Kata-kata telah jatuh tanpa ada yang utuh. Tak ada lagi yang bisa diucap dan mustahil terungkap.
Tawamu hanya masa laluku. Senyumku adalah pilu di masa depanmu.
hello vonnie

★

⁂
cherry valley forever

blake kathryn
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
wallacepolsom
almost home
will byers stan first human second
noise dept.

shark vs the universe
No title available
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature

JBB: An Artblog!
I'd rather be in outer space 🛸
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com

if i look back, i am lost

seen from Australia

seen from Germany

seen from Algeria
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Japan
seen from China

seen from Singapore
seen from China

seen from United States
seen from Algeria

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Brazil

seen from Pakistan
seen from Sweden

seen from Australia
@randyprasatya
Kata-kata telah jatuh tanpa ada yang utuh. Tak ada lagi yang bisa diucap dan mustahil terungkap.
Tawamu hanya masa laluku. Senyumku adalah pilu di masa depanmu.
Aku tidak jatuh cinta, tapi aku tumbuh dalam cinta.
Ada pepatah Inggris mengatakan; Absence makes the heart grows fonder . Aku pun harus menambahkannya bahwa sekarang; kehadiran membuat hati dalam bahaya.
Kamu layak kok dapet seseorang yang cinta sama kamu dengan setiap detak jantungnya, seseorang yang selalu memikirkanmu , seseorang yang menghabiskan setiap menit, setiap hari hanya bertanya-tanya apa yang kamu lakukan, sedang di mana kamu, dengan siapa kamu, dan apakah kamu baik-baik saja?
Kamu butuh orang yang bisa bantu kamu mencapai impian dan melindungimu dari ketakutan. Kamu butuh orang yang akan memperlakukanmu dengan hormat, mencintai setiap bagian diri kamu, terutama segi kekurangan.
Kamu harus bersama orang yang bisa bikin kamu bahagia, bahagia banget malahan. Bahagia seolah menari di atas langit.
Perpisahan Iannone dengan Ducati dalam Lagu B.I.P
“Di hari ini semua berakhir sudah. Kita berpisah baik-baik saja”. Lantunan awal dari lirik lagu B.I.P itu mungkin sangat cocok untuk melukiskan perpisahan pebalap Andra Iannone dengan timnya, Ducati.
Minggu, 13 November 2016, jadi momen yang sangat emosional bagi Iannone. Ia dengan berat hati harus pergi meninggalkan Ducati setelah sejak pertengahan 2016 tim pabrikan asal Italia itu menunjuk Jorge Lorenzo sebagai pebalap baru.
Keputusan itu membuat pria 27 tahun tersebut kecewa dan marah. Bagainya, Ducati lebih dari sekedar tim. Iannone merasa dirinya sudah tumbuh dan berkembang setelah dua tahun bersama mereka. Namun, di saat rasa nyaman dan cinta sudah kadung menjamur, dirinya malah didepak.
“Saya sedikit marah. Karena ini adalah terakhir kali saya akan bekerja dengan tim ini (Ducati). Kami telah mengalami beberapa hal penting bersama-sama, tumbuh, dan mereka sangat membantu karier saya. Itulah yang membuat saya sangat sedih,” tutur Iannone seperti dikutip GPOne, Sabtu (12/11/2016).
Iannone yang Terus Berjuang untuk Ducati
Meski didepak Ducati, pamor Iannone tak meredup. Ia langsung mendapatkan kontrak dari tim Suzuki Ecstar sejak diputuskan tidak dipertahankan timnya. Walaupun sudah mengetahui tim baru untuk musim 2017, Iannone tetap membalap dengan kemampuan maksimal, meski pada akhirnya kerap menghadapi masalah.
Bahkan, ia sempat absen selama empat seri, yakni MotoGP San Marino, Aragon, Jepang, dan Australia, setelah mengalami patah tulang T3 vertebra saat kecelakaan di latihan bebas pertama GP San Marino.
Usai kembali dari cedera, ajang balap MotoGP 2016 tinggal menyisakan dua seri, yakni GP Malaysia dan GP Valencia, yang artinya hanya ada dua kesempatan balapan bagi Iannone untuk memberikan kesan perpisahan yang manis untuk Ducati.
Kesempatan pertama Iannone gagal. Ia terjatuh di lap ke-12 GP Malaysia. Namun, hal itu tak membuatnya kecewa lantaran sudah memberikan kemampuan 100 persen untuk Ducati usai kembali dari cedera.
“Meski akhirnya jatuh, saya sangat menikmati semua momen di Sepang. Saya puas, sebab sudah tampil 100 persen pasca cedera. Begitulah saya, saya selalu berusaha all-out. Jatuh tak membuat saya kecewa, karena saya tahu kalau saya sudah berusaha semaksimal mungkin,” ujar Iannone, seperti dikutip Race.
Iannoneboleh saja tidak kecewa, namun di sisi lain ia menyadari bahwa kesempatan untuk naik ke atas podium dengan bendera Ducati hanya tersisa satu kali lagi, yakni di GP Valencia.
