Bahkan untuk sekedar berharap saja tidak berani. Ujung-ujungnya hanya bisa do'a, nangis, nguatin diri sendiri, berusaha biasa aja di setiap momen. Semangaaattt, Zakia. InsyaaAllah dikuatkan, dilapangkan, dan pasti ada titiknya.
trying on a metaphor

tannertan36
Sweet Seals For You, Always

No title available

JVL
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Show & Tell
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
will byers stan first human second

No title available
Cosmic Funnies
Not today Justin
todays bird
RMH
ojovivo

Love Begins
wallacepolsom
YOU ARE THE REASON

titsay
TVSTRANGERTHINGS

seen from Italy
seen from Poland
seen from United States
seen from United States

seen from Greece
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Russia

seen from Germany
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from Italy

seen from Germany
seen from Chile

seen from Germany
seen from United States
@ratnaazzakia
Bahkan untuk sekedar berharap saja tidak berani. Ujung-ujungnya hanya bisa do'a, nangis, nguatin diri sendiri, berusaha biasa aja di setiap momen. Semangaaattt, Zakia. InsyaaAllah dikuatkan, dilapangkan, dan pasti ada titiknya.
Dear, September.
Aku kehilangan kepercayaan diriku yang teramat. Semoga September bisa segera mengembalikannya.
Seandainya, seandainya waktu itu aku diberikan pilihan, apakah jabatan atau persaudaraan, tentu akan kupilih persaudaraan.
Seandainya, saat ini aku bisa menukar jabatan yang sedang aku genggam dengan persaudaraan, InsyaaAllah dengan sangat lapang hati akan aku lakukan.
#tears
Sampai saat ini, aku masih berharap ini hanya prank. Tapi kalau diingat-ingat, kita tidak sedang bermain peran a la youtuber demi kepentingan konten, subscriber, popularitas dan lain sebagainya. Aku juga tidak sedang berulang tahun, sehingga diberikan kejutan berupa prank. Bukan pula pencapaian spesial lainnya.
Segala perlakuan dan kondisi yang kudapatkan selama dua pekan ini menunjukkan bahwa ini adalah kenyataan, harus dihadapi. Mencoba memandang dari sudut yang berbeda, tapi tetap saja, yang kudapatkan adalah yang sama. Terkadang ya wajar, sebuah hubungan pernikahan yang sangat harmonis atau persaudaraan yang begitu manis saja bisa bubar, apalagi dalam kasusku, hanya hubungan profesional. Sungguh, belum pernah sama sekali membayangkan di posisi ini, menghadapi hal serumit ini. Iya, aku sangat sangat tahu, salahku pasti banyak. Pasti banyak. Kupastikan banyak. Tapi, masih menerka-nerka ini salahku yang mana yang mengantarkan pada kondisi penuh amarah dalam diri orang lain?
Pada akhirnya, hanya bisa memohon dengan kehendak-Nya, dengan kekuatan-Nya hubungan antar manusia ini bisa membaik. Sebagai pelajaran, kedepannya harus berhati-hati menaruh kepercayaan lebih, berharap lebih terhadap manusia.
Jika ini salah satu wasilah bergugurnya sedikit diantar dosa-dosa saya yang banyak itu, saya ikhlas ya Allah.
Dengan semua yang terjadi saat ini, saya yakin Allah menunjukkan jalan yang terbaik, menghindarkan dari kemudharatan yang lebih besar ke depannya. Alhamdulillaah 'ala kulli hal. Kuatkan yaa Allah, sabarkan ya Allah, mudahkan yaa Allah. Aamiin 🙏
