Hujan kali ini, kita bicara tentang apa ya? Sepertinya sudah banyak cerita yang terlewatkan.
Kalau bicara tentang tahun yang 7 hari lagi akan berganti, bagaimana? Cukup klise sih……. Tapi pergantian tahun seringkali menjadi moment untuk sekadar melihat ke belakang, merefleksi diri, dan menyiapkan macam-macam resolusi. Meskipun bagi sebagian orang, tidak ada bedanya. Hidup tetap berjalan dengan ritmenya. Dengan segala hal yang terprediksi, hal yang tidak perlu diingat, hal yang tidak tercapai, serta segala bentuk perasaan yang tidak pernah menentu perbandingannya. Dan aku, satu dari sebagian orang itu, haha.
Menurutku, tidak ada perlakuan khusus dalam menyambut tahun baru, tidak perlu mendramatisir juga segala hal yang terjadi sepanjang satu tahun kebelakang. Tapi sebenarnya, meskipun rasanya semua yang akan dijalani dihadapi dengan biasa saja, harap dan cemas tetap menjadi hal yang tidak terabaikan.
Berbicara tentang harap dan cemas, seperti menunggu hujan reda ya? Hehe. Jadi teringat momen hujan yang berujung pada sebuah harap yang mungkin tidak pernah terwujud dan cemas yang semakin hari semakin menjadi nyata. Kita skip saja cerita tahun barunya, toh buatku, biasa saja.
Hari ini, memang bukan pertama kalinya hujan turun tanpa terprediksi ketika kita berencana untuk bertemu. Mengingat hari sebelumnya cuaca terasa begitu meyakinkan untuk melakukan aktivitas di luar. Hari ini, aku ingin terlihat “lebih baik” meskipun terlihat sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Pakaian yang ku setrika ulang, justru berantakan karena hujan. Aroma wangi yang sudah ku persiapkan, sepertinya sudah tidak begitu tercium lagi. Kini yang tersisa hanya sedikit keberanian yang sudah ku kumpulkan hanya untuk menunggu hari ini.
Di tempat yang berbeda, seseorang sedang terburu-buru berangkat selagi hujan berhenti. Namun Tuhan Maha Adil, dia ikut kebasahan juga hehe. Bahkan sempat mengeluhkan rambutnya yang selalu rapih menjadi basah. Pertemuan yang seharusnya lebih cepat jadi agak terlambat. Tentu saja sebenarnya bukan karena hujan, tapi karena aku yang selalu datang lebih lama.
Suasana selepas hujan sebetulnya satu hal yang kusukai, suara yang begitu riuh seketika hening. Pekerjaan yang terhenti, serentak dimulai kembali. Langkah yang cepat, menjadi lebih lambat karena harus berhati-hati. Serta sisa-sisa air yang menempel, seperti memberi napas baru. Rasa lapar pun menjadi lebih nikmat ketika menyantap makanan. Hari ini, pandangan ku pada suasana selepas hujan teralihkan dengan banyak hal yang ada di isi kepala dan di depan mata.
Kami berpindah tempat dan duduk bersebelahan, seperti tidak ingin saling menatap karena begitu banyak kejujuran yang akan terbaca namun tidak sanggup untuk diperlihatkan. Dia berbicara panjang tentang beberapa hal, sebagian besar aku sudah bisa menduganya, terkecuali satu hal. Saat itu tanganku tidak bisa terlepas dari keberadaannya, seperti merasa tangan ini harus dilepas paksa hari ini atau nanti. Keberanian ku yang hanya terkumpul sedikit ternyata memang tidak cukup untuk melontarkan semua pernyataan dan pertanyaan yang sudah kusiapkan. Bahkan, harap dan cemas sudah tidak dapat ku bedakan.
Satu hal yang tidak terduga itu, menimbulkan harap dan cemas yang berlawanan diantara keduanya. Disaat salah satunya berharap untuk tidak pernah melepaskan, satu yang lainnya berharap sebaliknya. Ketika salah satunya cemas jika tetap mempertahankan, satu lainnya merasakan cemas yang sebaliknya.
Semoga, harap dan cemas yang sudah kau lepaskan, membuatmu juga terlepas dari rasa takut dan tak sanggup.