Agenda setiap jam 8 malam, tanpa perlu 2 nada dering telfonku sudah diangkat. Sepertinya memang mamah sudah menunggu disana untuk berbagi kabar denganku. Menelfon mamah sudah rutin kulakukan sejak aku dipindah tugaskan ke Bandung. Bahkan ku tambahkan di Google Calendar ku supaya tidak terlewat.
“Mamah ga mau ikut aku aja ke Bandung? Nanti aku cari kontrakan yang lebih besar disini.” kataku membujuk.
Sebulan terakhir ini aku selalu membujuk mamah untuk mau tinggal denganku di Bandung. Membayangkan, mamah seorang diri di Jakarta karena ketiga anaknya bertugas di luar kota, sungguh membuatku tidak tenang.
“Engga usah na, mamah gapapa ko disini.”
“Aku kepikiran ma, masa mamah sendirian. Ga tenang aku ma, ikut aku ya ma, biar aku tenang.” kataku membujuk lagi.
“Gapapa na, mamah disini gapapa. Kan juga lagi rutin ikut pengajian komplek jadi banyak teman mamah.” katanya dengan sedikit tertawa.
“Sedih tau ma, mamah sendirian gitu.” masih merajuk.
“Yaampun na, kamu tau ga Ibu Rudy yang anaknya 9, beliau juga sendirian, kan Nunung bungsunya minggu lalu nikah langsung dibawa suaminya ke Pekalongan. Jadi kamu tenang aja, ga cuma mamah yang gini.” ucap mamah menenangkan.
—
Teringat moment interview 2 tahun lalu,
‘Apakah anda siap di tempatkan dimana saja?’
Waktu itu ku jawab siap, ternyata aku tidak siap jauh dari mamah.
Semoga aku cepat mutasi ke Jabodetabek, mamah sehat terus yah panjang umur. Aamiin ..
#5CC #CCday3

















