Sunken City 2040?
taylor price

Product Placement

pixel skylines
h

祝日 / Permanent Vacation
No title available

titsay
almost home
Alisa U Zemlji Chuda
Sweet Seals For You, Always
DEAR READER
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
🪼
NASA
Sade Olutola
Misplaced Lens Cap
Stranger Things
Three Goblin Art

❣ Chile in a Photography ❣
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Bulgaria

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Russia

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from United States
@realsalmonite
Sunken City 2040?
Fakta?
Ini beberapa fakta tentang perubahan iklim, tapi lebih terdengar seperti fakta tentang kehancuran, coba membaca sambil membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.
1. Menurut reportase IPCC 2017, ketinggian air laut akan meningkat sekitar 7-23 inci di akhir abad 21.
2. Sejak tahun 1880, temperatur rata - rata meningkat 1,4 fahrenheit.
3. Dari survei pembelajaran iklim, 2 dekade terakhir ini adalah yang terpanas dalam 400 tahun terakhir.
4. Kutub adalah daerah yang paling terpengaruh oleh global warming
5. Daerah kutub meleleh sangat cepat, diperkirakan kutub akan meleleh sepenuhnya pada tahun 2040.
6. Montana Glacier International Park sekarang hanya memiliki 25 glacier, yang pada tahun 1910 terdapat 150 glacier.
7. Manusia memproduksi CO2 lebih banyak & lebih cepat daripada daya serap CO2 yang dilakukan tumbuhan dan laut.
8. Lebih dari 1 juta spesies sudah punah karena hilangnya habitat, serta ekosistem laut yang beracun dikarenakan global warming.
9. Rata - rata CO2 yang dilepaskan ke bumi adalah 1000 ton / detik sampai tahun 2011.
10. Sejak revolusi industri tahun 1700, tingkat CO2 di bumi meningkat 34%.
Semoga abis baca, lebih terbuka sedikit pikirannya.
“Earth is way more beautiful than a gigantic swimming pool”
Pita Cita
Dio, seorang remaja muda yang sangat energik di kesehariannya, namun sangat lemah dalam akademik nya, namun ia bukan orang yang mudah terbuka terhadap orang – orang baru.
“Kriiing, kriiing” bel sekolah berbunyi, Vika, Adit dan Juno yang merupakan sahabat Dio menghampiri Dio untuk pergi hangout ke salah satu tongkrongan kesukaan mereka, bukan hal yang asing bagi mereka untuk nongkrong hingga tengah malam, mengingat hampir seluruhnya dari mereka adalah anak – anak dari keluarga yang kurang harmonis yang membuat suasana rumah tidak harmonis.
“Oi, ngelamun aja lu io” kata Adit dan Juno, “iya nih, mikirin apaan sih lu”tambah Vika, “Ah ganggu aja lu mah, ngantuk ini gua, yaudah ayo dah cabut, laper juga dirasa rasa”. Lalu pergilah mereka ke suatu café di tengah kota Jakarta, gelas demi gelas, botol demi botol mereka habiskan dengan canda tawa serta bergurau satu sama lain, tak terasa sudah malam dan waktunya untuk pulang, “Eh ayo balik,dah male mini, jangan sampe gua kurang tidur lagi, tadi udah dimarahin bu Lina” kata Dio, “lu mah kerjaannya tidur sama ngelamun doing emang io”kata Vika, Adit dan Juno bersamaan. Lalu pulanglah mereka kerumah nya masing masing.
Sesampainya dirumah, Dio langsung mendengar gelas yang pecah, rupanya itu adalah gelas kaca yang dibanting oleh orang tua nya yang sedang bertengkar, “HEH! Darimana aja kamu seharian! Baru pulang sekarang” teriak Bapaknya Dio, “Lu juga ngapain berdua berantem malem malem gini woi!” tutur dio sambal naik ke lantai kedua menuju kamarnya.
Sungguh malam dingin yang gelisah yang dialami Dio, tidur pun tak bisa dikarenakan suara teriakan dari pertengkaran di lantai bawah. Lalu terlelaplah Dio dikarenakan alcohol yang diminum di café terlalu banyak.
“ANJIIIIIIIIIIIR GUA TELAAAT!” teriak dio saat bangun tidur, bergegaslah dia mengambil seragam dan langsung memakai nya tanpa mandi terlebih dahulu, Saat dia berlari ke lantai bawah, yang ia lihat adalah kekacauan yang sungguh mengejutkan dan mencengangkan dirinya, darah bertumpahan dimana2, sosok ibu nya terkapar di dekat meja tamu dengan baju penuh darah, dan sosok bapaknya sudah duduk tidak bernyawa di atas sofa dengan sebuah pistol di genggaman nya. Dio langsung lemas dan terduduk seolah ia tidak memiliki energi sedikitpun.