Hal itu tidak berjalan mulus. ia bahkan mengaku kecewa setalah hanya mampu meraih pole ketujuh. Artinya, Iannone harus bermain habis-habisan untuk naik ke podium dan meminimalisir kesalahan.
“Saya tidak puas dengan apa yang terjadi pada minggu ini. Dari awal, saya memiliki waktu yang sulit untuk memacu kendaraan saya,“ keluh Iannone, seperti dikutip Speedweek.
“Saya akan selalu berusaha. Minggu (13/11/2016) nanti, kami memiliki ide yang bagus tapi kami hanya akan mencobanya pada saat pemanasan. Saya akan mencoba segalanya. Kami akan memperkecil kesalahan. Kami berada dalam situasi yang sulit,” sambung pria berjulukan The Maniac.
Melawan Sakit untuk Perpisahan yang Indah
Hari perpisahan Iannone dengan Ducati tiba. Memulai balapan dari start ketujuh tentu tampak mustahil untuk bisa merebut podium di akhir balapan. Sebab, di grid terdepan ada tiga pebalap yang punya kemampuan individu dan motor yang baik dari Iannone, yakni Jorge Lorenzo, Marc Marquez, dan Valentino Rossi.
Namun, ambis dan semangat yang tinggi ternyata membuat kemampuan membalap Iannone jadi berlipat-lipat. Ia memacu motor Ducati GP16 dengan kekuatan penuh. The Maniac Joe dengan mengejutkan langsung menyodok ke posisi kedua saat baru masuk di tikungan pertama usai start.
Ambis dan semangatnya itu seperti mencerminkan bahwa dirinya ingin membuat perpisahan yang manis dengan tim Ducati. Jika boleh untuk berandai-andai, mungkin dirinya termotivasi usai mengingat penggalan lagu B.I.P yang berjudul Ternyata Harus Memilih.
“Cukup banyak waktu yang kita habiskan. Semua tidak pernah terbuang percuma. Lambaikan tangan biar pergi lebih mudah. Sungguh senangku bisa kenal kamu”. Begitulah mungkin isi kepala Iannone sebelum melihat lampu hijau tanda balapan dimulai menyala.
Duel-duel di tikungan pun tak terelakan. Ia beberapa kali terlihat bersaingan merebutkan posisi kedua dengan Rossi dan Marquez yang memulai start dengan buruk.
Sepanjang balapan kamera di layar kaca pun tak habisnya mengintai laju ketiga pembalap tersebut, tanpa memedulikan Lorenzo yang sudah melaju jauh di posisi terdepan.
Semua tampak tegang kala melihat aksi saling salip di tikungan, termasuk Casey Stoner selaku mantan juara dunia MotoGP bersama Ducati – kini bekerja sebagai pebalap penguji motor Ducati.
Pria asal Australia itu kedapatan oleh kamera siaran televisi tengah antusias menyaksikan aksi salip ditikungan, yang kerap dimenangakan Rossi dan Marquez. Mimik tegang Stoner mungkin bukan tanpa alasan, sebab Ducati merupakan motor yang tidak terlalu akrab dengan aksi ditikungan. Terlebih, Iannone sering mengalami crash di posisi tersebut.
Namun, seperti yang sudah diutarakan pada paragraf kedua sub judul ini, ambisi dan semangat membuat kemampuan Iannone menjadi berlipat. Kalah di tikungan, pebalap dengan motor nomor 29 itu manghajar balik Rossi dan Marquez di trek lurus.
Sayang, ia sempat kehilangan momen saat Marquez berhasil menyodok Iannone dan Rossi secara bersamaan. Pada saat itu pula juara dunia MotoGP 2016 tak lagi mampu terkejar di posisi dua. Pertempuran pun menyisakan perebutan posisi ketiga, yang masih getol diburu The Doctor.
Lagi dan lagi, Iannone tampak kesulitan meladeni Rossi di tikungan Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Namun ketika menemui trek lurus, rekan satu tim Andrea Dovizioso itu tak memberi ampun The Doctor yang menunggangi motor Yamaha.
Jelang akhir-akhir balapan tampak Iannone mulai menjaga kestabilannya saat menggapai tikungan. Celah untuk Rossi menyalip pun tak diberikan. Hingga bendera tanda finis terlihat, mantan pebalap tim Pramac Racing itu pun semakin menggila memacu motornya sampai lewat garis finis dan memberikannya posisi terakhir di podium.
Perpisahan pun tampak manis. Iannone turun dari motornya dan bergabung dengan crew mengenakan kaus berwarna merah dengan tulisan “One World, One Love, One Family, Grazie Ducati”.
Kaus itu juga ia kenakan saat naik ke atas podium untuk menerima piala. Di atas sana, Iannone tampak senang, namun sesekali terlihat menyeka matanya dengan bagian ibu jari dan telunjuk tangan kanannya.
Kebersamaan dengan tim Ducati pada saat itu pun berakhir. Iannone berhasil memberi kado manis di akhir perpisahannya meski dalam keadaan menahan sakit di GP Valencia. Namun, meski sudah dipastikan berpisah, ia menolak untuk melupakan seluruh kenangan bersama tim pabrikan Italia itu.
