Jangan minta banyak sama Allah, cukup minta 4 hal saja. 1. Mintalah KENIKMATAN Hidup. 2. Mintalah REJEKI yang Berlimpah Barokah. 3. Mintalah KELUARGA Damai, Tentram dan Sejahtera. 4. Mintalah KEBERUNTUNGAN di Dunia dan Akhirat. "Mbah Moen"
Sade Olutola

pixel skylines
Cosimo Galluzzi
𓃗
d e v o n

izzy's playlists!
No title available
we're not kids anymore.
🪼

roma★
EXPECTATIONS

if i look back, i am lost
No title available
No title available
official daine visual archive

shark vs the universe

Product Placement
🩵 avery cochrane 🩵
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Switzerland

seen from Ireland
seen from France
seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Thailand
seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Switzerland

seen from Finland
seen from Argentina

seen from Germany
seen from South Africa

seen from United Kingdom
@razi-almathur
Jangan minta banyak sama Allah, cukup minta 4 hal saja. 1. Mintalah KENIKMATAN Hidup. 2. Mintalah REJEKI yang Berlimpah Barokah. 3. Mintalah KELUARGA Damai, Tentram dan Sejahtera. 4. Mintalah KEBERUNTUNGAN di Dunia dan Akhirat. "Mbah Moen"
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Picture source : mjeducation.com
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Jadilah seperti Nuwair binti Malik … yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
***
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.
***
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh,menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya,tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.
***
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”,
katanya memotivasi sang anak.“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan.
Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
***
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…
Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yangsama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka didunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
By Laksamana Yuda C
Fitrah Seksualitas
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
(Ustad Harry Santosa)
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10213353357258539
Keberkahan Harta
・・・ Seseorang datang kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya. . Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yg mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tdk paham apa maksud dari perintah itu. . Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran. . Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasihatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?. . Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yg ia miliki ketika tercampur dengannya. Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah syair: “ia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.. Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya”. . Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yg sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima. . Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak. . Semoga menjadi nasihat terutama buat diri saya dan kita semua. | via kabarmakkah.com
TENTANG WAKTU
Anis Matta Setiap kali ada pergantian tahun seperti sekarang, saya selalu membangunkan kembali kesadaran saya tentang waktu dan cara merasakannya. Cara setiap orang merasakan waktu berbeda karena "satuan waktu" yang mereka gunakan juga berbeda. Itu lahir dari falsafah hidup yang juga berbeda. Jika kita memaknai hidup sebagai pertanggungjawaban, maka waktu adalah masa kerja. Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Orang-orang beriman membagi waktu - seperti juga hidup – ke dalam waktu dunia dan waktu akhirat. Itu 2 sistem waktu yang sama sekali berbeda. Waktu dunia adalah waktu kerja. Waktu akhirat adalah waktu pertanggungjawaban dan pembalasan atas nilai waktu kerja di dunia. Waktu kerja di dunia mengharuskan kita memaknai setiap satuan waktu sebagai satuan kerja. 