"Kenapa orang lain berhak untuk datang dan pergi, sedang aku harus tetap tinggal? Harus beradaptasi ekstra dengan perubahan-perubahan yang datang?"
Ya, itulah. Kita ini milik Allah, jabatan/posisi kita milik Allah. Allah percaya kita kuat sehingga diamanahkan untuk datang, pergi, bahkan untuk tetap tinggal. Kita ini milik Allah, begitu juga posisi/jabatan kita.
Bukan berarti hanya yang tetap tinggal yang harus menjalan adaptasi yang super, tapi bagi yang datang juga yang pergi pasti mengalami adaptasi bahkan mungkin super duper ekstra.
Doakan... Doakan... Doakan bagi yang datang dan pergi semoga betah, amanah dan semakin luas kebermanfaatannya untuk umat. Begitu juga dirimu yang tetap tinggal. Doakan dirimu semoga kuat, amanah dan semakin luas manfaatnya untuk umat. Kamu hebat, kamu kuat. Allah yang akan bantu semua.
Yaa Allah, tetapkan kami dalam prasangka baik akan takdir terbaik dari-Mu. Kuatkan kami dalam menjalani amanah. Bantu kami untuk terus meluaskan syukur pada nikmat-Mu. Aamiin
S E D I H
Waktu baca email ini sedih banget. Tapi ya proses ini sudah berjalan, tinggal diterima, diikhlaskan, dijalani dan doakan yang terbaik untuk semua, termasuk untuk diri sendiri. Semoga kuat menjalani amanah tanpa orang yang sudah membersamai dan membimbing dalam waktu yang cukup lama.
Lagi dan lagi, belajar untuk tidak bergantung pada manusia. Ujian hari ini tidak sama dengan hari kemarin, apalagi ujian menuju dewasa. Semangat, Zaki.
Akhir-akhir ini memang menyadari betapa tidak baiknya sikapku, InsyaaAllah ini sementara ya. Hanya sebatas menyampaikan ekspresi betapa beratnya kondisi ini. Sebagai ladang belajar ya InsyaaAllah. Ayo kumpulkan lagi semangatnya seperti yang biasa atau bahkan lebih luar biasa.
Semangat, Zaki, semangat!
"Di tahun ini, semoga semakin berkurang lalainya dan semoga bisa menjalani Ramadhan di rumah bersama keluarga"
Aamiin
#Tahun2022ku
My Soul-Sister
Dia, salah seorang yang menerimaku sebagai anak Condet. Dia, teladan banget di segala hal. Dia, wanita taat yang lembut.
Mohon doanya untuk sisterku ini yang sedang sakit. Semoga Allah angkat penyakitnya, Allah segera pulihkan ia, sakit yang dirasa sebagai penggugur dosanya. Qonitah, syafakillah sister.
#sister
T E R H A R U
Pernah ga si mikir, "sebenarnya agenda yang aku jalanin ini bermanfaat ga si?". Jujur, aku sering banget mempertanyakan kebermanfaatan dari setiap apa yang jujalanin, yang kuinisiasi, yang kuagendakan, apalagi ketika agenda tersebut melibatkan banyak orang. Walaupun konteks agendanya base on pekerjaan di kantor atau sekadar perintah atasan. Aku agak berat aja kalau asal ngejalanin, asal memenuhi kewajiban pekerjaan, asal tugas selesai, tanpa ada kebermanfaatan di dalamnya. Jujur, berat banget. Mungkin menurut ku acaranya sangat bermanfaat, tapi bagi orang lain, mungkin enggak, apalagi kalau orang-orang hadir di acara juga hanya karena niat memenuhi kewajiban.
Ingin cerita jadinya. Hehe.