Keesokan harinya.
Lepas dari CO2
“Kena kasus, masuk ke sel tahanan ~ Dateng ke kampus, tugasnya disuruh jalan jalan”.
Kapan lagi kan dapet tugas disuruh jalan jalan, pas dapet tugas suruh bikin tugas nulis cerita non fiksi, gue langsung kepikiran buat jalan jalan ke sisi unik di Surabaya, tapi setelah diskusi sama kelompok, ternyata kita putusin buat pergi keluar dari Surabaya, kita pilih kawah ijen. Selain katanya bisa dianggep olahraga, ini tuh pendakian gunung pertama gue.
Singkat cerita kita udah sampe aja tuh di tempatnya, soalnya selama perjalanan gue ketiduran. Baru sampe gue udah males aja tuh dengernya, “Mas maskernya mas, diatas harus pake loh. Kalo gak pake bisa keracunan”, karena gue gatau ya beli aja deh daripada kenapa kenapa kan, pas gue tanya, harganya 50ribu, itu juga harga sewa, padahal gue tau aja tuh harganya cuman 30ribu an di ace hardware. Kita langsung naik keatas aja deh daripada makin badmood, mana dingin banget lagi padahal baru dibawah. Oiya kelompok gue itu terdiri dari gue, Idrus, Bintang, Lukas, Danang, Andy, tapi salah satu temen gue juga ikut, namanya Daphine. Baru banget awal awal kita ngedaki, Daphine sama Idrus kaya gakuat gitu, jujur gue juga rada engap sih, kalo Daphine emang katanya gakuat begituan, kalo Idrus mungkin karena badannya yang agak besar.
Sepanjang jalan kita bingung dan kepo banget kapan bakal selesai pendakian ini, hampir setiap pendaki yang turun kita tanyain masih lama atau enggak. Pada bilang bentar lagi atau udah hampir sampe atau apa lah gitu, ternyata boong, tapi sebenernya itu kata kata buat motivasi biar gakerasa jauh nya pendakian itu. sekitar 6 - 7 jam kita baru sampe di kawah nya. Banyak banget penambang belerang yang ngerokok atau sekedar bersantai ngilangin capek sambil ngobrol dengan penambang lain nya.
Keinget kalo itu pendakian pertama gue, kata orang sih itu biasa aja, gak jauh jauh banget, tapi jujur gue ngerasa capek, tapi gue ngerasa lega banget, mungkin ini nikmat nya ngedaki ya. Kapan kapan gue coba ngumpulin niat dan siap fisik buat ngelakuin pendakian lainnya deh. See you guys
Me,Myself and I
Nama saya Dhia Fadhillah Muhammad, saya biasa dipanggil Fadhil. Saya adalah anak sulung dari 2 bersaudara. Adik perempuan saya bernama Nadia Putri Az-zahra, ia 3 tahun lebih muda dari saya. Saya sangat dekat dengannya. Dia adalah orang yang sangat pengertian dan selalu bisa memberi solusi disaat saya ada masalah.
Saat saya berumur 7 tahun,Ibu saya mendidik saya dengan tegas, mungkin untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab pada diri saya. Namun hal itu sering membuat miskomunikasi pada hal - hal yang terjadi, contohnya disaat kecil, dirumah lama saya terdapat teras dengan hamparan tanaman bunga matahari, dimana banyak belalang yang sangat saya dan adik saya gemari untuk ditangkap. Namun disaat itu, adik saya tersandung batu saat ingin menangkap salah satu belalang dan berujung jatuh dan terpentok tiang bendera yang dipasang di pojok kanan taman, dia menangis dengan sangat kencang sehingga membuat ibuku datang menghampirinya.
Lidah Simpul
“Sekian kelas hari ini, sampai bertemu di pertemuan selanjutnya. Selamat sore”
Suara tas dan pernak pernik alat kuliah terdengar saat itu juga, mahasiswa berbondong bondong keluar dari ruang kelas nya menuju teras pinggir lapangan, berbincang, merokok, bercanda gurau, foto - foto lah pemandangan yang hampir setiap hari terlihat seusai kelas dibubarkan.
Berbeda dengan Eki, hanya menghampiri teman - teman yang sangat dekat dengan nya, itupun hanya untuk mengucapkan sebuah kalimat pamit.
