Sometimes..
but sometimes..

#extradirty
Monterey Bay Aquarium

Kiana Khansmith
🪼
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always
TVSTRANGERTHINGS
styofa doing anything
todays bird
YOU ARE THE REASON
he wasn't even looking at me and he found me

if i look back, i am lost

pixel skylines
KIROKAZE

shark vs the universe
Peter Solarz
taylor price
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
art blog(derogatory)
Claire Keane
seen from United States
seen from Brazil
seen from Sweden

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from China
seen from Canada
seen from Vietnam
seen from Vietnam
seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@rayudhyasakti
Sometimes..
but sometimes..
Why do I love him more and even more..
still the prettiest, still unreachable
Sometimes the crowd is just too overwhelming..
Bali and all about you..
Aku juga pengen dapet ucapan “hi, selamat pagi” duluan.
Apakah kamu pernah mengalami pelecehan seksual?
Aku pernah.
Tahun 2017, aku dinyatakan lulus di salah satu perusahaan garment di Semarang— hasil dari mengikuti jobfair di kampus hanya berbekal SKL karena saat itu belum wisuda. Dari sekian peserta, hanya dua orang yang dinyatakan lulus, aku dan temanku dari Klaten. Kami sempat bertukar kontak ketika wawancara user. Aku tau karena dia yang menghubungiku melalui sms sesaat setelah kami memperoleh sms dari HRD yang menyatakan kami lulus, lengkap dengan informasi kapan kami bisa mulai bekerja.
Aku galau, karena tidak tahu harus tinggal dimana sementara waktu yang tersedia sangat mepet untuk sekedar mencari kos. Aku punya saudara di Semarang, tapi jaraknya sangat jauh dari pabrik. Di tengah kegamangan tersebut, temanku menawarkan untuk tinggal sama dia sementara waktu di rumah kakaknya di Demak. “Nanti berangkat pake motor kakakku, pulang kerja kita bisa cari kos sekitar pabrik,” katanya. Aku setuju. Lalu kita janjian untuk ketemu di rumah kakaknya. Aku diberi tahu rute mana saja dan bis apa saja yang harus aku ambil.
Mula-mula aku naik bis dari Wonogiri ke Solo selama kurang lebih 2 jam. Dari Solo aku naik bis ke Semarang selama 3 jam. Dari terminal Semarang aku diarahkan naik mini bis ke terminal Demak sekitar 30 menit. Dari terminal Demak aku naik mini bis lagi sekitar kurang lebih 15 menit. Aku diminta turun di perempatan. Nanti dijemput temanku karena dia sudah sampai duluan di rumah kakaknya.
Setelah beberapa lama menunggu di depan warung sayur, seorang wanita datang menggunakan motor Vario. Dia menyapaku “temannya X ya? Aku kakaknya.” Aku langsung mengiyakan dan menjabat tangannya. “Ayo naik, X lagi sama anakku.” Aku membonceng motornya dengan membawa koper di pangkuanku.
Rumahnya tidak terlalu besar, cenderung kecil namun masih baru. Tipikal rumah di perumahan yang cocok untuk pasutri baru. Di dalam rumah, temanku dan keponakannya menyambutku. Kami ngobrol sebentar, lantas mereka berpamitan mau pergi keluar. “Nggak lama kok, bentar ya.” Aku mengiyakan. Aku ditinggal sendirian.
Perutku berbunyi, lalu kusadari aku belum makan nasi dari pagi. Aku lapar, tapi tidak tau mau kemana dan beli apa. Perumahan itu cukup jauh dari jalan besar. Tidak banyak toko di sekitarnya. Temanku juga tidak kunjung kembali. Sementara kantuk mulai melanda, namun aku tidak enak jika aku ketiduran ketika temanku pulang. Kutahan sekuat tenaga.
Sekitar 2 jam berlalu, temanku pulang juga. Kakak temanku menggoreng roti canai. Belakangan aku tahu kalau suaminya orang Srilanka. Manajer di pabrik tempat dulu dia bekerja. Temanku bercerita sembari kami makan, lalu kami mandi bergantian.