“Buat saya, balapan ini sangat, sangat sulit karena saya merasa kesakitan pada setengah balapan. Ketika melihat di pit board bahwa masih ada 16 lap, saya berpikir, ‘Tidak, ini tidak mungkin’ karena saya sangat kesakitan,” kata Iannone, dikutip Motorsport.
“Terima kasih Ducati atas dukungannya. Saya akan selalu ingat momen selama bertahun-tahun (bersama) sepanjang hidup saya,“ sambungnya.
Kini, persimpangan jalan sudah ada di depan mata Iannone dan tim Ducati. Keduanya akan melalui jalan yang berbeda sambil membingkai kenangan manis di akhir balapan MotoGP 2016. Hal itu juga menandakan perpisahan dengan cara yang baik-baik sudah dilakukan kedua belah pihak.
“Kenangan indah, kenangan memiliki kesan di hati. Hanya yang baik, hanya yang membuat tersipu saat kita mengingatnya”.
“Ternyata kita sampai, pada jalan yang berlainan arah. Ternyata kita harus memilih, mana jalan yang terbaik untuk semua”.
Melihat Lebih Dekat Aturan FIFA dalam Kacamata 'Transfer' Tristan Alif
Saat ini di Indonesia tengah muncul pemberitaan terkait Tristan Alif yang dikontrak oleh klub asal Spanyol, Leganes. Namun, kabar tersebut ternyata sudah dibantah oleh jurnalis asal Spanyol, Javier Martin. Ia memberitakan di media yang bernama AS, bahwa Leganes tak pernah mengontrak Alif. Pemain muda asal Indoensia itu hanya mengunjungi Butarque, markas Leganes. AS mengindikasikan bahwa klub tersebut tidak berminat mengontrak Alif, terutamanya setelah terbentur peraturan FIFA mengenai transfer pemain di bawah umur yang ditentukan. Alasan Martin pun tentu sangat masuk akal. Sebab, FIFA memang sudah mengatur dengan baik aktivitas transfer anak di bawah usia 18. Hal itu pun bukan perkara remeh. Dan Alif memang bukan pemain Leganes lantaran tidak memenuhi syarat transfer anak di bawah umur yang sudah ditentukan. Jika mengacu pada regulasi FIFA terkait status dan transfer pemain, aktivitas transfer internasional bisa terjadi jika pemain sudah berusia 18 tahun atau lebih. Namun, hal itu boleh terjadi di bawah usia 18 tahun jika mengacu pada artikel 19 butir ke-2. Pada poin A, FIFA menjelaskan bahwa, transfer internasional bisa dilakukan jika orang tua pindah ke negara tempat klub yang dituju dengan alasan yang tidak terkait sepakbola, contoh; punya pekerjaan di perusahaan setempat. Pada poin B, FIFA memperbolehkan transfer internasional berjalan jika masih dalam wilayah Uni Eropa (EU) atau wilayah Ekonomi Eropa (EEA) dan pemain berusia antara 16 dan 18. Dari poin B itu pun klub harus menjalani kewajiban tambahan yang diberlakukan FIFA, seperti klub diharuskan memberi pendidikan sepakbola yang memadai dan pelatihan sesuai dengan standar tertinggi. Selanjutnya, klub wajib menjamin pemain untuk mendapatkan pendidikan akademisi atau sekolah dan pendidikan kejuruan selain sepakbola. Hal itu agar memungkinkan pemain mengejar karier selain sepakbola jika sudah tak aktif sebagai pemain profesional. Klub juga akan membuat aturan yang diperlukan untuk memastikan bahwa pemain mendapatkan yang terbaik, seperti standar hidup yang optimal bersama keluarga atau mendapat tempat tinggal di klub, serta mentor di klub. Langkah terakhir pun pemain harus mendapat registrasi dari asosiasi terkait dengan bukti bahwa sang pemain memenuhi kewajibannya. Aturan itu terbilang sangat ketat, bahkan klub bisa dijatuhkan hukuman jika pemain di bawah umur tidak mendapatkan haknya terkait transfer. Bahkan, artikel 19 butir ke-4 mengatakan bahwa asosiasi negara juga bisa dijatuhi sanksi jika lalai terkait transfer internasional. Lantas apa tujuan FIFA membuat aturan yang sangat rumit tersebut hingga menyulitkan Alif untuk direkrut klub luar negeri? Berikut penjelasan secara mendalam. Apa yang Dilakukan FIFA untuk Melindungi Transfer di Bawah Umur? FIFA bekerja keras untuk melindungi hak-hak pemain muda sampai 18, baik laki-laki atau perempuan, amatir atau profesional. Hal ini dilakukan dengan menegakkan aturan larangan transfer internasional anak di bawah umur, atau pendaftaran pertama di bawah umur selain negara mereka sendiri, kecuali dalam keadaan tertentu dan dapat diverifikasi. Transfer internasional di bawah umur tidak dapat terjadi kecuali salah satu pengecualian yang dijelaskan dalam artikel 19 butir 2 yang sudah dijelaskan dalam intro tulisan ini. Selain itu, pada artikel 22 dan 23, aktivias transfer di bawah umur bisa terlaksana bagi pemain pengungsi atau mungkin pertukaran pelajar pada kesempatan yang terbatas, dan