Dinyalakan lah motor tua nya itu, sambil melaju dengan kecepatan sedang. Sesampai di gang hitam, gang yang selalu ia lewati setiap pulang kuliah dan selalu sepi tanpa adanya aktivitas warga.
Lagu Always dari Blink 182 diputar dengan cukup kencang di earphone miliknya untuk mengurangi kehampaan dalam berkendara saat pulang, namun ada suara teriakan yang sangat keras sehingga tetap terdengar meski Eki menggunakan earphone. Ia melihat kearah pojok gang terlihat kaos putih ketat dan tas Jansport biru yang tak asing oleh Eki, namun dengan pemandangan yang berbeda.
Belati dengan bercak darah yang mewarnai kaos putih ketat yang dipakai oleh teman kuliah nya, Dina, yang dikenal sebagai primadona kampusnya. Eki si penakut dan pendiam itu sangat ingin menolong nya, namun ia cenderung lebih memilih berteriak meminta tolong, namun adrenalin yang terlalu tinggi pun membuat kaki nya tak bisa melangkah satu langkah pun.
Eq ; Eki
Ia termasuk mahasiswa yang jauh dari kata special pada penampilan nya. Namun bibir – bibir mahasiswa tidak memanggilnya dengan nama sapaan, melainkan dengan julukan master atau si jenius.
Ia termasuk orang yang sangat pendiam, dari penampilannya pun ia tidak ingin terlihat sebagai emas di sekumpulan batu, ia sangat sederhana dan rendah hati. Kaos diselimuti Kemeja dengan bawahan jeans atau cargo dengan sepasang sepatu kets menjadi kostum andalannya.
Dibalik semua kerakyatan nya tersebut, ia memiliki skill yang dikagumi oleh banyak mahasiswa, tidak jarang pun IP tinggi yang ia dapatkan serta pujian dari bibir dosen. Namun ia jarang terlihat di kawasan kampus, mungkin karena ia menekuni hobi ilustrasi nya di kos, atau memang ia senang menyendiri ?
Pale Skin, Thousand Mysteries
Pas banget nih malem – malem, baru inget ada tugas review film, jadi keinget film kemaren namanya “The Autopsy of Jane Doe”. Genre nya tuh horror, tapi tipe horrornya tuh yang ngebawa suasana gitu, jumpscare nya bisa diitung jari lah, gak banyak – banyak amat. Jadi awal cerita nya ada keluarga yang bapak dan anaknya bekerja sebagai pathologist / orang yang melakukan otopsi.
Gue kira tuh ini film tentang gore aja, jadi yang emang ekspektasi gue cuma ngeliat darah – darah dan ngerasa jijik, bukan ngerasa takut sama hantu dan lain – lain. Eh ternyata ini cerita inti nya tuh salah satu mayat yang benama Jane Doe.
Siapa itu Jane Doe? dia itu ada hubungannya sama ritual - ritual ilmu hitam dan memang dia itu penyihir yang ngebawa petaka gitu, karena ilmu hitam nya gitu kaya butuh bales dendam. Rada antiklimaks juga sih pas ternyata hantu yang ada ga diliatin bentuk asli nya, dan emang mayat itu cuman perantara, pasti orang mikirnya kalo emang mayat itu hantu ya mayatnya bangkit atau apa gitu kan? Ternyata enggak, dia cuman jadi perantara doing, ya anggepannya kaya dia itu ngedatengin kehancuran ditempat dia mau bales dendam.
Jujur gue tuh penakut kalo soal hantu – hantuan gini, tapi di film ini gue ga terlalu ngerasa takut, malah yang gue rasain itu kaya heran atau cringe lah gitu, karena ya emang hal hal yang ditunjukkin tuh complicated banget, keren sih soalnya emang ini horror nya disambungin sama kaya rada detektif, karena mayat ini ga ketauan dia itu penyihir, melainkan si dokter dan anak nya harus nge bedah – bedah dan baca – baca buku sampe alkitab buat tau. Keren sih emang, lidah kepotong, darah yang masih cair padahal mayat nya udah mati lama, sampe tattoo di bawah kulit. Dari sini aja pasti udah kaya heran kan? Aneh dan mengherankan banget.
Overall film ini seru tapi kalo emang genre yang ditujukan itu horror, kurang serem menurut gue. Tapi plot cerita nya dapet banget, efek - efek darah nya juga keliatan real banget, 3d bedah nya juga ga keliatan cartoony sama sekali, keliatan real banget. Kalo gue boleh nge rate film, “The Autopsy of Jane Doe” itu skor nya 4.5/10 deh ya, bagus tapi kurang nge kick.