Fragment eighteen: Forbidden
Beberapa hari ini gue lagi demen banget baca baca cerita di aplikasi wattpad. Yaah sangat lumayan untuk ngedapetin bahan bacaan tanpa harus googling sana sini. By the way, lebih spesifik gue juga lagi demen baca cerita yang bertema yaoi, bxb, bromance dan sejenisnya, atau bahasa frontalnya adalah cerita bertema cinta sejenis. Iyalah, kan sama sama manusia. Maksud gue, sejenis kelamin. Oke. Bahasa gue udah mulai frontal dan gue juga sebenernya masih agak gimana jugaa gitu nulis seputar beginian. Kebetulan di rapat redaksi kemaren gue udah hampir bete karena usulan yang masuk juga bertema LGBT dan diusulin sampe empat rubrik coba. *kuatkan aku ya tuhaan… Jadi sebenernya cerita bertema LGBT ini udah pengen gue ulas sejak lama, tapi belom ada mood dan masih agak gimana juga gitu secara yang berkecimpung di dunia macem begini kan spesifik. Yaudah lah ya, anggep aja ini adalah ocehan super gakpenting. Tapi yang jelas dimata gue, cerita bertema LGBT itu tetep punya sisi menarik untuk diperhatikan. Hmmm… kalo dipikir pikir, gue sendiri awal nemu cerita (termasuk cerpen dan cerbung ) bertema LGBT itu baru baru semester semester 4 kemaren aja si. Awalnya gue penasaran gimana sih alur ceritanya, dan termasuk pertanyaan apakah ada plot 18+ nya kah ? *oke ini mulai lagi.. Awalnya gue baca baca di blog yang menulis cerita cerita kayak gitu. Dan tentu aja, ceritanya juga ada yang bagus, dalam artian dari segi alur, penokohan, konflik dan penggambaran latar ada yang kal boleh dibilang mendekati novelis. Tapi bagi gue pribadi yang (semoga aja masih) berpikiran normal, gue kadang melihat penokohan mereka terkesan masih banyak yang mementikan nafsu aja bahkan kadang yang bikin ilfil adalah ketika ada adegan baru saling mengenal udah ada main nyosor aja. Di satu sisi, kadang bagian itu juga penting sih menurut gue untuk membangun suasana cerita. Mungin gue perlu selalu diingatkan bahwa cepen atau cerbung bergenre seperti ini emang beda dari tema tema mainstream kebanyakan. Kalo dari segi norma, emang cerita cerita pada umumnya masih dibatasi, akan tetapi kalo kita membaca cerita bergenre LGBT akan terasa bedanya. Ketika gue baca, gue ngerasa gue idup di tempat yang sangat sekuler. Selain itu penggabaran tokoh yang selalu sempurna kadang malah membuat persepsi bahwa tokoh (ataupun pelaku di kehidupan nyata) adalah orang yang kelebiha anugerah dan bodoh untuk bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik. Just skip that. Oke, itu cuman pemikiran gue aja.Jadi intinya kalo baca cerita macem gitu dan menjudge nya dari segi agama dan moral, gue (dan mungkin kebanyakan orang) bakalan punya sejuta cela untuk karrya semacam itu. Well, gue sendiri mecoba untuk lebih objektif aja karena sejujurnya gue sendiri masih berdebat sama logika gue tentang ini. Kalo gue ngerasa, dari sisi yaah katakanlah seni dan sastra, cerita bertema LGBT emang belom bisa menyaingin cerpen bertema kebanyakan. Kemungkinannya sih karena mereka juga terbatas buat dapetin inspirasi kali. Sejau ini cerpen dan cerbung bergenre LGBT bagi gue memberika sensasi hiburan tersendiri kala bosan membaca cerpen atau cerbung bertema mainstream. Kalo boleh jujur kadang gue juga geli sendiri bacanya. Tapi disisi lain bikin penasaran. Tapi semua itu balik lagi sih ke pribadi masing masing. Dari apa yang selama ini gue baca, entah itu bertema sesuatu yang 'umum' sampe bertema sesuatu yang 'salah' dan kontroversial, gue selalu berpegang pada prinsip carilah ilmu untuk kebenaran dan carilah kebenaran bukan pembenaran. Di satu sisi gue gak mau terlalu hiperbolis macam fujoshi fujoshian tapi gue juga gak mau terlalu ngejudge tentang orang orang ang bergulat di dunia macem gitu.Karena pada akhirnya, ungkapan populer dalam bahasa indonesia "ambillah hikmahnya" akan tetetap terdengar bagi siapapun yang mencoba memahaminya. End.