diberi wewenang untuk mentransfer berdasarkan hukum internasional. Untuk hal itu Sub-komite FIFA yang mengurusi status pemain dibebankan dengan meninjau aplikasi untuk kasus di atas, dengan mempertimbangkan keadaan khusus dari masing-masing individu, dan juga mengenali peluang untuk integritas atau pembauran bahwa sepakbola tentu memberikan penawaran. Mengapa FIFA Menerapkan Aturan Ini? Pemain muda rentan terhadap potensi eksploitasi dan pelecehan ketika mereka berada di luar negeri tanpa kontrol negara yang tepat. Sementara transfer internasional berusaha memberikan perlindungan agar menguntungkan untuk karier olahraga pemain muda. Untuk itu FIFA melindungi secara tepat dan stabil dalam pengembangan pemain muda secara keseluruhan, dan mengedepankan kepentingan yang murni demi olahraga. Aturan transfer internasional di bawah umur juga dibuat dengan berkaca pada masa lalu, yaitu perdagangan pemain muda ke klub, terutama di Eropa, oleh orang yang tidak bermoral hingga menyebabkan beberapa anak di bawah umur bakatnya tidak memenuhi harapan klub masing-masing, yang akhirnya hampir ditinggalkan di jalan-jalan luar negeri. Dalam kasus ini, pemain di bawah umur sering tidak tahu bahasa atau budaya di tempatnya berada dan tidak memiliki sarana untuk kembali ke negara asal mereka. Namun, FIFA juga menegaskan bahwa transfer internasional ini tidak melulu bicara kualitas, melainkan bagaimana metode yang diberikan klub pada anak di bawah umur. Kepedulian FIFA atas hal ini tentu terbilang sangat keras, bahkan mereka sudah menghukum Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid yang membandel dengan aturan transfer internasional di bawah umur. Namun, hanya dengan cara ini sepakbola bisa menutup ruang bagi orang tak bermoral dalam meraup untung, dan aturan ini tentu harus ditegakkan secara konsisten dan ketat guna menghentikan kesalahan masa lalu. Bahkan, aturan ini bisa menjamin dan beri keamanan bagi pemain di bawah umur. Aturan Ini Membantu Negara? Untuk menangkap atau menghukum pelaku perdagangan anak tentu bukan ranah FIFA. FIFA hanya mengantisipasi masuknya kejahatan dalam lingkup sepakbola terorganisir. Isu yang terkait dengan “perdagangan anak” justru jatuh dalam otoritas internasional, yakni polisi, kehakiman, dan pemerintah. Hal-hal tersebut berada di luar yuridiksi FIFA meskipun federasi sepakbola internasional tersebut dipastikan menyambut baik usaha serius otoritas internasional tentang perlindungan anak di bawah umur. Sementara itu FIFA berkomitmen untuk memberikan kontribusi terhadap isu perdagangan anak dalam lingkup sepakbola. Atas rincian hal tersebut, bukan perkara yang menyebalkan jika wartawan AS mengungkap fakta-fakta terkait kebenaran status Alif di Leganes. Sebab, aturan tidak bisa ditawar dan dimainkan oleh ayah sang anak, seperti yang biasa terjadi di Indonesia. *Tulisan saya ini sudah tayang di indosport.com pada 13 Oktober 2016
Pertaruhan Karier dan Bukti Cinta Andy Murray
1 April 2015 menjadi saat bahagia yang menyelimuti Andy Murray dan sang kekasih, Kim Sears. Bulan keempat dari hitungan kalender masehi tersebut juga menjadi saat yang membahagiakan bagi kebanyakan orang yang hidup di Eropa. Pasalnya, saat itu telah memasuki musim semi, yang di mana pepohonan mulai tumbuh dan bunga bermekaran setelah sejak bulan Desember diterpa musim dingin. Di musim semi Murray memberanikan diri mengikat sumpah dengan Kim di Gereja Dunblane Cathedral, Skotlandia, setelah berpacaran selama 9 tahun. Namun, dari acara pesta pernikahan yang menghabiskan dana sebesar Rp34,8 miliar itu tak ada seorang pun selebritis yang hadir. Alasannya cukup menarik, petenis tersebut hanya ingin pesta terlihat sederhana dan ingin hari bahagiannya tersebut dinikmati oleh orang-orang terdekat dengan ikatan emosional yang tinggi terhadapnya. "Hanya orang-orang terdekat dan mereka yang memiliki ikatan dengan masa lalu kami yang mendapat undangan," kata Andy Murray, seperti dikutip dari Telegraph, 7 April 2015. Meski demikian, acara tersebut tak luput dari pantauan media. Puluhan kamera setidaknya terlihat sudah siap mengeker kedatangan Kim di depan Katedral Dunblane, yang kala itu tiba dengan menggunakan mobil pengantin berwarna putih. Kedatangan sang kekasih pun menandakan kehidupan segera berubah dan tanggung jawab semakin bertambah, dengan upaya merealisasikan impian membina keluarga yang harmonis, cerita pun dimulai. Keluarga di Atas Segalanya Perubahan