Kita menangisi luka yang disebut takdir, seolah Tuhan terlalu pelit pada bahagia. Padahal ada luka lain yang kita rawat diam-diam: dosa yang enggan kita akui sebagai sebab.
seen from Romania
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Israel
seen from Italy
seen from Netherlands
seen from Canada
seen from China

seen from Singapore
seen from China
seen from United States

seen from China

seen from Italy

seen from Poland

seen from Netherlands
seen from Germany
seen from United Arab Emirates

seen from Hong Kong SAR China
seen from Uruguay
seen from China
Kita menangisi luka yang disebut takdir, seolah Tuhan terlalu pelit pada bahagia. Padahal ada luka lain yang kita rawat diam-diam: dosa yang enggan kita akui sebagai sebab.
Mendung dan Perasaan yang Kembali Nyaman
Suasana pagi ini mendung, jalanan pun terlihat masih basah oleh sisa air hujan yang turun. Sempat ingin kuurungi niatku untuk berlari, tetapi akhirnya kubulatkan tekad untuk tetap pergi.
Jalanan masih sepi dan suasananya terasa dingin. Aku berlari melewati rute seperti biasa. Sesekali pikiranku masih menampilkan momen-momen semalam yang membuatku merasa kurang nyaman. Kucoba memahami dari sudut pandangnya, tetapi nihil. Tidak kutemukan pembenaran apapun untuk kebohongannya. Aku bahkan seperti menyesali banyak hal karena ulahnya.
Aku coba mengatur napas. Berusaha kembali fokus berlari. Di tengah perjalanan, suara bapak dan anak yang sedang bernyanyi di atas motornya mengambil alih fokusku. Hanya sekilas memang, liriknya pun sedikit samar, tetapi nada kehangatannya memenuhi jalanan yang masih sepi itu. Motornya melaju menyalipku. Kuingat wajahku mulai sedikit tersenyum saat itu. Kupikir, momen sederhana seperti itu berhasil mengingatkanku. Ada benarnya juga untuk fokus pada hal yang bisa ku syukuri saja daripada harus mengingat-ingat sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
Setelah cukup lama, kurasakan langkah kakiku mulai berat karena kelelahan. Kutebak jumlah langkah kakiku pasti sudah lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya. Entahlah, tidak kugunakan aplikasi apapun untuk mengukurnya. Akhirnya kuputuskan untuk beristirahat di sebuah taman.
Kuperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang sambil duduk di salah satu kursi taman. Satu-persatu mulai terlihat menjalani aktivitasnya. Belum ada wajah-wajah yang kukenali. Kulihat bapak-bapak yang sedang mengajak anaknya keliling dengan keretanya, orang-orang yang mengendarai motor atau sepedanya hingga pasangan suami-istri yang menikmati hari minggunya dengan berjalan santai.
Satu dua orang lainnya mulai berdatangan untuk senam di taman. Senam rutin setiap hari Minggu. Aku berniat ingin beranjak dari tempat duduk, tetapi tertahan karena akhirnya kulihat ada seseorang yang kukenali. Aku menyapanya. Kami berbincang beberapa lama. Orang-orang yang ingin senam sudah mulai banyak berdatangan. Mbak itu juga mengajakku untuk ikut senam, tetapi kutolak dengan baik. Obrolan kami ikut terhenti ketika salah satu dari ibu-ibu itu memberitahu bahwa senamnya batal karena kondisi yang tidak memungkinkan. Mbak itu pamit terlebih dahulu. Beberapa menit setelahnya aku menyusul.
Hingga saat itu, suasana masih mendung, tetapi setidaknya perasaanku sudah jadi lebih membaik. Aku bersyukur, bahkan di hari-hari yang membuatku merasa tidak nyaman, ternyata Allah masih menyelipkan hal-hal kecil yang bisa mengingatkanku untuk tidak berlarut-larut. Hal-hal kecil yang sekaligus bisa membuat perasaanku kembali nyaman.
Semoga hari minggumu juga menyenangkan!
Nabawi Cafe
~ Dipisahkan oleh kematian adalah luka yang tidak akan pernah sembuh!!!!
Siapa yang butuh terapi ketika kamu bisa menemukan kedamaian dalam musik dan tarian di tengah derasnya hujan? Ada sesuatu yang begitu memikat tentang menari di bawah rintik hujan, seolah-olah setiap tetesan membawa pergi beban hidup. Musik mengalun lembut, menyatu dengan gemericik air, menciptakan simfoni yang menenangkan jiwa. Di momen seperti ini, semua masalah dan kekhawatiran seolah lenyap, digantikan oleh kebebasan dan kebahagiaan murni. Biarkan hujan menjadi iringan, biarkan langkahmu menari, dan biarkan hatimu merasakan kebebasan sejati.
Hari ini! cuaca sangat dingin. awan kelabu pekat menutupi langit yang biru.
Langit menjatuhkan bulir-bulir yang sedih, yang sedikit, yang sakit, yang tak sungguh-sungguh menghapus dosa, apalagi kenangan.
September
Hadirlah engkau sebagai pelengkap bulan yang selalu basah.
Sebagai bulan awal pertanda langit mendung telah mengisi di tiap tiap harinya.
September berilah kisah indah, sebuah kisah yang tak akan habis walau di bahas sampai ujung waktu.
Biarlah bulan ini menjadi saksi bahwa rona wajahmu menjadi tampak berbinar dari biasanya.
Teruntuk september yang kelabu izinkan aku menulis kisah baru bersama ia yang aku harap hadirnya bisa membasuh jutaan luka luka lamaku,
Yang memberikan warna terang tanpa kelabu dalam semestaku.
9 oktober 2022
Mendung.
Langit berwarna abu-abu, tapi tidak dengan semestaku
Wajahku merona merah jambu
Terima kasih sudah mengajakku menulis kisah baru
Mendung
"Lahhhh, kamu mah mending, aku tuh yaah bla bla bla bla. Kamu masih mending lah pokoknya!"
Siapa yang kalau cerita sering ditanggepin kaya gitu? Wkwk. Kayanya mayan banyak (?) dan mayan sering juga ya digituin(?). Saya pernah sih, pernah melakukan respon mending-mending juga kayanya sih :") terus yaa makin ke sini makin sadar kalau respon begitu sangatlah kureeeng tepat kalau memang gamau dibilang salah.
Kita mungkin mendengarkan cerita teman kita, sahabat terdekat kita atau siapapun dengan keinginan untuk merespon dengan menceritakan pengalaman kita yang menurut kita lebih pahit atau menyedihkan sehingga disadari atau tidak, muncullah kalimat "kamu tuh masih mending, aku tuh dulu lebih parah dari kamu...." dan sejenisnya.
Eits....sebelum telanjur, kita mesti sadar dulu nih dan belajar untuk bisa merespon lebih bijak. Ketika selesai mendengarkan cerita orang lain, berusaha untuk tidak membandingkan dengan merespon dengan mendang-mending.....karena siapatau respon kita begitu bikin orang lain jadi (makin) mendung.
09/03/2022