Jika hari itu benar-benar datang, nikahilah aku. Meski aku akan lebih sering menanak buku daripada nasi. Meskipun kelak anakmu akan lebih sering kuceritakan ironi negeri dibanding dongeng peri.
Jika hari itu benar-benar datang, nikahilah aku. Meski setiap hari akan kusaksikan teater romansa paling sunyi; adegan saat kau membanting tulang agar tulang anak-anakmu dapat tumbuh dengan utuh.
Jika hari itu benar-benar datang, nikahilah aku. Meski kadang aku lebih pandai menangis daripada menjelaskan isi kepalaku. Meski gaduh dan keluhanku mungkin akan jadi notifikasi favoritmu.
Jika hari itu benar-benar datang, nikahilah aku Meski kopi yang kubuat tidak seenak kopi yang biasa kau temui di kedai favoritmu. Sebab yang bisa kutawarkan hanya kesediaan untuk tinggal, ketika lebam-lebam pikiranmu menjadi perang yang tak pernah benar-benar menemukan gencatan.
Sudut kamar, 14 Mei 2026.















