Kepada, seorang puan yang disenyumnya membingkai permata & terburai semoga,
Orang Persia, mempersembahkan hadiah telur untuk Tahun Baru,
Orang Romawi Kuno, saling memberikan potongan dahan pohon yang mereka anggap suci,
New England, Amerika, negara di sekitarnya, menembakkan senapan ke udara (pesta terbuka) pikir mereka,
Maka, izinkan aku, menculik 1 bulan saja dari Kalender Gregorian.
Biar koyak moyak raga, dihadang Julius yang mempertahankan Desembernya.
Jika semesta beriringan, nama bulan terakhir kuganti dengan namamu, bulan Nura.
Usah peduli semesta kehilangan Desember.
Usah peduli bumi tak lagi ramai pesta kembang api.
Warna langit supaya kuwarnai bentuk wajahmu dengan pensil warna imajinasi.
.
Nura yang sholehah biar sebagai penutup 365 hari.
Nura yang bersahaja biar membuka tahun berikutnya.
Nura yang tersenyum biar menenangkan hati.
Nura yang serba apa-apa biar membunuh hari berikut-berikutnya yang sepi.
.
Baiklah, Nura, kita menutup tahun tak jauh beda dengan yang sebelumnya, yaitu dengan 2 digit angka.
Tanggal 31 bulan Nura.
Sepakat, sebab, 1 digit adalah angka yang tidak berteman, angka sepi, angka suram, bahkan anak SD pun tak suka nilainya 1 digit angka.
Selamat tinggal Desember.
.
Mengawali Januari, untuk kembali menuju bulan Nura,
Agar di hari baik, bulan baik, awal mula tahun.
Berjalanku akan berjalan menujumu,
Lariku akan berlari mengejarmu,
Jangan percaya pada gerimis, jika ia memberimu tau bahwa saat ini aku sedang "meringis".
Sebab, adanya usahaku disemangati oleh rindu.
.
.
.
Tapi,Maaf. Puan, .
Petir baru saja menggelegar.
Tepat sekali memecah belah mimpi.
Julius masih mempertahankan teori kunonya.
Dan Desember, masih menempati posisi penutup tiga ratus enam puluh lima hari.
Dan lelakimu ??.
.
Aku merindukan mimpi hari ini. Yang muncul, kemudian sekejap hilang.
Tersenyum menyesali petir.
Dimana pena ?, kertas bersembunyi di lipatan Laptop.
Wahai imajinasi, kenapa terlalu lancang engkau bercerita ??.
.
Bnrn, 30 Januari '17