Selepas isya, aku dan temanku tidur di ruang tamu. Kamar di rumahnya hanya satu. Ada kasur lantai yang digelar di depan TV, aku dan temanku tidur di situ. Saking lelahnya, kami tertidur pulas.
Aku terjaga karena mendengar suara orang berdebat. Sepertinya suami kakak temanku ini pulang. Mereka berbicara pakai bahasa Inggris. Aku tidak mendengar apa yang dia katakan, tapi aku menangkap kakak temanku membela diriku “She even wash her dish by herself. She just stay here for some days. It’s ok.” Mereka berbisik-bisik. Lalu aku tidak mendengar apa-apa lagi karena aku langsung terlelap kembali.
Rasanya belum lama aku tidur, aku mendengar nafas berat seseorang. Kedengarannya dekat sekali. Tapi aku enggan membuka mata. Lalu aku merasa seperti ada yang menggoyang-goyang kakiku. Aku masih merasa setengah mimpi. Tapi rasanya semakin nyata ketika aku merasa ada yang merentangkan pahaku. Ada bayang-bayang seseorang di depan sana. Tapi mataku terasa sangat berat.
Ada yang mengelus pahaku, aku mulai risih. Antara setengah sadar, mataku membuka sedikit. Deg. Hatiku mencelos. Ada yang jongkok di depanku dengan hanya memakai handuk di bagian bawah tubuhnya. Aku tidak melihat jelas, tapi tubuhnya besar dan hitam. Dia mulai menggesek-gesek kemaluanku dari luar dengan tangannya. Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Aku ingin menangis tapi aku takut. Aku tidak bisa bergerak. Dia menggesek semakin kencang menggunakan bagian luar celana panjangku. Aku ingin teriak, tapi aku takut. Lalu aku pura-pura menggeliat dan berubah posisi miring. Aku mengintip dari ujung mataku dia berdiri dan meninggalkanku. Masuk kamarnya.
Aku menangis diam-diam, takut tidak terkira, tidak tau mau apa dan bagaimana—dan terjaga sampai azan subuh berkumandang. Keesokan harinya, aku mengemasi semua barang-barangku. Berbohong ke kakak temanku kalau aku akan tinggal di rumah pakdheku. Padahal aku tidak punya rencana apa-apa. Entah bagaimana nanti, aku tidak mau tinggal disini. Hari itu, aku pertama kali merasakan trauma yang luar biasa.
Aku tidak pernah menceritakan hal ini ke siapapun. Bahkan ke temanku sendiri. Ketika kakak iparnya membantu dia pindahan, aku sembunyi di dalam kamar kosku dan mengunci pintu. Mendengarkan suaranya dari dalam kamar saja membuatku gemetar.
Sampai detik ini, aku dan temanku masih berteman baik. Masih sering bertukar kabar. Tapi jantungku masih suka berhenti berdetak sekejap ketika dia bercerita tentang kakak atau kakak iparnya. Rasanya memori itu otomatis terputar di kepala. Hingga kini aku masih merinding jika mengingatnya.
Waktu aku SD, teman-temanku berasal dari kampung sekitar. Jarak rumahnya mungkin hanya 1 - 2 kilo saja ditempuh dengan jalan kaki. Kalau guru memberi tugas bersama, kami senang sekali karena artinya itu kesempatan buat main-main.
Suatu waktu—waktu itu aku kelas 3 atau 4, bu guru memberi PR untuk dikerjakan bersama. Ada salah satu temanku yang mengusulkan agar ke rumahnya saja. Katanya “Nanti aku ajak ke rumah mbahku, ya. Ada orang aneh.” Kami setuju tanpa bertanya lebih jauh.
Sesuai kesepakatan, kami mengerjakan tugas di rumahnya. Setelah tugas selesai, dia mengajak kami—yang kebetulan peremuan semua— ke rumah mbahnya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Jaman dulu, tidak banyak orang yang punya sumur. Mbah temanku punya sumur dan tetangga sekitar suka menumpang mandi di sana.
