Tergopoh-gopoh mereka hampiriku. Seperti bencana. Gemuruh lantai, arus atap menerjang. Badai terjungkir-balik. Wajah yang kukenali menegur duduk perkara—kamu? Tentu aku ingat kamu! Namaku tercoreng tanpa basa-basi. Kuambil porsi sarapannya. Kucatat kritiknya soal jadwal makan harian, jadwal tidur harian, jadwal mimpi buruk yang masih saja? Mau dibujuk sampai mana? Ia bilang, banyak yang sepatutnya bersemayam mengitari angin ribut hormonal. Yang ilusif dan bergelimang segan. Ambil saja, katanya, pinjamlah seutuhnya ragaku bila itu yang kamu perlu. Kadang tenggat malam menagih janjiku namun aku tak bisa hidup tanpanya—tidak kuhiraukan peringatan-peringatan alam, katalog klise bermarga Grimm, putus asa dalam angan Andersen, kereta yang melaju tanpaku. Aku menetap di peron. Tanpa sepatu. Jika yang melekat padaku tersisa warisan keluarga, aku mesti bersimpuh menghadap pabrik-pabrik tekstil. Tidak selembar pun bertahan lebih dari tujuh purnama namun dosaku masih berbunga, tak akan selesai kutebus sampai anak-cucu. Inilah mengapa, menurutnya rasa bersalah telanjur melahap resolusiku. Apa yang kiranya kamu dapat dari idealisme itu? Jangan keterlaluan, ia ingatkan seolah aku mau tahu, asal kapsul pahit diteruskan lewat mulutnya. Ia kira sarafku tak akan sibuk sendiri, bahwa aku akan dengarkan di sela manis ciumannya. Meski mimpi-mimpi itu pun tak pernah berlatar sekarib lingkup kamar, di mana ia rela melipat bantal dan aku lupa belajar dari kesalahan. Prasangka sederhana. Sepantasnya ia mengerti (don’t you know what you mean to me?) Apalagi, betapa telaten mereka memahatnya ibarat struktur terperinci pencakar langit, sedang aku mengerjap-ngerjap bagai biota laut terjerat mata kail, akrab bersalaman dengan ajal. Padahal baru sepersekian. Sekian dari seperseribu. Yang ia pinjamkan utuh sekaligus transparan. Inilah juga mengapa, aku tak akan sampai pada yang sebenar-benarnya. Habis napasku sebelum tiba di pintu. Hilang nyaliku sebelum melangkahi gerbang. Ketika kubuka, justru menanti berbaris-baris tamu dari kota-kota yang kukenal sebatas laman wikipedia. Hari itu aku mesti putuskan untuk membatasi diri, relakan setiap dahan yang kupinjam supaya ia bisa tumbuh seperti sedia kala, seperti seharusnya. Aku perlu berhenti menulis tentangnya lalu mereka akan rancang pemakamanku. Bahasa kami akan punah, begitu saja, apa tidak masalah?