1 unit waktu harus sama dengan 1 unit amal. Persamaan itu, 1 unit waktu sama dengan 1 unit kerja, membuat hidup kita jadi padat sepadat-padatnya, nilai waktu terletak pd isinya, kerja! Tidak ada hal yang paling tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam hidup orang beriman selain waktu luang. Itu hidup yang tidak terencana. Waktu luang lahir dari pikiran dan jiwa yang kosong, yang tidak punya daftar pekerjaan yang harus dieksekusi. Hidup mereka longgar tak bernas. Mereka yang punya daftar pekerjaan utk dieksekusi menempatkan waktu sebagai sumber daya tak tergantikan. Karena itu tidak boleh lewat tanpa nilai. Efek waktu adalah akumulasi Menyadari waktu adalah menyadari efeknya dan efek terpenting dari waktu adalah efek akumulasi. Sesuatu tidak terjadi seketika tapi bertahap. Akumulasi dari tindakan yang sama yang kita lakukan secara berulang2 akan menjadi karakter pada skala individu. Akumulasi dari karakter individu selanjutnya menjadi budaya dalam skala masyarakat. Akumulasi itu terjadi dalam rentang waktu tertentu. Akumulasi budaya dari berbagai kelompok masyarakat dalam rentang waktu tertentu itulah yang berkembang menjadi peradaban. Karena efek akumulasi sebuah peradaban tidak bisa bangkit seketika atau runtuh seketika. Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya secara akumlatif. Masyarakat bangkit melalui akumulasi kontribusi. Produktivitas individu-individu di dalamnya berupa karakter dan ide yang membentuk budaya mereka. Begitu juga keruntuhan sebuah masyarakat, itu akumulasi karakter dan ide destruktif individu-individunya yang membentuk budaya keruntuhannya. Contoh lain adalah kesehatan. Kualitas kesehatan fisik dan mental kita di atas usia 40 tahun adalah akumulasi dari pola hidup sehari-hari kita. Sebagian besar penyakit yang kita alami di atas usia 40 tahun itu adalah akumulasi ketidakseimbangan pola hidup yang berlangsung lama. Begitu juga dengan struktur pengetahuan kita, itu adalah akumulasi ilmu yang kita peroleh sehari-hari melalui bacaan dan media belajar lain. Usia membuat orang lebih arif karena ia mengalami akumulasi pengetahuan. Tehnologi hari ini adalah akumulasi tehnologi kemarin. Karena itu Nabi Muhammad saw mengatakan "Jangan pernah meremehkan kebajikan sekecil apa pun itu". Itu karena sifat akumulasinya. Beliau juga mengatakan "Amal yang paling baik dan paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun hanya sedikit". Itu akumulasi. Kebajikan kecil-kecil yang kita lakukan secara terus-menerus menunjukkan perhatian dan konsistensi serta keterlibatan emosi yang dalam. Nilai-nilai emosi yang menyertai amal itu hanya bisa dilihat dalam rentang waktu. Karena itu, waktu jadi alat uji iman dan karakter yang efektif. Sisi negatif manusia juga akumulatif. Dosa yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi karakter dan selanjutnya memenuhi ruang hati manusia. Dosa yang telah jadi karakter tidak akan menyisakan ruang bagi dorongan kebajikan dalam diri seseorang. Allah akhirnya mengunci hatinya. Akumulasi dosa yang menjadi karakter menutup mata hati seseorang. Ada tabir yang menghalagi mata dan telinganya utk melihat kebenaran. Akumulasi itulah yang sebenarnya banyak menipu manusia pendosa karena terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh pelaku. Terlalu halus. Karena efek akumulasi itu, maka sifat-sifat terpuji yang paling banyak berhubungan dengan waktu adalah kesabaran dan ketekunan. Tidak ada prestasi besar yang bisa kita raih dalam hidup tanpa kesabaran dan ketekunan yang panjang, sebab semua perlu waktu yang lama. Kecerdasan yang tidak disertai kesabaran dan