Jam 12 siang, azan zuhur berkumandang. Temanku bilang “Biasanya dia datang jam segini buat mandi.” Kami masih tidak mengerti. Lantas temanku mengajak kami ke dapur rumah mbahnya. Di dapur, ada pintu yang terhubung dengan halaman belakang rumah. Sumurnya terletak di area belakang rumah. Sayup-sayup terdengar suara orang sedang menimba air dari sumur. Ketika mulai terdengar suara gebyur-gebyur orang mandi, temanku memberi isyarat untuk mengikutinya mengintip dari celah pintu yang tertutup.
“Lah, kita ngintip orang mandi?” tanyaku bingung. “Sssst, nanti kamu juga tau,” ucapnya berbisik.
Dari celah pintu terlihat kamar mandi sederhana yang tertutup gorden yang mulai usang. Beberapa bagian tampak bolong kecil-kecil. Tidak ada yang aneh, hanya tampak seorang laki-laki dewasa jongkok di depan bak mandi sambil menyabuni badannya. Kami pun masih tidak mengerti mengapa kami mengintip orang mandi.
Lama-lama, orang tadi mulai menggeser tubuhnya— mengarah ke gorden yang bolong-bolong tadi. Dari celah pintu, kami dapat melihat dia mulai menggosok-gosok batang kemaluannya. Seolah-olah dia sengaja menunjukkannya pada kami. Makin lama makin cepat, dia juga mengeluarkan suara melenguh setengah mendesah— hingga keluar cairan putih dari kemaluannya yang muncrat hingga ke gorden kamar mandi.
Kami pun kaget. Lalu kami berlari menjauhi pintu dan bertanya-tanya itu tadi apa. Temanku bilang “aneh kan?” Kami mengangguk-angguk. Ketika kami mengintip lagi, orang tadi sudah melilit tubuh bagian bawahnya dengan handuk dan menimba air untuk mengisi ember yang dia bawa— tanpa menghiraukan kami di balik pintu. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Waktu itu, aku cuma berpikir ternyata tidak hanya wanita yang bisa mengeluarkan air susu, laki-laki juga bisa.
Setelah beranjak remaja, aku baru menyadari kalau aku baru saja menyaksikan orang onani.
Aku melihatmu di antara lalu lalang orang-orang yang berlari menuju dan keluar kereta.
Aku mendengar suaramu di antara deru kendaraan dan klakson yang memecah jalanan kota.
Aku mendengar tawamu di antara riuh tepuk tangan dan sorak bahagia yang menggema.
Aku melihat senyummu di antara lambaian dedaunan yang dibelai lembut angin senja.
Aku mendengar bisikanmu di antara gemericik air sungai yang mengalir di bawah jembatan tua.
Aku menemukanmu di mana-mana.
Apakah ini halusinasi semata?
Ataukah aku sedang dilanda rindu tanpa jeda?
Once I admired a star in the sky. Shining so bright. Looks so beautiful. Unreachable. Untouchable.
One day, the star slides down in front of me. The light is very dazzling. Shines so bright, yet so intimidating. But still beautiful, pretty as it is. The light shines on me, makes me happy. Not once in my life I ever dream to have the star this close. I admire it so much. I like it a lot.
Still, the star is not mine. It can’t be mine. And I will keep admiring as I used to be.
I called the star as “a man in a blue denim jacket”.
His eyebrows. His beautiful eyes. His nose. His lips. His sweet smile. His warm laugh.
I miss him. I really do.
I miss hug him tight and hide my head into his wide chest. It feels so nice. Somehow I feel safe inside his big arms.
I miss him yesterday, today, and tomorrow.
Almost weekend, a quiet night, heavy rain, alone.
Loud outside, empty inside.
At least we’re still under the same moon..
This is not the first time.. but the ache is still the same every time you gone.
I wish I could hug you one more time.
I’m gonna miss you so much.
I wish I was special..
Kamar rahasia yang sering dikunjungi lama-lama terasa seperti rumah juga.