kering, tidak ada air, dan tidak nampak kehidupan.
Apakah tega? Jelas tidak tega
Apakah berat? Tentu berat!
Dan Nabi ibrahim menguatkan tauhidnya, dan menunaikan perintah Allah.
Lagi lagi ia mengorbankan apa yang ia cintai untuk pembuktian Cinta yg Sebenernya Pada Allah.
Ia percaya bahwa Allah yang menjaga. Dan benar, lewat kaki kecil ismail, munculah mata air abadi hingga kini. Memberikan kehidupan di tanah yg tandus itu. Hingga makmur seperti sekarang.
-Pengorbanan untuk mendapat keturunan salah satunya dg menikah lagi, yang mana dia juga tidak rela memadu istri pertama-
-Pengorbanan meninggalkan anak yang telah lama dinanti, beserta istrinya di tempat gersang dan percaya Allah yang akan menjaga-
5. Sudah belasan taun berlalu, Dia datang bukan untuk membawa pulang. Tapi untuk menyembelih anaknya - Pengorbanan 4
Sudah dinanti nanti, dan lahirlah anaknya. Sudah beranjak remaja, bukannya di bawa pulang tapi malah disuruh menyembelih anaknya? Apakah dg logika, ini nalar? Jelas tidak, Tapi ia membenarkan perintah Allah
Kisahnya Abadi di As-Shaffat 99-113
Dan hebatnya lagi, Apakah ismail dendam dengan Ayahnya? Tidak. Ismail patuh dan membenarkan perintah TuhanNya.
Lagi lagi iman perlu pembuktian. Di sembelihlah ismail, dan dengan cepat atas kuasaNya digantilah ismail dengan kambing. Ismail masih hidup dan darinya menurunkan keturunan orang orang mulia. Salah satunya adalah nabi muhammad SAW
Dan tibalah Hari itu yang abadi dan di jadikan hari raya Idul adha ini.
Aku pernah baca tulisan yakni seperti ini;
Ismail’-mu bisa jadi hartamu, bisa jadi jabatanmu, bisa jadi gelarmu, atau mungkin egomu.
Jadi, ‘Ismail’-mu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini.
Seperti yang kita tahu bagaimana kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah mengurbankan anak yang begitu dicintainya, Ismail AS. Namun pada hakikatnya, Ibrahim bukan diperintahkan untuk membunuh Ismail melainkan ia hanya diminta untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail. Karena Allah lah Sang Maha Pemilik yang sebenarnya.
Begitu banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari kisah ini. Manusia sering kali lupa, mereka piker semua hal yang didapatnya di dunia ini adalah hasil dari usahanya sendiri seutuhnya. Hingga banyak yang memiliki rasa kepemilikan yang berlebihan bahkan menggenggamnya begitu erat seakan dia hidup selamanya bersama yang dimilikinya tersebut. Seperti harta benda.
Jangan sekali-kali merendahkan dan menghina orang lain dengan harta, jabatan, atau gelar. Karena di hadapan Allah SWT hanya ketakwaan kita yang diterima-Nya.
Allah berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikian ia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Mungkin amat sulit melepaskan atau memberikan sesuatu yang kita miliki misalnya harta. Namun yakinlah, jika kita memberi satu saja kebaikan, maka Allah akan membalasnya berkali lipat lebih dari yang kita bayangkan. Mulai lah dari diri sendiri dan mulai hari ini
https://erlangga.co.id/agama/8548-setiap-kita-adalah-ibrahim-dan-setiap-ibrahim-punya-ismail.html