Sebelum hari ini berlalu, Tuhan begitu baik. Menyisipkan sepersekian detik senyum yg merubahku ke sugar rush mode on.
Sesimple dan sekebetulan itu, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan kalo handphone, kinerjanya dah lemlt gara2 lowbatt wkwkwk melangkah kaki gontai santai yg penting sampai.
Padahal AC stesyen biasanya menghembuskan udara dingin yg membangunkan lamunan malamku di eskalator. Ah anak ini memang suka berkhayal. Maaf, hari ini peran mu diambil olehnya.
Dari dekat ku rasa, lirih sapaan itu familiar ditelingaku. Aku selalu bahagia bila ada panggilan dari masa laluku. 4 huruf yg sempat jengah aku gunakan dulu, pikirku nama itu tidak sama sekali menggambarkan kedewasaan yg biasa para remaja miliki. Yak, sejak SMA ku tanggalkan nama itu berharap retno bisa menjadi label baru bagiku. Rupanya, sikap tidak tergantung sebutan buk!. Aku masih saja berperan sebagai pemain figuran, bahkan tidak sampai hati lalu lalang disetiap adegan utama. Aku adalah bagian yang di-cut oleh sutradara sebelum dipentaskan.
Tapi, masa kecil ku bersama 4 huruf perwujudan khayalan anak-anak dimasanya. Setiap pagiku, ku kayuh sepeda merah diantara sepeda2 bermotif totol2 anjing. Pagi siang sore, hariku tidak ada yg berbeda dari anak yang lain. Indomie pake telor ceplok bikinan mama masih setia di kotak makan ku. Sesederhana menu itu seragam TK ku.
Yap suara itu, bahkan dia menemani ku 11 tahun lamanya. TK SD SMP, rupanya Tuhan baik sekali. Memisahkan kita disaat remaja.
Seragam TK ku, masih dijemputnya pagi-pagi. Seloroh pita suaranya yang muda memanggilku dari balik pintu besi. Dia terkadang diantar ibuknya sampai rumahku. Masi ingat lambaian tangan beliau melepas keberanian anak kampung sebelah diantara anak gedongan. Aku menjalani 2 tahunku selalu bersama dia.
Seragam SD ku tak jauh berbeda, episode awal masih menggambarkan suasana antar jemput sebelum sekolah. Sampai siklus berangkat-bermain-pulang kita tak lagi sama. Aku ingat dia salah satu yg menjengukku ketika berseragam putih biru muda, saat dunia rebahan mulai hadir membatasiku. Rambutnya yg ikal hadir dari belakang pintu, disela-sela penjenguk lain yg datang menatapku. Tak banyak berubah, kisah kita agaknya sedikit terskip. Mungkin Tuhan bosan, dengan kita yang begitu-begitu saja.
Persahabatan kita sebagai anak kampung sebelah menjadi biasa saja. Keterbatasanku membuatmu sungkan, bahkan bercanda kepada ku. Kau hanya sesekali bergurau, melemparkan tanya jawab sebelum bell sekolah memulai jam ulangan.
Si ikal ini memang pandai, tapi aku merasa dia selalu tidak beruntung. Yakinku dia bisa menjadi nomor 1. Tapi, banyak hal yg membayanginya. Termasuk kepercayaan bapak ibu guru.
Masa merah putihku mengagumi mu. 1 diantara banyak anak lelaki dia lah yang benar-benar pintar. Laki laki yang sungguh laki-laki, ciri khas bau matahari dan baju lecek yg berlapis kaos untuk bermain bola. Kadang seragam sengaja dilinting ujung tangannya, menandakan bekas sekaan ingus wkwkak jorok memang anak lelaki ini. Entah pandangan ku tak pernah bosan menatapnya.
Seragam biru putih ku berbeda lagi ceritanya. Sejak kepindahan rumahnya menuntutnya menjadi lebih sabar, kuat dan pas-pasan. Ku dengar dia mengajari sepupunya disela-sela waktu bermain agar tetap bisa jajan disekolah. Makin jauh ya kita😊 lelaki pintar selalu ada tempat untuk menjadi super star. Apapun keadaannya, termasuk dia. Bintang sekolah menjadi pacarnya, aku tidak kaget. Dia pantas menikmati masa-masa abg nya yang penuh cinta. Sebelum kata bucin lahir saat itu, dia orang pertama yang ku lihat rela menuruti setiap mau wanitanya. Bayangkan, kamu bisa bergandengan dengan anak lelaki yang menjadi juara umum disekolah. Aku yakin, semua cewek mau berada disampingnya.
Malam ini, setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Suara nya lagi ku dengar. Yak, terakhir berjumpa di kereta. Saat kembali keperaduan. Muka cengarnya masih sama seperti 25 tahun yang lalu. Orang bilang buruh jakarta hidup di 3 waktu, selain dunia nyata, maya dan ada dunia kereta. Disini kita berjumpa. Tak banyak kata, kita menyampaikan keluh kesah hidup cukup dengan senyum dan tatapan. Banyak hal yg bisa dibagikan, perannya sebagai bapak muda yg ku tau sudah terlatih sejak dulu.
Panggilan itu, yang hadir dari masa lalu ku. Kau antar dengan baik di ujung minggu ku. Terimakasih, harapku si ikal kecil selalu bersinar. Biar Tuhan habiskan kesusahannya dimasa lalu. Dia tumbuh lebih tangguh diantara masa kecil kita yang penuh kekonyolan.
Dari bukretno, yang rindu masa dulu.