ketekunan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Itu ciri orang cerdas yang tidak produktif. Itu sebabnya mengapa di antara semua sifat yang paling terulang dalam Qur'an adalah sabar. Termasuk hubungan dengan waktu dalam surat Al 'Ashr. Kesabaran dan ketekunan adalah sifat utama yang melekat pada orang-orang besar, baik dalam dunia militer, bisnis, ekademik atau politik. Kesabaran dan ketekunan juga merupakan sifat dasar kepemimpinan, karena mereka harus memikul beban berat dalam jangka waktu yang lama. Kesabaran dan ketekunan adalah indikator kekuatan kepribadian seseorang. Artinya ia punya tekad yang takkan terkalahkan oleh rintangan. Efek akumulasi juga mengajarkan kita untuk berpikir secara sekuensial. Berurut mengikuti deret ukur waktu. Itu strategic thinking. Kemampuan berpikir sekuensial adalah bagian dari kemampuan berpikir strategis yang diajarkan oleh kesadaran akan waktu. Efeknya besar! Kemampuan berpikir sekuensial terutama diperlukan saat kita membaca sejarah dan berbagai fenomena sosial politik. Juga dalam perencanaan. Konsep Penggandaan Sebagai sumber daya waktu sangat terbatas, orang-orang produktif pasti selalu merasa bahwa waktu mereka terlalu sedikit dibanding rencana amal mereka. Umat Muhammad saw juga mempunyai umur masa kerja yang jauh lebih pendek dari umat-umat terdahulu, untuk sebuah hikmah Ilahiyah yang kita tidak tahu. Jadi harus ada cara mengatasi keterbatasan itu. Untuk itulah Islam memperkenalkan makna efesiensi melalui konsep penggandaan. Kita menggunakan waktu yang sama untuk sholat 5 waktu secara jamaah atau sendiri, tapi mendapatkan pahala yang berbeda. Waktu sama pahala beda. Waktu yang sama dengan pahala yang berbeda adalah inti dari konsep penggandaan. Ini menciptakan perbedaan mencolok dan mengatasi keterbatasan. Konsep penggandaan ini bisa mengubah persamaan dari sblmnya 1 unit waktu sama dengan 1 unit amal menjadi 1 unit waktu sama dengan beberapa unit amal. Ajaran tentang amal jariah, sedekah jariyah, ilmu yang diajarkan, anak sholeh yang terus mendoakan, juga penerapan lain dari konsep penggandaan. Konsep penggandaan bukan saja mengajarkan bagaimana mengatasi keterbatasan sumber daya tapi juga bagaimana memaksimalkan sumber daya yang terbatas itu. Konsep penggandaan bukan saja mengajar bagaimana mengatasi keterbatasan sumberdaya, tapi juga bagaimana melipatgandakan hasil dari sedikit sumber daya. Seseorang bisa hidup lebih lama dari umurnya dengan konsep penggandaan itu. Caranya dengan menciptakan amal yang dampaknya lebih lama dari umur kita. Seperti individu, masyarakat juga punya umur. Peradaban juga punya umur. Umur masyarakat ditentukan oleh akumulasi umur individu. Umur sosial menjadi panjang jika banyak individunya melakukan kerja-kerja penggandaan. Salah satunya adalah pewarisan ilmu pengetahuan. Umur peradaban juga begitu. Peradaban barat moderen dibangun pertama kali oleh spanyol dan portugis, lalu inggris dan prancis, lalu AS. Epicentrum sebuah peradaban berpindah dari 1 masyarakat ke yang lain, begitu umur sosial masyarakat itu habis. Walaupun secara fisik tetap ada. Seperti Barat, peradaban Islam juga dipikul banyak suku bangsa. Mulanya Arab, lalu Persia, lalu Afrika, lalu Turki, lalu Mongol dst. Akumulasi umur sosial dari suku bangsa itu menentukan panjang pendeknya umur peradaban. Makin banyak yang memikulnya makin panjang umurnya. (HM. Anis Matta)
Semua akan indah pada waktunya, tapi setiap waktu juga punya keindahannya, jangan lupa bersyukur dan berbahagia
“Self-help,” from Matt Haig’s Reasons To Stay Alive
time bender
Ya Tuhan, bagaimana jika kelak jodohku tidak lebih baik dariku? | Maka pahala bagimu, untuk mengajarinya agar menjadi lebih baik | Lantas, bagaimana jika kelak jodohku lebih baik dariku? | Maka pahala bagimu, untuk belajar lebih baik dari dirimu sebelumnya.