Di kantor aku punya KPI menjalankan beberapa program yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas SDM di Direktoratku. Nah, ada sebuah agenda yang dicetus di tahun 2020, namanya Kelas Akselerasi. Di tahu 2020, agenda ini rutin dijalankan, hingga sampai pada titik, aku mentok ide untuk tema kelas akselerasi ini, have no ide lagi buat lanjutin agenda ini. Di tengah-tengah krisis ide yang kuhadapi, pertanyaan-pertanya tentang kebermanfaatan acara ini semakin tidak terbendung memenuhi pikiran. Haha. "Sebenarnya agenda ini bermanfaat ga si? Para peserta serius ga si dengan acara ini? Butuh ga si mereka?" Dan berbagai pertanyaan lainnya. Untuk menghalau semua pikiran-pikiran negatif ini, aku coba melibatkan semua peserta dengan membuat survei sederhana tentang kelas akselerasi ini. Bagaiman menurt mereka kelas akselerasi ini, bermanfaat atau tidak. Apa usul tema selanjutnya. Siapa pengisi acara selanjutnya. Apa masukan untuk acara ini, dll. Tapi, ternyata yang respon hanya sedikit, bener2 sedikit. Aku makin galau, makin ga bersemangat, makin... Aaaahhh. Akhirnya, di tahun 2021, hanya mengadakan kelas ini sekali di bulan Februari.
Daaaaan, malam ini, tiba-tiba ada seorang peserta yang chat wa, mempertanyakan tentang Kelas Akselerasi kapan lagi diadakan. Huaaaaa, terharuuuuuu. Serasa semangat yang hilang kembali datang. Ga nyangka ada yang mempertanyakan Kelas Akselerasi.
Mungkin, sesekali kita hanya butuh diapresiasi, sedikit saja, dengan hal sederhana, sekadar ditanyakan keberadaan apa yang telah kita perjuangkan. S e d e r h a n a.
Teruntuk Mba Nidi, rekan pendayagunaan di cabang Sumatra Barat. Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih. Pertanyaan Mba Nidi buat saya semangat lagi untuk memikirkan lagi acara Kelas Akselerasi. Entah kapan Mba Nidi baca ini, mungkin juga Mba Nidi tidak akan pernah membaca ungkapan spesial ini. Tidak mengapa, aku sudah menyampaikannya langsung. Terima kasih ya Mba Nidi. ❣️
Tulisan: Hargailah Ia yang Tiba-Tiba Datang dan Mengetuk Pintu
Jika nanti ada yang tiba-tiba datang padamu, mengungkapkan niat dan caranya yang baik dalam menjemput, maka berikanlah ia waktu untuk menyampaikan maksudnya sampai selesai. Jangan pernah kamu potong ditengah ucapannya dan jangan pula kamu buru-buru memutus harapannya, biarkan ia menyampaikan dulu apa yang ia dan hatinya selama ini percayai.
Tidak semua orang mempunyai keberanian sebesar dia, tidak semua orang pula memiliki tekad dan niat baik yang langsung ingin ia realisasikan. Mungkin kamu tidak terlalu mengenal kebaikannya, atau mungkin kamu tidak pernah mengenal namanya, maka hargailah setiap yang datang dengan niat yang baik meski sebenarnya kamu telah mengikat hati dengan yang lainnya.
Tahukah kamu, bahwa ada banyak gemuruh dan keraguan yang harus ia kalahkan sebelum beranjak pergi menemuimu, ia sudah siap dengan jawaban iya atau tidak, iya sudah siap dengan penerimaan dan penolakan, sebab baginya dunia ini pasti berisi hal tadi yang tidak mungkin manusia menghindarinya. Hatinya sudah lebih dulu siap dan kuat daripada jawaban yang akan kamu berikan padanya.
Tidak banyak orang sepertinya, yang lebih memilih menghindari keburukan dan hubungan yang tidak ada kejelasan. Tidak pula pada ikatan perjanjian dimana hatimu akan diikatnya, sebab baginya untuk apa mengikat yang seharusnya bebas, untuk apa memetik yang sebenarnya belum waktunya.