kehidupan dan pola pikir Murray mulai terlihat berubah drastis setelah usia pernikahan memasuki bulan kesembilan, yang tepatnya terjadi di bulan Januari 2016, saat usia kandungan Kim yang juga baru berumur 9 bulan. Petenis yang kini berusia 28 tahun tersebut meletakan keluarga di atas segala-galanya. Bahkan berjanji akan meninggalkan Grand Slam Australia Terbuka jika sang buah hati lahir saat turnamen masih bergulir. “Sebagaian besar hari saya hanya berpikir tentang bayi. Ini perubahan besar yang hadir. Ini sangat menarik. Saya yakin semua orang di sini yang memiliki anak pertama akan berpikir hal yang sama,” ungkap Murray jelang persiapannya di Australia Terbuka 2016, seperti dikuti dari Daily Mail, 16 Januari 2016. "Saya belum pernah dalam posisi ini, sehingga menjadi sesuatu yang baru bagi saya untuk mengatasi dengan baik,” sambungnya. Perhatian lebih yang diberikan Murray tidak hanya untuk Kim. Dia juga sangat mencintai Nigel Sears, yang merupakan ayah mertua dan menjadi pelatih Ana Ivanovic. Hal itu dia tunjukan saat Nigel mendadak kolaps di lapangan, ketika mendamping petenis wanita asal Serbia tersebut bertanding. Setelah mengetahu kabar tersebut, beban pikiran pun bertambah untuk Murray. Bahkan, dia juga tak segan meninggalkan turnamen Australia Terbuka jika sang ayah tak kunjung sadarkan diri. "Sesuatu hal jelas pernah terjadi dengan keluarga saya di tingkat yang lain, tapi tidak di tengah grand slam dan Kim yang hamil tua juga. Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Beberapa hari terakhir terasa sulit, itu jelas," ujar Murray seperti dikutip The Guardian. Melawan Hati dan Pikiran di Laga Final Meski dalam kondisi pikiran yang tidak baik, Murray berhasil melaju ke laga final Australi Terbuka 2016 dan berjumpa Novak Djokovic. Pertemuan tersebut tidak serta merta menjadi pertandingan yang ringan, sebab data statistik pertemuan tidak berpihak pada petenis asal Inggris Raya itu. Terbukti, Murray harus rela dipecundangi Djokovic dengan kekalahan tiga set langsung, 6-1, 7-5, dan 7-6. Pernyataan mengejutkan pun dia lontarkan saat memberikan ucapan di atas mimbar Australia Terbuka setelah penyerahaan piala dan karangan bunga. Murray menyatakan rasa terima kasih atas dukungan Kim selama dua minggu terakhir dengan sedikit mata berkaca-kaca. "Kau sebuah legenda dalam dua minggu terakhir. Terima kasih atas dukungannya dan saya akan pulang pada penerbangan berikutnya,” ungkap Murray seperti dikutip The Guardian. Hal itupun benar dilakukannya setelah prosesi penyerahan piala selesai. Murray langsung melaju menuju bandara Tullamarine dengan melintasi kota Melbourne yang telah kosong untuk mengejar penerbangan jam 1 pagi waktu setempat. Memang terlihat amat terburu-buru. Rasa letih pasca pertandingan final pun dia singkirkan jauh-jauh demi secepat mungkin bertemu sang istri. Namun, rencana tersebut rupanya telah dia siapkan sejak lima hari sebelum laga puncak. "Saya ingin segera pulang saat ini. Terlepas dari hasil hari ini, itu sudah sulit. Seandainya saya kalah pada putaran ketiga atau keempat tetap saja akan sulit dengan semua yang terjadi. Saya sudah memesan satu penerbangan selama lima hari,” ucap pria kelahiran 15 Mei 1987. "Dia (Kim) luar biasa, mengatasi segala sesuatu dengan sangat baik. Saya harus berterima kasih kepadanya karena mengizinkan saya untuk bermain dan tinggal di sini dengan segala sesuatu yang berlangsung,” sambungnya. Beruntung, dia pun dapat pulang dengan selamat dan tak sedikitpun kehilangan momen penting di saat-saat persiapan kelahiran anak pertama yang terjadi pada 9 Februari, atau sembilan hari setelah ajang Australia Terbuka. Setiap Pertandingan adalah Sophia Beban akan ketakutan tak bisa berada di samping Kim runtuh seketika setelah dapat menyaksikan kelahiran Sophia Olivia secara langsung. Buah hati dari hasil kasih sayang mereka menjadi pewarna baru di dalam kehidupan rumah tangga. Dapat menggendong dan terbangun di tengah malam karena tangis Sophia yang lapar pun dapat dirasakan Murray dengan baik. Bahkan, usai mengalahkan Kei Nishikori di Piala Davis pada 6 Maret lalu, dia dengan cepat bergegas pulang usai pertandingan demi menemani buah hati tidur. "Saya akan pulang untuk mandi, lalu akan menemani ia tidur, bukan Kim, tapi bayi saya," ujar Murray penuh senyum dan canda. Tidak hanya di Piala Davis dia menegaskan isi kepalanya yang selalu dihinggapi Sophia. Setelah tersingkir di ajang Indian Wells, Murray