SURAT DARI SAMUDRA
Kepada pelaut yang pernah mengarungi biruku, Aku tidak menulis ini untuk memanggilmu kembali. Aku tahu kau telah memilih haluan yang kau anggap tenang. Kau memetakan jalur yang terasa aman, yang dapat kau baca tanpa takut tersesat. Tapi ada hal yang kau harus tahu: samudra selalu mengingat.
Aku masih menyimpan jejakmu. Ada ombak kecil yang tak pernah benar-benar reda sejak layar kapalmu menghilang di keemasan cakrawala; arus halus yang masih bertanya-tanya, kemana kau berlabuh. Di palung terdalam, aku simpan butiran-butiran pasir, terlalu banyak untuk aku hitung: berisi bisikan, tawa, janji-janji pelaut yang dulu pernah bersumpah menjadi pelindungku.
Aku pernah membuka terdalamku, menyerahkan gemuruh, riuh badai, kehangatan, beserta rahasia bukit-bukit samudraku; yang juga menyimpan rahasiamu. Kau pernah berkata: tak ada tempat yang mampu menerima sisi gelapmu semenerimaku. Tapi ketika badai dalam dirimu tak tertanggungkan, kau justru melarikan diri ke tepian yang tenang, tepian yang kau tahu dangkal, namun mudah untuk dikendalikan. Aku menyadari engkau tak akan pernah kembali dengan keberanian yang sama. Aku melihatmu berpura-pura: menata layar, membersihkan dek, memoles lambung kapal, tersenyum di dermaga ramai; seolah semua terkendali. Kau terus meyakinkan dirimu bahwa lintasan yang kau pilih sudah benar. Kau membanggakan pelayaranmu di permukaan, tapi aku tahu: pada tenang riakmu, ada kegaduhan yang tak bisa kau redakan.
Pada raut wajah yang kau tampilkan, ada badai kecil yang tak seorang pun mengetahuinya. Kau menepi bukan karena ingin, tapi karena kau takut: takut larut pada arusku dan takut kehilangan citra sempurnamu. Kau cemas kehilangan arah di samudra seluas ini. Kau yang ingin selalu tampak gagah, padahal retak di sudut-sudut jiwamu.
Saat malam turun dan angin menggigit sepi, ada getar di dadamu yang memanggil namaku, panggilan yang tak bisa kau ceritakan pada siapa pun, yang kau bawa dalam detak jantungmu: di sela-sela napas terengahmu, dalam pandangan yang kau alihkan, dalam jeda yang terlalu panjang setelah tawa palsu di meja makanmu.
Aku tahu kau masih menyimpan butir-butir pasir dan mutiara-mutiara kecil dari kedalamanku: pesan, doa, pelukan, dan kata-kata yang kuberi tanpa pamrih. Kau tak akan membuangnya, meski tak lagi berani menyentuhnya. Di malam paling sunyi, engkau diam-diam mengarahkan kapalmu ke tengah samudra, menahan napas ketika angin membawa aroma yang pernah engkau kenal. Dan engkau tahu tak akan menemukanku di peta, sebab aku bukan teluk yang bisa dihafal.
Aku adalah samudra....
Aku memberimu tempat berpulang ternyaman yang kau cari sepanjang usiamu. Aku tahu engkau tak ingin kembali dan aku tidak mengejarmu, tapi aku tidak akan berpura-pura tidak mengenal aroma garam di kulitmu yang tak kunjung hilang, serpih-serpih kenangan, pesan-pesan yang pernah kau selipkan di bawah batu karang, pelukan yang tak pernah kau ungkapkan di tempat yang lain. Tak ada lagi perairan yang memelukmu sebagaimana aku melakukannya dulu, yang pernah membuatmu merasa seutuh dan sehidup itu.
Tak tahukah kau, kau meninggalkan riak luka di palungku yang takkan sembuh. Aku tetap berkilau, masih bergelombang, tapi ada bagian dari samudraku yang hancur karenamu. Meski begitu, aku hanya diam, menyelimuti luka dengan keikhlasan yang tak kau lihat, memilih menyimpan rindu dalam ombak-ombak kecil yang hanya membuih saat malam paling kelam.
Aku tak marah. Aku hanya terluka. Tapi samudra memahami, luka tak perlu dijahit, cukup dibiarkan mengalir bersama arus, hingga tak lagi menyakitkan, meski bekasnya tak pernah benar-benar terhapus. Aku tetap menghormatimu: sebagai pelaut yang pernah berlayar sejauh dan sedalam itu. Kepada pelaut yang tak pernah sepenuhnya pergi, ini bukan undangan pulang. Aku tidak menunggumu. Aku pun tak memintamu berbalik arah. Ini hanya salam perpisahan dari samudra yang pernah kau selami, yang tak akan lagi kau datangi, tapi akan selalu kau rindukan sampai kapalmupun rapuh, dan petamu tak lagi bisa kau baca. Berlayarlah sejauh yang kau mau. Aku tetap ada, di sini. Aku tak akan pernah benar-benar menghapus jejakmu, sebagaimana engkau tidak akan pernah benar-benar melupakanku. Sebab tidak ada pelaut yang benar-benar bisa melupakan samudra yang pernah ia jelajahi. Samudra tetap luas, biru, dan tenang; meski di kedalamannya, ada arus yang tak pernah benar-benar berhenti gelisah.