Semoga Allah berikan kemudahan dan keberkahan, untuk setiap manusia yang lebih mengutamakan keberkahan dan kebaikan, untuk manusia yang lebih memilih menanti waktu yang dijanjikan dengan ketaatan daripada merusak batasan yang sudah Allah tetapkan.
Selamat menjaga dan terjaga :)
@jndmmsyhd
Manis Rasanya
Rencana Azza: duhh, ndak punya ide buka puasa dengan lauk apa.
(Sambil rapat mikir, maghrib nanti buka puasa pakai apa)
Rencana Azza: haaa, yasudahlah, nasi dan bikin telur ceplok andalan ajalah.
Rencana dan kehendak Allah: nanti maghrib, Azza buka puasa dilengkapi dengan lauk pauk, nasi, sayur, buah, dan brownies hangat.
(Menjelang Maghrib)
*twiiiing
Tetangga: Mba shoum?
Aku: InsyaaAllah
Tetangga: Mb masak gak? Aku masak rada banyak nih
Aku: kayaknya mau buat telur ceplok aja Mba
Tetangga: yaudah nanti aku tambahin sayur yaaa
Aku: huhu, makasi Mbaa (terharu aku tuh)
Setelah tetangga nganterin sayur dan lauk pauk, persis beberapa menit setelah adzan, tetangga ketuk pintu lagi, lalu menyodorkon brownies hangat. MasyaaAllah makin terharu. Alhamdulillaah wasyukurillah, yaa Allah ya Ghaniy, ya Rahman, ya Rahim, Allahu Akbar.
Sebuah definisi bahwa rencana manusia ya hanya segitu, sedang rencana Allah dan kehendak-Nya jauh jauh lebih indah. Kita manusia tidak bisa menjangkaunya, tapi tetap usaha yang terbaik ya, Allah kabulkan yang jauh lebih baik.
Sebuah usaha pembuktian, apakah rintik yang terlihat sama dengan rintik yang dirasakan. Supaya apa? Supaya bisa bergegas atau bersabar sebentar lagi, menunggu reda
Jakarta, yang masih sering diguyur hujan. Alhamdulillaah
Doa Yang Baru
.......
Ibu: memangnya tidak bisa yang lain?
Anak: tidak tahu, tidak punya inspirasi
Ibu: ya sudah perjuangkan.
Anak: sulit, Bu. Sejak dulu, bagiku dia langit, dan tetap menjadi langit. Susah dijangkaunya
Ibu: kenapa tidak mencoba mengatakan secara langsung? Mungkin juga sama memendamnya
Anak: tidak bisa, Bu. Kata Bapak, perempuan itu harusnya menunggu, tidak boleh mendahului
Ibu: bukannya diperbolehkan, bukannya tidak ada larangan?
Anak: iya, tapi kita diberikan pilihan, apakah menjadi Fatimah atau Khadijah. Aku memilih jadi Fatimah saja
Ibu: yasudah, pulang. Ciptakan harapan-harapan baru, lantunkan doa-doa yang baru
Anak: ...
Secuil perasaan yang ingin diungkapkan, tapi dengan case yang berbeda. Sengaja dengan case seperti ini, biar makin terlihat complicated. Wkwk
(Nunjukin sesuatu)
Bapak: hebat sekali anakku....
Mamak: masih kurang, tidak pernah ini ya? tidak pernah itu ya?
Bapak: sudahlah, jangan dimasukin ke hati
Aku: selowwwww, aku mah selowwww :D
Setelah menonton narasi tv pagi tadi (tema: KPK Riwayatmu Kini), rasanya menyesal dulu ga memaksimalkan diri, nyesal ga rajin, nyesal ga berjuang jadi orang pintar. Padahal ya, nasib bangsa ada di tangan penerusnya. Kalau penerusnya ga pintar? Ya gimana.
Harusnya, masih ada waktu untuk belajar.
Kau telah berjuang
Menaklukan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu membasuh lelahmu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa....
(Melukis Senja, Budi Doremi)
Mams, Baps...
Semoga kuat, semoga lapang dalam menerima ujian ini. InsyaaAllah, setelah ini Allah akan kasi kebahagiaan, Allah akan tunjukkan hikmah yang tak pernah terlintas oleh kita. Mams, Baps... Kita kuat karena Allah yang akan memberikan kekuatan.