tak sedikitpun menunjukan raut dan ucapan penyesalannya dari kekalahan itu. Justru dia ingin pulang dan segera bermain dengan sang anak. "Saya melihatnya mereka (Sophia dan Kim) dalam beberapa hari, ya akan menyenangkan. Saya tidak harus khawatir tentang bagaimana saya bermain," kata Murray seperti dikutip dari Tennis.com, 15 Maret 2016. Bagi Murray, kini Sophia hal utama, istri hal kedua, dan karier akan selalu berada di bawah kepentingan keluarga. Setidaknya hal itu sudah terbukti sejak keikhlasannya untuk segera meninggalkan pertandingan demi menanti kelahiran anak pertama dan tak peduli kalah di Indian Wells asal bertemu Sophia dan Kim. Seorang pria sejati mencintai istrinya, dan menempatkan keluarganya sebagai hal yang paling penting dalam hidup. Itulah yang tergambar pada tingkahlaku Murray saat ini. *Tulisan saya ini sudah tayang di indosport.com pada 21 Maret 2016
Pro Vercelli, Penguasa Italia Pertama yang Terlupakan
Dalam hidup, segala sesuatu yang berkaitan dengan "yang pertama" akan menjadi penting. Kehadiran "yang pertama"-lah yang memungkinkan munculnya para pengikut lain, seperti manusia pertama di bumi, perang dunia pertama, atau mungkin anak pertama yang diidam-idamkan setiap pasangan. Dari "yang pertama"-lah manusia akan belajar untuk membuat kesalahan dan menentukan keputusan yang akan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Karena itulah, "yang pertama" atau yang meletakkan pondasi tak selamanya sukses. Ia hanya hadir untuk membuka jalan bagi kejayaan-kejayaan selanjutnya. Tak terkecuali di sepakbola. Inggris mungkin mengaku sebagai peletak dasar sepakbola modern pertama. Namun bukan berarti mereka yang paling berkuasa. Demikian pula di Italia. Adakah yang tahu siapa penguasa sepakbola Italia pertama? Kebanyakan orang mungkin menerka Juventus, AC Milan, Inter Milan, atau bahkan duo Roma sebagai kaisar pertama Serie-A. Namun jawabannya bukan pada lima klub di atas. Penguasa pertama Italia justru kini terkubur jauh-jauh di dasar piramida sepakbola, tepatnya di divisi amatir. Jauh dari ingatan dan dari ingar-bingar kesuksesan industrialisasi sepakbola saat ini. Nama mereka Pro Vercelli dan mereka adalah klub amatir yang sukses 14 tahun menguasai Italia. Karena Marcello Bertinetti Menonton Pertandingan Juventus Cerita dimulai pada tahun 1892, ketika klub dibentuk oleh seorang guru lokal bernama Domenico Luppi. Usaha baru ini muncul dengan nama Societa Ginnastica Pro Vercelli dan awalnya mengkhususkan diri di bidang senam dan permainan anggar. Sebelas tahun kemudian, pemain anggar peraih medali emas Olimpiade yang masih seorang siswa SMA, Marcello Bertinetti kembali ke Vercelli setelah menonton pertandingan Juventus. Ia kemudian membangun tim sepakbola US Pro Vercelli Calcio di bawah naungan Societa Ginnastica Pro Vercelli. Bertinetti tak mengembangkan klub sendirian. Sebulan kemudian dalam pertandingan persahabatan, dua pemain klub Pietro Leone, Giuseppe Milano dan kapten tim masa depan Guido Ara di Vercelli datang. Ingin bergabung dengan Pro Vercelli, kala itu mereka ditanyai oleh eksekutif klub tentang motif di balik niatan mereka. Ara pun menjawab, "Untuk menjadi juara Italia." Jawaban ini kemudian disambut ejekan dari penguasan Societa Ginnastica Pro Vercelli. Tapi klub yang baru lahir ini memulai perjalanan yang luar biasa. Pro Vercelli memainkan pertandingan resmi pertama mereka tanggal 3 Agustus 1903 melawan Forza e Constanza. Tidak sampai satu tahun usia Pro Vercelli, mereka disibukan mencari warna identitas kesebelasan. Pro Vercelli kemudian memakai identitas garis-garis hitam dan putih, seperti Juventus, dengan mengecat kaus mereka masing-masing. Namun pemain merasa lelah karena harus mengecat garis-garis hitam dan putih di kaus mereka yang berulang kali memudar ketika dicuci. Akhirnya pun mereka memilih untuk mengenakan warna putih pada kaus tim dan hitam di bagian celana. Ara di Vercelli dianggap oleh banyak orang sebagai superstar pertama di sepakbola Italia. Ia terkenal memiliki dribbling serta passing indah dan mendapat julukan 'L'elegante Guido' (Guido yang Elegant). Namun keindahannya tersebut dibarengi dengan kemauannya untuk mengandalkan benturan fisik. Ia pun pernah berujar, "Sepakbola bukan untuk gadis kecil." Vercelli sendiri adalah klub Italia pertama yang membuat pelatihan dan regenerasi. Tim itu terdiri dari anak muda, pemain kelas menengah dan mereka mampu menjalankan latihan lebih