(via choqi-isyraqi)
SANTRI NAKAL
Dari kisah nyata... Suatu saat K.H. Ahmad Umar Abdul Manan (1916 – 1980), pengasuh Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan Solo, memanggil lurah pondok. “Aku minta dicatatkan nama-nama santri yang nakal ya! Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal dan terakhir agak nakal.” Lurah pondoknya girang bukan main. Karena sudah beragam cara diupayakan untuk mengingatkan santri-santri nakal itu. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka sudah beku hatinya. Dengan penuh semangat, dijalankanlah perintah Kiai Umar tersebut. Nama-nama santri itu ditulis besar-besar dengan spidol. Ternakal fulan bin fulan asal dari daerah A. Nakal sekali fulan bin fulan dari daerah B sampai santri yang agak nakal. Setelah catatan selesai dibuat, kemudian diserahkan kepada Kiai. Lurah pondok itu menanti seminggu, dua minggu, kok tidak ada tindakan apa-apa. Pikirnya dalam hati, “Kok santri-santri yang nakal masih tetap nakal ya. Kok tidak diusir atau dipanggil Kiai.” Akhirnya lurah pondok itu memberanikan diri matur kepada Kiai Umar. “Maaf Kiai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, ditakzir atau diusir?” “Lho, santri yang mana?” “Santri yang nakal-nakal. Kemarin panjenengan minta daftarnya.” “Siapa yang mau mengusir? Karena mereka nakal itu dipondokkan, biar tidak nakal. Kalau disini nakal terus diusir, ya tetap nakal terus. Dimasukkan ke pesantren itu biar tidak nakal.” “Kok anda memerintahkan mencatat santri-santri yang nakal itu?” “Begini, kamu kan tahu tiap malam aku setelah sholat tahajud kan mendoakan santri-santri. Catatan itu saya bawa, kalau saya berdoa mereka itu saya khususkan.” * * * * * Cerita ini pernah saya sampaikan di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ada Kiai muda mengundang saya untuk mengisi ceramah di acara khataman quran di pesantrennya. Ada puluhan ribu orang yang hadir. Dalam kesempatan itu saya ceritakan kisah di atas. Saya suka menceritakan kisah ini, karena apa yang dilakukan Kiai Umar sesuai dengan yang dipesankan ayah saya, bahwa mengajar harus lahir batin. Saat saya sampaikan cerita ini, para hadirin tertawa semua. Hanya satu orang yang tidak tertawa. Kiai muda itu terlihat menunduk diam. Pikir saya, “Apa Kiai ini tidak paham yg saya sampaikan atau bagaimana? Kok tidak ada ekspresi apa-apa saat dengar cerita saya.” Pada saat turun dari podium, saya dirangkul oleh kiai muda itu. Dia membisikkan sesuatu, “Masya Allah, alhamdulillah Gus, jenengan tidak menyebut nama. Sayalah daftar ternakalnya Kiai Umar... ” Kaget, heran dan kagum saya, dengan statusnya dulu sebagai santri ternakal, dia sekarang jadi kiai dengan ribuan santri. Kisah di atas disampaikan oleh KH. Musthofa Bisri dalam haul KH. Umar Abdul Manan di Pondok Pesantren Al Muayyad Solo. *Luar biasa. Kiai-kiai jaman dulu mendidik tidak hanya mengajar secara lisan saja. Tetapi juga dibarengi dengan laku tirakat (LoA) dan doa. Bahkan, saat santrinya sudah pulang ke rumahpun masih diperhatikan dan didoakan. Dikunjungi, dipantau dan ditanyakan perkembangannya. Itulah rahasia keberkahan ilmu para kyai, guru-guru sejati... Doa guru yang tulus dan ikhlas untuk santri
Jangan merasa kehilangan, karena (sebenarnya) kamu tidak pernah memiliki.