intens. Bola mati menjadi santapan latihan setiap hari. Itu didasarkan karena Pro Vercelli dominan menggunakan taktik bola panjang. Berkat pola latihan yang terjadwal-lah pemain mereka memiliki keunggulan dalam hal kebugaran dan fisik yang baik sehingga Pro Vercelli mendapat julukan The Leonis (Lions). Scudetto Pertama Bermodalkan Sukacita Meskipun mencapai divisi utama pada tahun 1907, Vercelli masih sebuh klub amatir dan para pemainnya tidak dibayar. Para pemain menjalani permainan atas dasar sukacita. Dan atas dasar bermain dengan sukacita inilah mereka mampu meraih Scudetto pertama di tahun 1908 dan Scudetto kedua di tahun 1909. Namun upaya untuk meraih gelar ketiga secara beruntun harus dirusak oleh Inter setelah Federasi Sepakbola Italia (FIGC) memutuskan untuk mengubah aturan dengan menentukan juara dengan cara play-off setelah kedua kesebelasan memilik poin sama di akhir kompetisi. Meskipun Vercelli memiliki selisih gol lebih baik. FIGC yang saat itu sangat berambisi untuk menjadi perintis play-off, memilih tanggal untuk mempertemukan calon juara, Inter Milan dan Pro Vercelli. Tanggal yang dipilih FIGC ini menuai banyak kontroversi karena beberapa pemain Vercelli sebelumnya telah berkomitmen untuk bermain di Queens Cup, turnamen militer di Roma. Vercelli protes, tapi tidak didengar. Vercelli pun akhirnya menurunkan tim lapis empat mereka yang merupakan tim anak-anak dan remaja. Pemain tertua Vercelli yang berjuang untuk merebut scudetto ke-3 mereka hanya berusia 15 tahun. Meskipun mereka sadar harus menghadapi kesebelasan yang berotot orang dewasa, anak-anak dari Vercelli akhirnya sukses mencetak 3 gol, meskipun pada akhirnya Inter berhasil meraih gelar scudetto pertama mereka, setelah mengalahkan anak-anak dari Vercelli dengan skor 10-3. Kekalahan di final ditebus di musim berikutnya dengan berhasil merebut kembali gelar scudetto dari Inter. Semangat dan amarah atas ketidakadilan ini terus mereka bawa hingga merebut gelar scudetto tiga kali berturut-turut dalam kurun waktu 1910-1913. Setelah meraih lima gelar, Pro Vercelli harus menunggu sampai 1920-1921 untuk memenangkannya kembali di musim 1920/1921. Di musim 1921-1922, setelah perselisihan mengenai struktur kompetisi liga Italia, FIGC terbelah. Semua tim utama membentuk Konfederasi Independen Football Italia (CCI). Pro Vercelli bergabung dengan liga CCI dan Pro Vercelli memenangkan gelar ketujuh dengan sang kapten, Ara, telah beralih menjadi pelatih. Setelah itu, Pro Vercelli diundang untuk memainkan pertandingan persahabatan melawan Liverpool yang ketika itu menyandang juara Liga Inggris. Pada semua pertandingan persahabatan yang dilakoni Liverpool, mereka sukses melumat semua lawan. Dan untuk melawan Pro Vercelli, Liverpool hanya mampu meraih hasil imbang. "Mereka belum pernah mengalahkan kami hari ini," kata Ara, "dan mereka tidak akan pernah mencapainya." Kehancuran Datang Seiring Perubahan Dengan keuangan yang teramat minim, Pro Vercelli harus rela tersisih dari kasta tertinggi akibat perubahan sistem baru di Liga Italia yang mulai beralih menjadi profesional. Vercelli tidak mampu bersaing dengan klub-klub kaya yang berasal dari kota-kota besar. Ketidaksanggupan mereka untuk bersaing juga disebabkan kepergian Ara. Ia pergi di tahun 1926 untuk melatih Como meski sempat kembali di tahun 1932 hingga 1934. Setelah Ara kembali meninggalkan Pro Vercelli untuk selamanya, The Leonis pun akhirnya harus terdegradasi ke Serie B. Musim 1947/1949 pun menjadi periode panjang untuk Leonis. Mereka harus terdegradasi dari Serie B, dan bahkan selanjutnya harus terus merosot ke Liga Amatir akibat dilanda kebangkrutan. Terlalu lama nama Pro Vercelli tenggelam di kasta bawah membuat mereka terlupakan sebagai kesebelasan yang dulu pernah menguasai sepakbola Italia selama 14 tahun. Kini sebagian orang hanya mampu mengenal Juventus sebagai penguasa Italia dan AC Milan sebagai wakil Italia yang menjadi tim tersukses di kompetisi Eropa. Namun, dahulu kala, pernah muncul nama klub Pro Vercelli sebagai penguasa pertama. *Tulisan saya ini sudah tayang di detiksport.com pada 20 Februari 2015
Saat kau selalu berada di bawah sinar yang terang, kau tidak bisa melihat bintang. Kau lupa segala hal. Kau lupa bahwa ada yang menaruh bintang di sana. Dan dia mencintaimu sampai rela mati demi dirimu. Itulah jenis cinta yang membuat hidup layak dijalani. Aku punya cinta itu. I won't give you up. I won't let you down.
Selamat datang kenyataan
Perayaan gol kontroversi ala Maresca. #DerbyDellaMole #Juventus #Torino #EnzoMaresca #2001/2002
Space one
Hai Luke! Masihkah kau tertawa terpingkal-pingkal saat aku mengucapkan kata-kata manis?" Setidaknya itu yang biasa aku ingat jika mengingatmu. Kamu selalu tertawa saat potongan kata-kata manis dari mulutku tersusun manis menjadi kalimat untuk merayumu. Kau katakan aku tak berbakat merayu.
Yes, im okey
Sudah lama aku tidak membaca dan menulis. Membuat kebodohan leluasa menghampiri.
Seorang Interisti Yang Mengenalkan Aku Dengan Sepakbola dan Juventus
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.
Usiaku menjelang delapan tahun saat aku pertama kali mengenal sepakbola. Minggu malam duduk disebuah bangku berbentuk persegi yang terbuat dari pelastik dan terdapat gambar-gambar kartun di bangku tersebut. Ya, bangku yang layaknya dibelikan olah orang tua untuk memanjakan anak kecil seusiaku. Dengan bangku tersebut aku menikmati pertandingan Juventus vs Inter Milan bersama kakak tertuaku yang usianya terpaut tiga tahun dari aku.
Saat itu pertama kalinya aku menonton sepakbola. Aku terus memfokuskan pandangan ke arah TV 21’ inci. Setiap kali kakak bercerita tentang pemain-pemain kedua tim yang sedang bertanding aku hanya mendengarkan saja. Sebab aku belum pernah mendengar nama-nama yang disebutkan.
Setelah bercerita panjang lebar aku bertanya kepada kakak. “jagoan kamu siapa, kak?” dengan cepat kakak-ku menjawab “Inter Milan.” Dan itu berarti aku harus lebih fokus memperhatikan Juventus bermain. Kenapa aku harus memperhatikan Juventus? Alasannya sederhana. Aku sejak lama tidak pernah mau memiliki kesukaan yang sama dengan kakak. Bahkan tidak jarang kami berdua berkelahi jika aku dan kakak menyukai barang yang sama. Maka dari itulah aku ingin melihat Juventus menang saat malam itu.
Entah pertandingan sudah berjalan berapa menit. Tiba-tiba kakak mengatakan jika Inter memiliki pemain dunia yang hebat bernama Ronaldo. Setelah aku perhatikan ternyata nama yang disebutkan kakak itu adalah pemain botak yang sejak tadi sering dilanggar. Tapi aku hanya menyikapi masa bodo dengan Ronaldo. Aku lebih tertarik dengan pemain di Juventus yang berbadan gempal dan gelap serta memiliki rambut gimbal.
“kakak itu siapa, ya?” Tanya aku kepada kakak. “yang mukanya serem itu, dek?” “iya” “ohh itu namanya Edgar David. Dia pemain bagus.”
Aku tidak dapat mengingat dengan baik pada menit keberapa tepatnya gol Juventus datang. Yang aku ingat saat itu pertandingan masih babak pertama. Pemain berambut gondrong dan ikal sukses merubah skor menjadi 1-0. Di layar televisi tertulis nama Del Piero. Pemain itu sukses membobol gawang Inter Milan yang saat itu masih dikawal oleh Pagliuca. Del Piero masuk ke dalam kotak pinalti Inter dan sukses menempatkan bola ke arah kiri Pagliuca. Gol Del Piero itu adalah satu-satunya gol dipertandingan tersebut. Aku pun dapat tersenyum lebar dan meledek kakak sampai ia kesal.
Dan pasca pertandingan itu aku jatuh hati pada sepakbola dan Juventus. apalagi tidak lama setelah musim kompetisi tersebut selesai, perhelatan Piala Dunia pun datang. Piala Dunia di Prancis menambah antusiasku untuk menonton sepakbola.
Aku perlahan-lahan mencoba membentuk identitas diri sebagai Juventini dengan dua komponen penting, yaitu eksplorasi dan komitmen. Dua komponen ini sangat penting sebagaimana yang disebutkan oleh Littlejohn dalam buku Teori Komunikasi Theories of Human Communication.
Dalam tahap eksplorasi ini, kakak yang seorang interisti menjadi orang yang sukses mengenalkanku dengan sepakbola dan Piala Dunia 1998 di Prancis mendorong aku untuk lebih mengenal sepakbola. Yang kemudian aku tidak pernah bosan mencari tahu tentang Juventus dan sepakbola.
Dan ditahap komitmen aku telah membuat keputusan yang mantap menjadi Juventini. Dengan cara pertama yang aku lakukan adalah bukan dengan membeli kaos Juventus, melainkan mengkliping seluruh gambar-gambar di koran yang ada pemain-pemain Juventus. kebiasaan mengkliping hal tersebut aku lakukan sampai kelas 2 SMP.
#memorabilia #juventus