kurniawangunadi
Yang Banyak Tapi Tidak Membahayakan (Kisah Abdurrahman Bin Auf)
✒ Ustadz Budi Ashari, Lc Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhumengisahkan hari-hari awal Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu ketika di Madinah. Ketika itu Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaaan miskin, tidak membawa harta. Saat itu dia hendak dibantu oleh seorang sahabat yang telah dipersaudarakan dengan Rasul, yaitu Saad bin Robiah al-Anshori radhiallahu ‘anhu, salah satu sahabat yang kaya di Madinah. Tetapi Abdurrahman menolak secara halus dengan mengatakan, “Barakallahu laka fi ahlik wal malik.” “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu. Tunjukan saja saya di mana pasar.” Maka ditunjukkanlah pasar Bani Qainuqo. Abdurrahman masuk ke pasar dan pada hari itu dia langsung mendapatkan keuntungan, berupa minyak samin dan makanan. Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat Abdurrahman bin Auf terlihat klimis, rapi, dan ada bekas minyak wangi. Maka Nabi bertanya, “Apa ini, Ya Abdurrahman?” Abdurrahman menjawab, “Ya Rasulullah saya menikah dengan seorang wanita dari Anshor.” Nabi bertanya, “Apa maharnya?”Abdurrahman bin Auf berkata, maharnya adalah nawa dan mizzahab. Nawa dan mizzahab menurut Anas bin Malik beratnya adalah seperempat dinar. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ath-Thabrani. Nabi kemudian berkata, “Buatlah walimahnya, walau hanya dengan seekor kambing.” Ini untuk mensyukuri. Masa ini terjadi ketika Abdurrahman masih miskin. Hartanya masih sedikit, maharnya hanyanawa dan mizzhab, dan walimahnya pun dibuat hanya dengan seekor kambing. Akan tetapi, Allah memberikan kekayaaan yang melimpah ruah pada Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu di kemudian hari. Ini bisa kita lihat dari kekayaan Abdurrahman yang ditinggalkan pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Salah satu istrinya mendapatkan 100 ribu dinar. Subhanallah, satu dinar sama dengan 4.25 gram emas. Sedangkan istrinya berjumlah 4 orang, sehingga ada 400 ribu dinar yang diberikan pada istrinya. Dan itu baruseperdelapan dari kekayaan Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu. Sepanjang hidupnya, hartanya Abdurrahman dibagikan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dia pernah berinfak fii sabilillah 50 ribu dinar. Abdurrahman pernah memberikan harta kepada para sahabat yang ikut Perang Badar, saat itu yang masih hidup ada 100 orang, dan masing-masing mendapatkan 400 dinar. Abdurrahman pernah menginfakkan 1000 kuda fii sabilillah. Ini semua fi sabilillah. Sebegitu besar dan kayanya, tetapi penuh dengan keberkahan. Sebab Abdurrahman bin Auf sangat menjaga kehalalan rezekinya. Bagian ini perlu kita garis bawahi. Kemudian, Abdurahman adalah adalah tipe orang yang sangat kaya, tetapi sangat takut dalam hidupnya karena terlalu kaya. Sampai Abdul Hayajz berkata, “Saya pernah melihat orang tawaf di sekekliling Ka’bah. Orang itu selalu berdoa, ‘Ya Allah… Lindungi aku dari pelitnya diriku.’ Abdul Hayajz bertanya, ‘Siapa orang itu?’ Mereka menjawab ‘Abdurrahman bin Auf.'” Selain takut sekali menjadi orang yang kikir dan pelit, Abdurrahman juga sangat takut menjadi orang yang sangat kaya. Sebab dia khawatir kekayaan ini menjadi bukti bahwa kebaikannya telah dihabiskan di dunia, dan di akhirat ia tidak mendapatkan kebaikan. Berkali-kali hal tersebut terjadi dalam hidupnya. Pernah suatu ketika ia ingin makan bersama para sahabat, dan dia ingat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Abdurrahman berkata, “Rasulullah tidak pernah makan seperti kita, sehebat kita makan hari ini, semewah kita makan hari ini.” Bahkan ketika mau meninggal pun ia menangis. Menangis sejadi-jadinya, kemudian dia mengingat orang-orang baik yang meninggal terlebih dahulu darinya. “Mush’ab bin Umair dan Hamzah lebih baik, bahkan mereka tidak mendapati kafan. Sedangkan saya orang kaya, saya takut ini adalah kebaikan yang dipercepat.” Maka dari itulah, mari kita raih keberkahannya. Ketika ia banyak tetapi tidak membahayakan. Dan inilah salah satu makna keberkahan. Semoga Allah memberkahi kita semuanya. Wallahualam bisshawab. 📚Artikel ini merupakan transkripsi dari podcast audio Serial Berkah bersama Ust. Budi Ashari, Lc.
Gak Usah Bawa-bawa Agama!
Bro: “Bray…”
Bray: “Naon bro?”
Bro: “Lu jangan suka bawa-bawa agama bray…”
Bray: “Apanya?”
Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama.”
Bray: “Gitu ya bro?”
Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray.”
Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gue mesti ditaro di mana?”
Bro: “Maksudnya?”
Bray: “Iya, tolong kasih tau gue, mesti ditaro mana ini Islam, agama gue?”
Bro: “Maksudnya gimana bray? Gue gak ngerti.”
Bray: “Iya, kan lo suruh gue jangan bawa-bawa agama kan? Nah gue bingung bro. Kalo gue gak boleh bawa-bawa agama, Islam mesti gue taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gue bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, memilih pemimpin diatur, bernegara diatur, bahkan sampai urusan mau indehoy ama bini aja diatur. Tambahan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada do’anya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada do’anya! Lengkap banget! …”
(Hening sejenak…)
Bray: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gue bawa-bawa Islam. Nah, kalau gue sekarang gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DI MANA gue bisa lepasin Islam gue?”
Bro: “Emmm… Gak gitu-gitu amat kali bray…”
Bray: “Iya gue juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu-gitu amatlah. Tapi lama-lama gw perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”
Bro: “Eee … mmmh …. Ya mau sih bray…”
Bray: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat?”
Bro: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya…”
Bray: “Harusnya gimana bro?”
Bro: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana gw ber-Islam. Iya kan?”
Bray: “Iya sih….”
Bro: “Nah iya kan?”
Bray: “ Tapi kebayang ya bro?”
Bro: “Kebayang apa bray?”
Bray: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk di-share ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang? Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”
(Hening lagi …)
Bro: “Bray …”
Bray: “Ya bro?”
Bro: “Gue cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaaah…”
Bray: “Loh koq buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya dibawa terus ya brooo …”
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Alquran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri.” (QS Al-An’am 6: 70)
Mendung
Ada yang salah kah dengan hari ini? Entah kenapa, rasanya kurang semangat untuk berbagi ilmu dengan para mahasiswa kali ini. Beraawal dari Desak-desakkan dalam bus yang membuat hati yeng menggerutu, proyektor yang tak muncul di layar, dan ternyata mata ku lebih pucat dari biasanya. sedikit pusing rasanya, Namun The show must be go on.
Sorry spam, hanya mengutarakan kemendungan wajah hari ini yang berdampak pada atmosfer sekitarnya. Sampe bawaannya melamun dan hampir ditabrak motor ketika akan pulang.
ada apa wahai otak dan hati, kenapa kau begitu gelisah hari ini. :(
Pada suatu kesempatan, Ust. Arham bin Ahmad Yasin, salah seorang guru bagi kami mahasiswa UI dalam mempelajari Al Qur'an, bercerita bahwa di dalam suatu majelis pernah ada peserta yang bertanya, “Ustadz, manakah yang harus didahulukan, mengejar target bacaan Qur'an atau membacanya dengan tartil?”
Ust. Arham pun menjawab dengan sahaja, “Lebih baik membaca Qur'an dengan tartil dan menyelesaikan target bacaan”. “Tapi Ustadz”, sang penanya pun kembali berbicara, “Tidak akan cukup waktunya”. Beliau pun sambil tersenyum lalu menjawab, “Kalau begitu permasalahannya jelas, kita yang belum bisa menyediakan waktu untuk Qur'an”.
“Jika kita mau menyediakan waktu untuk Qur'an”, lanjut Ust. Arham, “Maka pertanyaan tersebut tidak perlu muncul. Membaca dengan tartil memang memerlukan waktu lebih, maka kita yang harus menyediakannya”.
Kemudian saya pun tertohok.
Selamat datang ya Ramadhan. Semoga keberkahan melingkupi kita di dalamnya, di dalam puasa-puasa, tilawah-tilawah, dan qiyamullail-qiyamullail kita.
Maaf kan kami ya Ramadhan
Hari pertama berjumpa dengan mu sungguh mengharu biru. Tak ku sangka kau masih mengenal kami dan menghampiri dengan ramah. 1457 H, tahun ini hanya 29 hari kita bersama. Apalah daya fokus kami tak sepenuhnya untuk mu. Tugas akhir mengalihkan dunia dan akhirat kami. Lila tidur, lupa makan (karena memang puasa), lupa untuk tetap istiqomah berlatih bersama. Target awal ramadhan q mulai memudar. Ga mencapai target, malas2an. Ya Allah. Izinkan kuatkan kami, Sehatkan kami, ampuni kami, berkahilah hari-hari kami. Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa'fu anni